Posted in Category Fiction, Chaptered, Fiction, KiSoo FF "Summer (Love) Holiday", PG, PG-15, Romance

Summer (Love) Holiday – Part 1

Genre : Absurd Romance (헤헷)
Rated : PG-15
Length : Mini Chaptered
Kim Ki Bum || Park Soo Rin
and Others
This story comes from my mind aka fiction^^ Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~

Liburan musim panas telah tiba. Hampir sebagian masyarakat di Negeri Ginseng menghabiskan waktu liburan dengan meninggalkan sejenak rumah mereka dan pergi ke tempat yang lebih menyenangkan serta menyegarkan untuk menghilangkan rasa penat. Musim yang dipenuhi dengan kesuburan lingkungan ini, sangat disayangkan jika tidak dinikmati apalagi tidak dimanfaatkan sebagai ajang liburan keluarga maupun liburan bersama teman-teman.

Di waktu istirahat terkahir sebelum Neul Paran mengakhiri waktu belajar-mengajarnya dalam menyambut liburan musim panas, terlihat lima orang murid tengah duduk mengelilingi meja kantin. Satu siswi berambut pendek tengah bergabung di antara sekelompok sahabat yang selalu menghabiskan waktu istirahat bersama. Dan keempat orang itu tengah tercengang begitu siswi tersebut memberikan sesuatu untuk mereka. Empat tiket liburan gratis ke Pantai Gyeongpo!

“Ini… kau berikan kepada kami? Secara cuma-cuma?” tanya Tae Min dengan raut yang masih sama. Eun Jung, gadis itu mengangguk.

“Ini benar untuk kami?” tanya Ah Reum yang mendapat jawaban dari Eun Jung berupa anggukan juga.

“Selama seminggu?” kini giliran Tae Yong yang mendapat anggukan dari Eun Jung.

Lagi-lagi, mereka melongo tercengang. Eun Jung yang melihat ekspresi mereka terkikik begitu geli. “Jong Jin Oppa memberiku peluang untuk bisa mengajak teman sekolah demi memeriahkan liburan yang dia rencanakan. Tiba-tiba saja aku mengingat Soo Rin-sshi yang secara otomatis juga mengingat teman-teman setianya. Dan Jong Jin Oppa menitipkan empat tiket ini untuk kalian,” jelas Eun Jung dengan senyum manisnya. “Kalian harus datang, ya? Terutama kau, Soo Rin-sshi. Jong Jin Oppa mengundang para kerabat dekatnya. Dan yang kudengar, Jung Eun Ji juga akan hadir.”

“Benarkah?” Soo Rin tampak antusias begitu nama Eun Ji disebut. Bagaimana tidak? Setelah hampir dua tahun berpisah dengan sahabat pertamanya karena perbedaan lokasi menuntut ilmu, mereka tidak pernah lagi bertemu secara langsung selain melalui chat maupun pesan. Dan ini begitu menguntungkan baginya mengingat Eun Ji merupakan bagian dari kerabat Jong Jin yang turut diundang dalam liburan ini.

Eum! Karena itu kau harus datang.”

“Tapi, kau yakin kami dibolehkan untuk bergabung? Bukankah ini untuk liburan antar-kerabat dekat?”

“Memang. Tapi karena sepertinya kurang ramai, akhirnya dia menyuruhku untuk mengajak teman. Tidak apa-apa, kok, Soo Rin-sshi. Lagipula Jong Jin Oppa juga sudah mengenalmu dan begitu aku mengajukan ingin mengajakmu dan teman-teman dekatmu, dia langsung menyetujuinya. Ah, tapi kalian tidak ada rencana untuk liburan sendiri selama hari itu, kan?”

Sontak mereka langsung menjawab dengan gelengan kepala secara serentak. Yang membuat Eun Jung menghela napas lega. “Baiklah! Kalau begitu, bersiap-siaplah mulai dari hari ini. Karena kita akan berangkat di Hari Minggu pagi. Jangan pikirkan soal di mana kalian akan menginap dan kalian akan memakan apa di sana. Kalian hanya cukup membawa diri kalian.” Eun Jung kembali menampakkan senyum lebarnya. Begitu bangkit dari tempat duduknya, dia pamit. “Sampai bertemu besok!” ucapnya sambil beranjak pergi.

Dan begitu Eun Jung keluar dari kantin, ketiga makhluk itu langsung bersorak-sorai hingga bangkit dari tempat duduk. “Kita akan berlibur! Kita akan berlibur ke pantai!! Yaaaaaayyy!!!” seru mereka bersamaan. Sedangkan Soo Rin, dia masih terduduk, tapi senyum manisnya mengembang begitu lebar. Satu kalimat tengah menancap di pikirannya, Soo Rin akan bertemu dengan Eun Ji.

 

:: Sunday — Summer Holiday is coming.

Matahari telah menampakkan wujud seutuhnya di ufuk timur. Memberikan kehangatan di pagi hari di awal Musim Panas ini. Bias cahayanya menembus ke berbagai celah memberikan penerangan murni dan asri. Tak luput dari kamar seorang gadis yang memiliki letak jendela membusung langsung menghadap sang surya. Meski masih terhalang dengan tirai tebalnya.

Soo Rin, gadis itu masih terlelap di tempat tidurnya. Semalam dirinya disibukkan dengan mempersiapkan segala keperluan untuk liburan gratisnya yang dimulai hari ini hingga minggu berikutnya. Setelah mendapat izin dari orang tuanya, Soo Rin segera bebenah dan baru beres sekitar pukul satu lewat tengah malam.

Terdengar pintu kamarnya tengah diketuk dari luar. Disusul dengan suara merdu milik ibunya yang bermaksud membangunkannya. “Soo Rin-aaaaahh, ayo bangun! Kau ingin ditinggal oleh yang lainnya, huh?”

Tiba-tiba kedua matanya terbuka lebar. Tubuhnya terhenyak. Segera diraihnya ponsel miliknya demi melihat jam. Dalam hati sambil merutuki kenapa dirinya tidak mendengar alarm yang sudah dia atur agar tidak terlambat bangun. Namun begitu melihat layar ponselnya, rasa panik itu menghilang entah ke mana. Ini belum waktunya dia untuk bangun! Soo Rin kembali menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuknya. Astaga, ibunya sudah membuat dirinya panik di pagi hari.

“Soo Rin-ah, ayo bangun!” ulang Ny. Park.

Neee…” balas Soo Rin dengan suara paraunya. Entah ibunya bisa mendengarnya atau tidak. Dengan malas ia turun dari ranjangnya. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya serta kedua mata yang kembali terbuka—kini hanya setengah, diputarnya kunci pintu kamarnya sebelum menekan kenop pintunya hingga daunnya terbuka. Lalu menampakkan sosok ibunya tengah menggelengkan kepala dengan pelan begitu melihat anak gadisnya baru terjaga. “Ibu, ini masih pukul setengah delapan pagi. Aku berangkat pukul sembilan pagi,” racau Soo Rin mengeluh.

“Lalu kau ingin bangun pukul berapa? Memangnya kau tidak bersiap-siap sebelum berangkat?” tanya Ny. Park sambil menggelengkan kepala lagi melihat anak gadisnya tengah menyandarkan kepalanya di daun pintu dan kembali memejamkan mata. Beliau tahu bahwa Soo Rin masih mengantuk karena terlambat tidur demi bebenah untuk hari ini, semalam. “Berbeda sekali dengan kekasihmu yang sudah siap sejak matahari bahkan belum muncul,” gumam beliau.

Ne?” Soo Rin kembali membuka mata. Memasang wajah tidak pahamnya akibat kalimat terakhir ibunya. Beberapa detik kemudian, matanya menangkap seseorang muncul dari sisi kiri dan berdiri di belakang ibunya. Menghadap ke arahnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dengan tengah menahan senyum, dia mengikuti tingkah Ny. Park—menggelengkan kepala sambil memandang Soo Rin. Membuat rasa kantuk Soo Rin menghilang entah ke mana bersamaan kepalanya ditegakkan kembali, dan kedua matanya yang terasa berat terpaksa melebar hingga mulutnya terbuka. “Kau—”

Ny. Park segera berbalik. Sambil melemparkan senyum kepada orang itu beliau berkata, “Maafkan dia yang telah memberikan kesan tidak bagus kepadamu di pagi hari ini.”

Ki Bum, lelaki itu akhirnya menyungging senyumnya mendengar ucapan Ny. Park. Hubungan mereka yang sudah menginjak lebih dari dua bulan telah membuat Ki Bum begitu dekat dengan orang tua Soo Rin. Terutama kepada ibunya. Bahkan dirinya sudah leluasa masuk ke dalam rumah gadis itu hingga ke depan pintu kamarnya. Yah, sebenarnya ini adalah kali pertama lelaki itu menginjakkan kaki ke lantai dua rumah ini.

“Aku harus menyiapkan sarapan. Ki Bum-ah, aku titip anakku, ya?” pinta Ny. Park dengan halus. Bahkan dengan begitu yakinnya, beliau membiarkan lelaki itu tetap di depan kamar anak gadisnya, karena beliau sudah tahu benar siapa itu Kim Ki Bum. Begitu juga dengan Ki Bum yang sangat menjaga kepercayaan itu.

Ne, Eomoni,” jawab Ki Bum dengan sopan.

Begitu Ny. Park menghilang turun ke lantai bawah, dengan kedua tangan kembali bersedekap, Ki Bum memandang Soo Rin yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Bodohnya, gadis itu ternyata sedari tadi tengah melamun sejak dirinya mendapati lelaki itu. Dan baru kembali sadar begitu lelaki itu bergerak maju. Soo Rin segera mundur dan langsung menutup pintu kamarnya. Tapi satu tangan Ki Bum segera menahannya sebelum pintu itu menutup rapat.

“Jangan masuk! Kau tidak boleh masuk!” seru Soo Rin panik di balik pintunya.

“Siapa bilang aku ingin masuk?” tanya Ki Bum dengan santai. Membuat Soo Rin yang tengah mempertahankan pintunya agar tidak kembali terbuka, kini mulai mengendurkan tahanannya. Dia juga tidak merasakan pintu kamarnya di dorong setelahnya. Dengan ragu, Soo Rin menyembulkan sebagian kepalanya, mengintip keluar. Detik kemudian, pandangannya mendapati Ki Bum yang masih mengulurkan sebelah tangannya demi menahan pintu kamar Soo Rin sambil tersenyum geli. “Dasar gadis malas. Cepat mandi dan bersiap-siaplah!” tegur Ki Bum sambil menoyor kening Soo Rin yang sedikit terekspos dari balik pintu.

Terlihat Soo Rin memberenggut tak suka sambil memegang keningnya yang telah menjadi objek toyoran Ki Bum. “Kenapa kau datang kemari? Bukankah nanti Ham Eun Jung yang akan datang kemari untuk menjemputku?” gerutunya.

“Aku datang untuk memeriksamu terlebih dahulu. Memastikan apakah kau sudah siap atau belum. Tapi ternyata…” Ki Bum menggantungkan kalimatnya. Sambil berdecak dia kembali menggelengkan kepala. “Bangun dari tidur pun juga belum,” lanjutnya sambil tersenyum geli.

“Aku sudah bangun!” kilah Soo Rin kesal.

“Aku datang di saat kau masih terlelap, Bodoh”

“Apa?! Kau mengataiku bodoh?!”

Eo!”

Brak!

Soo Rin membanting pintu kamarnya. Meski judulnya adalah membanting tapi tidak mengejutkan bagi Ki Bum. Tanpa berkata apapun dan berniat ingin mengetuk pintu kamar gadis itu, Ki Bum tidak bergeming dari tempatnya sambil kembali bersedekap. Karena tak lama pintu itu kembali terbuka. Menampakkan sosok gadis itu kembali, yang dengan masih mengenakan piyama berwarna merah mudanya kini terlihat dengan satu tangan membawa setelan pakaian ganti dan handuk yang terselampir di pundak kanannya. Ki Bum kembali menampakkan senyumnya begitu mendapatkan raut wajah yang kusut itu sedang menatapnya.

“Aku mau lewat!” ketus Soo Rin.

Bukannya memberi jalan, Ki Bum malah melangkah maju mendekat. Dengan gerakan yang begitu cepat tapi tidak tergesa, Ki Bum mencondongkan wajahnya hingga tepat berada di depan wajah Soo Rin lalu memberikan kecupan lembut di hidung gadis itu. “Selamat pagi! Aku menunggumu di bawah,” ucap Ki Bum dengan menyungging senyum manisnya sebelum beranjak meninggalkan Soo Rin yang tengah mematung.

Dengan wajah yang mulai merona diikuti debaran jantung yang mulai berolahraga, Soo Rin memandang sengit punggung yang sedang berjalan menuruni tangga itu sambil berteriak, “KIM KI BUM!!!!”

 

****

 

Soo Rin mengenakan kaus simple berlengan pendek warna putih yang dipadu dengan skiny jeans berwarna biru laut. Rambut panjangnya diikat sangat rendah dan miring hingga ke belakang telinga kanannya serta dibiarkan menutupi bahu bagian kanannya. Setelah menyelesaikan sarapan bersama kedua orang tuanya… dan juga bersama Ki Bum, Soo Rin kembali naik ke lantai dua demi mengambil barang bawaannya di kamar. Soo Rin termasuk gadis yang tidak mau repot. Dia hanya membawa pakaian ganti secukupnya serta barang keperluan lainnya seperti peralatan mandi dan juga sandal, dimasukkan menjadi satu ke dalam koper kecilnya. Sedangkan untuk barang-barang penting seperti ponsel dan dompet dia masukkan ke dalam tas selempang kecilnya yang berwarna krem.

Begitu dirinya menyeret barang bawaannya sampai keluar kamar, ia disambut oleh Ki Bum yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Lelaki itu kembali mengubah penampilan dari biasanya dengan melepas kacamatanya. Ki Bum meraih koper Soo Rin dan menentengnya ke lantai bawah. Sedangkan sang pemilik koper hanya memberenggut sambil tengah mengunci pintu kamarnya, meskipun sebenarnya dia merasa hangat dengan perlakuan lelaki itu.

Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah Soo Rin. Lalu seorang gadis cantik turun dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah Soo Rin. Dan kebetulan Soo Rin sendiri yang menyambutnya, sehingga gadis itu tertegun dengan kedua mata melebar begitu melihat siapa yang sudah berdiri di pintu masuk rumahnya. Detik kemudian—sambil mengembangkan senyum manisnya, Soo Rin segera berhambur ke pelukan gadis itu.

“Aku datang untuk menjemputmu, Soo Rin-ah,” ujar gadis itu—Jung Eun Ji. Dengan senyum masih menghiasi wajah yang sudah lama tidak Soo Rin lihat, Eun Ji membalas pelukan Soo Rin yang terasa begitu erat. Saling melepas rindu setelah begitu lama mereka tidak bertemu.

“Aku merindukanmu…” ucap Soo Rin lirih. Tak terasa setetes bening kristal mengalir dari pelupuk matanya. Dapat bertemu kembali dengan sahabat pertamanya setelah hampir dua tahun lamanya merupakan hal yang begitu mengharukan bagi Soo Rin. Sungguh, gadis itu sangat merindukan Eun Ji.

Eii, jangan menangis,” ujar Eun Ji sambil menepuk lembut punggung Soo Rin begitu mendengar satu isakan lolos dari Soo Rin. “Kita akan berlibur bersama. Karena itu, tersenyumlah!” Eun Ji melepas pelukan Soo Rin. Merengkuh wajah Soo Rin dan mengusap pipinya yang sudah basah. Eun Ji terkekeh melihat sahabatnya tengah menunduk sedikit sesenggukan. “Kau semakin cantik, ya… Apakah ini karena Kim Ki Bum, hum?” Eun Ji tampak tersenyum geli begitu melihat semburat merah menghiasi kedua pipi Soo Rin.

Tak sengaja Eun Ji mengalihkan pandangannya ke belakang Soo Rin. Mendapati sosok yang sudah sangat dia kenal tengah berdiri tak jauh di sana. “Ki Bum-ah, kau ada di sini, ternyata?” Eun Ji melongo.

Ki Bum hanya menyungging senyum. Tak lama, ibu dan ayah Soo Rin datang dari dalam dan ikut menyambut. Segera Eun Ji membungkuk memberi salam dengan sopan. “Aigo, sudah lama sekali sejak kau datang kemari terakhir kali, Eun Ji-ya,” ucap Ny. Park yang dibalas dengan anggukan dan senyuman manis dari Eun Ji.

Annyeonghaseyo!

Terdengar sapaan dari ambang pintu masuk kediaman Park, yang ternyata merupakan sekelompok teman-teman sekolah Soo Rin. Ah Reum, Eun Jung, Tae Yong dan Tae Min berinisiatif untuk mendatangi Soo Rin secara langsung. Dan kedatangan mereka membuat Ny. Park terkejut juga merasa senang. Begitu juga dengan Soo Rin. Karena sejauh yang dia tahu, hanya Eun Jung yang akan menjemputnya. Bukan bersama mereka!

“Baru kali ini aku melihat teman-teman Soo Rin berkunjung kemari,” ujar Tn. Park dengan senang setelah mereka memperkenalkan diri masing-masing. Selama ini, beliau hanya mendapatkan Eun Ji yang pernah datang berkunjung ke rumah. Itu pun saat Soo Rin masih duduk di bangku Menengah Pertama. Setelahnya, belum ada lagi yang berkunjung.

Cah, sudah waktunya kita berangkat!” seru Eun Jung mengakhiri perbincangan singkat mereka.

Soo Rin bergerak mendekati kedua orang tuanya. “Ayah, Ibu, aku pamit,” ucapnya sambil memeluk Ayah dan Ibunya bergiliran.

“Ibu merasa senang melihatmu dikelilingi teman-teman yang begitu baik terhadapmu,” gumam Ny. Park sambil mengecup kening Soo Rin. Membuat gadis itu tersenyum lebar. Sedangkan Ayahnya mengusap lembut kepala Soo Rin.

Eomoni, Abonim, kami berangkat,” pamit Ki Bum sambil kembali menenteng koper milik Soo Rin.

“Aku titip anakku kepadamu,” amanat Tn. Park yang langsung mendapat anggukan dari Ki Bum sebelum ia memberikan salam hormat kepada beliau.

“Di mana barang-barangmu?” tanya Soo Rin tiba-tiba.

“Sudah ada di bagasi.” Ki Bum tersenyum. “Ayo!” lanjutnya sambil menyuruh Soo Rin jalan terlebih dahulu. Lalu gadis itu segera diseret oleh Ah Reum dengan semangat untuk bergegas. Tentunya, mereka sudah pamit kepada pemilik rumah. Sedangkan Ki Bum berjalan bersama Eun Ji.

“Aku tidak menyangka kau sudah sampai sejauh ini,” celetuk Eun Ji sambil melirik lelaki itu. Sedangkan yang dilirik mulai kembali mengembangkan senyum—senyum penuh arti.

 

 

:: Gyeongpo Beach – Gangneung City, Gangwon-do

 

Waktu yang ditempuh menuju Provinsi Gangwon memang cukup lama dari Ibu Kota. Jong Jin yang membawa mobil mewah dengan kapasitas yang cukup untuk menampung mereka berdelapan harus mengendarainya lebih-kurang tiga jam lamanya. Begitu sampai, Jong Jin segera memarkirkan mobilnya ke sebuah pekarangan villa yang sudah disewanya. Villa yang tidak bertingkat namun sangatlah luas. Dengan dinding-dinding yang dicat warna putih gading sangat cocok untuk dipadukan dengan suasan pantai yang tak jauh dari tempatnya.

Pantai Gyeongpo merupakan Pantai Timur Semenanjung Korea. Pantai yang terbentang sepanjang 1,8 km tersebut merupakan pantai yang terbesar di Kota Gangneung. Juga merupakan pantai yang unik karena terdapat deretan pohon pinus serta berbagai meja piknik yang tersedia di belakang hamparan pantai membuat Pantai Gyeongpo merupakan pantai yang sejuk.

Begitu rombongan itu turun dari mobil serta membawa barang-barang bawaan, mereka segera memasuki villa yang tampak sejuk dan mewah itu. Belum selesai mereka—kecuali Jong Jin—terkagum-kagum dengan kerapihan pekarangan villa yang begitu hijau, mereka kembali berdecak kagum begitu masuk ke dalamnya. Segala perabotan mewah tampak memenuhi ruangan-ruangan yang begitu banyak jumlahnya. Dan beberapa barang antik tampak menjadi penghias hampir di berbagai sudut ruangan maupun dinding-dinding ruangan. Bahkan jumlah kamar yang dimiliki begitu banyak hingga masing-masing dari mereka mungkin saja bisa mendapatkannya. Tapi, para gadis memutuskan untuk berada di satu kamar mengingat begitu luasnya tiap kamar. Dan mereka memilih kamar yang memiliki dua ranjang King Size di dalamnya! Sedangkan para lelaki menempati kamar yang berbeda. Ki Bum dan Jong Jin menempati satu kamar. Begitu juga Tae Yong dan Tae Min yang menempati satu kamar lainnya.

“Huaaahh!” Ah Reum menjatuhkan dirinya di salah satu ranjang. Tubuhnya sedikit memantul begitu bertemu dengan ranjang. Memberikan kenyamanan bagi tubuhnya yang pegal akibat terus duduk di dalam mobil tiga jam lamanya. “Aaah, empuk sekali…” gumamnya sambil memejamkan mata. Tiba-tiba tubuhnya terguncang begitu dirasakan seseorang juga tengah menjatuhkan tubuhnya di ranjang yang sama.

“Aaah, benar…” gumam Eun Jung sambil ikut memejamkan mata sejenak sebelum menoleh kepada Ah Reum yang masih menyamankan diri. “Aku tidur bersamamu, ya? Sepertinya Eun Ji ingin menghabiskan waktu malam pertamanya bersama Soo Rin nanti,” pinta Eun Jung yang membuat Ah Reum terkikik geli sebelum bergumam mengiyakan.

Eii!” Eun Ji yang mendengarnya langsung meraih bantal dari ranjang mereka dan melemparnya hingga mengenai Eun Jung. Membuat gadis itu terbangun dan melempar kembali kepada Eun Ji sambil terkekeh.

Soo Rin yang tengah berdiri di dekat jendela kamar yang begitu besar, beralih memandang ke luar jendela. Yang saat itu juga dirinya berdecak kagum melihat pemandangan di luar sana. “Woah… pantainya begitu terlihat dari sini,” gumamnya kagum.

Ah Reum segera bangkit dan ikut menatap ke luar jendela. Seketika matanya melebar takjub. “Hwaaaaaaa! Pantai!!” serunya.

“Ayo kita ke sana!” ajak Eun Jung yang sudah ikut berdiri menghadap jendela. Begitu mendapat anggukan dari Ah Reum, Eun Jung segera berlari keluar kamar dan diikuti Ah Reum. “Soo Rin-sshi, Jung Eun Ji, ayo!” ajaknya lagi sebelum menghilang dari balik pintu kamar bersama Ah Reum.

Kaja!” ajak Eun Ji sambil ikut berlari ke luar kamar.

Soo Rin menyusul. Begitu keluar dari lorong kecil yang menghubung kamarnya ke ruang tengah, Soo Rin mendapati pintu kaca besar yang menghadap langsung ke pantai tengah terbuka lebar. Dan ia melihat Eun Ji berlari keluar melalui pintu itu. Begitu Soo Rin keluar, langkahnya terhenti. Kembali merasa takjub dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Pantai Gyeongpo telah membentang di hadapannya. Sambil melebarkan senyumnya, Soo Rin kembali membuka langkah. Menelusuri jalan setapak yang terhubung hingga ke dekat pantai.

Ki Bum yang baru sampai di ruang tengah mendapati punggung gadis itu tengah berlari kecil menyusul yang lainnya. Menuruni beberapa undakan sebelum menapak pasir putih nan lembut. Dilihatnya gadis itu sempat berhenti dan menunduk memandangi kedua kakinya, lalu kembali berlari mendekati bibir pantai. Seulas senyum terpatri di wajah manis Ki Bum.

“Woaaahh!!” terdengar seruan kompak terdengar di belakangnya. Begitu menoleh, Ki Bum mendapati Tae Yong dan Tae Min tengah mendekat dengan pandangan menuju ke satu titik. Apa lagi jika bukan pemandangan dari Pantai Gyeongpo? Tae Min segera berlari keluar menuju pantai. Disusul Tae Yong yang sambil berseru memanggil Tae Min agar mereka bersama-sama. Tapi sepertinya, Tae Min tidak mendengar panggilannya.

“Tidak bergabung dengan mereka?” terdengar suara Jong Jin menyapanya. Tak lama kemudian, Jong Jin sudah berdiri di samping Ki Bum.

Hyung benar-benar menyewa villa ini?” tanya Ki Bum dengan topik lain. Yang langsung mendapatkan sebuah cengiran dari Jong Jin.

“Sebenarnya, villa ini milik Jong Woon Hyung,” jawabnya sambil cengengesan, yang langsung dibalas dengan ekspresi dari Ki Bum berupa ‘aku sudah menduganya’. “Acara liburan ini juga merupakan usul dari Jong Woon Hyung. Aku hanya ditugaskan untuk mengatur waktu dan juga siapa saja yang ingin diundang. Nanti sore, dia akan menyusul kemari.” Seketika Ki Bum menoleh kepada Jong Jin. Menampakkan wajah terkejutnya yang membuat Jong Jin mengernyit bingung. “Kenapa?” tanya Jong Jin.

Ki Bum mulai menghela napas panjang. Dengan pandangan yang kembali beralih ke depan, memandang sosok gadisnya yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya di kejauhan, Ki Bum berdecak. Satu kalimat menancap di pikirannya, Kim Jong Woon akan datang kemari.

 

 

Sekelompok itu tengah bersenda gurau di bibir pantai sambil bermain dan merasakan hangatnya air laut yang sesekali mengalir datang merendam kaki mereka. Tak luput dari mereka untuk saling membasahi tubuh dengan cipratan-cipratan air laut yang mereka buat. Hingga akhirnya, mereka harus bermain kejar-mengejar. Bahkan kedua lelaki itu sudah basah kuyup akibat ulah para gadis yang tanpa ampun mendorong mereka hingga tercebur ke dalam aliran air laut yang datang.

Tiba-tiba saja Ah Reum diangkat oleh Tae Yong dan dibawa hingga ke bagian yang sedikit dalam sampai betis. Sontak membuat gadis itu meronta panik dan meminta tolong. Meskipun ketiga gadis itu sudah berusaha menolongnya, tetap saja tenaga seorang lelaki lebih kuat. Dengan sukses, Tae Yong menjatuhkan Ah Reum ke dalam air laut hingga tubuh gadis itu benar-benar basah. Tae Yong kembali melakukan aksinya, target selanjutnya adalah Eun Jung. Dengan bantuan Tae Min dan juga Ah Reum yang sudah basah kuyup, Eun Jung berhasil dibuat basah pula. Dilanjut dengan Eun Ji sebagai target selanjutnya. Kedekatan di antara mereka yang tumbuh begitu cepat akibat kegiatan ini membuat mereka dengan tidak segan menyeret tubuh Eun Ji lalu mendorongnya hingga tercebur.

Soo Rin yang tubuhnya masih belum tersentuh air laut secara menyeluruh mulai berjalan mundur begitu menyadari hanya dirinya yang belum terendam air laut. Tae Min yang terlebih dahulu mendapatinya tengah berusaha menghindar, mulai menyeringai dan mendekat. “Park Soo Rin, giliranmu!” ucapnya terdengar merayu. Detik kemudian, semua mata menatapnya dan mulai berjalan mendekatinya. Dan begitu Tae Yong berlari layaknya serigala yang mendapati mangsa sasarannya, Soo Rin segera berbalik dan berlari menjauh.

“Park Soo Riiiiiiinn!!”

“Tiidaaaaaaaaaakk!!”

Tak hanya Tae Yong, yang lainnya juga ikut berlari mengejar Soo Rin. Tidak mau membiarkan hanya dirinya yang tidak merasakan rendaman air laut.

Pandangan Soo Rin mendapati seseorang yang sangat dikenalnya tengah berjalan ke arahnya. Segera Soo Rin berlari ke arah orang itu dan bersembunyi di balik punggungnya. Meremas jaket yang masih melekat di tubuh kekar itu sebagai pegangannya. Detik kemudian orang itu tersadar dengan situasi yang tengah terjadi begitu mendapati segerombolan makhluk yang haus akan kejahilan dengan penampilan yang basah kuyup, telah berada di hadapannya.

Ya, Kim Ki Bum, serahkan gadismu kemari!” tegas Tae Yong sambil menunjuk Soo Rin yang tengah mengintip di balik tubuh itu.

Ki Bum, lelaki itu mengulas senyum tipisnya dan mengulurkan kedua tangannya ke belakang. Meraih pinggang Soo Rin lalu mendorongnya agar tubuh gadis itu merapat ke punggungnya. Yang membuat gadis itu tersentak dan mulai gugup. Sambil mengembangkan senyum, Ki Bum menggelengkan kepala sebagai jawabannya.

“Jangan protektif! Cepat serahkan dia pada kami!” seru Eun Ji dengan bumbu cibiran. Tapi itu tidak berpengaruh bagi Ki Bum karena dia kembali menjawab dengan gelengan kepala. Yang malah membuat Eun Ji gemas lalu bergerak maju meraih Soo Rin. Tapi gerakannya kalah cepat dengan gerakan Ki Bum yang langsung bergeser menghindar membawa Soo Rin di belakangnya. Lagi-lagi, Ki Bum menggelengkan kepala disertai dengan raut wajah menantangnya. “Ish… YA!!” Eun Ji menggeram.

Dari sisi lain, Tae Min bergerak mendekati Soo Rin yang tampak di pandangannya. Hanya tinggal kurang dari semeter lagi sebelum tubuh Ki Bum kembali bergerak menghindari jangkauannya. Satu persatu dari mereka mulai bergerak mencoba meraih Soo Rin yang ditamengi oleh tubuh tinggi tegap milik Ki Bum. Dengan gesit Ki Bum juga berhasil membawa tubuh gadisnya terhindar dari tangan-tangan jahil mereka. Membuat mereka berdecak kesal dan mau tidak mau mereka harus sedikit agresif. Pokoknya Soo Rin harus mendapatkan perlakuan yang sama dengan mereka.

Merasakan tangan-tangan mereka mulai mengerayang dari segala penjuru dan sudah mengepung, dengan segera Ki Bum berbalik hingga menghadap Soo Rin lalu memeluk tubuh gadis itu. Sontak membuat Soo Rin terhenyak hingga menahan napas akibat perlakuannya. Begitu juga dengan mereka yang mulai terpana dengan kelakuannya, yang seketika membuat mereka berdecak pupus melihat gadis itu telah benar-benar dilindunginya.

“Berani menyentuh Soo Rin, kalian tidak akan bisa tidur malam ini juga,” ucap Ki Bum lugas dengan seringaiannya. Yang membuat para pemangsa itu mulai salah tingkah sekaligus bergidik ngeri melihat seringaian itu.

Sedangkan Soo Rin, gadis itu hanya bisa pasrah di dalam kurungan posesif Ki Bum dengan jantungnya yang sudah bermarathon serta wajah yang sudah memanas.

 

****

 

Sebuah mobil SM5 berwarna hitam metalik melaju memasuki pekarangan sebuah villa. Memarkir tepat di sebelah mobil mewah besar yang diketahui milik Jong Jin. Kemudian, pengendara mobil hitam yang merupakan seorang pria itu turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki villa megah yang merupakan miliknya. Dengan mengenakan topi sport serta kacamata hitam, pria itu menenteng sebuah tas berukuran sedang yang berisi beberapa pakaian ganti untuk beberapa hari ke depan. Dengan santai pria itu masuk hingga menuju ruang tengah. Mendapati seorang pria yang jelas adalah adiknya itu tengah berdiri menghadap hamparan pantai lalu mengejutkannya dengan melompat sambil merangkul tubuh tegap adiknya dari belakang.

“Jong Jin-ah!!!” serunya tiba-tiba. Membuat pria bernama Jong Jin itu terlonjak kaget akibat perlakuannya.

“Astaga, Hyung!! Kau ingin membuat adikmu terserang penyakit jantung, hah?!” sungut Jong Jin yang membuat pria itu menampakkan cengiran andalannya.

“Di mana yang lainnya? Kau tidak datang sendirian dan bermaksud ingin berlibur hanya denganku saja, kan?” tanya pria itu yang mulai menampakkan rasa percaya diri yang begitu tinggi.

Jong Jin berdecak jengah. “Lebih baik aku menghabiskan waktu liburan musim panas dengan menjadi barista di kafe selama dua puluh empat jam penuh, daripada harus menghabiskan waktu hanya denganmu,” cibirnya yang langsung mendapat jitakan dari pria itu.

“Kau benar-benar adik yang tidak sopan!” tegur pria itu dengan wajah cemberutnya yang justru terlihat menggemaskan.

Jong Woon, pria yang masih mengenakan kacamata hitamnya itu merupakan kakak dari Jong Jin. Dia juga merupakan seorang penyanyi terkenal yang memiliki nama panggung bernama Ye Sung. Seorang penyanyi Solo yang sedang naik daun. Suara beratnya yang merdu dan dalam telah melekat menjadi ciri khasnya sebagai seorang penyanyi. Bahkan keahliannya dalam dunia tarik suara telah mendongkraknya untuk selalu menyumbangkan suara indahnya ke dalam setiap drama. Dan tidak sedikit dari lagu-lagunya yang berhasil menjadi lagu andalan dari berbagai drama. Itulah mengapa, dirinya juga dijuluki sebagai Raja OST.

“Mereka ada di sana,” ucap Jong Jin sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke arah pantai. Menunjuk ke arah segerombolan yang tengah bersenda gurau. Dan Jong Woon langsung mendapatkan gerombolan yang dimaksud begitu melihat sosok yang sangat dikenalnya.

“Itu Ki Bum, kan?” tanya Jong Woon setelah melepas kacamata hitamnya. “Siapa gadis yang tengah digandengnya?”

“Kekasihnya.”

“Apa? Ki Bum sudah punya kekasih?” Jong Woon melotot.

 

Hari mulai sore. Mereka segera kembali ke villa dengan tubuh dan pakaian yang sudah basah kuyup hingga beberapa tetesan air yang merembes dari pakaian mereka membasahi lantai ruang tengah hingga kamar mereka. Membuat Jong Jin yang melihatnya menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak.

“Kalian ingin membuat villa ini becek, huh?” cibirnya.

“Nanti aku bersihkan,” sambar Eun Jung dengan cengiran sebelum masuk ke dalam kamar.

Ki Bum dan Soo Rin datang terakhir. Jong Jin memicing melihat mereka yang tengah bergandengan tangan dengan keadaan yang berbeda dari lainnya. “Kenapa kalian tidak basah?” tanyanya kemudian.

“Kami memang anti basah,” jawab Ki Bum sekenanya. Membuat Jong Jin mencibir.

“Jong Jin-ah, kau sudah membuat makan malam?” tanya seseorang dari lorong kamar yang ditempati para lelaki. Tak lama, pemilik suara itu menampakkan wujudnya dengan sudah mengenakan pakaian santai serta rambut gelapnya yang masih basah tengah dikeringkan dengan handuk kecilnya. “Eoh, Ki Bum-ah!” serunya begitu pandangannya mendapati sosok Ki Bum. Hampir saja dirinya jatuh terpeleset akibat lantai yang dipijaknya terasa basah. “Astaga, kenapa lantainya menjadi basah seperti ini?” gerutunya.

“Ulah mereka yang bermain air laut. Akan segera kubersihkan. Setelah itu kita membuat makan malam,” ujar Jong Jin sembari berjalan menuju area dapur.

“Hei, Ki Bum-ah! Lama tidak berjumpa,” sapa Jong Woon begitu sampai di hadapan pasangan itu. Menepuk pundak Ki Bum bersahabat. “Bagaimana kabarmu?”

“Aku selalu merasa baik. Bagaimana denganmu, Hyung? Kau masih berada di posisi pertama dalam chart, kan?” balas Ki Bum yang membuat Jong Woon terkekeh geli.

“Aku merasa senang mereka masih menyukai laguku,” jawab Jong Woon dengan bangga. Kemudian tatapannya beralih pada gadis di sebelah Ki Bum. “Apakah dia gadismu?” tanya Jong Woon langsung.

Ki Bum melirik kepada Soo Rin yang masih digandengnya. Sesuai dugaannya, gadis ini tampak begitu berbinar melihat Jong Woon. “Eum. Dia adalah Park Soo Rin,” jawab Ki Bum memperkenalkan.

Annyeonghaseyo!” ucap Soo Rin sambil membungkuk dengan semangat. Menampakkan senyum manisnya yang begitu lebar kepada Jong Woon. Membuat pria itu ikut tersenyum lebar hingga membuat gadis itu terpesona.

“Sepertinya kau menyukaiku. Apakah kau adalah fans-ku?” tanya Jong Woon sambil sedikit membungkuk agar wajahnya sejajar dengan wajah Soo Rin.

“Mungkin bisa dikatakan seperti itu.”

“Benarkah? Kenapa?”

“Karena aku menyukai lagu-lagumu.”

“Itu berarti kau memang fans-ku!” Jong Woon tampak sumringah hingga kedua mata sipitnya hampir membentuk garis lurus. Tangan pria itu terulur dan mendarat ke puncak kepala Soo Rin, mengacak-acak rambutnya dengan lembut. Membuat Soo Rin terpana dengan perlakuan tersebut hingga tangannya menyentuh kepalanya sendiri. “Senang bertemu denganmu, Soo Rin-ah!” ucap Jong Woon tanpa mempedulikan reaksi gadis itu, dan reaksi Ki Bum.

****

-To Be Continued


Terima kasih sudah mampir~^-^

casts

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

9 thoughts on “Summer (Love) Holiday – Part 1

  1. jiahhhhh soo rin ketemu sama jong woon… wkwkkk pasti kibum bakal cemburu tuh…hehe
    btw sie ryeowook kemana tuh chingu gak pernh keliatan lg

  2. Kibumm bakal cemburu nih sama jongwoon wakakaaa xD sumpah ff mu ini ngebikin org senyum2 sendiri tau >.< sampe dibilang gila gara2 senyum sendiri waksss 😆😆😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s