Posted in Category Fiction, Fiction, KiSoo FF "Genius Secret Admirer", PG, Romance, School Life, Two Shot

Genius Secret Admirer – Part.2 End

(Sequel of ‘Who Are You?’)
Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ki Bum
  • Lee Ah Reum
  • Jung Eun Ji
Genre   : School Life, Romance
Rated    : PG-17
Length  : Two Shot
“This story comes from my mind aka fiction^^ Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~”


 

Soo Rin membuka mata perlahan. Sedikit tersentak menyadari bahwa dirinya ternyata masih berada di kelas. Sambil melenguh kecil ia mulai mengangkat kepalanya dengan kedua tangan mengusap wajahnya, mengucek kedua matanya yang masih terasa berat. Berapa lama ia terlelap dengan posisi menelungkup seperti tadi? pikirnya.

Begitu kedua tangannya turun dari wajah bersamaan dengan membuka pandangannya, tubuhnya terlonjak hingga punggungnya menabrak sandaran kursinya. Matanya yang terasa berat melebar seketika. Mendapati seseorang tengah duduk menghadapnya dengan pandangan menunduk mengamati kameranya.

“Tidurmu nyenyak?” sambut orang itu. Namun karena tidak mendapat respon apapun dari Soo Rin, ia mulai mendengak. Dalam waktu bersamaan Soo Rin mengalihkan pandangan. Menghindari tatapan orang itu dengan menyapu seisi kelas. Batinnya merusuh, sudah berapa lama dia tertidur dan di mana Ah Reum? Apakah Ah Reum masih berada di Ruang Guru? “Ah Reum datang sekitar dua puluh menit yang lalu. Mengatakan padaku bahwa dia menunggumu di Perpustakaan,” ucap orang itu seolah membaca pikiran Soo Rin. Sambil memasukkan kameranya ke dalam saku celananya.

Dua puluh menit? desisnya dalam hati. Pandangannya beralih pada orang itu—Kim Ki Bum. Ada rasa kesal mencuat di dalam dirinya kepada laki-laki di depannya. Dia membiarkan Ah Reum untuk pergi tanpanya dan harus menunggunya di sana selama itu!

“Kenapa tidak langsung memberitahukannya padaku?” tanya Soo Rin dibuat dingin. Mencoba melawan.

“Karena kau sedang tertidur,” jawab Ki Bum santai.

“Kenapa tidak membangunkanku?”

“Kau ingin aku membangunkanmu?” Telak. Soo Rin tak mampu menjawab. Seketika merutuki dirinya yang salah mengajukan pertanyaan. Ki Bum menyeringai.

Kesal tidak mampu menjawab, Soo Rin menyambar tasnya lalu bangkit. Beranjak menuju pintu kelas bagian depan yang lebih dekat dari tempat duduknya serta lebih dekat menuju tangga sekolah, yang terpaksa harus melewati Ki Bum. Dan langkahnya terhenti saat dirasakan tangan kirinya yang bebas tercekal. Membuat dirinya tersentak merasakan sentuhan langsung dari kulit hangat itu. Soo Rin melemparkan tatapannya pada Ki Bum yang masih terduduk dengan tangan kirinya mencekal tangan kiri Soo Rin. Namun lagi-lagi rasa ingin melawannya kembali ciut begitu terpaku dengan tatapan Ki Bum yang dalam.

“Kau terlihat kurang tidur. Berapa lama kau tidur semalam, hum?” suara Ki Bum melembut.

“Kenapa…”

Ki Bum masih mendengar lirihan itu. Ditambah dengan melihat mulut itu bergerak dan wajah yang terlihat meredup karena lelah itu semakin meredup.

“Kenapa kau melakukan semua ini padaku?” suara Soo Rin mulai terdengar. “Kenapa dengan seenaknya kau datang kepadaku? Muncul di hadapanku? Kenapa dengan beraninya kau memberikan perhatian kepadaku? Kenapa kau dengan tanpa merasa bersalah menyentuhku… menci…um…ku— kenapa?” Soo Rin sedikit tersendat.

Ki Bum tidak bergeming. Tidak ada reaksi apapun. Tetap tenang.

“Apakah karena kau adalah Penggemar Rahasia? Apakah seperti ini kelakuanmu jika menjadi Penggemar Rahasia? Apakah memang harus seperti ini untuk menjadi seorang Penggemar Rahasia?” suara Soo Rin mulai bergetar. Kedua tangannya mengepal berusaha mencari kekuatan. Merasakan perasaan yang pernah ada dulu kini mulai muncul. Dan bagaikan sebuah trauma, ia mulai merasa takut dengan apa yang dirasakannya. Sebelum kerongkongannya terasa tercekat sepenuhnya, ia kembali mengucap, “Tolong… jangan buat aku berharap. Jika kau hanya ingin mempermainkanku… tolong jangan membuatku mengharapkan sesuatu.”

Dan dengan satu hentakan, Soo Rin berhasil melepas cekalan Ki Bum. Melanjutkan langkahnya, kini dengan perasaan campur aduk. Menghela napas yang terasa berat dan merasakan kedua matanya mulai berembun. Detik kemudian ia mendengar suara decitan kursi yang keras dan mendapati dari sudut matanya bahwa laki-laki itu bangkit dari duduknya. Tak ada hitungan detik tangannya kembali dicekal. Segera ia kembali menatap laki-laki itu hingga ia terkejut mendapati laki-laki itu mendekat.

Ki Bum melangkah maju mendekati Soo Rin. Membuat gadis itu terpaksa mundur hingga tubuhnya terbentur meja di belakangnya dan tak mampu untuk bergerak lagi. Dan itu dimanfaatkan Ki Bum dengan mengulurkan tangan kirinya yang bebas ke sisi meja di sebelah kanan tubuh Soo Rin. Mengapit tubuh gadis itu hingga terhimpit di antara tubuhnya dan meja di belakangnya. Kemudian tas gadis itu terjatuh dari genggaman.

Keadaan hening sesaat. Soo Rin harus kembali memompa jantungnya lebih cepat. Dirinya masih mencerna kejadian yang begitu cepat hingga berkahir dengan posisi seperti ini. Ki Bum mengamati wajah yang mulai terlihat tegang itu, dengan ekspresi datarnya.

“Aku tidak seperti laki-laki yang dulu pernah membuatmu berharap sekaligus membuatmu terjatuh hingga harus menangisinya.” Ki Bum membuka mulut. Membuat Soo Rin mengernyit bingung dan juga terpana. “Aku tidak seperti cinta pertamamu. Aku tidak seperti Kim Ryeowook, Soo Rin-ah.

Soo Rin terkesiap. Tubuhnya membeku. Ia terpana. Terkejut. Tidak percaya. Bagaimana dia bisa tahu? Bagaimana dia bisa tahu masa lalunya? Bagaimana dia bisa tahu Kim Ryeowook, cinta pertamanya? Sungguh, Soo Rin tidak pernah menduganya. Apakah sebenarnya Ki Bum berasal dari sekolah yang sama dengannya dulu?

Soo Rin kalut!

Ki Bum mulai mengubah raut wajahnya. Matanya yang dingin kini mencair menjadi teduh. Menatap tepat di manik mata Soo Rin, yang kini tengah melebar karena terkejut. Ia tahu—tahu betul, gadis di hadapannya kini sedang terguncang.

“Aku berani melakukan semuanya karena aku memang harus melakukannya. Aku melakukan semua itu bukan karena aku adalah Penggemar Rahasia. Aku melakukan semua itu bukan untuk mempermainkanmu. Aku melakukan semuanya karena aku memang ingin membuatmu mengharapkanku.” Ki Bum terdiam sejenak. Mengamati raut wajah itu mulai berubah lagi. “Aku melakukan semua itu karena aku memang menginginkanmu.”

Jantung Soo Rin terasa melompat-lompat. Dirasakan sesuatu yang panas di dalam tubuhnya menjalar hingga pipinya memanas. Astaga, kali ini apa yang sedang terjadi padaku? batinnya menjerit.

“Tapi jika kau menginginkan aku berhenti, aku akan melakukannya.”

Jangan…

Soo Rin terkesiap. Barusan batinnya mengucap satu kata itu?

“Hanya saja, aku tetap akan melakukan ini…”

Tangan Ki Bum yang masih mencekal tangan Soo Rin bergerak, menautkan jari-jarinya ke jari-jari lentik Soo Rin. Dan segera mendapat sentakan dari Soo Rin yang membuat tangan gadis itu, yang sudah dingin menjadi terasa kaku. Tangan lainnya yang terus bertengger di sisi meja terangkat melepas kacamatanya lalu meletakkannya ke meja di belakang Soo Rin itu. Seketika Soo Rin dapat melihat kedua mata itu dengan jelas. Mata yang berwarna hitam pekat dan memikat membuat Soo Rin tak mampu untuk mengedipkan matanya.

Ki Bum menatap Soo Rin semakin dalam. Wajahnya kembali meneduh. Menyunggingkan senyum manisnya meskipun tipis. Lalu detik kemudian, ia kembali membuka mulut.

“Aku mencintaimu. Sekarang. Semoga hingga nanti.”

Soo Rin membelalakkan matanya—lagi. Jantungnya semakin bergemuruh mendengar ungkapan itu. Kalimat itu benar-benar terdengar jujur dan seadanya. Tanpa sebuah janji. Tulus.

Tangan Ki Bum yang berada di atas meja terangkat. Meraih pinggang Soo Rin dan sedikit mendorongnya maju lalu tubuhnya ikut maju hingga merapat pada tubuh Soo Rin. Memiringkan kepalanya sambil bergerak maju. Dan detik kemudian ia telah berhasil mendaratkan bibirnya tepat di bibir Soo Rin.

Soo Rin merasa dadanya ingin meledak kapan saja. Sarafnya benar-benar berhenti bekerja. Tak mampu bergerak. Tak mampu mengelak. Hanya kedua matanya yang semakin terbelalak. Wajah Ki Bum sudah sangat-sangat dekat dengan kedua matanya yang terpejam.

Dia merasa nyawanya hilang sebagian sekarang.

Tak ada pergerakan. Hanya merasakan kehangatan dan sensasi yang luar biasa hingga menggelitik perutnya. Namun tak lama semua berubah ketika Ki Bum membuka mata. Menatap Soo Rin yang masih terkejut hebat. Bersamaan dengan bibirnya yang mulai menekan. Tangannya yang bertautan dengan jari-jari Soo Rin terlepas lalu terangkat hingga ke tengkuk Soo Rin. Sedikit menekannya agar tidak bergerak, membuat Soo Rin seketika memejamkan matanya rapat-rapat. Melihat itu Ki Bum kembali memejamkan mata lalu bibirnya mulai bergerak. Mengulumnya perlahan. Menyesap bibir Soo Rin bagian atas dan bawah secara bergantian. Lalu melumatnya dengan hati-hati. Menyalurkan segala perasaannya dengan hati-hati.

Soo Rin merasa kakinya melemas. Jika Ki Bum tidak tengah memeluknya mungkin dia sudah terjatuh, bahkan mungkin meleleh. Kedua tangannya tanpa sadar meremas ujung jas seragam Ki Bum. Kini ia merasa nyawanya telah melayang seluruhnya. Mulutnya terus mengatup rapat. Merasakan berbagai pergerakan yang tidak terasa dipaksa. Merasakan segala lumatan lembut yang bergerilya dari bibir Ki Bum. Yang mencengangkan, dia mulai—sedikit demi sedikit—merasa menikmatinya!

Entah sudah berapa lama, yang pasti itu terasa sangat lama, Ki Bum melepas ciumannya. Memberi sedikit jarak hingga matanya yang sudah terbuka dapat kembali memandang wajah Soo Rin. Dia benar-benar terpesona sekarang. Wajah itu benar-benar merah merona, bibirnya mulai terbuka demi menghirup napas dalam. Ki Bum tersenyum. Tangannya yang entah sejak kapan sudah bergeser dari tengkuk Soo Rin hingga tengah merengkuh wajah gadis itu, bergerak hingga ke dagu. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Soo Rin. Memberikan sensasi yang begitu hangat bagi Soo Rin.

Lalu Ki Bum melepas kedua tangannya dari tubuh Soo Rin. Meraih kacamatanya di belakang Soo Rin lalu mundur selangkah. Sambil mengenakan kacamata ia beralih. Membuka langkah dan beranjak menuju pintu kelas bagian belakang. Yang seketika membuat Soo Rin tercengang.

Sudah selesai?

Soo Rin merasa baru saja dihempaskan. Rasa nyeri itu mulai datang. Seperti dulu. Sesak. Sakit. Setelah semua yang terjadi, dia pergi begitu saja? Selesai begitu saja? Mengepalkan kedua tangannya, Soo Rin bergerak keluar kelas. Lalu mendapati Ki Bum berjalan menjauh ke arah Ruang Guru yang di sana juga terdapat tangga sekolah. Memikirkan itu membuat Soo Rin kalap. Ia melepas salah satu sepatunya.

YA!!!!

Soo Rin melempar sepatunya dengan geram hingga sukses mengenai punggung Ki Bum. Tidak ada reaksi yang berlebih, hanya langkahnya terhenti yang dilanjut dengan membalikkan tubuh hingga menghadap Soo Rin. Dan mendapati gadis itu sudah memandangnya bengis.

“Kau akan berhenti begitu saja? Setelah semua yang kau lakukan kepadaku?” teriak Soo Rin yang lebih mirip dengan seruan.

Ki Bum tidak membuka mulut. Tatapannya hanya tertuju pada mata yang mulai memerah itu.

“Kau akan pergi begitu saja setelah berani menyentuhku? Kau tidak mau bertanggung jawab setelah mencuri—ciuman pertamaku…” Soo Rin terisak. Cairan bening itu mulai mengalir membentuk anak sungai di pipinya. Kemudian melepas sepatu satunya lagi. “Nappeun neom!!!” Soo Rin melempar sepatu terakhirnya. Tapi kini hanya mengenai betis Ki Bum karena benda itu mulai meluncur ke bawah. Tenaganya yang sempat muncul mulai terkuras akibat tangisannya. Soo Rin berbalik dan berlari menjauh. Tak peduli dengan keadaan kakinya yang kini hanya mengenakan kaus kaki. Tak peduli dengan tasnya yang masih tertinggal di dalam kelas. Ia hanya ingin menenangkan diri.

Soo Rin menuruni anak tangga sekolah yang terletak lebih dekat dengan kelasnya. Langkahnya terhenti begitu kakinya berhasil menapak lantai bawah. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya hingga terhempas duduk di anak tangga terakhir. Menutup wajahnya yang sudah berlinangan air mata lalu terisak hebat. Merasa telah menjadi orang bodoh karena kembali jatuh di lubang yang sama. Telah percaya dengan segala tutur kalimat laki-laki itu. Jika memang dia berbeda dari cinta pertamanya. Kenapa dia harus melakukan itu? Hal yang sama. Membuka sedikit harapannya lalu menjatuhkannya. Dan kini dengan cara yang benar-benar menyakitkan. Mencuri ciuman pertamanya! Tidakkah ia terlihat sangat bodoh sekarang?

Cukup lama Soo Rin dalam posisi dan kondisi seperti itu. Hingga kedua pergelangan tangannya terasa digenggam hingga tertarik dari wajahnya. Lalu mendapati laki-laki itu sudah berjongkok di hadapannya. Soo Rin segera menundukkan kepalanya. Tidak ingin membiarkan laki-laki itu melihatnya tengah menangis. Menangisinya. Meskipun itu memang sudah tidak mungkin disembunyikan.

Ki Bum menatap sendu gadis yang sudah terlihat berantakan di hadapannya. Tanpa sadar ia sudah menahan napas begitu melihat cairan kristal bening itu sudah benar-benar membasahi kedua pipinya yang merona padam. Kedua tangannya yang masih menggenggam kedua tangan gadis itu mengerat, menyatukan dalam satu genggaman lalu membungkusnya.

“Sisi lain darimu yang baru saja aku temui. Kau adalah gadis yang cengeng.” Ki Bum tersenyum.

“Kenapa? Kau tidak suka? Kalau tidak suka, tinggalkan saja aku!” ketus Soo Rin sesenggukan. Membuat Ki Bum mengembangkan senyumnya.

“Satu sisi lainnya lagi yang aku temui. Kau adalah gadis yang labil.”

Soo Rin mengangkat kepalanya demi menatap tajam Ki Bum. Tak peduli lagi dengan rencana awalnya, biarkan saja dia melihatnya menangis. Supaya mengerti betapa lemahnya dia lalu akan dengan mudah meninggalkannya.

Ka (Pergilah)!” Soo Rin kembali menundukkan kepalanya bermaksud ingin menelungkupkannya. Namun gerakannya terhenti ketika sebuah tangan meraih dagunya lalu kembali mengangkatnya. Kemudian disusul dengan tangan lainnya hingga keduanya bergerak merengkuh wajahnya. Mengusap wajahnya yang basah secara perlahan, penuh perasaan.

“Mengingat segala perkataanmu di atas tadi, apakah itu artinya kau menerimaku?” tanya Ki Bum yang langsung membuat Soo Rin gugup hingga pandangannya tak berani terangkat. Jarak di keduanya yang kembali dekat membuat Soo Rin tak mampu mengelak dengan merencanakan aksi kabur. Kini batinnya merutuki dirinya yang dengan lancar telah mengucapkan segala kalimat yang menurutnya itu merupakan suatu permohonan agar laki-laki di hadapannya kini tidak berhenti dan pergi meninggalkannya.

Apakah itu semua adalah kata-kata hatinya?

Ki Bum tidak bergeming menjauh. Memandangi wajah yang begitu sempurna—di matanya—di hadapannya kini memang tidak boleh terlewatkan. Ki Bum begitu menikmati segala ekspresi yang keluar dari wajah gadis ini. Dan dia selalu terpesona dengan pipi yang memang asalnya sedikit merona menjadi semakin merona saat ini.

“Baiklah. Tidak perlu kau jawab. Aku sudah tahu jawabanmu.” Ki Bum tersenyum—lebih tepatnya menyeringai. Ia melepas rengkuhannya lalu beralih meraih sepasang sepatu yang ternyata milik Soo Rin. Gadis itu menyadari bahwa Ki Bum juga membawakan tasnya. Seketika hatinya menghangat. Ki Bum yang mengetahui keterpanaan Soo Rin memanfaatkannya dengan meraih kaki gadis itu lalu memasangkan sepatunya. Setelah keduanya terpasang, Ki Bum yang berjongkok dengan salah satu lutut menyentuh lantai sebagai tumpuan menyelampirkan salah satu tangannya di atas lutut yang lain. Memandang Soo Rin kembali serta tersenyum. “Aku tidak berhenti. Aku juga tidak mau berhenti,” Ki Bum mengulurkan sebelah tangannya dan kembali menyentuh wajah Soo Rin. “Karena aku menginginkanmu,” lanjutnya lugas. Membuat Soo Rin kembali berdebar-debar.

Ki Bum bangkit sambil menenteng tas Soo Rin. Masih dengan memandang gadis itu, tangan lainnya terulur bermaksud memberikan bantuan. “Ayo!” ajaknya. Soo Rin memandang tangan yang terbuka itu dengan bingung. Yang langsung terbaca oleh Ki Bum hingga ia mendengus membentuk seulas senyum yang lebih lebar. “Kau tidak ingin menemui temanmu Ah Reum?”

Sontak Soo Rin tersadar hingga mulutnya ternganga. “Astaga!” desisnya tertahan. Bagaimana bisa dia melupakan janjinya pada Ah Reum? Sudah berapa lama temannya itu menunggu dirinya di Perpustakaan? Seketika dia panik. Tanpa meraih uluran Ki Bum ia berdiri dengan cepat. Baru ingin membuka langkah, tiba-tiba tubuhnya limbung karena peredaran darah di tubuhnya belum mengalir dengan sempurna akibat gerakan cepatnya barusan memaksa tubuhnya yang sedang dalam keadaan tenang untuk bangkit. Dengan sigap Ki Bum menangkap tubuh Soo Rin hanya menggunakan satu tangan yang terulur tadi dan langsung memeluknya.

“Jangan mengabaikan segala bantuan kecil, Soo Rin-ah. Ini akibat dari kau tidak menghiraukan uluran tanganku,” bisik Ki Bum tepat di depan telinga Soo Rin. Seketika membuat tubuh Soo Rin kembali menegang dan merasakan telinganya memanas akibat hembusan napas dan tuturan lembut dari Ki Bum yang menggelitik.

****

“Kau membuat dia menangis lagi?!”

Eum.” Ki Bum tetap tenang meskipun telinganya yang tengah menerima telepon di ponselnya sudah sedikit memanas akibat segala teriakan seorang gadis di seberang telepon.

“Kim Ki Bum, kau benar-benar! Jangan katakan bahwa itu terjadi begitu saja! Jelaskan padaku!!”

“Aku akan menjelaskannya nanti. Jika sekarang, aku tidak yakin kau akan tetap seperti ini di akhir pekan nanti.”

YA, KIM KI BUM!!”

“Ji-ya…

Keadaan yang cukup ribut mulai berubah tenang di seberang telepon. Ki Bum yang merasakan bahwa gadis di seberang telepon mulai mereda, menjadi semakin tenang untuk kembali berbicara. “Terima kasih atas segala bantuanmu selama ini. Maafkan aku yang sudah membuatmu mengkhawatirkannya karena kelakuanku terhadapnya. Tapi mulai saat ini, aku akan berusaha untuk menjaganya dan tidak membuatnya sakit hati seperti dulu.”

Keadaan hening sesaat.

“Kau sedang tidak berusaha membuat kita merujuk, kan?”

“Tidak. Justru aku sedang berusaha membuatmu menerimaku untuk bersamanya.”

“Apakah aku masih bisa memegang janjimu? Janjimu yang sekarang?”

Eum.

“Baiklah! Tapi aku tetap akan datang ke rumahmu akhir pekan ini. Dan! Jika suatu saat kau melanggar janjimu yang sekarang—”

“Ji-ya, aku tahu bahwa kau sangat mengenalku. Begitu juga sebaliknya.”

“Baiklah. Mulai sekarang aku akan memberikan kepercayaanku kepadamu. Ki Bum-ah, aku menitipkan sahabatku kepadamu dan aku menerimamu untuk bersamanya.”

Ki Bum mengembang senyumnya. Mendapatkan pintu izin dari gadis di seberang telepon benar-benar sesuatu yang membuatnya dapat bernapas panjang dengan lega. Sambil menatap ke kejauhan, dia menjawab dengan ringan. “Terima kasih, Eun Ji.”

“Cih, kau hanya memanggilku begitu jika ada maunya saja.”

Ki Bum terkekeh. “Sampai bertemu di akhir pekan,” balasnya.

Geurae! Sampai bertemu di akhir pekan! Tanganku sudah gatal, kau harus tahu itu! Kkeutneo!

Sambungan terputus. Ki Bum menjauhkan ponselnya dengan masih mengembangkan senyumnya. Tapi senyumnya segera hilang begitu dirinya berbalik dan mendapati gadis yang menjadi topik pembicaraannya dengan gadis di seberang telepon tadi kini tengah berdiri di hadapannya.

“Apakah tadi itu… Eun Ji? Eun Ji—Jung Eun Ji?” tanya Soo Rin langsung.

“Sudah selesai dengan urusan di Perpustakaan?” Ki Bum mencoba mengalihkan topik. Memang selama ia melakukan panggilan terhadap gadis bernama Eunji, ia juga tengah menunggu Soo Rin di depan pintu Perpustakaan.

Soo Rin yang memang sudah selesai dan berhasil menemui Ah Reum memilih untuk pulang terlebih dahulu. Dan begitu ia keluar dari Perpustakaan, ia mendapati Ki Bum tengah melakukan panggilan dan tak sengaja mendengar laki-laki itu menyebut nama Eun Ji. Otomatis pikirannya tertuju pada sahabat pertamanya, Jung Eun Ji, dan entah mengapa ia merasa yakin bahwa pikirannya benar.

“Apakah dia adalah Eun Ji yang kukenal?” Soo Rin mengembalikan topik awalnya.

Setelah ada jeda yang cukup lama, Ki Bum akhirnya mengangguk. Membuat Soo Rin tertegun sekaligus kebingungan. Kenapa Ki Bum bisa mengenal Eun Ji?

“Dia adalah Jung Eun Ji yang kau kenal. Sahabatmu di masa Menengah Pertama. Saudara sepupuku.”

Lagi, Soo Rin tertegun. Ki Bum yang melihat reaksi itu mulai berjalan mendekat. Berhenti di jarak yang cukup dekat, memandangnya dengan teduh. Dia tahu, gadis di hadapannya sedang kembali terguncang. Tapi karena dirinya tidak ingin menyembunyikan apapun dari gadis ini, ia terpaksa membongkarnya.

“Dialah di balik semua pengetahuanku mengenai dirimu. Dialah yang memberiku nomor ponselmu. Tapi jangan salahkan dia yang sudah menceritakan segala masa lalumu. Karena itu semua adalah keinginanku. Aku yang mendesaknya untuk membuka mulut.”

Soo Rin memberanikan diri untuk menatap Ki Bum. Sungguh, dia tidak menyangka bahwa laki-laki di hadapannya melakukan semua ini. Tidak, dia tidak menyalahkan Eun Ji yang sudah menceritakan segala masa lalunya kepada Ki Bum. Tapi dia merasa takjub, kenapa laki-laki ini memilki semacam keberuntungan yang begitu ‘wah’? Dan… sejak kapan laki-laki ini mengenal dirinya?

Ki Bum menyungging senyum manisnya. Sebelah tangannya terulur hingga mendarat ke puncak kepala Soo Rin. Membelai rambut panjangnya dengan lembut. “Sekarang kau mengerti, kan, bagaimana aku bisa mengenal laki-laki bernama Kim Ryeo Wook itu?” ujarnya melembut. “Jika kau ingin lebih jelas mengetahui tentangku yang seperti ini, kau bisa bertanya pada Eun Ji.” Ki Bum menarik tangannya. Bermaksud untuk melangkah terlebih dahulu, namun sebuah tangan menahan lengannya.

“Kenapa tidak kau saja yang menjelaskannya padaku?” tanya Soo Rin. Dia tahu tangannya yang sedang menahan Ki Bum terasa gemetar karena ini adalah kali pertama ia memulai menyentuh terlebih dahulu. Itu pun karena didorong oleh keingintahuannya.

Ki Bum juga menyadarinya. Dengan pelan tangannya yang bebas meraih tangan Soo Rin, lalu dipindahkan ke tangan satunya dan digenggamnya. Tubuhnya kembali digerakkan mendekati Soo Rin, dibungkukkan hingga wajahnya sejajar dengan wajah Soo Rin. “Aku bukan laki-laki yang seperti itu, Soo Rin-ah,” bisiknya tepat di depan Soo Rin. Hingga sang empu menelan ludah karena gugup.

Ki Bum kembali menegakkan tubuhnya. Tangannya yang terus menggenggam tangan Soo Rin ditariknya dengan lembut, mengajaknya untuk berjalan bersama.

****

:: Next Day – It’s Saturday

 

Bel istirahat baru saja berbunyi. Begitu Han Seonsaengnim keluar dari kelas 3, Soo Rin segera menjatuhkan kepalanya di atas meja. Lagi-lagi hari ini ia tidak bisa konsentrasi belajar. Kemarin merupakan hari yang begitu banyak memori, yang memaksanya harus terus membayangkannya hingga pukul empat pagi! Ditambah dengan segala ucapan Eunji di telepon membuatnya sulit untuk memejamkan mata.

Setelah pulang sekolah kemarin, Soo Rin menelepon Eun Ji. Awalnya mereka hanya saling melepas rindu karena selama ini mereka berkomunikasi melalui chat atau saling mengirim pesan. Tapi memang sejak awal Soo Rin juga memiliki niat lainnya, tiba-tiba Eun Ji yang memulainya terlebih dahulu. Membongkar identitasnya dengan Ki Bum, juga membongkar soal Ki Bum. Yang membuat Soo Rin terperangah, tak menyangka, dan takjub!

“Ki Bum mulai melihatmu ketika dia sedang membuka album kenangan kelulusan kita. Melihat foto-fotoku yang banyak diambil ketika bersamamu, dia mulai merasa tertarik padamu. Dia mengatakan dengan jujur, bahwa kau terlihat sangat cantik. Sejak itu, dia mulai mencari tahu tentang dirimu. Aku pikir dia hanya bermain-main, tapi melihat dia yang ingin tahu mengenai… pengalamanmu dalam menjalin kasih dan ingin tahu mengenai masa lalumu selama di Menengah Pertama, terpaksa aku menceritakannya.

Aku juga memberitahu dia bahwa kau akan masuk ke Neul Paran. Padahal kau tahu, kan, kejeniusannya itu bisa mengantarnya ke sekolah bertaraf internasional. Tapi dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki ambisius untuk bersekolah tinggi. Yang dia inginkan adalah bisa melihatmu dalam jarak yang lebih dekat. Aku terkejut, hanya dalam waktu dua minggu setelah masuk Neul Paran, dia mendapatkan banyak foto dirimu. Aku tidak sengaja mencuri kameranya ketika sedang berkunjung ke rumahnya. Selama aku mengenalnya, aku tidak pernah melihat dirinya seperti ini jika sedang tertarik dengan seorang gadis. Bahkan dia tidak meminta nomor ponselmu dengan sembarangan kepadaku. Pernah aku berinisiatif menawarkannya, tapi kau tahu apa yang dia jawab?

‘Aku akan meminta jika aku benar-benar ingin mendapatkannya. Saat ini, aku ingin memperhatikannya terlebih dahulu. Aku tidak ingin gegabah.’ Sejak itu, aku merasa bahwa dia memang serius terhadapmu. Karena itu aku menunggu kemantapannya dengan senang hati. Dan sejak itu pula, sebenarnya aku sudah mempercayainya jika dia berhasil bersamamu. Karena aku mengenal dia dengan baik. Dia kan sepupuku.”    

Soo Rin merasa wajahnya memanas mengingat segala pernyataan Eun Ji semalam. Sungguh, dia tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Dia bahkan tidak pernah mengharapkan kisah seperti ini. Ini di luar akal pikirannya. Disukai seseorang semenjak belum menginjakkan kaki di jenjang Menengah Atas. Padahal saat itu dia masih berada dalam tahap pemulihan hati. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa dia memang mulai menerimanya. Menerima kehadirannya. Hingga celah harapan itu kembali muncul. Terbuka. Hanya dalam waktu kurang dari satu minggu sejak kejadian panggilan itu!

Soo Rin menenggelamkan wajahnya di atas lipatan kedua tangannya. Mencoba memejamkan kedua matanya yang terasa berat dan perih. Mencoba memanfaatkan waktu istirahat yang masih tersisa sekitar 25 menit lagi. Perlahan ia mulai tenggelam ke alam bawah sadar.

Rasanya baru lima detik ia terlelap, kesadarannya kembali ketika dirasakan sesuatu mendarat di puncak kepalanya, mengusapnya dengan lembut. Terpaksa ia mengangkat wajahnya yang disembunyikan demi melihat siapa yang sudah mengganggu tidur singkatnya. Kemudian matanya yang sudah terasa berat terpaksa melebar begitu mendapati seseorang tengah berjongkok di samping mejanya.

Ki Bum menyungging senyum. Astaga, gadis ini terlihat lebih kusut dibandingkan kemarin. Berapa lama dia tertidur semalam? Ataukah dia benar-benar tidak bisa tidur semalam, pikirnya.

“Ikut aku,” ajak Ki Bum sembari meraih lengan Soo Rin.

Eodi (Ke mana)?” tanya Soo Rin terdengar sedikit memelas. Ia merasa saat ini tidak mampu untuk berjalan karena rasa kantuk yang sudah menyelimutinya.

Ki Bum yang menyadari reaksi itu tetap tersenyum. Melalui tatapan teduhnya ia mulai memberikan suatu isyarat agar gadis ini mau menurutinya, sambil menjawab, “Ke tempat yang lebih tenang dan nyaman untuk beristirahat.” Ki Bum mulai menuntun Soo Rin untuk berdiri setelah dia bangkit. Kemudian meraih tangan Soo Rin dan menautkan jari-jari gadis itu kepada jari-jarinya. Mengapit lengannya hingga tubuh rampingnya memepet dengan tubuhnya. Soo Rin mulai gugup dibuatnya. Namun Ki Bum mencoba tidak menghiraukannya dengan menoleh menatap Ah Reum yang berada di sisi lainnya.

Sebelumnya Ah Reum telah diberi suatu amanat oleh Ki Bum. Mendapati tatapan itu Ah Reum langsung mengangguk sebagai jawaban bahwa dia akan menyampaikannya nanti. Barulah Ki Bum membuka langkah meninggalkan kelas bersama Soo Rin.

Soo Rin baru menyadari bahwa keadaan kelas yang tadinya ramai telah berubah menjadi tenang. Dan dia mulai menyadari bahwa berbagai pasang mata tertuju kepadanya. Dia semakin dibuat bingung begitu dirinya dituntun keluar dari kelas, semua mata di sepanjang koridor tengah menatapnya secara terang-terangan. Saling berbisik satu sama lain. Bahkan ada yang dengan gamblangnya berseru, yang seketika membuat dirinya menyadari maksud dari situasi ini.

“Dia Kim Ki Bum, kan? Kim Ki Bum dari kelas 1?”

“Kim Ki Bum bersama seorang gadis?”

“Kim Ki Bum menggandeng gadis itu!”

Omo! Siapa gadis itu?”

Soo Rin mulai menunduk. Dia merasa bahwa ini bukanlah hal yang baik baginya. Dia kebingungan, kenapa semua murid menyebut laki-laki yang sedang menuntunnya? Bahkan beberapa dari mereka membuntutinya! Soo Rin mulai merasa panik. Dia memang pernah merasakan hal seperti ini ketika dia bersama Kai dulu, tapi tidak sampai dibicarakan seperti ini bahkan dibuntuti seperti ini! Mau tidak mau dia harus tetap berjalan mengikuti langkah Ki Bum di sebelahnya. Ki Bum yang mengetahui kepanikan Soo Rin semakin merapat serta mengeratkan apitan dan genggamannya. Dia sadar bahwa cepat atau lambat gadis di sebelahnya akan mendapatkan perlakuan seperti ini jika bersamanya.

Begitu tempat tujuannya yang berada di lantai dasar semakin mendekat, Ki Bum sedikit mempercepat langkahnya. Segera diraihnya pintu ruangan itu, Ruang Kesehatan, dan segera memasukinya bersama Soo Rin lalu menutupnya. Menuntun Soo Rin ke salah satu tempat tidur yang jauh dari pintu masuk lalu mendudukkan gadis itu di sana. Sengaja Ki Bum mendudukkan Soo Rin membelakangi pintu agar gadis itu tidak semakin panik bahwa mereka yang membuntuti masih berada di luar bahkan mengintip melalui jendela. Ki Bum mengalihkan pandangannya ke jendela. Menatap dingin dan tajam kepada mereka yang masih betah mengintip. Dalam waktu singkat, mereka segara pergi meninggalkan tempat itu. Yah, semudah itu.

Ki Bum meraih tirai di dekatnya lalu melebarkannya hingga membentuk tembok di sekitar tempat tidur Soo Rin. Lalu ia kembali berdiri di hadapan Soo Rin.

“Kenapa mereka menyebut-sebut namamu dan membuntuti?” tanya Soo Rin terheran.

Ki Bum mendengus hingga membentuk seulas senyum. “Kau tidak ingat bahwa aku adalah Si Jenius Peringkat Satu?” ujarnya tersirat membanggakan diri.

Soo Rin dengan bodohnya mengeluarkan-ekspresi-baru-menyadarinya dan itu membuat Ki Bum gemas. Namun detik kemudian Soo Rin memicing menyadari pula bahwa laki-laki ini baru saja membanggakan statusnya. “Sedang bermaksud menyombongkan diri di depanku?” cibirnya.

Eum. Supaya kau benar-benar menyadari bahwa Penggemar Rahasiamu adalah Si Jenius Peringkat Satu di Neul Paran.” Ki Bum menyeringai bangga. Sebelum Soo Rin membalas dengan sebuah semprotan, Ki Bum segera beralih topik, “Tidurlah!”

“Di sini?”

Eum.

“Kenapa harus di sini?”

“Manfaatkan waktu 20 menit ke depan untuk beristirahat, Soo Rin-ah.

“Tapi—”

“Tidur atau aku akan menciummu sekarang juga.”

Soo Rin segera menidurkan tubuhnya. Melihat reaksi itu, Ki Bum tersenyum simpul. Dilepaskan kedua sepatu Soo Rin lalu menaikkan kedua kaki gadis itu ke atas kasur. Kemudian meraih selimut tipis yang terlipat rapih di ujung kasur dan melebarkannya, lalu menyelimuti tubuh Soo Rin. Ditariknya sebuah kursi dengan kakinya hingga ke depan tempat tidur lalu mendudukinya. Memandang Soo Rin yang berbaring miring menghadapnya.

“Tidurlah. Aku akan menemanimu,” ujar Ki Bum dengan suara halusnya. Soo Rin mencoba memejamkan mata. Kedua tangannya bergerak menutupi wajahnya. “Jangan menutupi wajahmu, Soo Rin-ah. Biarkan aku melihatnya,” titah Ki Bum yang membuat Soo Rin memberenggut dan terpaksa menurunkan kedua tangannya. Sungguh, dia malu jika harus memperlihatkan wajah tidurnya di hadapan orang lain apalagi di hadapan Ki Bum!

Lagi-lagi Ki Bum tersenyum simpul. Tubuhnya yang sedari tadi disandarkan kini ditegakkan dan dimajukan hingga tangannya berhasil meraih salah satu tangan Soo Rin dan menautkannya. “Tidurlah,” ujar Ki Bum lagi. Soo Rin kembali memejamkan mata. Mencoba mengabaikan debaran jantungnya akibat sentuhan Ki Bum. Karena kantuknya yang memang sudah menyelimutinya, kesadarannya mulai menghilang.

“Tolong bangunkan aku lima menit sebelum bel masuk berbunyi,” gumamnya spontan sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Kemudian napasnya mulai terlihat teratur.

Tangan Ki Bum yang lainnya mulai bergerak. Mengusap perlahan rambut Soo Rin. Lalu menelusuri lekukan wajah gadis yang sudah terlelap itu. “Jalja (Selamat tidur),” bisiknya tepat di depan wajah Soo Rin.

Dan Ki Bum menemani lelapnya hingga sisa seperempat waktu kegiatan belajar-mengajar akan berakhir.

~Epilog~

 

Ding dong

Tampak seorang gadis baru saja menekan bel rumah kediaman Kim. Tak menunggu lama, sebuah suara dari intercom di sebelah bel itu menyambutnya.

“Siapa?”

Imoooooo! Ini aku!”

Omo! Eun Ji?”

Ne!

Omomo! Tunggu sebentar!

Segera pintu gerbang itu terbuka dan gadis yang bernama Eun Ji itu segera memasuki pekarangan rumah itu.

Omo, Eun Ji-yaaa!” sambut Ny. Kim begitu Eun Ji masuk ke dalam rumahnya. Eun Ji segera memeluk wanita itu. “Kau datang sendiri?” tanyanya yang langsung dijawab Eun Ji dengan anggukan. “Astaga, rasanya sudah lama sekali tidak bertemu denganmu. Kenapa baru sekarang datang, hum?”

Eii, Imo juga belum pernah mengunjungiku ke sana.” Eun Ji berlagak merajuk yang langsung dibalas dengan tawa Ny. Kim.

“Baiklah. Minggu depan kita akan mengunjungi rumah barumu di sana. Aku juga sudah merindukan Appa-mu itu,” kekehnya.

Eun Ji melebarkan senyumannya. Ny. Kim adalah adik dari ayahnya yang bermarga Jung. Karena menikah dengan Tn. Kim beliau berganti marga mengikuti suaminya.

Imo, di mana dia?” tanya Eun Ji begitu kembali tersadar dengan maksud tujuannya datang.

“Seperti biasa, ada di kamarnya,” jawab Ny. Kim enteng. Lalu sebelah tangannya terangkat hingga menempel ke sebelah bibirnya seperti ingin membisikkan sesuatu. “Kau tahu? Belakangan ini dia terlihat lebih cerah dibandingkan biasanya. Imo merasa bahwa dia baru saja mendapatkan seorang gadis,” gumamnya.

“Tebakan Imo memang benar. Dia baru saja mendapatkan seorang gadis. Gadis itu adalah sahabatku ketika di Menengah Pertama,” balas Eun Ji yang langsung mendapatkan antusias dari Ny. Kim. “Dia memang sudah menyukainya sejak dulu,” lanjutnya.

“Astaga, benarkah?” seru Ny. Kim takjub. “Seperti apa gadis itu?”

“Sudah pasti dia sangat cantik. Dan dia gadis yang hangat,” jawab Eun Ji mantab. “Jika penasaran, Imo minta saja padanya untuk memperkenalkannya,” bisik Eun Ji.

“Kau benar! Nanti Imo akan bicara padanya.” Ny. Kim terlihat makin antusias. Akhirnya anak laki-lakinya menemui tambatan hatinya. Selama ini yang beliau ketahui bahwa anak itu hanya fokus dengan belajarnya hingga menjadi jenius seperti sekarang. Seperti Tn. Kim.

“Aku ke atas dulu, ya, Imo!” pamit Eun Ji yang langsung mendapat izin dari Ny. Kim. Eun Ji segera menaiki anak tangga hingga ke lantai dua. Menuju sebuah kamar lalu berhenti tepat di depan pintunya.

Tok tok tok tok

Eun Ji mengetuk pintunya dengan gemas. Tanpa menunggu lama pintu itu terbuka dan menampakkan seorang laki-laki berdiri di depannya. Eun Ji langsung menyambutnya dengan melebarkan senyum. Senyum penuh arti. Senyum yang mencurigakan. Dengan kedua tangan tengah bergerak melakukan suatu peregangan.

Ki Bum, laki-laki itu hanya menyambut Eun Ji dengan menatapnya datar. Toh, dia memang sudah siap dengan kedatangan saudara sepupunya.

“Jadi, sudah berapa banyak kau membuatnya menangis, hm?” Eun Ji membuka percakapan. Terdengar halus tapi juga sinis.

“Dua,” jawab Ki Bum santai. Sebelah tangannya bergerak melepas kacamatanya dan meletakkannya di atas meja belajarnya. Begitu ia kembali menghadap Eun Ji, gadis itu langsung melancarkan aksinya.

DUAGH

Eun Ji menonjok telak perut Ki Bum. Membuat laki-laki itu harus mundur selangkah dan melenguh menahan sakit.

“Itu balasan karena sudah membuat Soo Rin menangis.”

DUG

Kini Eun Ji menendang betis Ki Bum hingga laki-laki itu jatuh tersungkur.

“Itu balasan karena sudah membuat Soo Rin menangis untuk yang kedua kalinya.”

Ki Bum terduduk pasrah di lantai. Ia memang tidak ada niatan untuk membalas. Karena semua ini adalah janjinya. Janji mereka. Janji jika Ki Bum membuat Soo Rin menangis maka Eun Ji akan memukulnya sebanyak dia sudah membuat Soo Rin menangis. Tapi yang membuat ia meringis adalah, ternyata pukulan Eun Ji begitu kuat.

PLAK

Kini Ki Bum tertegun. Baru saja Eun Ji menamparnya. Segera ia menoleh dan menatap tajam Eun Ji. “Ya! Bukankah kau sudah memukulku dua kali?” protes Ki Bum.

“Memang! Tapi itu adalah balasan karena sudah membuat Soo Rin jatuh kepadamu!”

“Hei, memang apa salahnya dengan itu, huh?”

“Tentu saja salah! Itu sama saja dengan kau sudah menodai hati Soo Rin!”

Ki Bum berdecak kesal. Gadis ini benar-benar! Apakah membuat Soo Rin menyukainya merupakan sesuatu hal yang tidak bagus?

“Ah, bicara soal menodai—” Eun Ji memicing pada Ki Bum. “Apa saja yang sudah kau lakukan padanya?”

Ki Bum terlihat mulai salah tingkah. Tangannya yang sempat bertengger di pipinya yang baru saja menjadi korban tamparan Eun Ji kini beralih menjadi mengusap-usap tengkuknya. “Apakah menciumnya termasuk hal yang salah?” gumamnya.

MWO?” Eun Ji naik pitam. “YA, KIM KI BUM!!” Eun Ji langsung menyerang Ki Bum. Sontak laki-laki itu bangkit dan berlari keluar kamarnya.

“Memang apa salahnya jika aku menciumnya?”

“Tentu saja salah!! Kau sudah menodai bibirnya yang suci itu!!!”

“Tapi dia sudah menjadi milikku!”

“Milikmu?! Kau pikir dia barang, hah?! Kemari kau!!!!”

“Hei, kenapa kau yang marah? Soo Rin saja tidak marah!”

“Soo Rin terlalu baik untuk menjadi murka sepertiku! Kau pikir dia menerimanya begitu saja? Jangan katakan kalau dia menangis karena kau menciumnya!!”

“Lalu kenapa jika itu benar?”

“KIM KI BUM!!!!!”

“AKH! SAKIT!!!”

“RASAKAN INI!!!!”

“AAAAKH!! YA!!!!

Di lantai bawah, Ny. Kim yang tengah berkutat di dapur hanya bisa menggelengkan kepala mendengar teriakan mereka yang bersahutan. Seperti inilah setiap Eun Ji datang berkunjung. Suasana rumah akan menjadi ramai ditambah Ki Bum yang terpaksa melepas sifat pendiamnya jika sepupunya itu datang.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa beliau sedikit terkejut mendengar anak laki-lakinya bahkan sudah melakukan aksi yang begitu jauh. “Jadi namanya Soo Rin?” gumam Ny. Kim sambil mengangguk-anggukan kepala. Beliau mulai penasaran terhadap gadis yang menyandang nama itu, juga yang telah merebut perhatian anaknya itu.

-END


Bari Go!!

Ada yang mengatakan bahwa, tidak ada cerita dengan ide awal milik sendiri. Semua cerita itu pasti sudah pernah ada, hanya saja penyampaian dan pengembangannya yang berbeda-beda sesuai dengan cara kita masing-masing^^ Jadi, maaf ya kalo cerita saya terlihat mirip dengan cerita yang pernah kalian baca ataupun cerita milik kalian. Ini karena ide ceritanya, sedangkan untuk penyampaiannya itu dari cara saya sendiri^^

Yosh! Sampai jumpa di cerita berikutnya! Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

15 thoughts on “Genius Secret Admirer – Part.2 End

  1. Seruuuu ceritanya apalagi sikap Kibum yg sweet bgt….arghhhh oppa saranghae…love you full deh buat mu ❤❤❤

    Buat Author fighting, sukses terus yah 👍👍👍

  2. Keren kak 👍
    Ternyata kibum nya udah lama jadi penggemar rahasia nya soorin 😀
    Dan itu apa pula perjanjian kibum sama eunji, konyol bgt 😅
    Ternyata kibum bisa juga lepas dari sikap pendiam 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s