Posted in Category Fiction, Fiction, KiSoo FF "I Want To Be Like You", PG, PG-17, Romance, School Life, Two Shot

I Want To Be Like You – Part 2, End

Genre   : School Life, Romance
Rated    : PG-17
Kim Ki Bum || Park Soo Rin

“This story comes from my mind aka fiction^^ Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~”


Tubuh berbaring itu telah diselimuti oleh selimut tipis hingga atas perutnya. Dua bantal yang sempat menjadi tumpuan kedua kakinya kini telah disingkirkan. Pupil di balik kelopak yang masih mengatup rapat itu mulai bergerak. Perlahan, kedua kelopak itu terbuka. Membiarkan bias cahaya berlomba-lomba masuk ke dalam retina yang mulai tampak. Dan membuat sang pemilik retina harus kembali mengatupkan kelopaknya, mengerjap beberapa kali agar terbiasa.

Soo Rin mendapati dirinya tengah terbaring. Melihat langit-langit yang sudah tidak begitu asing, ia menyadari bahwa dirinya berada di Ruang Kesehatan. Mencoba bangun, Soo Rin mulai merasa pening—meski sudah tidak seperti sebelumnya. Lalu pandangannya mulai berkeliling, tidak ada siapapun. Apakah dia sendirian di sini? Soo Rin memegang sebelah kepalanya yang masih terasa berdenyut. “Bagaimana aku bisa ada di sini?” lirihnya.

Soo Rin mendengar langkah kaki dari balik tirai di depannya. Kemudian matanya melebar begitu mendapati sosok itu dari balik tirai. Dengan pakaian olahraga yang masih melekat di tubuhnya, orang itu berdiri sejenak menatapnya, lalu kembali melangkah mendekatinya. Soo Rin memutar ingatannya, lalu tercenung begitu mengingat apa yang terjadi terakhir kali sebelum kesadarannya hilang total. Apakah dia yang membawaku kemari? batinnya.

“Sudah merasa baik?” sapa Ki Bum begitu sampai di dekatnya, membawa segelas minuman yang tampak sedikit mengepul dari isinya.

“Sudah berapa lama aku di sini?” tanya Soo Rin begitu lirih namun masih didengar oleh Ki Bum.

Ki Bum memeriksa jam tangannya. “Sekitar tiga puluh menit lamanya,” Ki Bum melirik melihat reaksi Soo Rin. Seolah bisa membaca pikirannya, Ki Bum melanjutkan, “Jangan pernah berniat untuk kembali ke lapangan saat ini juga.”

Soo Rin memberenggut mendengar tuturan Ki Bum. Kenapa pikirannya mudah sekali ditebak oleh laki-laki yang satu ini? pikirnya.

“Minumlah,” Ki Bum mengulurkan gelas yang sedari tadi dipegangnya. Berisi teh hangat yang memang sudah tersedia di ruangan ini.

“Kenapa kau masih ada di sini?” tanya Soo Rin lagi.

“Minum,” ulang Ki Bum.

Soo Rin kembali tercenung. Dia baru menyadari bahwa Ki Bum begitu dingin saat ini. Segala tutur katanya terdengar begitu datar sejak menyapanya. Memang sejak awal melihat sosoknya dari balik tirai, dia tidak mendapati ekspresi yang hangat seperti biasanya. Datar. Dingin. Dengan ragu, kedua tangan Soo Rin yang belum bertenaga seutuhnya diulurkan hingga meraih gelas yang terasa hangat begitu disentuhnya. Menariknya mendekati mulut, lalu meminumnya perlahan. Ki Bum tidak melepas gelasnya. Dengan satu tangan, ia membantu Soo Rin untuk meminumnya. Soo Rin baru menyelesaikannya begitu isi gelasnya sudah habis hampir setengahnya. Ditarik lagi gelas itu perlahan sambil mengucap, “Tidurlah. Istirahatlah lagi,” dengan nada yang sama.

Soo Rin tidak berkutik. Dia mulai merasa tidak nyaman dengan suasana yang Ki Bum buat. Yang entah mengapa dia tidak suka dengan sikap Ki Bum terhadapnya sekarang. Dia lebih terbiasa dengan Ki Bum yang hangat, yang selalu berkata halus kepadanya, yang selalu menampakkan senyum manis kepadanya. Lalu kenapa sekarang kehangatan itu tidak ada di diri Ki Bum? Apa karena sikapnya yang sudah menghindarinya selama lebih dari seminggu ini? Tapi, bukankah semua itu karena dirinya ingin membuktikan sesuatu kepada Ki Bum? Sesuatu yang bisa membuat dirinya pantas… berada di samping Ki Bum—

Astaga, aku ingin seperti itu? Soo Rin terhenyak. Ke mana saja dirinya selama ini?

Ki Bum baru saja meletakkan gelas minumannya ke nakas di sebelah tempat tidur Soo Rin. Mendapati gadis itu masih betah duduk menunduk, Ki Bum menghembuskan napas dengan cepat. “Tidur, Park Soo Rin,” ucapnya gemas.

Soo Rin yang mendengar Ki Bum seperti tengah menggeram, menggenggam erat selimutnya. Entah mengapa, dia tidak suka dengan itu. Dia tidak suka dengan suara Ki Bum yang semakin terdengar dingin, ditambah dengan suara geraman halus yang tertahan itu… sungguh, Soo Rin tidak suka.

Tanpa sadar, kedua mata Soo Rin mulai mengembun.

Ki Bum yang menyadari akan hal itu, mendudukkan tubuhnya di pinggir tempat tidur Soo Rin. Memandang gadis itu, yang tepat berada di hadapannya, yang tengah menunduk dengan tengah menahan sesuatu. Ki Bum menundukkan wajahnya demi mendapati wajah itu. Memajukan wajahnya hingga mendekati wajah Soo Rin. Lalu dengan cepat—tapi tidak terburu-buru, Ki Bum mendaratkan kecupannya di hidung Soo Rin.

Sontak membuat Soo Rin terlonjak kaget hingga menegakkan kepalanya. Begitu juga dengan jantungnya yang tiba-tiba terasa berjengit layaknya disengat listrik. Tapi reaksinya malah membuat tatapannya harus bergerak menyorot pada kedua mata Ki Bum… yang tengah menatapnya juga—dengan lekat, dan membuatnya terkunci di dalam tatapan itu.

Detik itu pula, Ki Bum dapat dengan jelas melihat kedua bola mata itu sudah berkaca-kaca. Dan wajah yang masih tampak pucat itu mulai merona akibat perbuatannya. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis di depannya ini. Dia tahu gadis ini merasakannya. Dia tahu gadisnya ini menyadari perlakuannya.

Ki Bum yang tengah berusaha menahan gejolaknya—melihat Soo Rin yang masih mematung dan memandangnya dengan wajah yang merona, mulai geram. Dilepaskan kacamatanya dengan kasar, lalu melemparnya ke belakang. Tak peduli benda itu mendarat ke mana, yang ia pedulikan hanya gadis di hadapannya kini. Meraih wajahnya dengan satu tangan, menariknya hingga bibir mereka bertemu. Dan Ki Bum meraupnya—dengan penuh perasaan.

Soo Rin harus kembali terkejut. Dan kini jantungnya terasa ingin melompat keluar dari tempatnya. Ia segera memejamkan matanya begitu merasakan pergerakan dari Ki Bum. Merasakan tangan yang lain bergerak dan merengkuh punggungnya, hingga terdorong dan merapat dengan tubuh Ki Bum. Tanpa sadar, salah satu tangannya meremas ujung seragam Ki Bum dan tangan lainnya menyentuh lengan kekar yang tengah memeluknya. Soo Rin merasakan bibir itu melumatnya, sesekali mengecup-kecup demi memberikan udara kepadanya lalu kembali mengulumnya dalam waktu lama, menguasainya dengan ahli. Soo Rin merasa panas dengan segera. Jantungnya terasa ingin meledak dengan segera. Ini adalah kali kedua Ki Bum menciumnya. Dan ini terasa… lebih mencengangkan dibandingkan sebelumnya.

Bruk

Soo Rin terkesiap. Matanya kembali terbuka hingga melebar. Ki Bum yang merasakan sentakan itu juga menghentikan aktivitasnya, ikut membuka kedua matanya. Lalu membuat jarak di antara wajah mereka. Membuat jarak kepada wajah Soo Rin yang kini sudah berada di bawahnya. Soo Rin sudah terbaring di bawahnya!

Jantung Soo Rin semakin jumpalitan begitu mendapati dirinya sudah terbaring dengan Ki Bum yang masih memeluknya kini tengah menindih tubuhnya. Tubuhnya menegang, kaku. Sungguh, dia tidak menyadari bahwa selama ini Ki Bum membimbingnya hingga menjadi posisi seperti sekarang ini. Dan ini merupakan posisi yang sangat tidak menguntungkan untuknya. Dia tidak dapat berkutik.

Ki Bum yang merasakan ketegangan gadis ini, menyeringai. Wajah pucat yang merona itu semakin merona, membuatnya terpesona sekaligus merasa gemas dan ingin menciumnya lagi. Tapi dia harus menekan gejolak itu. Karena memang seperti ini tujuannya.

“Bukankah sudah pernah kuperingatkan? Jika kau tidak menurutiku maka aku akan menciummu, Soo Rin-ah,” desis Ki Bum tepat di depan wajah Soo Rin. Membuat sang empu menelan ludahnya dan menahan napas. Belum beralih dari posisinya, Ki Bum merasakan debaran jantung Soo Rin yang berpicu dengan sangat cepat. Sama dengan miliknya. Dan dia sangat senang dengan kenyataan ini. Cukup dengan ini, dia sudah tahu bahwa gadisnya memiliki perasaan yang sama. Ditambah dengan sorot matanya yang mudah sekali dibaca olehnya. Meskipun sebenarnya dia masih menginkan satu hal keluar dari mulut gadisnya ini.

“Jangan pernah lagi memikirkan segala tutur kata dari Eun Jung,” pinta Ki Bum dengan halus. “Jangan pernah lagi menyiksa tubuhmu hanya untuk menjadi seperti diriku karena aku tidak peduli dengan itu. Aku tidak peduli dengan kemampuanmu yang tidak seperti diriku. Aku hanya peduli dengan hatimu… yang memiliki perasaan sama denganku, dan juga dirimu yang sudah berada di dekapanku.”

Soo Rin tercengang mendengarnya. Astaga, laki-laki ini menyadari maksud dari sikapnya selama ini! Ada rasa malu mencuat karena tertangkap basah, tapi ada juga rasa terharu karena segala tutur kata yang sudah melembut itu. Soo Rin ingin menangis rasanya. Dia merasa telah menjadi orang bodoh karena perbuatannya yang terlihat gegabah. Hanya demi menjadi seperti seorang Kim Ki Bum. Demi mendapatkan kepantasan itu. Dan kini ia menyadari, tidak seharusnya seperti itu.

Dan astaga, kenapa laki-laki ini begitu manis baik perlakuan maupun segala tutur katanya?!

Ki Bum melepas pelukannya. Dengan hati-hati dia menegakkan tubuhnya hingga kembali terduduk. Tanpa melepas pandangannya dari Soo Rin, Ki Bum kembali mengulurkan sebelah tangannya dan menyentuh wajah yang sudah menghangat itu. Menyungging senyum manisnya untuk yang pertama kali di hari ini.

“Aku menyukaimu apa adanya, Soo Rin-ah… sangat.”

Soo Rin kembali berdesir dibuatnya. Akuilah Park Soo Rin, kau benar-benar menyukai Kim Ki Bum sekarang.

 

****

 

Ponsel yang tergeletak di meja belajar itu berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Soo Rin yang baru saja menyelesaikan kegiatan membersihkan tubuh segera meraih ponsel miliknya tersebut dan mengamati layar sentuhnya. Keningnya berkerut begitu mendapati nomor ponsel yang melakukan panggilan kepadanya adalah nomor tidak dikenal. Setelah sejenak berpikir, akhirnya disentuh layar ponselnya dan menggeser tanda berwarna hijau. Lalu menempelkan ponselnya ke telinganya.

Yeoboseyo?

“Park Soo Rin-sshi, ini aku.”

Soo Rin tertegun mendengar suara yang familiar di seberang sana. “Ham Eun Jung-sshi?” balasnya ragu.

“Benar! Aah, kukira kau tidak akan langsung mengenaliku,” terdengar suara kekehan di sana. Soo Rin mengernyit bingung, bagaimana Eun Jung bisa memiliki nomor ponselnya? Dan apa ini, kenapa Eun Jung terdengar begitu ramah kepadanya? “Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa mendapatkan nomor ponselmu. Aku hanya ingin menanyakan bahwa, apakah kau ada waktu di akhir pekan nanti?”

Ne?” Soo Rin melongo bingung.

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dan kujelaskan kepadamu. Jadi, maukah kau memberikan waktu luang untukku di akhir pekan nanti?” lanjut Eun Jung terdengar memohon.

Soo Rin tampak sedang berpikir. Dia memang tidak ada keperluan apapun dan rencana apapun di akhir pekan nanti. Jadi, tidak ada salahnya jika dirinya pergi menemui Eun Jung nanti. Tapi, apa yang ingin dibicarakan oleh Eun Jung, itulah yang membuat Soo Rin akhirnya menyetujui. “Baiklah. Pukul berapa dan di mana kita akan bertemu?”

“Aku akan memberitahukannya lewat pesan. Terima kasih, Soo Rin-sshi!

Lalu panggilan itu terputus. Soo Rin masih mengernyit bingung sambil memandang layar ponselnya. Apa yang membuat Eun Jung berubah menjadi begitu ramah kepadanya? pikirnya. Tak perlu menunggu lama, ponselnya kembali berdering menandakan sebuah pesan masuk dari nomor milik Eun Jung.

 

5-14 Hwayang-dong, Gwagjin-Gu. Mouse Rabbit. Pukul 11:00.

Sampai bertemu di akhir pekan~^^

 

Soo Rin tercengang. Bukankah ini tempat…

 

****

:: Weekend at Mouse Rabbit Café – Seoul-shi, Gwagjin-Gu, Hwayang-dong 5-14.

 

Soo Rin memasuki kafe berlantai tiga itu melalui pintu utama yang dicat berwarna oranye kemerahan. Begitu memasuki bangunan minimalis itu, Soo Rin terpana dengan dekorasi ruangan yang begitu sederhana namun begitu memikat. Suasana yang sedikit remang dan hampir tiap sisi yang dihiasi tanaman maupun pepohonan kecil membuat ruangan ini begitu sejuk. Soo Rin segera menghentikan keterkagumannya begitu mendapati seseorang tengah melambaikan tangan di tempat duduk dekat jendela. Menampakkan seulas senyum yang begitu ramah, untuk pertama kalinya.

Eun Jung tampak begitu cantik hari ini. Memakai dress di atas lutut tanpa lengan berwarna merah muda dengan bagian pinggang hingga ke bawah mengembang membentuk tirai. Di bagian bawah dadanya terhias pita yang berwarna senada dengan ukuran hampir menutupi bagian antara dada dan perutnya. Lalu ia mengenakan sepatu hak sekitar 5 centimeter berwarna hitam polos.

Sedangkan Soo Rin mengenakan dress terusan selutut dan berlengan panjang dengan bagian tengah berwarna cokelat pastel dan bagian lengan bermotif polkadot. Berkerah model vintage berkombinasi dua warna yang sama dengan warna bagian tengah dan polkadot pula. Lalu dihiasi dengan tas slempang kecil berwarna krem serta sepatu selop berwarna senada. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan rapih. Tanpa hiasan apapun di kepalanya, bahkan tanpa make up—hanya sebatas memakai bedak, Soo Rin terlihat begitu cantik natural.

“Duduklah!” sambut Eun Jung begitu Soo Rin sampai di hadapannya. Soo Rin pun menarik kursi yang menghadap Eun Jung dan mendudukinya. Lagi-lagi, Soo Rin harus terheran dengan senyum yang begitu manis di bibir Eun Jung.

“Jadi, ingin membicarakan soal apa denganku?” tanya Soo Rin langsung.

Eii, jangan terburu-buru. Bagaimana jika kita memesan minuman dulu, serta makanan kecil, mungkin? Ah, Honey Ball di sini sangat enak! Kau ingin mencobanya?” balas Eun Jung dengan ceria. Yang semakin membuat Soo Rin kebingungan dengan sikapnya. Eun Jung mengalihkan pandangannya, mencari-cari seseorang hingga tak lama dia mendapatkannya lalu sambil melambaikan tangan berseru, “Chagi-ya!”

Soo Rin tertegun. Chagi-ya? tanyanya dalam hati. Ia pun menoleh demi melihat sosok yang dipanggil Chagi oleh Eun Jung. Detik kemudian matanya melebar begitu mendapati seorang pria tengah berjalan menghampiri dengan mengembangkan senyum. Pria yang begitu familiar, dan cukup terkenal karena saudaranya yang merupakan seorang idol. Dan yang pasti, dia adalah pemilik dari kafe ini… bersama saudaranya itu!

“Selamat datang di kafe kami, Nona-Nona Manis!” sapa pria itu dengan seulas senyum yang begitu hangat. “Ingin memesan apa?” lanjutnya sambil menyiapkan catatan kecilnya.

Ish, apakah seperti ini caramu menyambut para pelayan? Dengan sebutan Nona Manis? Oppa suka merayu, ternyata!” Eun Jung tampak memberenggut. Membuat pria itu terkekeh.

Aigo, kau mudah sekali cemburu. Tentu saja tidak. Oppa hanya melakukan ini untukmu… mungkin untuk temanmu juga,” pria itu beralih menatap Soo Rin dan mengerling nakal. Membuat Eun Jung yang melihat tingkahnya itu mencubit pinggangnya dengan gemas. “Akh!” rintihnya.

“Beraninya Oppa melakukan itu di hadapanku! Dan lagi, kuperingatkan jangan pernah merayu gadis ini karena dia sudah menjadi milik Ki Bum!” sungut Eun Jung.

“Benarkah?!” seru pria itu kaget. Soo Rin yang mendengar pernyataan Eun Jung juga kaget hingga tergugup. Pria itu kembali menatap Soo Rin yang sudah tertunduk malu. “Wah, tidak kusangka Ki Bum bisa mendapatkan gadis secantik dirinya,” ujarnya takjub.

Astaga, kenapa Eun Jung mengumbar soal itu? batin Soo Rin menggerutu.

“Ah, aku belum memperkenalkan! Oppa, dia adalah Park Soo Rin. Dan Soo Rin­-sshi, dia adalah Kim Jong Jin, calon tunanganku,” ucap Eun Jung dengan halus.

Ne? Ca-calon… tunangan?” Soo Rin tercengang.

Eun Jung mengangguk santai. “Um! Begitu aku naik ke tingkat akhir nanti, aku dan Jong Jin Oppa akan bertunangan,” Eun Jung tampak ceria dengan pernyataannya. “Akan aku pastikan kau mendapatkan undangannya nanti!” lanjutnya.

Soo Rin mematung. Tunangan, kata itu langsung menancap di pikirannya. Bagaimana bisa mereka akan bertunangan… di saat Eun Jung baru akan menginjak umur 19 tahun?! Dan, bagaimana bisa Eun Jung ingin bertunangan dengan pria ini sedangkan bukankah Eun Jung… menyukai Ki Bum?

Jong Jin, pria itu tampak terkekeh geli melihat reaksi Soo Rin. Dia tahu betul bahwa kabar ini merupakan kabar yang mengejutkan untuk orang yang belum mengetahui kebiasaan mereka ini, seperti Soo Rin sekarang. “Kau bisa meminta penjelasan kepada Ki Bum. Nah sekarang, kalian ingin memesan apa?”

“Aku seperti biasa, Oppa!” sahut Eun Jung. Yang langsung mendapat ulasan senyum manis dari Jong Jin.

Strawberry Smoothie?” ujar Jong Jin. “Dan… Park Soo Rin-sshi?”

Eun Jung segera menyerahkan buku menu yang memang sudah tersedia di meja mereka. Soo Rin langsung menekuri buku menu tersebut. Matanya begitu terbaca bahwa dirinya merasa kagum dengan segala menu yang bervariasi di kafe ini. Dan matanya langsung mendapati menu yang memang sedang ingin dicobanya.

“Aku ingin Choco Frappuccino.” Soo Rin menyerahkan menunya kepada Jong Jin dan segera diterima olehnya.

“Kalian tidak ingin memesan dessert-nya?” tawar Jong Jin.

Soo Rin langsung menggeleng. Eun Jung yang melihat Soo Rin akhirnya mengikuti. “Ah! Tambahkan Hot Chocolate untuk Ahjumoni!” tandas Eun Jung.

“Baiklah! Silahkan ditunggu!” Jong Jin mengakhiri dan segera beranjak ke counter.

Cah! Bagaimana jika kita mulai?” Eun Jung mulai memasuki topik utama. Setelah membenarkan posisi duduknya dan menarik napas dalam, ia kembali berbicara. “Soo Rin-sshi, maafkan aku. Selama ini aku telah membuatmu merasa tidak nyaman semenjak pertama kali kita bertemu. Sebenarnya, aku bukanlah gadis yang seperti itu. Hanya saja semenjak aku mendapat suatu permintaan dari Ahjumoni, tiba-tiba ide itu terlintas begitu melihatmu di toilet saat itu.”

Soo Rin tertegun mendengarnya. Segala pertanyaan tiba-tiba muncul di benaknya begitu mendengar rentetan kalimat Eun Jung. Jadi selama ini Eun Jung hanya bersandiwara? Lalu apa tujuan Eun Jung bersandiwara? Dan, permintaan dari orang yang disebut Ahjumoni? Siapa itu Ahjumoni? Dan sebenarnya hubungan apa yang ada di antara Eun Jung dan Ki Bum?

“Kupikir kau tidak akan terpengaruh dengan segala perlakuanku, tapi ternyata kelakuanku telah membuatmu sampai jatuh sakit seperti hari lalu. Sungguh, maafkan aku…” Eun Jung terlihat begitu menyesal hingga kedua matanya menyendu. “Tapi dengan itu semua, aku bisa melihat kesungguhanmu. Ternyata kau memiliki perasaan yang sama seperti Ki Bum,” kini Eun Jung menampakkan senyumnya. Soo Rin terlihat salah tingkah hingga kedua pipinya merona. Bahkan Eun Jung menyadari akan perasaannya, rutuknya.

“Itu beliau!” seru Eun Jung tiba-tiba sambil berdiri dan kembali melambaikan tangan pada seseorang di belakang Soo Rin. “Ahjumoni, di sini!”

Soo Rin menoleh ke belakang dan segera mendapati seorang wanita berusia sekitar masih di awal 40 tahun sedang berjalan mendekat. Segera dirinya bangkit dari duduk demi menyambut wanita itu.

Omo, Eun Jung-ah!” seru wanita itu sambil memeluk Eun Jung dan langsung dibalas oleh Eun Jung. “Kau terlihat semakin cantik,” ucap wanita itu setelah melepas pelukannya. Yang jelas membuat Eun Jung tersanjung.

Ahjumoni juga tampak semakin muda,” Eun Jung memuji yang langsung disambut dengan kekehan wanita itu. “Ah, Ahjumoni, dia yang bernama Soo Rin itu!” lanjut Eun Jung sambil menunjuk Soo Rin. Sontak wanita itu beralih memandang Soo Rin.

Soo Rin segera membungkuk memberikan salam meskipun dirinya merasa aneh dengan perkenalan dari Eun Jung. “Annyeonghaseyo!”

Wanita itu tampak terpesona hingga salah satu tangannya terangkat hampir menutup mulutnya. Langkahnya mendekat kepada Soo Rin. Memandang wajah polos Soo Rin dan menyentuh pundaknya. “Aigo, kenapa kau terlihat begitu cantik…” gumam wanita itu yang membuat Soo Rin tersipu.

Jeon Park Soo Rin-eyo…” Soo Rin memperkenalkan diri dengan sopan.

Eum, aku sudah tahu. Perkenalkan, aku Jung Ji Woo, ibu dari Ki Bum.”

Ne?” Soo Rin terhenyak mendengarnya. Tiba-tiba rasa gugup kembali menyerangnya, dan kini lebih besar. Soo Rin terperangah. Astaga, wanita yang ada di hadapannya kini adalah ibu dari Kim Ki Bum!

Ji Woo yang menyadari keterkejutan Soo Rin mulai mengembangkan senyum ramahnya. Beliau tahu, ini memang begitu tiba-tiba. Ji Woo pun mempersilahkan Soo Rin untuk kembali duduk. Lalu Eun Jung segera memberikan tempatnya kepada Ji Woo sedangkan dirinya memilih duduk di bangku sebelahnya. Setelah Eun Jung menceritakan dialog dari pertemuan mereka sebelumnya, Ji Woo mulai angkat bicara.

“Maafkan aku sebelumnya. Ini berawal dariku. Aku begitu antusias mendengar dari Eun Ji—yang mengatakan dia mengenalmu sangat dekat—bahwa anakku sudah mendapatkan seorang kekasih yaitu dirimu. Kau tahu, kan, dia hanya fokus dalam belajarnya hingga secerdas seperti sekarang. Aku khawatir fokusnya malah membuat dirinya tidak tertarik untuk menikmati masa remajanya. Dan begitu mengingat Eun Jung yang berada di sekolah yang sama, akhirnya aku meminta tolong padanya untuk memantau seperti apa gadis Ki Bum.

Oh, Eun Jung-ah, tapi kenapa kau harus melakukan aksi yang malah membuatnya menjadi tidak nyaman?” tutur Ji Woo.

“Maafkan aku. Aku juga ingin menguji kualitas aktingku, Ahjumoni. Aku kan ingin mengikuti casting minggu depan.” Eun Jung menampakkan cengirannya.

Soo Rin mematung di tempatnya. Mencerna segala penjelasan yang masuk ke ingatannya. Jadi, semua itu hanya sebuah… sandiwara yang berawal dari sebuah permintaan. Astaga, Park Soo Rin, selama ini kau terlalu menganggap semua ini dengan begitu serius.

“Pesanan datang!”

Keseriusan mereka teralihkan dengan kedatangan kembali Jong Jin yang membawa pesanan mereka. “Satu Strawberry Smoothie untuk Eun Jung, satu Choco Frappucino untuk Park Soo Rin-sshi, dan satu Hot Chocolate untuk Imo.” Jong Jin meletakkan tiap gelas minuman tersebut sesuai dengan pesanan. “Imo, selamat datang di Mouse Rabbit dan selamat menikmati!” ucap Jong Jin yang langsung disambut dengan senyuman hangat dari Ji Woo.

“Ah, kau sudah memperkenalkan diri kepada Soo Rin?” tanya Ji Woo tiba-tiba.

“Sudah,” Jong Jin sedikit membungkuk mendekati Ji Woo. “Dan dia terkejut mendengar hubunganku dengan Eun Jung.” Jong Jin kembali menegakkan tubuhnya sambil menyungging senyum. Kemudian dia pamit demi membiarkan mereka menikmati pesanan mereka.

Eomma?”

Baru saja mereka mulai menikmati sajian yang mereka pesan, sebuah suara terpaksa mengalihkan mereka. Soo Rin yang duduk membelakangi pemilik suara itu terpaksa menoleh ke belakang, lalu terperangah begitu mendapati siapa yang telah berdiri di belakangnya. Begitu juga dengan orang itu yang langsung mendapati Soo Rin.

“Soo Rin-ah?” Ki Bum, laki-laki itu terperangah mendapati Soo Rin tengah bersama Eun Jung dan… ibunya.

Adeul!” sambut Ji Woo dengan segera bangkit dan membimbing Ki Bum untuk duduk di tempat yang masih kosong dan hanya satu-satunya di meja mereka. “Duduklah!” titah Ji Woo sambil menekan kedua bahu Ki Bum agar segera duduk, duduk di sebelah Soo Rin.

Ahjumoni, sepertinya peranku sudah selesai. Aku ke belakang saja, ya? Nanti panggil saja aku jika sudah selesai. Ah, hari ini biarkan aku yang menraktir,” ucap Eun Jung setelah Ji Woo kembali duduk. Setelah mendapat anggukan dan ucapan terima kasih dari Ji Woo, Eun Jung segera bangkit sambil membawa Strawberry Smoothie pesanannya. Sempat Eun Jung melirik ke arah Ki Bum yang jelas tengah menatapnya. Dijulurkan lidahnya yang langsung mendapat reaksi tak suka dari Ki Bum. Kemudian ia melesat ke counter.

Aigo, kalian terlihat begitu serasi!” seru Ji Woo tiba-tiba. Yang jelas membuat Ki Bum dan Soo Rin—yang tengah duduk berdampingan—mulai terlihat salah tingkah. Ji Woo merasa geli sekaligus senang melihat anaknya bersama… calonnya. “Maaf, tapi semua ini adalah ide dari Eun Jung. Menyuruh Soo Rin datang kemari lebih awal lalu membiarkan aku menemuinya. Setelah itu menyuruhmu datang di waktu yang sedikit terlambat.

Ki Bum-ah, ibu sudah melihatmu bersama banyak gadis ketika di hari kelulusanmu. Melihatmu di tarik ke sana ke mari untuk berfoto bersama mereka. Tapi ibu tidak merasa sesenang ini. Ibu tahu, ibu baru kali ini menemui Soo Rin. Tapi ibu sangat merestui jika kau ingin bersama Soo Rin.”

Ki Bum dan Soo Rin harus kembali terperangah. Tapi Ki Bum juga sudah merasa tidak nyaman dengan perestuan ibunya yang tiba-tiba ini. Dan benar saja, apa yang dia khawatirkan segera datang. Ji Woo beralih memandang Soo Rin dan tersenyum.

“Soo Rin-ah, kau sudah tahu, kan, mengenai Eun Jung yang akan segera bertunangan dengan Jong Jin?” Ji Woo melihat Soo Rin mengangguk pelan. “Kami memiliki semacam suatu kebiasaan yang sudah bisa disebut dengan tradisi. Jika anak-anak kami sudah memiliki kekasih di masa sekolahnya dan bertahan hingga lulus Menengah Atas, maka kami akan segera mengikat mereka dengan sebuah pertunangan. Dan jika hubungan mereka terus berlanjut hingga mereka menyelesaikan kuliah, maka kami akan mengikat kembali mereka… dengan sebuah pernikahan.”

Eomma…” Ki Bum mendesis. Baginya, ini terlalu cepat. Ditambah hubungan mereka yang baru menginjak satu bulan lamanya, pengumuman ini terlalu dini. Dan sudah pasti ini mengejutkan untuk Soo Rin. Ki Bum melirik melihat kondisi Soo Rin. Benar saja, gadis itu tengah membeku saat ini.

Tapi Ji Woo tidak mengindahkan panggilan Ki Bum yang menyiratkan untuk berhenti. Beliau melanjutkan, “Hanya saja untuk Eun Jung dan Jong Jin, mereka mempercepat pertunangan mereka karena hubungan mereka yang memang sudah mantap. Lagipula, usia Jong Jin yang terpaut jauh dari Eun Jung dan usia Eun Jung yang sebentar lagi matanglah… yang membuat mereka mempercepat dan memantapkan waktu pertunangan mereka.

Soo Rin-ah, aku tidak memaksamu untuk terus bersama anakku. Tapi yang perlu kau ketahui bahwa… aku sudah merasa nyaman jika anakku bersamamu. Pertama kali aku melihatmu pun aku sudah merasakan kecocokan antara dirimu dan anakku, juga antara dirimu dan diriku. Bukankah insting seorang ibu tidak pernah salah?” Ji Woo mengembangkan senyumnya. Kemudian, beliau memeriksa jam tangannya. “Omo! Sudah waktunya menjemput Appa!”

Ji Woo segera bangkit dari duduknya. Disusul dengan Ki Bum dan Soo Rin yang ikut bangkit. “Ki Bum-ah, ibu harus segera ke bandara. Ayahmu sudah hampir sampai.”

“Ayah pulang hari ini?”

“Tetaplah di sini bersama Soo Rin. Ibu akan menjemput Ayahmu bersama Eun Jung.” Ji Woo menarik Ki Bum untuk berpindah menggantikan posisinya. “Duduklah di sini!” titahnya sebelum beralih kepada Soo Rin. Mendekati gadis yang sedari tadi tidak bersuara akibat segala penjelasannya, lalu meraih kedua tangan gadis itu. Meremasnya dengan lembut, memberikan kehangatan seorang ibu. “Soo Rin-ah, terima kasih sudah membuka hati anakku. Aku percayakan anakku kepadamu. Dan, untuk seterusnya, panggil aku Eomoni. Atau aku akan merasa lebih baik jika kau memanggilku Eomma.” Ji Woo memeluk tubuh ramping itu sejenak. Lalu merengkuh wajah itu dengan lembut. “Kau benar-benar cantik, Soo Rin-ah…” gumamnya.

Soo Rin kembali tersipu hingga menunduk. Sungguh bibirnya begitu kelu untuk sekedar membalas ucapan beliau dengan satu kata saja. Dia masih dalam masa terkejut dengan apa yang sudah didengarnya hari ini.

“Eun Jung-ah, ayo!” seru Ji Woo mengajak Eun Jung yang tampak tengah mengobrol asyik dengan Jong Jin. Eun Jung yang mendengar panggilan Ji Woo segera menghentikan aktivitas di antara mereka dan pamit kepada Jong Jin dengan memberikan pelukan singkat. Kemudian menghampiri Ji Woo dilanjutkan dengan mereka pamit kepada Ki Bum dan Soo Rin sebelum beranjak keluar dari kafe.

Soo Rin kembali duduk di tempatnya dan merenung. Ki Bum kini duduk tepat menghadap Soo Rin, memandangi gadis yang masih tampak tertegun akibat segala tutur kata ibunya tadi. Jujur, ada rasa bersalah melihat reaksi gadis itu. Dia tahu, ini memang bukanlah hal yang biasa bagi Soo Rin. Sedangkan dirinya yang masuk dalam keluarga bertradisi seperti itu, tidak pernah memikirkannya. Malah baru teringat ketika Soo Rin harus berhadapan dengan ibunya.

“Maafkan aku,” ucap Ki Bum dengan halus. Soo Rin hanya menggeleng pelan sambil meraih Choco Frappuccino miliknya dan menyeruputnya sedikit. Ki Bum menghela napas panjang melihat reaksi itu. Diraihnya salah satu tangan Soo Rin hingga gadis itu sedikit tersentak. Ki Bum merasakan tangan itu dingin. Bukan karena telah menyentuh minuman dingin itu, tapi karena tangannya juga berkeringat dingin. Astaga, gadis ini bukan terkejut lagi melainkan shock, pikir Ki Bum. Diremasnya tangan itu dengan lembut, menyalurkan kehangatan untuk gadis itu. Gadisnya.

Soo Rin memberanikan diri untuk menatap Ki Bum. Dan baru menyadari adanya perbedaan dengan penampilan laki-laki itu. Bukan karena dia tidak memakai seragam sekolah seperti yang biasa dilihatnya, tapi karena laki-laki itu melepas kacamatanya. Juga rambutnya yang biasanya dibiarkan jatuh menutupi keningnya, kini tersingkap ke atas. Memberikan kesan lebih dewasa dan… terlihat lebih tampan.

Ki Bum yang menyadari keterpanaan Soo Rin, mendapatkan ide untuk mengubah topik. Mengembangkan senyumnya yang lebih mirip dengan sebuah seringaian, Ki Bum berucap, “Baru menyadari bahwa aku ini tampan, hum?”

Sontak membuat Soo Rin terhenyak hingga refleks menarik tangannya yang tengah digenggam Ki Bum. Tak sengaja tangannya menyenggol sendok teh yang disediakan untuk minuman yang dipesan untuk ibu Ki Bum hingga terpental dan jatuh ke permukaan lantai, memantul hingga ke dekat kakinya. Soo Rin yang sempat terperangah segera membungkukkan tubuhnya demi mengambil sendok itu. Namun gerakannya terhenti ketika sebuah tangan lain terlebih dahulu memungut sendok tersebut. Mengangkat kepalanya, mendapati Ki Bum sudah berjongkok di hadapannya.

Ki Bum tidak segera berdiri. Memandangi Soo Rin yang kini tampak lebih tinggi darinya. Lalu mengembangkan senyum manisnya. “Jangan terlalu memikirkan segala perkataan ibuku mengenai tradisi itu. Lagipula, ibuku juga tidak memaksanya, bukan?” Ki Bum terdiam sejenak, masih dengan memandangi Soo Rin. “Kita jalani saja seperti layaknya hubungan Eun Jung dan Jong Jin Hyung saat ini. Tidak perlu memikirkan masalah pertunangan apalagi pernikahan. Karena semua itu masih sangat jauh untukku dan untukmu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya nanti, kan?”

Soo Rin mengangguk dengan sangat pelan. Hampir tidak terlihat jika saja Ki Bum tidak terus memandang wajah merona itu. Soo Rin hendak mengambil sendok itu dari tangan Ki Bum, namun Ki Bum segera menjauhkannya dari jangkauan Soo Rin. Membuat gadis itu mengernyit bingung. Ki Bum yang berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai, menyelampirkan tangan yang memegang sendok itu ke lutut lainnya dan menyembunyikannya.

“Ibuku menganggap bahwa kita melakukan hubungan yang semestinya. Tapi, ada satu hal yang belum aku dapatkan darimu layaknya sepasang kekasih biasanya,” ucap Ki Bum sambil mengulum senyum penuh arti.

“Apa?” tanya Soo Rin dengan suara kecilnya.

I love you,” ucap Ki Bum. Yang membuat Soo Rin berdesir mendengar ungkapannya. Jantungnya mulai berpacu cepat. Astaga, hanya sebuah ungkapan perasaan tapi efeknya begitu besar untuk Soo Rin.

Do you love me too?” kini Ki Bum mengajukan pertanyaan yang mengharapkan sebuah balasan dengan segera. Ki Bum mengeluarkan sendok tersebut dari persembunyiannya. Mengulurkannya ke hadapan Soo Rin, membuatnya sebagai tanda sebuah jawaban dari Soo Rin untuknya.

Soo Rin semakin berdebar-debar dibuatnya. Sungguh, Ki Bum mengungkapkan perasaannya—lagi, dan kini di tempat umum! Suasana kafe yang tampak sedikit remang dan sejuk seolah menjadi pendukung dari aksi Ki Bum. Ditambah, beberapa pasang mata dari pengunjung mulai mengarah kepada mereka. Tapi Soo Rin menyadari, bukan itu yang menjadi permasalahannya. Melainkan perasaannya. Soo Rin memang belum mengakui secara gamblang, bahwa dia juga menyukai Ki Bum. Tapi dari segala perlakuan Ki Bum terhadapnya, juga reaksinya yang begitu menerima, tidakkah itu sudah menjelaskan semuanya?

Tangan Soo Rin mengulur meraih sendok itu. Begitu mendapatkannya, Soo Rin tidak langsung menariknya. Dia mulai kembali menatap Ki Bum yang tak pernah berpaling dan terus menatapnya. Perlahan, bibir Soo Rin tertarik hingga membentuk seulas senyum. Senyum yang begitu manis dan juga tulus di mata Ki Bum. “Nado saranghae,” ucapnya dengan sangat pelan.

Ki Bum semakin mengembangkan senyumnya. Ada rasa senang yang begitu besar membuncah di benaknya. Hanya dengan satu kalimat itu, dia semakin merasakan gadis ini memang benar untuknya. Tak dapat dipungkiri, Ki Bum merasa bahagia saat ini juga. Tangan yang sedari tadi memegang sendok itu mulai bergeser hingga menggenggam tangan Soo Rin. Lalu dia sedikit mengangkat tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Soo Rin. Mendekatkannya, lalu memiringkan kepalanya hingga ke samping wajah itu. Detik kemudian, Ki Bum mengecup lembut pipi merona itu.

Sontak tubuh Soo Rin menegang dengan perlakuan itu. Kedua matanya terpaksa kembali melebar. Jantungnya serasa berjengit layaknya kembali disengat listrik hingga berpacu semakin cepat. Darahnya terasa mengalir deras hingga memicu rasa panas yang menjalar ke wajahnya. Dan wajah itu semakin merona.

Ki Bum merasa gemas dibuatnya. Jika dia tidak ingat bahwa ini di tempat umum, mungkin dia akan kembali mencium gadis ini seperti di Ruang Kesehatan tempo hari. Dan… mengingat ini adalah tempat umum, dia mulai menyadari adanya seruan riuh yang jelas sekali itu tertuju untuk mereka berdua. Astaga, mereka telah menjadi pusat perhatian!

Menarik sendok yang masih digenggam Soo Rin, Ki Bum meletakkan sendok tersebut ke tempat semula. Lalu menarik lembut tangan Soo Rin yang masih digenggamnya. “Ayo!” ajaknya. Yang tidak langsung mendapatkan respon dari Soo Rin karena gadis itu masih terperangah. “Kita pergi dari sini. Kau tidak suka menjadi pusat perhatian, bukan?” bisik Ki Bum di telinga Soo Rin.

Sontak gadis itu menyadari adanya perhatian lebih di sekitarnya. Merasa malu, gadis itu menunduk begitu dalam. Ki Bum membimbingnya untuk berdiri, lalu mengaitkan jari-jarinya ke jari-jari Soo Rin, mengapit lengan mereka hingga tubuh mereka memepet. Segeralah mereka meninggalkan tempat itu. Tempat yang menjadi saksi mereka benar-benar menjadi pasangan. Mouse Rabbit Café.

Jong Jin yang sedari tadi memperhatikan momen itu dari counter hanya bisa menggelengkan kepala sambil berkacak pinggang. Merasa tak habis pikir, bagaimana bisa saudara sepupunya itu bersikap begitu romantis seperti itu? Di sini. Di tempatnya. Di kafenya!

Tsk, Kim Ki Bum… kau begitu berani, ternyata,” gumamnya sambil berdecak kagum.

 

****

 

“Kim Ki Bum,” panggil Soo Rin—untuk yang pertama kalinya. Membuat Ki Bum mengulas senyum sebelum menoleh kepadanya.

“Hm?” sahut Ki Bum dengan gumaman. Masih dengan tangan mereka yang saling bertautan, mereka berjalan berdampingan menelusuri jalanan kecil menuju jalan raya.

“Apa kau bisa melihat?” tanya Soo Rin. Membuat Ki Bum yang berpikir dengan begitu cepat langsung terkekeh memahami maksud pertanyaannya.

“Kenapa, hum?”

“Kau melepas kacamatamu. Kau masih bisa melihat?” Soo Rin dengan memasang tampang lugunya menjelaskan maksud pertanyaannya. Dia mengira Ki Bum tidak paham, ternyata. Dan itu membuat Ki Bum harus mengembangkan senyumnya demi tidak menyemburkan kekehannya.

“Bahkan aku masih bisa mengenalimu yang baru memasuki gerbang sekolah dari jendela kelasku,” jelasnya yang membuat Soo Rin merona. Untungnya dia langsung menunduk. Ki Bum kembali memandang ke depan. “Aku tidak mengalami rabun jauh maupun rabun dekat, melainkan silinder. Karena itu aku hanya memakainya di waktu sekolah atau di waktu belajar.”

“Apakah begitu serius?”

Ki Bum kembali memandang gadis yang tengah memandangnya lagi. Sambil tersenyum, ia menggeleng dan mengucap, “Tidak. Kau lihat sendiri, kan? Aku berani melepasnya sekarang.”

Soo Rin mengangguk-angguk. “Kau bahkan berani mengubah model rambutmu sekarang,” gumamnya yang membuat Ki Bum terkekeh—lagi.

“Aku tidak ingin mengumbar ketampananku di sekolah,” balas Ki Bum dengan bangga. Membuat Soo Rin terpaksa mendengus dan mencibir.

“Ta-tampan kau bilang? Huh, percaya diri sekali.”

“Apa kau tidak menyadari bahwa para gadis di sekolah selalu mengincarku, hum?”

“Huh?! Lalu kau berani mengubahnya di luar sekolah bermaksud ingin menarik mereka lebih banyak lagi? Begitu?”

“Kau cemburu?”

Mwo?! Siapa bilang aku begitu?” sungut Soo Rin tergagap. Terlihat sekali dirinya begitu salah tingkah hingga wajahnya kembali merona. Ki Bum menyeringai melihat reaksi itu. Soo Rin yang mulai merasa tidak nyaman membuat jarak di antara mereka dan hendak berjalan mendahului. Namun tangan mereka yang masih bertautan memberikan keuntungan bagi Ki Bum dan dimanfaatkannya dengan menarik gadis itu hingga tubuh mereka kembali mengapit.

“Aku hanya akan seperti ini di saat bersamamu,” ucap Ki Bum dengan menampakkan senyum manisnya. Lalu kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti. Sungguh, Ki Bum tampak begitu senang membuat gadisnya merona hingga harus menundukkan wajahnya seperti sekarang ini.

Mereka telah menemukan jalan utama Hwayang. Menelusurinya dengan santai menuju halte terdekat—dengan masih berdampingan.

“Kim Ki Bum.”

“Hm?”

“Apa hubunganmu dengan pemilik kafe itu?”

“Jong Jin Hyung?” Ki Bum menatap Soo Rin sejenak. “Kami adalah saudara sepupu,” jawabnya sambil kembali mengalihkan pandangannya ke depan. “Aku mengenal Eun Jung karena hubungan mereka yang sudah berjalan lama,” lanjutnya.

“Itu artinya… kau juga kenal dekat dengan kakaknya?” tanya Soo Rin lagi.

“Jong Woon Hyung? Tentu saja. Kenapa?” Ki Bum kembali menatap Soo Rin, yang kini dibalas oleh Soo Rin dengan mata yang berbinar.

“Maukah kau mengenalkanku kepadanya?”

Mwo?” Langkah mereka terhenti karena Ki Bum. “Kenapa tiba-tiba kau ingin itu?” tanya Ki Bum bingung.

“Apa kau tidak tahu siapa dia? Bukankah kau mengenal dekat dengannya?”

Ki Bum mulai menyadari maksud dari Soo Rin, yang seketika menyadari pula tentang gadis ini yang lainnya. Menghembuskan napas, Ki Bum menjawab, “Aah, dia adalah penyanyi yang dikenal sebagai Ye Sung. Benar, kan?”

Soo Rin mengembangkan senyumnya kemudian mengangguk cepat. “Karena itu kenalkan aku kepadanya. Ya?” Soo Rin mengayunkan tautan mereka tanpa sadar.

Ki Bum tersenyum sejenak. Lalu dengan menampakkan kembali wajah datarnya, ia menjawab, “Aku tidak akan mengizinkanmu untuk bertemu dengannya,” dan kembali membuka langkah dengan cepat yang otomatis diikuti oleh Soo Rin.

Wae?”

“Tidak boleh.”

“Kenapa tidak boleh?”

“Pokoknya tidak!”

Yaa, Kim Ki Bum!”

“Tidak!”

Ish!

 

 

-END


Terima kasih sudah mampir~^-^

ikmubmik

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

19 thoughts on “I Want To Be Like You – Part 2, End

  1. ceritanya bagus kak, di part 1 awalnya memang biasa aja tapi setelah baca part 2 ceritanya malah menarik, aku fikir tunangan eun jung itu yesung oppa ternyata jong jin oppa. cukup kaget sih karna yesung oppa itu adalah milik ku,hehe. semangat ya kak buat bkin ff yg lebih bagus lagi. kamsahamnida #bow90°

  2. ah jinja! keren keren! suka sma sifat kibum.. dari awal suka sma jalan critanya, jalan critany beda sma crita” yg lain. yg ini agak susah dtebak ^^ dtggu crta slanjtnya, brhrap ntar kalo Wook dtang ga ganggu hub. KiSoo couple haha

  3. Annyeong aku reader baru dsini. Salam kenal 🙂 aku sdh baca part 1 di sjff dan langsung suka. Kibumnya romantis banget.. Perlakuannya ke soorin bikin meleleh .. Ah suka deh sm couple ini..

  4. aku baca dari seri who are you sampe yang ini, gak ngerti kenapa malah mesem2 gak jelas terus. kebayang kalo beneran jadi soo rin terus pacaran ama kibum oppa wahaha. nice job thor 🙂 banyakin cerita tentang kibum yah ^^

  5. Arghhhhh…author aku dibuat deg2an, mesem2 sendiri aku bacanya saking sweetnya Kibum oppa…
    Aku dibuat merona jg kkkk…

    Author daebak pokoknya…
    Fighting✊✊✊

  6. Astaga ternyata eun jung hanya menjlankan perintah.. Wkwkwk ga nyangka..

    Sepertinya ki bum cemburu maka dari itu dia ga mau soo rin ketemu sama yesung heehee..

  7. Kim kibum ku 😍😍😍
    Kenapa kibum disini manis sekali? Berasa mau dibungkus, terus dibawa pulang aja kibumnya ._.

  8. Eunjung cuman akting wkwkkk mau ngasah keahlian haha ibunya kibum wkwk saking pengen bgt anaknya punya pacar sekalinya dpt langsung dibuntutin wkkwk 😆 makin sukaa aja kan sm kibum 😅

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s