Posted in Category Fiction, Fiction, One Shot, PG, School Life

Who Are You?

(When I Get This Feeling’s after story)

Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ki Bum
  • Lee Ah Reum
  • Tae Yong
  • Tae Min
Support Casts:
  • Lee Jin Ki (Onew)
  • Song Joong Ki
  • Key
Genre   : School Life
Rated    : PG-15
Length  : One Shot
Sorry I put my Korean name cuz it’s a sequel of my previous story, story of my past. But now this story comes from my mind aka fiction^^  Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~


Yeoboseyo?

“Kau Park Soo Rin?”

“Iya… maaf ini siapa?”

“Aku dari Neul Paran High School sepertimu. Dan dari angkatan yang sama denganmu.”

“Lalu?”

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku selalu memperhatikanmu.”

“Huh?”

“Aku harap kau tidak mencoba mendekati laki-laki lain.”

“Huh? Ya, memangnya kau siapa?”

“Panggil aku Ki. I’m your Secret Admirer.”

&&&

“Ki?”

Untuk keempat kalinya Ah Reum menyebut suku kata dua huruf itu. Sebanyak itu pula Soo Rin mengangguk membenarkan. Keduanya kembali mengaduk-aduk minuman masing-masing sambil sesekali menyeruputnya. Memikirkan suku kata dua huruf itu kembali.

“Menurutmu apakah dia benar-benar dari sekolah ini?” untuk yang kedua kalinya Soo Rin mengucapkan pertanyaan itu. “Aku rasa di sini tidak ada siswa yang bernama Ki.”

“Siapa bilang di sini tidak ada siswa yang bernama Ki?” tiba-tiba Tae Yong ikut bergabung ke meja mereka. Diikuti dengan teman yang duduk di sebelah Tae Yong di kelas, Lee Tae Min. Tae Yong termasuk siswa yang cukup dekat dengan kedua gadis ini. Jika bukan karena Ah Reum yang sudah berteman dekat dengan Tae Yong sejak di tahun pertama, Soo Rin belum tentu mau mengenal Tae Yong lebih dekat. Begitu pula dengan Tae Min yang cukup dekat dengan mereka karena Tae Yong.

“Banyak, kau harus tahu itu,” lanjut Tae Yong sambil menyeruput minuman milik Ah Reum yang diambilnya tanpa izin.

Ya!” seru Ah Reum kesal.

“Bahkan di kelas kita juga ada siswa bernama Ki.” Tae Yong tidak menghiraukan seruan Ah Reum. Membuat Ah Reum merebut minumannya dengan sentakan.

“Benarkah?” tanya Soo Rin yang mendapat dengusan dari Tae Yong.

“Hei, kau ini sudah tiga bulan di kelas 3 tahun kedua! Bagimana mungkin kau tidak tahu nama-nama teman sekelasmu, huh?” semprot Tae Yong yang membuat Soo Rin mengerucutkan bibir.

“Jangan katakan bahwa kau hanya tahu nama Onew adalah nama aslinya,” kekeh Tae Min.

“Ah, benar juga!” seru Ah Reum kemudian. “Onew memiliki nama asli yaitu Lee Jin Ki. Mungkin saja dia!”

Soo Rin merenung sejenak sebelum mengangguk membenarkan. Mungkin saja Onew adalah orangnya. Tapi apakah nama Ki yang dimaksud oleh laki-laki misterius itu adalah bagian dari namanya? Bisa saja itu adalah nama samaran.

“Memangnya ada apa kalian mencari orang bernama Ki?” Tae Yong mulai penasaran.

“Soo Rin memiliki penggemar rahasia. Kemarin orang itu meneleponnya dan mengatakan bahwa dia bernama Ki dan seangkatan dengan kita,” jawab Ah Reum dengan tampang menggoda. Yang seketika membuat dua laki-laki itu bersiul menggoda Soo Rin pula.

“Wah, yang benar saja jika orang itu adalah Onew.” Tae Min tergelak. “Aku tidak akan menyangka jika laki-laki penggila ayam itu juga bisa tergila-gila dengan seorang gadis.”

Soo Rin mendadak wajahnya memerah. Secara kini tiga orang itu tengah menggodanya terang-terangan. Ia pun kembali menyeruput minumannya dengan cepat. Berusaha menyembunyikan tingkahnya yang tertera sekali sedang… salah tingkah.

“Onew-sshi, apakah ini nomor ponselmu?” Soo Rin menyodorkan ponselnya yang tengah menerterakan fitur panggilan masuk kemarin dengan nomor ponsel misterius itu.

Onew mengerutkan kening begitu melihat deretan nomor itu kemudian menggelengkan kepala. “Itu bukan nomor ponselku,” jawabnya.

“Benarkah?” Soo Rin memicing tidak percaya.

Eoh.” Onew mengangguk jujur. “Bukankah kita pernah bertukar nomor ponsel? Kau masih menyimpannya, kan?”

Soo Rin merenung. Benar juga, mereka pernah bertukar ponsel demi keperluan tugas kelompok pelajaran Sosial Moral. Dan dia memang masih menyimpannya. Soo Rin sedikit tersentak ketika ponselnya tiba-tiba bergetar. Tertera bahwa nama kontak ‘Onew-sshi’ tengah melakukan panggilan padanya. Pandangan Soo Rin beralih pada Onew yang tengah menempelkan ponselnya ke sebelah telinganya.

“Itu nomorku. Tersambung, kan?” tanya Onew sambil memutuskan panggilan. Sekedar untuk memastikan bahwa nomornya berbeda dengan nomor yang baru saja ditunjukkan Soo Rin. “Bahkan aku masih menyimpan nomormu,” gumamnya.

“Maaf. Jadi, ini benar bukan nomormu?” ujar Soo Rin melirih.

“Aku hanya memiliki satu ponsel dan sudah pasti hanya memiliki satu nomor ponsel,” tandas Onew.

“Tapi… namamu Lee Jin Ki, kan?” tanya Soo Rin hati-hati.

Eoh.” Onew mengangguk membenarkan. “Memang namaku adalah Lee Jin Ki. Onew hanya sebuah nama panggilan… sebenarnya, kau ada keperluan apa?”

“Aah, tidak ada. Sepertinya kau bukan orangnya,” gumam Soo Rin yang membuat Onew mengernyit bingung.

  Drrt drrt

Soo Rin melebarkan matanya begitu mendapati ponselnya kembali bergetar menandakan sebuah pesan masuk dan itu adalah dari nomor misterius itu.

 

Namaku bukan Lee Jin Ki.

Soo Rin terhenyak. Pandangannya beralih menyapu kelasnya. Mencari-cari orang yang baru saja mengirim pesan untuknya. Mencari siapa saja yang terlihat tengah memegang ponsel dengan gerak-gerik mencurigakan, menurutnya. Tapi dia tidak menemukan yang dimaksud. Lalu pandangannya beralih ke pintu kelas sebelum akhirnya melangkah keluar. Menyapu sepanjang koridor dengan bingung. Namun tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan dari para murid yang tengah berlalu lalang, menurutnya.

Menghela napas panjang, ia kembali menatap layar ponselnya yang masih menampakkan pesan dari nomor misterius yang dimiliki oleh orang bernama Ki itu.

****

“Jadi bukan Onew?”

Soo Rin menggeleng. Ah Reum yang duduk di sebelahnya kembali bertopang dagu. Begitu pula dengan Tae Yong yang tengah duduk menghadap Soo Rin. Mereka kembali berpikir menerka-terka siapa lagi siswa yang memiliki nama dengan suku kata Ki. Mengingat menurut Tae Yong nama murid yang bersuku kata Ki itu ada banyak membuat mereka harus kembali mengingat nama teman-teman mereka.

“Ah!” tiba-tiba Tae Yong menjentikkan jari. Lalu memajukan tubuhnya pada Soo Rin. Melihat itu Ah Reum pun ikut memajukan tubuhnya mendekati Soo Rin. “Song Joong Ki!”

“Benar juga,” gumam Ah Reum.

“Song Joong… Ki?” ulang Soo Rin.

Eum! Song Joong Ki dari kelas 4.” Tae Yong meyakinkan. “Aku cukup kenal dengannya. Dia temanku di klub Theater.”

“Tak ada salahnya mencoba. Temui saja dia,” usul Ah Reum.

Tae Yong menunjuk seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kelas 4. Kebetulan sekali di saat Tae Yong dan Soo Rin keluar kelas bermaksud ingin beranjak menuju kelas 4, laki-laki yang dimaksud Tae Yong sedang berjalan memunggungi mereka. Dengan ragu Soo Rin berlari mendekati laki-laki itu.

“Song Joong Ki-sshi?

Laki-laki itu menghentikan langkahnya lalu berbalik. Sedikit terpana dengan kedatangan Soo Rin, laki-laki yang memang bernama Song Joong Ki itu menaikkan kedua alisnya sambil menyahut, “Ya?”

“Kau Song Joong Ki, kan?” tanya Soo Rin hati-hati.

“Iya, benar.” Joong Ki kini mengerutkan keningnya bingung. Sedikit heran dengan gadis di hadapannya kini. Sudah jelas bahwa namanya terpampang di jas seragamnya bagian dada sebelah kiri. “Apa kau ada perlu denganku?”

“Um… itu—” Soo Rin merasa gugup. Mencari kata-kata yang tepat untuk diajukan pada laki-laki yang baru kali ini diajaknya bicara bahkan baru ditemuinya. “Apa kau orang yang bernama… Ki?

“Huh?” Joong Ki melongo. Jelas sekali bahwa laki-laki ini tidak mengerti maksud dari pertanyaan Soo Rin. Membuat Soo Rin seketika paham bahwa Song Joong Ki bukanlah orangnya. Tanpa sadar kedua bahunya yang sejak tadi menengang karena gugup kini mulai mengendur.

“Aah, tidak apa-apa. Maaf sudah mengganggumu.” Soo Rin membungkukkan badan lalu berbalik. Meninggalkan Joong Ki yang masih memandangnya dengan bingung.

“Bagaimana?” sambut Tae Yong begitu Soo Rin sampai di hadapannya. Soo Rin menggelengkan kepala. Tae Yong mendesah. “Bukan?” gumamnya.

“Bukan Song Joong Ki?” Ah Reum yang baru bergabung hanya mendapat jawaban berupa helaan napas panjang dari Soo Rin dan Tae Yong.

Drrt drrt

 

Merasakan ponselnya bergetar, sontak Soo Rin merogoh saku seragamnya. Benar saja, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dan lagi-lagi dari nomor misterius itu.

Namaku juga bukan Song Joong Ki.

Neon nuguya (kau siapa)?” desis Soo Rin.

::Next day

Soo Rin, Ah Reum, Tae Yong, dan Tae Min tengah duduk saling berhadapan di meja kantin. Hanya Soo Rin yang menunduk sembari mengaduk-aduk minumannya tanpa minat, sedangkan yang lainnya tampak bertopang dagu dan merenung. Ternyata dengan munculnya siswa misterius yang mengaku menjadi Penggemar Rahasia Soo Rin membuat tak hanya Ah Reum tertarik, Tae Yong dan Tae Min juga tertarik.

“Tapi, tidakkah penggemar rahasia itu merupakan suatu hal yang tergolong tidak gentle?” Ah Reum memecahkan keheningan. “Coba kalian pikir, dia menyukai Soo Rin tapi dia tidak membiarkan Soo Rin agar mengetahui identitas dia yang sebenarnya,” lanjutnya.

“Jika dia memang tidak membiarkan Soo Rin untuk mengetahui siapa dia sebenarnya, untuk apa dia memberitahu Soo Rin bahwa dia adalah Penggemar Rahasia-nya? Dia pasti akan memilih untuk tetap diam dan membiarkan dirinya hanya memandang Soo Rin dari jauh.” Tae Yong menyangkal.

“Dia memang ingin membuat Soo Rin penasaran. Dengan begitu dia akan tahu bahwa Soo Rin meresponnya. Dan di saat waktu yang tepat, barulah dia akan keluar dari persembunyiannya,” timpal Tae Min. “Dia hanya sedang menarik ulur, Soo Rin-ah,” godanya.

“Justru kurasa dia berani membuka sedikit celah mengenai dirinya karena dia sudah tahu bahwa kau pasti akan meresponnya.” Tae Yong menatap Soo Rin. “Dan aku rasa, dia sudah menjadi Penggemar Rahasia-mu sejak begitu lama.”

“Wow~” Tae Min berdecak kagum, mengedipkan sebelah matanya pada Soo Rin yang kini tengah memperhatikan.

Semburat merah kembali menghiasi kedua pipi Soo Rin. Lagi-lagi mereka menggodanya.

“AH!”

Suasana kembali hening ketika seruan Tae Min terdengar. Ekspresi laki-laki itu terlihat seperti baru saja menyadari sesuatu.

“Sepertinya aku tahu siapa Penggemar Rahasia Soo Rin!” Tae Min sedikit mengecilkan suaranya.

“Siapa, siapa?” Ah Reum kembali antusias.

Tae Min memajukan tubuhnya hingga tubuh bagian antara dada dan perutnya menempel pada pinggiran meja. Diikuti dengan mereka bertiga yang ikut melakukan hal yang sama hingga kepala mereka saling mendekat.

“Kim Ki Bum!”

Seketika ketiganya terpana mendengar ucapan Tae Min. Tapi tak lama Tae Yong tersadar. “Hei, di angkatan kita ada banyak siswa yang bernama Kim Ki Bum!”

“Benarkah?” kini Soo Rin merespon. Memang sifatnya yang masih tertutup membuat dirinya tidak mengenal banyak nama di angkatannya. Bahkan dia tidak banyak menghapal nama teman sekelasnya.

“Memangnya ada berapa banyak nama Kim Ki Bum? Setahuku hanya Kim Ki Bum si jenius peringkat satu itu dan Kim Ki Bum yang selalu di panggil Ki—” Ah Reum terhenyak. Tanpa sadar sebelah tangannya sudah menutup mulutnya. Tae Min yang melihat reaksi Ah Reum mengembangkan senyumnya.

“Kau tahu Kim Ki Bum siapa yang kumaksud, kan?”

Ah Reum mengangguk cepat.

“Aah! Kim Ki Bum yang itu? Kim Ki Bum dari kelas 5 itu?!” kini Tae Yong yang berseru.

“Kau juga tahu, kan?” Tae Min tampak antusias.

Ya, Soo Rin-ah! Dia adalah teman dekat Tae Min! Dan dia memiliki nama panggilan Ki!” seru Tae Yong yang ikut antusias. “Astaga, tidak kusangka ternyata teman dekatmu adalah Penggemar Rahasia Soo Rin?” Tae Yong menyikut Tae Min yang tengah tergelak senang.

“Aku juga baru menyadarinya,” balas Tae Min di sela tawanya. “Aishi, bocah itu ternyata…”

Soo Rin masih terdiam. Sungguh dia tidak mengerti siapa orang yang mereka maksud. Karena dia sama sekali tidak mengenal siswa yang memiliki nama Kim Ki Bum itu.

****

Kini Tae Min yang mengantarkan Soo Rin menuju kelas 5. Suasana di tiap kelas memang tergolong mendekati sepi karena hampir setiap murid akan menghabiskan waktu istirahat di tempat-tempat yang sekolah sediakan kecuali ruang kelas. Begitu sampai di ambang pintu kelas 5, Tae Min segera menunjuk seorang laki-laki berambut paling bergaya dibandingkan para siswa yang berada di kelas itu, yang tampak sedang membereskan buku-bukunya.

Hyung!” seru Tae Min kemudian. Seolah seruan itu memang sudah menjadi panggilannya, laki-laki yang sebelumnya ditunjuk oleh Tae Min itu pun menoleh.

Hyung?” Soo Rin menatap Tae Min bingung.

“Dia lebih tua tiga bulan dariku.” Tae Min menunjukkan cengiran jenakanya. Soo Rin hanya mengangguk berusaha mengerti.

“Ada apa?” tanya laki-laki itu begitu sampai di hadapan Soo Rin dan Tae Min.

“Ah, sebenarnya bukan aku yang ada perlu. Tapi temanku,” jawab Tae Min sambil menunjuk Soo Rin. Laki-laki itu kini mengalihkan tatapannya pada Soo Rin. Tae Min menepuk pundak laki-laki itu. “Hyung, setelah ini aku akan meminta penjelasan darimu,” gumam Tae Min yang membuat laki-laki itu kembali menatap Tae Min tapi kini dengan bingung.

“Penjelasan apa?”

Tae Min hanya menjawab dengan melirik ke arah Soo Rin. Membuat laki-laki itu makin mengernyit bingung. “Aku tinggal dulu, Hyung! Ah, nanti antarkan Soo Rin ke kelas, ya, Hyung.” Tae Min mengedipkan sebelah matanya sebelum beranjak meninggalkan mereka berdua.

Soo Rin yang sedari tadi diam—merasa gugup karena kembali berhadapan dengan orang asing—mulai melirik pada seragam bagian dada sebelah kiri laki-laki itu. Terpampang sebuah nama yang sudah pasti namanya, Kim Ki Bum. Soo Rin kembali ragu, apakah Ki memang bagian dari sebuah nama? Bukan samaran? Tapi… bagaimana jika Kim Ki Bum yang kini ada di hadapannya memang orang misterius yang bernama Ki itu?

Ehem, maaf. Jadi, ada keperluan apa denganku—” laki-laki itu menggantung kalimatnya ketika matanya mencoba melirik identitas Soo Rin. “Park Soo Rin-sshi?” lanjutnya.

Sontak Soo Rin mendengak begitu namanya disebut. “Um… apakah kau yang bernama Ki?” tanya Soo Rin hati-hati.

“Maksudmu nama panggilanku?” laki-laki itu mencoba memastikan. Mendapat jawaban berupa anggukan dari Soo Rin, laki-laki itu tersenyum. “Iya. Aku Key.

  Dia orangnya?! seru Soo Rin dalam hati. Tiba-tiba jantungnya berdetak di atas normal. Tak menyangka dirinya akan menemukan laki-laki misterius itu dengan cepat. Namun ia berusaha untuk menenangkan dirinya kembali. Ada satu hal yang harus ia pastikan.

“Jadi, kau adalah orang yang meneleponku di Hari Minggu kemarin?” tanya Soo Rin.

“Eh?” kini laki-laki itu melongo. “Me-meneleponmu?” Soo Rin mengangguk. “Tapi, aku tidak memiliki nomor ponselmu,” laki-laki itu tersenyum kikuk.

“Huh?” kini giliran Soo Rin yang melongo.

“Aku tidak memiliki nomor ponselmu,” ulang laki-laki itu. Kini dengan hati-hati.

Soo Rin merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Dibukanya fitur panggilan masuk di hari Minggu. Lalu memperlihatkannya pada laki-laki itu. “Apakah ini nomor ponselmu?”

Laki-laki itu menyipitkan kedua matanya disusul dengan gelengan. “Itu bukan nomor ponselku.”

Soo Rin mencelos. “Tapi—tapi… kau adalah Ki, kan?” tanyanya mulai tergagap.

“Iya. Aku Key. K-E-Y. Key,” laki-laki itu mengeja namanya dengan logat Inggris yang begitu tampak. Ikut memastikan pada gadis yang mulai terlihat kebingungan. Sudah dipastikan dalam hatinya bahwa gadis ini sedang salah dalam mencari orang. Dan sepertinya dia mulai menangkap maksud perkataan dari teman yang selalu memanggilnya dengan sebutan Hyung itu.

“Aku rasa Ki yang kau cari bukanlah diriku.” Key mengembangkan senyum, senyum memaklumi. “Mungkin dia adalah Kim Ki Bum yang lainnya.”

  Drrt drrt

Soo Rin beralih menatap layar ponselnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang baru saja ia tunjukkan pada Key.

Aku bukan K.E.Y tapi KI

 

Lagi, Soo Rin menyapu sepanjang koridor di kiri dan kanannya. Namun karena dirinya sudah terlanjur kehilangan semangat, ia tidak sanggup untuk menajamkan matanya dan kembali menundukkan pandangannya.

Padahal orang yang sedang dicari tengah berdiri dalam jarak sekitar 20 meter dari dia berdiri. Dengan bersandar pada dinding luar kelas miliknya, sebelah tangan memegang ponselnya dan tangan lainnya ia masukkan ke dalam saku celananya, matanya tertuju pada satu titik. Memandangnya untuk yang kesekian kalinya—tanpa bosan. Dan tersenyum penuh arti.

****

:: Neul Paran’s Library

Soo Rin masuk di antara dua rak buku yang menjulang saling berhadapan. Saat ini dirinya berada di bagian kumpulan bacaan fiksi. Mengingat di sini tidak menyediakan bacaan bergambar bernama comic itu. Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa menit yang lalu tapi rasanya ia sedang tidak ingin pulang cepat. Sejak terakhir dia bertemu dengan laki-laki bernama Key saat istirahat kedua, dirinya sudah tidak bersemangat.

  Ternyata mencari orang misterius tidak semudah yang kukira, keluhnya dalam hati begitu mengingat dia sudah beberapa kali salah orang. Tak dapat dipungkiri bahwa ada perasaan malu ketika mendapati bahwa orang yang sudah ia tanyakan seputar laki-laki bernama Ki ternyata memang bukan mereka. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa dia memang sangat penasaran dengan laki-laki misterius bernama Ki itu.

“Apakah nama Ki itu memang sebuah nama samaran?” gumam Soo Rin pelan sembari jari telunjuknya mengabsen deretan buku yang tersusun rapih di dalam rak yang ada di hadapannya.

Kini ia menegakkan tubuhnya sambil menghela napas panjang. Ternyata mencari buku fiksi tidak membuatnya kembali memicu rasa tertariknya. Soo Rin mendengakkan kepalanya memandangi langit-langit.

Eoh?

Soo Rin tercenung tiba-tiba. Tak sengaja pandangannya menangkap sebuah benda yang tergeletak di pinggir rak bagian atas. Tanpa berpikir dua kali, tangannya terulur ke atas demi mengambil benda itu. Meski tubuhnya sudah termasuk tinggi, ternyata ia perlu sedikit usaha agar tangannya berhasil meraihnya dengan kedua kaki dijinjit karena benda itu terletak berada di rak bagian paling atas.

  Hap!

Tanpa sadar Soo Rin mengembangkan senyumnya begitu tangannya berhasil menangkap benda itu. Namun tidak berlangsung lama karena kini berganti dengan keningnya yang mulai berlipat. Sebuah kamera tengah dipegangnya. Membuat pikirannya bertanya-tanya, kenapa benda ini bisa tergeletak di atas sana dan siapa pemilik benda ini.

Soo Rin membalikkan kamera itu dan tersadar bahwa benda itu tidak dalam keadaan mati karena mendapati layarnya menyala. Seketika Soo Rin terbelalak begitu mendapati layar itu tengah menampakkan sesuatu. Foto seorang gadis tampak dari depan yang tengah duduk menunduk di kantin sambil menyeruput minumannya.

“Ini… aku?” Soo Rin tercekat. Dengan ragu, jempolnya menekan tombol ‘next’ hingga menampilkan foto berikutnya. Lagi, itu adalah foto dirinya! Dengan latar yang berbeda, ketika dirinya berada di depan gedung sekolah. Tampak sedang berjalan sambil menunduk menuju gedung sekolah. Itu diambil di pagi hari. Dari sudut yang sangat pas hingga wajahnya yang menunduk menjadi terlihat hampir keseluruhan.

Soo Rin menekan tombol ‘next’ lagi. Dan lagi-lagi itu adalah foto dirinya. Tanpa sadar ia terus menekan tombol itu. Tetap objek itu tidak berubah. Selalu foto dirinya! Bagaikan foto kelas atas, sudut pengambilannya selalu pas dengan wajah dirinya yang selalu terlihat. Dan sudah pasti bahwa ini diambil dalam keadaan dirinya tidak menyadarinya sama sekali karena salama ini ia juga tidak pernah merasa bahwa dirinya sedang difoto! Lebih mencengangkannya, ada foto-foto yang ia yakini diambil ketika dirinya masih duduk di tahun pertama!

“Apa ini?” desis Soo Rin. Wajahnya memucat. Dirinya benar-benar terkejut.

“Sudah jelas bahwa itu adalah kamera.”

Soo Rin terlonjak. Hampir saja ia menjatuhkan kamera itu jika saja sebuah tangan tidak segera menggenggam kedua tangannya yang tengah memegang kamera itu mulai melonggar.

“Kau hampir merusak barang berhargaku.” Tubuh Soo Rin menegang begitu mendengar kalimat itu terlontar dengan halus di telinga kanannya. Ia masih belum menyadari bahwa dirinya tengah terperangkap dengan tubuh yang… entah sejak kapan telah berdiri tegap di belakangnya.

Suara itu, terdengar begitu familiar di telinga Soo Rin. Lugas dan berat. Dan ia baru menyadari bahwa suara itu terdengar begitu lembut hingga membuat dirinya merinding tiba-tiba. Ada sensasi aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Sensasi yang sepertinya pernah ia rasakan sebelumnya.

Dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi tak karuan, Soo Rin memberanikan diri untuk menoleh ke sisi kanannya. Ke sumber suara itu berasal. Suara yang telah menusuk telinga kanannya. Hingga ia terpana begitu mendapati wajah itu tak jauh dari hadapannya. Sangat dekat. Bagaikan waktu berhenti berputar, Soo Rin mengamati wajah yang berjarak tidak sampai 15 centimeter di hadapannya tanpa jeda. Wajah tegas itu tengah menatap dengan mata yang teduh di balik kacamatanya. Tersenyum begitu manis yang sangat diyakini bisa membuat para gadis langsung jatuh hati kepadanya.

Tangan itu belum beralih. Masih betah menggenggam kedua tangan Soo Rin yang masih menggenggam kamera. Tangan yang begitu hangat membuat Soo Rin tidak merasa sedang terancam, justru sebaliknya. Namun tak dapat dipungkiri, bahwa tubuh gadis itu seperti mati rasa. Dan sensasi itu semakin terasa kuat. Bahkan ia tidak menyadari bahwa tubuhnya mulai limbung karena kakinya yang tiba-tiba tertekuk. Jika saja tangan yang masih bebas itu tidak segera merengkuh punggungnya, mungkin dia sudah terjatuh.

“Boleh aku mengambil kameraku?” tanya orang itu yang lebih menuju ke permintaan.

Soo Rin yang merasa sebagian kesadarannya sudah hilang entah ke mana, mengucap, “Neon… nuguya?

Masih dengan merengkuh tubuh Soo Rin, orang itu kembali menunjukkan senyum manisnya. Kini sarat dengan senyum penuh arti. Wajahnya bergerak maju mendekati wajah Soo Rin. Membuat sang empu tanpa sadar menahan napasnya. Hingga wajahnya melewati wajah Soo Rin dan berhenti di depan telinganya. Dan bibirnya yang sedikit lagi menempel pada telinga Soo Rin akhirnya bergerak.

“Panggil aku Ki.

Seketika kedua mata Soo Rin membelalak. Merasakan sesuatu menjalar cepat ke atas tubuhnya. Memacu detak jantungnya hingga terasa seperti ingin melompat keluar dari tempatnya. Tubuhnya yang sempat seperti mati rasa kini kembali menegang. Ditambah dengan bisikan halus milik orang itu membuat dirinya berdesir.

  Ki… dia menyebut dirinya adalah Ki. Sebuah nama yang saat ini menjadi semacam beban pikiran untuk Soo Rin selama 2 hari ini. Sebuah nama yang telah membuat Soo Rin seperti orang bodoh dengan mempermalukan dirinya di hadapan orang-orang asing, demi mencari kebenaran. Kepastian. Karena Soo Rin benar-benar ingin tahu!

Dan kini, Ki sudah ada di hadapannya. Seorang laki-laki berkacamata, dengan kedua mata di baliknya yang memang begitu teduh hingga membuat siapa saja yang tengah menatapnya akan merasa nyaman dan hangat. Bibirnya yang sedikit tebal membuatnya ketika tersenyum akan terlihat begitu seimbang dengan lekukan wajahnya dan menciptakan kesan yang begitu manis. Rambutnya sedikit panjang hampir menyentuh pundak bagian dalam serta surai bagian depannya yang jatuh hingga menutupi kening dan alisnya menegaskan tampangnya yang begitu muda.

Sungguh, membuat Soo Rin tak mampu untuk mengalihkan pandangannya!

Perlahan tubuh itu membuat jarak. Tanpa hentakan maupun sentakan, tangan kanannya yang masih betah pada tempatnya mulai mengambil kamera dari genggaman Soo Rin. Tangan kirinya yang masih memeluk tubuh Soo Rin mulai dikendurkan, hingga merasa yakin bahwa gadis itu sudah mampu berdiri sendiri tangan itu akhirnya terlepas. Bagaikan waktu kembali berputar, Soo Rin mengerjap beberapa kali. Mulai merasakan dirinya tengah berdebar-debar kencang. Merasakan wajahnya memanas.

Gila! Kenapa efeknya bisa seperti ini?

Tanpa berucap satu patah katapun, hanya menyungging—lagi-lagi—senyum manisnya, laki-laki itu berbalik badan dan melangkah menjauh. Meninggalkan Soo Rin yang masih terpaku. Tercengang. Terpana. Namun itu tak berlangsung lama. Menyadari bahwa telah menemukan orang yang menjadi pikirannya selama 2 hari ini, Soo Rin berseru.

“Tunggu!”

Langkahnya terhenti. Detik kemudian ia mulai berbalik menghadap Soo Rin. Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Soo Rin untuk melirik tanda pengenal laki-laki itu. Lagi-lagi, Soo Rin terpana.

  Kim Ki Bum, desisnya dalam hati namun dengan mulutnya yang ikut bergerak mengeja nama itu. Membuat laki-laki itu kembali tersenyum penuh arti.

“Itu memang bagian dari namaku. Bukan nama samaran,” ungkapnya. Membuat Soo Rin tersentak. Astaga, apakah dia bisa membaca pikiranku, gumam Soo Rin dalam hati.

Sebelum berbalik dan melangkah lagi, laki-laki itu kembali tersenyum dan mengucap sepatah kalimat yang membuat Soo Rin merona.

“Senang bertemu langsung denganmu, Soo Rin-ah.

-END


 Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

12 thoughts on “Who Are You?

  1. Salam kenal aku reader baru thor mau ijin ubek2 ff mu…

    Dimulai dari ff ini yah…

    Mau dong punya secret admire kaya Kibum oppa…

    Bacanya mesem2 kebawa suasana kkkk…

    Lanjut ke sequelnya thor❤❤❤

    1. alohaaa~ aku sapa lagi aja ya XD
      salam kenal juga Atri-sshi~ terima kasih udah mampir kemari dan kasih masukan ke semua postinganku >/\< semoga ga bosan yaa~ heheheh

  2. Abangg kibumm sweet bgt sihh >.< jadi jatuh cinta sama couple ini wkwkk ini after story when i get this feelling ya hehe ff pertamanya malah blm dibaca xD pengen gitu punya penggemar kaya kibum 😆 udh keren pinter ganteng lagi wakks ada sequel lagi kah? Wkwkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s