Posted in Category Fiction, Fiction, KiSoo FF "I Want To Be Like You", PG, PG-15, Romance, School Life, Two Shot

I Want To Be Like You – Part 1

Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ki Bum
  • Ham Eun Jung
  • Lee Ah Reum
  • Tae Yong
  • Tae Min
Genre   : School Life, Romance
Rated    : PG-15
Length  : Two Shot

“This story comes from my mind aka fiction^^ Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~”


“Kau pikir, kau begitu pantas bersama Kim Ki Bum?”

“Huh?”

“Seorang Kim Ki Bum hanya dapat disandingkan dengan gadis yang memiliki kemampuan seperti dirinya. Lelaki yang jenius, harus bersama gadis yang jenius juga, bukan? Misalnya adalah… aku.”

&&&

 

Pertengahan musim semi yang sudah pasti udara di Negeri Ginseng ini mulai menghangat. Musim peralihan dari musim dingin menuju ke musim panas. Bunga-bunga maupun tumbuhan-tumbuhan lainnya yang rontok akibat salju telah tumbuh dan bermekaran dengan indah. Karena itulah, musim semi juga disebut dengan Musim Bunga.

Sudah hampir tiga minggu berlalu. Sejak kejadian di mana Soo Rin mendapat panggilan misterius yang tak lain dan tak bukan adalah seorang siswa yang memiliki IQ tertinggi dan selalu menjadi peringkat satu di Neul Paran, Kim Ki Bum. Hingga kabar Ki Bum yang sudah berani menggandeng dirinya di depan publik, membuat para siswi di angkatan mereka maupun angkatan pertama hingga akhir yang memang mengenal siapa itu Ki Bum menjadi histeris dan tentunya merasa iri. Yang benar saja, Ki Bum yang selama ini terlihat pendiam dan dingin—yang jelas-jelas sangat sulit untuk disentuh hatinya—tiba-tiba sudah menggandeng seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Park Soo Rin. Siswi yang… tidak terlalu mencolok di sekolah meskipun begitu cantik tapi juga seorang gadis yang kikuk.

Tak dapat dipungkiri memang, bahwa Soo Rin hampir selalu merasa tidak nyaman jika dia berada di luar kelas. Pasti ada saja beberapa pasang mata yang dengan terang-terangan menusuknya dengan segala bisikan-bisikan yang selalu dia dengar, “Dia kekasih Kim Ki Bum, Si Jenius Peringkat Satu itu?” semacam itu!

 

Soo Rin berjalan menuju toilet yang berada di ujung lantai 2. Lantai di mana kelasnya berada pula. Hanya bermaksud ingin membasuh kedua tangannya yang terasa begitu lengket setelah mengisi perutnya. Hari ini bersama Ah Reum, mereka membawa bekal sendiri dari rumah. Ketika tengah membasuh tangannya, ia melirik sekilas ke cermin besar di hadapannya yang memantulkan pintu masuk toilet dan menampakkan seorang siswi tengah masuk ke dalam. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke bawah.

Siswi berambut pendek sejajar dengan dagunya itu memperhatikan Soo Rin dari belakang. Mengetahui bahwa gadis yang tengah membasuh tangannya itu adalah Soo Rin dari pantulan cermin di depannya, langkahnya berbelok dan berhenti tepat di samping Soo Rin. Sambil melipat kedua tangannya ke depan dada, ia memperhatikan Soo Rin yang memang tampak dari samping. Memandangnya hingga ujung kepala hingga ujung kaki Soo Rin. Lalu menyunggingkan senyum miringnya.

“Kau Park Soo Rin, kan?” sapanya yang membuat Soo Rin sedikit tersentak dan menghentikan aktivitasnya.

“I-iya…” jawab Soo Rin sedikit ragu sambil mematikan keran air dan sedikit mengibaskan tangannya yang basah. “Nuguseyo?” lanjut Soo Rin.

“Oh, kau tidak kenal aku?” raut wajah gadis itu sedikit terkejut yang dibuat-buat. Lalu kembali seperti semula dan ditambah dengan ulasan senyum. “Aku Ham Eun Jung dari Kelas Satu. Siswi peringkat dua di angkatan ini,” jawab gadis bernama Eun Jung itu. Soo Rin yang tak mengerti maksud dari ‘perkenalan’ itu hanya mengangguk sebagai tanda salam.

“Aku harus segera pergi,” pamit Soo Rin dengan sopan. Mulai merasa canggung sekaligus aneh dengan sikap gadis itu terhadapnya. Ditambah mendapatkan semacam tatapan yang bermaksud ingin mengintimidasinya. Namun belum ia berbalik, gadis bernama Eun Jung itu menahannya dengan sebuah ucapan.

“Jadi kau yang tengah menjadi bahan pembicaraan di kelasku?”

Ne?” Soo Rin terpaksa kembali menghadap Eun Jung.

“Park Soo Rin yang menjadi kekasih Kim Ki Bum, Si Jenius Peringkat Satu di angkatan kita.” Eun Jung tersenyum miring. Ditambah dengan kepala yang ia miringkan sambil kembali memperhatikan Soo Rin dari atas hingga ke bawah. “Aku tidak mengerti apa yang membuat dirimu terlihat menarik di mata seorang Kim Ki Bum. Tapi yang aku tahu, kau tidak memiliki kemampuan dalam berpikir seperti dia. Benar, bukan?”

Soo Rin terlihat kaku. Ia mulai menangkap maksud dari ucapan Eun Jung. Ditambah dengan tatapan Eun Jung yang semakin terlihat tengah mengintimidasinya membuat dirinya merasa tidak nyaman di tempat. Dalam hati, dia membenarkan perkataan Eun Jung. Dia memang tidak memiliki kemampuan dalam berpikir seperti Ki Bum, yang lebih jelasnya, tidak sepintar apalagi sejenius Ki Bum. Meskipun begitu, Soo Rin masih dalam peringkat yang tinggi. Masuk ke dalam kategori 100 besar dari 350 murid. Lalu, apa maksud tersembunyi dari Eun Jung membicarakan soal kemampuan berpikir?

“Kau pikir, kau begitu pantas bersama Kim Ki Bum?” tanya Eun Jung tiba-tiba yang membuat Soo Rin terhenyak.

“Huh?” Soo Rin tercekat, mengernyit bingung mendapati Eun Jung kini menampakkan tatapan sinisnya.

Well, kau tahu sendiri, bukan? Seorang Kim Ki Bum hanya dapat disandingkan dengan gadis yang memiliki kemampuan seperti dirinya. Lelaki yang jenius, harus bersama gadis yang jenius juga, bukan?” Eun Jung mengedikkan bahu. “Misalnya adalah… aku,” lanjutnya dengan menekankan kata terakhirnya. Eun Jung menyadari reaksi terkesiap dari Soo Rin yang seketika membuat tubuhnya semakin kaku. Satu hal yang telah terbaca oleh Eun Jung, bahwa gadis yang berada di hadapannya kini, telah terpengaruh dengan ucapannya.

 

****

 

Soo Rin terlihat tengah melamun. Di istirahat kedua ini, Soo Rin memilih untuk berkumpul bersama Ah Reum, Tae Yong dan juga Tae Min di kantin hanya untuk sekedar melepas dahaga setelah hampir tiga jam lamanya mereka berkonsentrasi di dalam kelas. Ingatannya kembali di saat berada di toilet tadi. Merenungi setiap kalimat yang diutarakan oleh gadis bernama Eun Jung yang tersirat mengaku dirinya sebagai murid yang jenius di angkatannya. Juga tersirat telah menyindir soal… kecocokan antara dirinya dan Ki Bum.

Ah Reum yang sedari tadi bersenda gurau dengan Tae Yong dan Tae Min mulai menyadari ketermenungan Soo Rin begitu mendengar helaan napas yang begitu panjang darinya. “Soo Rin-ah, ada sesuatu yang sedang mengganggumu?” tanya Ah Reum. Soo Rin yang masih tertunduk sambil memainkan sedotan minumannya dan mengaduk-aduknya hanya menggeleng pelan. Yang malah membuat tidak hanya Ah Reum mulai bingung, Tae Yong dan Tae Min juga. “Terjadi sesuatu di antara kau dan Kim Ki Bum?” Ah Reum mencoba memancing.

Soo Rin mendengak menatapi ketiga temannya bergiliran. “Apakah… kalian tahu murid yang menyandang peringkat kedua di angkatan kita?” tanya Soo Rin dengan suara kecilnya.

“Ham Eun Jung?” sahut Tae Min yang membuat Soo Rin terpana sejenak sebelum mulai melemaskan kedua bahunya. Ternyata gadis itu benar, pikir Soo Rin sambil kembali tertunduk. Melihat reaksi itu, ketiga temannya semakin bingung.

“Ada apa tiba-tiba menanyakan itu?” tanya Tae Yong.

“Tadi aku bertemu dengannya.”

“Benarkah? Lalu?”

“Sepertinya… dia tidak menyukaiku.”

“Huh?” Mereka melongo mendengar jawaban Soo Rin.

 

 

:: Neul Paran’s Library

 

Soo Rin memasuki Ruang Perpustakaan lima belas menit setelah bel pulang sekolah berbunyi. Dengan datang sendiri, ia bermaksud ingin mengembalikan buku bacaan yang dipinjamnya tiga hari lalu. Setelah menulis data pengembalian buku di meja absensi, Soo Rin segera menuju ke rak buku yang paling ujung, yang sudah pasti adalah tempat bacaan fiksi. Begitu melewati daerah membaca yang berada tepat di tengah ruangan, matanya tak sengaja menangkap dua orang yang tengah duduk berdampingan di satu meja sedang berdiskusi bersama.

Dengan beberapa buku yang berserakan di meja, Ki Bum dan Eun Jung tampak serius mengerjakan tugas kelasnya. Namun di samping keseriusannya, Eun Jung yang menyadari adanya seseorang berdiri tidak jauh di depannya mulai melirik. Dan senyum miring mulai ditampakkan begitu tahu bahwa orang yang tengah memandangnya itu adalah Soo Rin. Dengan memanfaatkan keseriusan Ki Bum, Eun Jung sedikit bergeser hingga jarak di antara mereka semakin dekat. Lalu dengan lihai, dia berlagak menanyakan sebuah soal kepada Ki Bum.

Tanpa sadar, Soo Rin mengeratkan genggamannya pada buku-buku bacaan yang tengah didekapnya. Ada rasa tidak senang melihat kedekatan itu. Ditambah melihat perlakuan Eun Jung yang langsung dilayani oleh Ki Bum membuat perasaan itu menyeruak. Perasaan yang pernah dia rasakan dulu. Perasaan yang pernah dia rasakan ketika melihat Kim Ryeo Wook bersama Seo Ji Hyun. Terhenyak, Soo Rin segera berbalik badan. Menggelengkan kepala dengan cepat dan merutuki perasaan aneh yang muncul begitu saja di benaknya. Tidak, tidak, aku tidak mungkin begitu, batin Soo Rin.

Soo Rin segera membuka langkah kembali menuju ke tujuannya. Menepis segala pikiran dan perasaan yang mulai menyelimutinya. Batinnya mencoba menepis dengan sugesti, mereka hanya sedang berdiskusi mengenai tugas kelas dan itu bukan sesuatu yang patut dipermasalahkan! Soo Rin melangkah dengan cepat hingga tidak menyadari ada orang lain berjalan ke arahnya dari balik rak yang menjulang di dekatnya dan hendak berbelok ke arahnya. Begitu mereka saling bertemu, tabrakan itu tak terhindar hingga membuat Soo Rin terlonjak kaget dan tubuhnya yang bertabrakan kini jatuh terduduk. Membuat ketenangan yang tercipta di ruangan itu sempat terhenti dan hampir semua pasang mata yang ada di sekitar Soo Rin beralih kepadanya.

“Maaf, kau tidak apa-apa?” tanya seorang siswi yang baru saja menabrak Soo Rin. Tubuhnya yang masih berdiri tegak segera dibungkukkan demi melihat keadaan Soo Rin yang duduk tertunduk.

“I-iya, aku tidak apa-apa,” jawab Soo Rin lirih. Tangannya mulai bergerak memungut buku-buku yang didekapnya tadi kini telah berserakan di sekitarnya. Siswi itu segera membantunya. Lalu mereka berdiri bersamaan disusul dengan siswi itu menyerahkan buku yang ia pungut kepada Soo Rin. “Terima kasih. Maafkan aku,” ucap Soo Rin sambil sedikit membungkuk. Lalu kembali beranjak dengan kembali mendekap buku-bukunya dan tertunduk dalam. Soo Rin merasa malu saat ini.

Kejadian barusan tak luput dari pandangan Ki Bum, juga Eun Jung. Yang saat itu juga Ki Bum segera menghentikan kegiatannya dan hendak bangkit dari duduknya. Namun gerakannya terhenti ketika Eun Jung mengalihkan perhatiannya dengan kembali menanyakan soal tugas mereka. Yang begitu kembali menoleh, ia mendapati Soo Rin sudah menghilang dari tempat kejadian. Ki Bum berdecak kesal dan menatap Eun Jung.

“Kenapa?” tanya Eun Jung dengan wajah tanpa merasa bersalahnya.

“Lanjutkan sendiri,” jawab Ki Bum terdengar dingin sebelum bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Eun Jung. Sedang Eun Jung yang melihat tingkah Ki Bum hanya mengulum senyum penuh arti dan kembali berkutat dengan buku tugasnya.

Soo Rin tampak berdiam di tempat setelah sampai di tujuannya. Kembali mencerna kejadian yang baru saja dialaminya yang jelas membawa dirinya ke dalam pusat perhatian. Batinnya merutuki kejadian barusan yang jelas telah membuat kegaduhan di ruangan yang seharusnya tenang ini. Soo Rin yang merasa tidak pernah mengalami hal memalukan seperti ini, berdebar-debar karena malu. Menghela napas panjang, ia mulai menggerakkan tangannya demi menyimpan buku-buku yang dipinjamnya ke dalam rak, ke tempat semula. Ia menyadari kedua tangannya bergetar karena efek dari kejadian tadi belum mereda. Terlihat sekali ketika ia mulai mengangkatnya dengan memegang salah satu buku dan mencoba menyelipkannya ke barisan yang cukup rapat di hadapannya itu.

Buku terakhir terletak di paling atas. Soo Rin yang memiliki tubuh ramping dan tinggi awalnya merasa itu mudah, cukup dengan menjinjitkan kaki maka tangannya akan mampu menyentuh buku-buku di atas sana. Namun karena tangannya yang masih bergetar ditambah celah yang tersisa di antara deretan buku itu begitu kecil, ia mulai merasa kesulitan. Menjinjit beberapa kali hingga mendesah kesal. Padahal sebelumnya aku tidak kesulitan untuk mengambilnya, batinnya menggerutu.

Sebuah tangan terulur dan meraih buku yang Soo Rin pegang, tangan yang lain ikut andil dengan membuka celah di antara deretan buku itu lalu menyelipkan buku tersebut ke dalamnya. Soo Rin sempat tercenung sebelum menoleh ke sampingnya demi melihat siapa yang baru saja membantunya. Kemudian, kakinya yang menjinjit kini diturunkan bersama kedua tangannya ia turunkan juga. Dan, ia mulai merasa gugup begitu orang itu menoleh kepadanya dan menatapnya. Ia juga menyadari bahwa sebagian tubuh itu berada di belakang tubuhnya. Yang bisa kapan saja akan dengan mudah mengurungnya.

“Terima kasih,” ucap Soo Rin lirih dan sedikit tergagap, lalu menundukkan pandangannya.

Ki Bum menyadari kegugupan itu. Sambil mengulum senyum, diturunkan kedua tangannya lalu salah satunya ia hentikan di tengah jalan hingga mengulur horizontal ke depan. Mulai membuat kurungan. Tatapannya tidak lepas dari wajah yang tertunduk itu. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan halus.

Soo Rin hanya mengangguk sebagai jawabannya. Lalu tubuhnya mulai memberi jarak sebelum ia mulai beranjak berniat meninggalkan tempat itu. Namun belum sempat ia berbalik melewati tubuh tinggi tegap itu, sebuah tangan lain menghentikan gerakannya dengan merengkuh tubuhnya hingga terpaksa kembali mendekati tubuh laki-laki itu. Sontak membuat Soo Rin menegang dan kaku.

“Apa yang kau lakukan sebelum menabrak orang itu? Memandangku?” tanya Ki Bum yang membuat Soo Rin tertegun dan menelan ludah.

Apakah dia menyadarinya? Batin Soo Rin panik.

“Aku tahu kau sempat berdiri di sana, menghadapku, Soo Rin-ah,” ucap Ki Bum tepat di depan telinga Soo Rin dan membuat gadis itu mulai berdesir. Jantungnya mulai memompa lebih cepat. Namun sebuah kalimat melintas di pikirannya yang seketika semua itu berhenti begitu saja.

Kau pikir, kau begitu pantas bersama Kim Ki Bum?

Sontak Soo Rin mendorong tubuh Ki Bum hingga rengkuhannya terlepas begitu saja. Lalu ia melihat reaksi Ki Bum yang sedikit terbaca bahwa laki-laki itu terpana dengan kelakuannya. Seketika Soo Rin terhenyak menyadari sikapnya barusan. Dan aura kecanggungan mulai terasa di sekitarnya. Soo Rin mulai salah tingkah. “M-maaf… aku harus segera pulang,” gumamnya sambil menunduk. Kemudian dengan cepat ia pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Ki Bum yang masih terdiam di tempat.

Ki Bum membalikkan badan tepat sebelum gadis itu berbelok dan menghilang di balik rak-rak yang menjulang tinggi. Memandang punggung gadis itu yang hanya tertangkap sekilas, dengan mimik wajah yang sulit ditebak.

 

****

 

Soo Rin termenung di kamarnya. Begitu sampai rumah, ia langsung mengurung diri di kamar. Hari ini, ia merasa bukanlah hari yang baik. Pertemuan pertama dirinya dengan seorang Eun Jung membuat benaknya mencuatkan perasaan resah. Segala perkataan gadis itu telah membuat dirinya gelisah. Dan berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Dari segala pernyataan yang bermakna tersirat, hingga sikapnya yang diperlihatkan ketika di perpustakaan tadi. Satu pertanyaan yang mendominasi, apakah Ham Eun Jung menyukai Kim Ki Bum?

Lelaki yang jenius, harus bersama gadis yang jenius juga, bukan?

Soo Rin membuang napas dengan kasar. Dia bangkit dari tempat tidur dan beranjak ke meja belajarnya. Mendudukkan dirinya ke hadapan meja belajar lalu meraih tasnya, membongkar isinya. Ada satu hal yang harus dia pastikan. Hal yang harus bisa dia tunjukkan kepada gadis itu. Hal yang harus dibuktikan melalui suatu proses. Bahwa Soo Rin, sebenarnya tidak rela jika semua itu terjadi.

 

****

 

Soo Rin menguap lebar begitu keluar dari kelas, hingga kedua tangannya harus membekap mulutnya. Waktu istirahat pertama baru dimulai dan ia berniat ingin pergi ke kantin bersama ketiga teman setianya. Siapa lagi jika bukan Ah Reum, Tae Yong dan Tae Min? Soo Rin kembali melakukan peregangan. Ternyata hal yang dilakukan di dalam tadi masih belum maksimal. Soo Rin merasa tubuhnya kembali tidak terbiasa dengan kegiatannya semalam. Semenjak diterima di Neul Paran, ia mulai kembali melakukan kegiatan belajar secukupnya. Dan semalam, ia kembali belajar seperti di waktu tahun terakhir Menengah Pertama. Belajar hingga lewat tengah malam.

Tak sengaja Soo Rin menoleh ke sisi kanannya ketika sedang melakukan peregangan kepala. Melihat sepanjang koridor sana yang mulai ramai, dan tertegun begitu matanya mendapati sosok orang itu keluar dari kelasnya dan melangkah kemari. Soo Rin segera berbalik begitu pandangan orang itu mulai mendapatinya. Detik kemudian, langkahnya terbuka dan berlari menuju tangga.

Ya, Soo Rin-ah! Kau mau ke mana? Tunggu dulu!” Ah Reum berseru sambil keluar kelas begitu melihat Soo Rin melesat pergi. “Ya! Tae Yong, Tae Min,cepatlah!!” seru Ah Reum lagi sambil beranjak menyusul Soo Rin yang sudah turun ke lantai bawah. Di susul dengan Tae Yong dan Tae Min yang tampak berjalan cepat namun santai sambil bersenda gurau.

Ki Bum menghentikan langkahnya begitu melihat Soo Rin yang langsung membuang muka dan berlari menuruni tangga. Dia tahu bahwa gadis itu baru saja menatapnya, tapi ada hal yang membuatnya merasa aneh. Sejak kejadian dirinya di dorong oleh gadis itu kemarin, kini gadis itu langsung berlari begitu mendapati dirinya. Ki Bum sadar, gadis itu sedang mencoba menyembunyikan sesuatu.

 

 

Hari berikutnya, Soo Rin menghabiskan waktu istirahat dengan mendekam diri di Perpustakaan. Kegiatan rutinnya yang selalu membaca bacaan fiksi mulai dihilangkan. Lalu mulai menekuri segala bacaan yang mengandung berbagai materi di setiap pelajaran sekolahnya. Istirahat pertama mengambil buku bacaan sosial, istirahat kedua mengambil buku bacaan dalam Bahasa Inggris, dan jika tidak selesai dia akan meminjamnya ketika pulang sekolah dan dibawa pulang. Kemudian dilanjutkan di rumahnya hingga lewat tengah malam.

Dan hal itu terus berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Segala bacaan yang dipinjam ia tuntaskan dalam waktu semalam hingga dua malam. Berbagai point yang dia dapat disalin ke dalam buku catatannya. Hingga kegiatan yang sudah memasuki taraf kegiatan rutin Soo Rin mulai mengundang keheranan oleh ketiga temannya. Setiap istirahat, Soo Rin akan melesat pergi tanpa mengatakan apapun terlebih dahulu kepada Ah Reum hingga temannya itu kehilangan jejaknya dan baru akan menemukan sosoknya kembali ketika waktu istirahat telah berakhir. Jika ditanyakan ke mana saja selama istirahat, Soo Rin hanya akan menjawab dengan senyuman. Karena tak lama, guru mata pelajaran mereka akan masuk dan langsung memulai pelajarannya. Begitu pula di waktu jam pulang sekolah, Soo Rin akan menyuruh Ah Reum untuk pulang terlebih dahulu tanpa memberitahu alasannya.

Tak hanya Ah Reum, Tae Yong dan Tae Min juga kebingungan. Sikap Soo Rin yang tampak sedang menyembunyikan sesuatu hingga gadis itu tampak menjauhkan diri dari mereka membuat mereka bertanya-tanya. Ditambah setiap pagi di saat melihat sosoknya masuk ke kelas, mereka akan mendapatinya tidak dalam keadaan segar seperti biasanya.

Hal ini juga tak luput dari Ki Bum. Meskipun Soo Rin masih terlihat begitu canggung di saat bersamanya, tapi tidak sampai dengan menghindarinya seperti sekarang. Dia hampir tidak melihat sosoknya jika tidak dengan segera keluar kelas di waktu istirahat. Dan dirinya hanya mampu mendapati sosok itu tengah berlari keluar kelas lalu menghilang begitu menuruni tangga. Dia tahu ke mana gadis itu pergi, hanya saja kesibukannya terhadap tugas kelas membuatnya harus menekan niatnya untuk menghampiri gadis yang sudah didapatkannya itu. Ditambah, kehadiran Eun Jung yang selalu mendesaknya untuk memberikan bantuan mengenai tugas kelas yang memang sedang mereka kerjakan bersama membuatnya harus bersabar.

 

 

Empat hari semenjak kegiatan itu berlangsung, Soo Rin mulai terlihat lelah. Kedua kantung matanya sudah menggelap. Waktu belajar-mengajar telah berakhir dan saat ini ia berada di ruang bacaan di Perpustakaan dengan berbagai buku yang berserakan di mejanya. Begitu menutup buku yang baru saja diselesaikan, ia langsung menjatuhkan kepalanya tepat di atas buku catatannya. Memejamkan matanya yang terasa berat, mulai merasakan pening yang mendera di kepalanya, dan mulai merasa lapar. Dia kurang tidur, kurang asupan makan pula. Tapi mengingat pertemuan pertamanya dengan Eun Jung, ditambah berbagai kelakuannya yang mulai terlihat selalu menempel dengan Ki Bum membuatnya harus menepis segala keluhan itu. Bayang-bayang mengenai kedekatan mereka yang—sebenarnya selalu ia lihat selama berada di Perpustakaan membuatnya harus terus melakukannya. Ya, Soo Rin selalu menemukan mereka yang juga selalu mampir ke Perpustakaan dan berdiskusi di tempat biasanya. Sedangkan dia harus mencoba menahan gejolak aneh tiap melihat mereka dari jarak yang terjaga.

“Semoga saja mereka tidak menyadari akan adanya aku yang selalu di sini…” gumam Soo Rin begitu lirih.

“Mereka siapa?”

Soo Rin terlonjak hingga kedua matanya terbuka lebar dan tubuhnya kembali ditegakkan secara reflek. Lalu dia terkesiap begitu mendapati pemilik suara itu sudah duduk dengan manis di sisi meja sebelah kanannya, melipat kedua tangannya di atas meja.

Ki Bum memperhatikan wajah yang terlihat memucat itu. Guratan-guratan lelah terlihat begitu jelas membuat rasa khawatirnya mencuat. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan hingga terlihat seperti saat ini? pikir Ki Bum. Dia mulai merasakan kegugupan gadis di hadapannya sekarang. Dengan terburu-buru, kedua tangan itu bergerak membereskan buku-buku yang sempat berserakan di meja dan memasukkan sebagian ke dalam tasnya.

“Jawab aku,” ucap Ki Bum menghentikan kegiatan terburu-buru dari Soo Rin. Gadis itu mulai tertunduk menghindari tatapannya.

“Tidak,” gumam Soo Rin sambil menggeleng pelan. “Tidak ada,” lanjutnya. Dia bangkit dari duduknya setelah memanggul tasnya dan mendekap beberapa buku yang ternyata milik Perpustakaan. Namun gerakannya terhenti begitu tangan Ki Bum menarik lengannya hingga terpaksa dirinya terduduk kembali.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Ki Bum dengan halus, yang malah membuat Soo Rin semakin gugup dan menggeleng cepat. Ki Bum tahu, itu bukan jawabannya. Dan dia semakin yakin gadis ini tengah menyembunyikan sesuatu.

“Ki Bum-ah!

Panggilan itu membuat keduanya menoleh dan mendapati Eun Jung sedang berdiri tidak jauh dari tempat mereka. Mengumbar senyum manisnya. “Aku sudah menemukan bahan untuk materi berikutnya,” ucap Eun Jung sambil menunjukkan beberapa buku yang menumpuk di tangannya. “Ayo kita kerjakan sebelum menjelang malam!” ajaknya kemudian.

Soo Rin mendekap erat buku-buku itu. Berusaha meredam perasaan yang mulai kembali mencuat. Kenapa aku merasa bahwa saat ini akulah yang menjadi pengganggu? batinnya. Kemudian dengan sekali hentakan, Soo Rin berhasil melepas sentuhan Ki Bum dari lengannya yang sontak membuat Ki Bum kembali menatapnya. “Aku harus segera pulang,” pamit Soo Rin dengan lirih sebelum ia kembali bangkit dan segera melesat pergi meninggalkan mereka.

Ki Bum mendengus kasar. Tatapannya beralih kepada Eun Jung yang tengah menampakkan senyum miringnya sambil melirik ke arah Soo Rin pergi. Laki-laki itu bangkit hingga kursi yang sempat didudukinya berdecit, yang sontak membuat Eun Jung mengalihkan lirikannya dan mendapati Ki Bum sudah menatapnya dengan begitu tajam. “Apa?” tanya Eun Jung dengan tampang tanpa berdosanya. Ki Bum tidak menjawab dan hanya berlalu melewati Eun Jung, meninggalkannya yang kini sudah kembali menampakkan senyum penuh arti.

Ki Bum keluar ruangan, pandangannya menyapu ke sepanjang koridor yang sudah sepi. Lalu membuka langkahnya berlari hingga menuju pintu masuk utama gedung. Hingga lagi-lagi, dia hanya sekilas mendapati punggung itu tengah berlari sebelum menghilang di balik pintu gerbang sekolah. Ki Bum menghela napas panjang. Kenapa gadis itu menjadi terlihat begitu jauh dari jangkauannya?

 

****

 

Lebih dari seminggu telah berlalu sejak pertemuan mereka di Perpustakaan. Soo Rin mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Dia sudah jarang berkumpul bersama ketiga temannya meskipun mereka masih setia untuk selalu mengajaknya. Tapi dia merasa tidak ada lagi yang menemaninya. Dia menyadari bahwa ini adalah akibat dari perbuatannya yang mencoba membuat tembok pembatas antara dirinya dan ketiga temannya… juga Ki Bum. Demi melakukan suatu pembuktian.

“Soo Rin-ah, ayo!” ajak Ah Reum menyadarkan lamunannya sambil meraih pergelangan tangannya. Mereka baru saja mengganti seragam formal sekolahnya dengan seragam olahraga. Dan mereka hendak beranjak menuju lapangan utama sekolah, tempat kegiatan olahraga mereka akan berlangsung. Namun baru dua langkah Ah Reum menarik Soo Rin, ia berhenti begitu menyadari ada yang aneh dengan apa yang disentuhnya hingga kembali berbalik menghadap Soo Rin. “Soo Rin-ah, tanganmu dingin.”

Eoh?” Soo Rin melongo. Sedangkan Ah Reum mulai menatapnya lekat. Lalu tangan lainnya menyentuh wajah Soo Rin.

“Astaga, kenapa aku baru menyadarinya bahwa wajahmu begitu pucat?” Ah Reum terperangah. “Kau juga berkeringat dingin, Soo Rin-ah,” lanjutnya dengan raut wajah yang mulai tampak khawatir.

“Benarkah? Um… ah, ini karena aku tidak sempat sarapan tadi pagi,” kilah Soo Rin sedikit gugup. Takut jika Ah Reum menyadari yang sebenarnya. “Kita harus segera ke lapangan. Ayo!” ajak Soo Rin sebelum sahabatnya itu kembali bermonolog dan malah menanyakan hal yang ingin ia hindari.

 

 

Kelas 3 tengah melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi lapangan. Satu putaran telah terlewati tapi kini Soo Rin menghentikan larinya dan menepi hingga ke luar sisi lapangan. Dia mulai merasakan tubuhnya semakin berat begitu juga dengan napasnya. Biasanya, dia masih sanggup untuk berlari dua hingga tiga keliling lagi. Dia juga menyadari bahwa larinya semakin lama semakin melambat. Sambil membungkukkan badan, Soo Rin terengah-engah. Batinnya merusuh, khawatir jika kejadian yang pernah menimpanya di saat menjelang ujian akhir Menengah Pertama dulu terulang lagi.

“Soo Rin-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Ah Reum yang telah menghentikan larinya dan mendekati Soo Rin.

“Aku tidak apa-apa. Hanya sedang mengatur napas. Lanjutkan saja pemanasannya,” jawab Soo Rin dengan melambaikan tangan sebagai isyarat bahwa dia akan baik-baik saja. Ah Reum hanya bisa menurut meskipun perasaannya mulai dilanda kekhawatiran. Sejak mendapati Soo Rin dengan wajah pucat dan berkeringat dingin, dia mulai menduga-duga bahwa sepertinya Soo Rin akan kambuh. Meskipun sang empu terus mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

Soo Rin tertegun begitu mendapati sesuatu menetes dan jatuh tepat di permukaan tanah di atasnya. Yang secara reflek membuat ia menyentuh lubang hidungnya yang sudah basah. Entah basah karena keringat atau karena yang lainnya. Dan ia terkesiap begitu mendapati jarinya yang sempat menempel di hidungnya sudah ternoda dengan cairan kental berwarna merah pekat. “Astaga…” bisiknya mulai panik. Sontak dia membekap hidungnya, lalu berlari keluar lapangan begitu saja. Tak peduli dengan panggilan Tae Min yang tengah berlari di dekatnya dan memperhatikannya sejak dari kejauhan.

Soo Rin menuju ke wastafel umum yang letaknya tidak jauh dari lapangan. Membersihkan tangannya yang basah karena darah lalu membasuh hidungnya yang mengeluarkan darah. Batinnya merusuh, ini merupakan tanda-tanda bahwa penyakitnya akan kambuh. Semua sudah membuktikan, mulai dari berkeringat dingin, tubuh yang mudah lelah sebelum waktunya, dan sekarang… mimisan. Soo Rin merutuki perbuatannya yang mengakibatkan terpicunya akan gejala ini. Semenjak kegiatan belajar hingga lewat tengah malamnya, Soo Rin mengabaikan pola makannya. Ditambah tubuhnya yang kurang beristirahat mengakibatkan penyakitnya mulai kambuh.

“Tidak—tidak boleh kambuh…” gumam Soo Rin menyugesti.

“Apakah perjuanganmu sampai seperti ini?”

Soo Rin terhenyak mendengar suara itu. Suara yang pernah ia temui di toilet. Menolehkan kepala, Soo Rin terkejut mendapati Eun Jung sudah berdiri tidak jauh di sisinya. Dengan pakaian olahraga lengkap, melipat kedua tangan di dada, dan tersenyum miring serta tatapan mengintimidasi.

“Mencoba meraih gelar yang sama sepertiku… dan Ki Bum,” lanjut Eun Jung yang membuat Soo Rin tercekat. Apakah dia menyadari sikapnya selama ini? pikir Soo Rin. Eun Jung melangkah lebih dekat. “Kau tahu, kan, jika semua itu butuh proses? Dan proses itu tidaklah mudah juga cepat. Aku tidak yakin hanya dalam waktu dekat kau berhasil meraih gelar itu. Bahkan hingga ke jenjang akhir pun, aku tidak yakin bahwa kau akan berhasil menggeser posisiku,” ujarnya terdengar meremehkan. Eun Jung memajukan wajahnya. “Kau hanya menyiksa dirimu sendiri, Park Soo Rin-sshi,” lanjut Eun Jung dengan menekan setiap kata-katanya. “Lebih baik kau hentikan ini dan kembalilah seperti di kala kau belum mengenalnya.”

Soo Rin mengeratkan pegangannya pada ujung wastafel. Napasnya mulai menderu tak karuan. Batinnya yang mulai tertekan mengakibatkan keringat dinginnya semakin membasahi dahi hingga pelipisnya. Ditambah dengan kalimat terakhir yang diutarakan Eun Jung membuat otaknya berputar mencerna lalu tak lama menangkap maksud dari ucapannya itu. Detik kemudian, bibirnya bergerak membentuk seulas senyum—senyum miris.

“Kau benar…” gumam Soo Rin yang membuat Eun Jung mengangkat sebelah alisnya. “Semua yang aku lakukan selama ini, hanyalah sebuah paksaan. Memaksakan yang tidak seharusnya ada di dalam diriku. Dan—” Soo Rin menggantungkan kalimatnya. Mulai merasa pening dengan pandangan yang mulai bergoyang tanpa sebab. Soo Rin memejamkan matanya sesaat. “Seperti yang kau bilang sebelumnya… bahwa, lelaki yang jenius harus bersama gadis yang jenius juga. Dan, aku yang tidak memiliki kemampuan berpikir yang sama dengannya… hanya akan menghambat dirinya yang memiliki kemampuan yang jauh di atasku, kan?” Soo Rin mulai merasa kedua matanya memanas. Ada rasa sesak yang mendera di benaknya. Menyadari kenyataan bahwa dia bukanlah gadis seperti Eun Jung. Yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata yang jelas dapat mengimbangi posisinya di dekat Ki Bum. Dan entah mengapa, dia merasa tidak rela jika semua dugaannya itu akan terjadi nantinya.

Soo Rin mulai merasakan gejolak aneh di perutnya. Sesuatu yang tengah mengaduk isi perutnya hingga dirinya merasa ingin muntah. Padahal dia tidak makan apapun sebelumnya. Tapi dia mulai menyadari bahwa ini proses dari kambuhnya penyakit yang dimilikinya. Pandangannya yang kabur mulai berkunang-kunang, pening yang mendera semakin kuat hingga rasanya ingin memecahkan kepalanya.

Eun Jung yang melihat wajah pucat itu semakin pasi dengan keringat yang mulai mengalir di kedua sisi wajah itu, mulai khawatir. “Kau kenapa?” tanyanya. Tangannya terulur demi menyentuh pundak itu, namun gerakannya terhenti di udara begitu mendapati seseorang datang dan langsung memeluk tubuh lemas itu. Detik kemudian tubuh itu meluruh bersamaan orang itu yang ikut meluruh hingga tubuh itu tidak terjatuh dan hanya terduduk di dalam pelukannya.

Soo Rin yang kesadarannya mulai terenggut, hampir tidak menyadari bahwa tubuhnya telah terduduk lemas dan berada di dalam pelukan seseorang. Dengan pandangan yang mulai menggelap, dia mendapati Eun Jung masih berdiri di hadapannya—mematung. Dia juga baru menyadari bahwa kepalanya telah bersandar di tubuh orang itu. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, diangkat pandangannya hingga mendapati wajah orang yang tengah memeluknya. Sebelum kegelapan menyelimuti seluruhnya—juga kesadarannya, batinnya menggumam nama orang itu. Kim Ki Bum.

Ki Bum merasakan tubuh gadis itu begitu dingin, wajahnya yang merona sudah berubah menjadi pucat pasi layaknya orang yang sudah tak bernyawa. Ki Bum menggeram tertahan sebelum tatapannya beralih kepada Eun Jung yang tekejut dan terpana.

“Sudah cukup. Jangan pernah lagi menyinggung masalah kemampuannya yang pantas atau tidak untuk disandingkan kepadaku,” ujarnya dingin dengan menatap tajam Eun Jung. “Jangan pernah lagi mempengaruhinya dengan segala teorimu yang bodoh itu, Ham Eun Jung!” Ki Bum geram.

“Apakah aku terlalu kasar?” tanya Eun Jung hati-hati dengan raut wajah yang mulai panik. Membuat Ki Bum semakin geram menatapnya.

Ki Bum menyelipkan satu tangannya ke bawah lutut Soo Rin. Dengan mudah tubuh lemas itu terangkat oleh Ki Bum. Sebelum melangkah pergi, dia kembali melemparkan tatapan geram pada Eun Jung. “Aku tidak peduli seperti apa dirinya. Ini bukan masalah kemampuan. Tapi perasaan,” lalu Ki Bum beranjak meninggalkan Eun Jung.

Eun Jung menghela napas dengan kasar. Bibirnya bergerak tengah mencibir segala tutur kata laki-laki itu barusan. Sambil berkacak pinggang, ia menatap tubuh yang tengah mengangkat gadisnya itu mulai mempercepat langkahnya. Sepertinya memang sudah harus dihentikan sampai di sini saja, pikirnya.

 

“Soo Rin di mana?” tanya Ah Reum panik begitu mendapati sosok sahabatnya sudah menghilang tanpa dia ketahui. Padahal saat itu dia mengalihkan pandangannya dari Soo Rin hanya sebentar. Begitu menyelesaikan putaran kedua, dia berhenti dan bertanya pada Tae Min yang sudah menyelesaikan pemanasannya.

“Dia berlari menuju gedung sekolah. Aku tidak yakin dia pergi ke mana,” jawab Tae Min dengan kedikan bahu. Tak lama kedua matanya melebar begitu melihat seseorang muncul dari samping gedung. “Hei,” Tae Min menyikut lengan Ah Reum. “Bukankah itu—” Tae Min tidak melanjutkan kalimatnya.

Ah Reum segera mengikuti arah Tae Min menunjuk. Detik kemudian matanya terbelalak begitu melihat seseorang berjalan di sepanjang koridor lantai dasar tengah menggendong tubuh yang sangat Ah Reum kenal dalam keadaan tak sadarkan diri. “Astaga, itu Park Soo Rin!!” seru Ah Reum panik sambil berlari mendekati orang yang tak lain adalah Ki Bum.

“Hei, Lee Ah Reum!” panggil Lee Seonsaengnim begitu melihat muridnya itu meninggalkan lapangan.

“Saya izin sebentar, Saem!” seru Ah Reum sambil berlari.

“Ada apa?” Tae Yong yang baru saja sampai segera menyapa Tae Min. Dan pandangannya beralih mengikuti ke mana Tae Min memandang. “Astaga!” Detik kemudian Tae Yong berlari meninggalkan lapangan. Tae Min yang sudah berseru mencoba menghentikan Tae Yong, akhirnya ikut berlari menyusul Tae Yong.

“Hei kalian berdua! Berhenti!!” seru Lee Seonsaengnim lagi yang kini tidak mendapatkan sahutan apapun dari mereka berdua. Sedangkan para murid yang melihat kejadian itu hanya melongo tidak mengerti.

Tae Min yang berlari di belakang Tae Yong sempat menghentikan larinya begitu bertemu dengan Eun Jung yang tengah berjalan ingin kembali ke lapangan. Melirik gadis itu dengan raut wajah yang sulit ditebak. Sedangkan Eun Jung yang merasa diperhatikan hanya mampu membalas lirikan itu dengan mengernyit. Kemudian Tae Min melanjutkan larinya kembali, meninggalkan Eun Jung yang mengusap tengkuknya—kebingungan.

 

Soo Rin wae geurae (Soo Rin kenapa)?” sahut Ah Reum begitu sampai di dekat Ki Bum dan mengikuti langkahnya. Raut wajahnya semakin menampakkan kekhawatiran begitu mendapati wajah Soo Rin yang sudah pucat pasi ditambah bagian philtrum-nya menampakkan bercak merah bekas darah.

“Bukakan pintunya!” titah Ki Bum begitu hampir mendekati Ruang Kesehatan. Ah Reum segera menurutinya dengan berlari mendahului. Dibukakan dengan lebar pintu ruangan oleh Ah Reum dan langsung disambut Ki Bum yang segera memasuki ruangan, mendekati tempat tidur yang tak jauh dari pintu masuk. “Ambilkan dua bantal kemari!” titahnya lagi yang langsung dituruti.

Tae Yong yang baru datang sempat mematung di ambang pintu ruangan sebelum Tae Min menyadarkannya dan menyuruhnya untuk segera masuk lalu menutup pintunya. Kemudian mereka berdua memperhatikan gerak-gerik cekatan Ki Bum dan Ah Reum.

Ah Reum mengambil tiap bantal dari tiap tempat tidur. Begitu hendak menyerahkannya, Ah Reum mendapati Ki Bum yang tidak langsung membaringkan tubuh Soo Rin melainkan hanya mendudukkan tubuh gadis itu dengan terus disandarkan ke dadanya. Ah Reum segera menyadari bahwa Ki Bum tengah melepas ikatan rambut Soo Rin dengan hati-hati. Ah Reum kembali bergerak begitu mendapat tatapan dari Ki Bum dan menyuruh dengan matanya untuk cepat. Ditumpuknya kedua bantal tersebut di ujung tempat tidur bagian kaki. Barulah Ki Bum membaringkan tubuh Soo Rin lalu meletakkan kedua kakinya ke atas tumpukan bantal. Melepas kedua sepatunya hingga kedua kaus kakinya.

Tae Yong mulai bergerak dengan menarik tirai di dekat tempat tidur Soo Rin lalu menariknya hingga membentuk tembok dua sisi menghalangi pandangan dari pintu dan jendela ruangan. Sedangkan Tae Min mengambil sebuah majalah kesehatan dari meja di dekat pintu sebelum masuk ke balik tirai lalu mengipasi tubuh Soo Rin.

Ki Bum mengambil handuk kecil dari nakas. Kemudian menyeka peluh yang membasahi seluruh wajah pucat Soo Rin dengan hati-hati. Sedangkan Ah Reum yang sudah berdiri di sisi lain tampak mengipasi wajah berkeringat Soo Rin dengan kedua tangannya. Tae Yong dan Tae Min berdiri di sisi kaki Soo Rin. Ki Bum mulai menyadari bahwa bagian philtrum gadis itu terdapat bercak merah, yang sangat dia yakini bahwa itu merupakan bekas darah. “Apakah Soo Rin pernah mengalami mimisan sebelumnya?” tanya Ki Bum kepada Ah Reum.

“Iya,” Ah Reum mengangguk. “Itu merupakan gejala awal sebelum darah rendahnya kambuh,” lanjutnya.

“Darah rendah… Anemia?” tanya Ki Bum memastikan, yang kembali mendapat anggukan dari Ah Reum sebagai jawabannya. Melihat itu, Tae Yong dan Tae Min terperangah. Mereka baru mengetahui soal ini.

“Soo Rin memiliki penyakit darah rendah. Aku diberi tahu olehnya bahwa dia pernah mengalami hal seperti ini hingga tak sadarkan diri ketika menjelang ujian akhir Menengah Pertama. Penyebabnya adalah karena dia kurang beristirahat dan mengabaikan pola makannya… akibat dia belajar terlalu keras,” jelas Ah Reum sambil mengamati wajah tidur Soo Rin. “Tahun lalu saat liburan musim panas, dia juga mengalaminya. Tapi tidak sampai seperti ini. Dan ini adalah pertama kalinya aku melihat dia tak sadarkan diri,” lanjutnya bergumam.

Keadaan menjadi hening. Ki Bum menghela napas panjang. Sungguh, dia baru tahu soal ini. Soal Soo Rin yang memiliki penyakit ini. Meskipun tidak parah apalagi mematikan, tetap saja ini membuatnya khawatir. Eun Ji tidak pernah memberitahu soal ini sebelumnya, dia juga tidak mencoba untuk mencari tahu. Ki Bum merutuki kelalaian kecilnya ini. Tapi di samping itu, dia juga menyadari penyebab Soo Rin menjadi seperti sekarang ini.

“Kalian kembalilah ke lapangan,” ujar Ki Bum yang membuat mereka menatapnya. “Biar aku yang menjaganya.”

Tae Min segera menghentikan kipasannya lalu menyikut pelan lengan Tae Yong untuk mengajaknya kembali. Membiarkan Ki Bum untuk menjaga Soo Rin.

“Kami titipkan Soo Rin kepadamu,” ujar Tae Yong hendak beranjak.

“Terima kasih sudah menjenguknya,” balas Ki Bum.

“Itu sudah tugas kami sebagai teman setianya.” Tae Min memamerkan cengirannya. Yang mendapat ulasan senyum tipis dari Ki Bum.

“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kalian tapi… selama dia menghindari kami, aku juga mendapatinya yang selalu murung setiap melihatmu sedang bersama siswi bernama Ham Eun Jung itu,” ucap Ah Reum. “Aku harap hubungan kalian membaik. Dan, tolong jaga sahabatku,” lanjutnya sebelum beranjak menyusul Tae Yong dan Tae Min.

Kini hanya tersisa Ki Bum yang terjaga. Memandangi wajah tenang Soo Rin yang mulai memudar pucatnya—tidak sepasi tadi. Satu tangannya terangkat hingga mendarat di kepala Soo Rin, mengusap poninya yang lepek akibat peluh lalu menyingkapnya perlahan. Tubuhnya yang masih berdiri dibungkukkan hingga wajahnya tepat di atas wajah Soo Rin. Tanpa berniat untuk mengucap apapun, dia mendaratkan bibirnya tepat di kening Soo Rin. Dengan lembut—dengan memejamkan mata, Ki Bum mengecupnya dengan sayang.

 

****


 

 

Mau mengucapkan minta maaf karena cerita di part ini (terlalu) pasaran! Hahahah #nangis T.T Saya juga menyesali akan cerita buatan saya ini, tapi karena sudah terlanjur dan takut mubazir/?, saya berharap para pembaca masih mau membacanya. Tapi bagi saya, part terakhir nanti sudah (sedikit) berbeda kok u_u . . . . sepertinya._. /nyengirkuda/?

Yosh! Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

8 thoughts on “I Want To Be Like You – Part 1

  1. Eun jung lebih baik menyerah.. Perasaan ki bum ke soorin dalem bgt..

    Soorin juga, sampai penyakitnya kambuh hanya untuk agar pantas bersanding dgn ki bum..
    Keereenn

  2. Eun jung keterlaluan bgt, kan kasihan soorin nya 😭
    Feel nya pas baca part ini terasa bgt kak, soorin nya berusa keras bgt biar bisa sebanding sama kibum, saking cinta nya :3

  3. Soo rin kau sudah bekerja kerass wkwkk kasian kan sampe kambuhh gitu anemianyaa ‘-‘)/ jadi kebayang eunjung yg di dream high gitu yg awalnya sih jahat tapi akhirnya tobat wakss xD Kibum makin sweet ajaaa,,, gemess pen gigit 😝✌

  4. Eum Jung terlalu berlebihgan, padahal hanya melalu kata-kata tapi efeknya sampe ngebuat Soo Rin sakit dan pingsan. Dan suka banget sama sikap Ki Bum yg perhatian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s