Posted in Category Fiction, Fiction, KiSoo FF "Genius Secret Admirer", PG, Romance, School Life, Two Shot

Genius Secret Admirer – Part.1

(Sequel of ‘Who Are You?’)
Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ki Bum
  • Lee Ah Reum
  • Tae Yong
  • Tae Min
Genre   : School Life, Romance
Rated    : PG-15
Length  : Two Shot
“This story comes from my mind aka fiction^^ Let’s have a good time, together! Kidaehaedo joha let’s go! kkkk Enjoy~”

 


Kim Ki Bum, desisnya dalam hati namun dengan mulutnya yang ikut bergerak mengeja nama itu. Membuat laki-laki itu kembali tersenyum penuh arti.

“Itu memang bagian dari namaku. Bukan nama samaran,” ungkapnya. Membuat Soo Rin tersentak. Astaga, apakah dia bisa membaca pikiranku, gumam Soo Rin dalam hati.Sebelum berbalik dan melangkah lagi, laki-laki itu kembali tersenyum dan mengucap sepatah kalimat yang membuat Soo Rin merona.

“Senang bertemu langsung denganmu, Soo Rin-ah.” 

&&& 

“Jadi siapa orang misterius bernama Ki itu?” Ah Reum membuka mulut setelah sedari tadi hanya mengaduk-aduk minumannya sambil bertopang dagu. Memecah keheningan di antara mereka berempat—Soo Rin, Ah Reum, Tae Yong, dan Tae Min, yang saat ini tengah duduk saling berhadapan seperti biasanya di kantin.

“Aku rasa Ki memang sebuah nama samaran.” Tae Yong bergumam. Merasa tidak mungkin orang misterius itu berada di antara para siswa yang menyandang nama bersuku kata itu.

“Aah, aku kira Key Hyung adalah orangnya,” kini Tae Min yang bergumam sambil mengerucut bibirnya. Kecewa dengan tebakannya yang meleset. Ditambah ia dengan percaya dirinya telah menggoda Key di depan Soo Rin kemarin.

Soo Rin yang sedari tadi melamun—mengingat kejadian saat pulang sekolah yang telah membuat dirinya terguncang secara batin, mulai mengangkat pandangannya dan menatap teman-temannya satu persatu. Lalu dengan suara yang memang terdengar begitu kecil hingga membuat siapa saja yang ingin mendengar suaranya harus benar-benar fokus padanya tanpa suara, akhirnya membuka mulut.

“Sebenarnya… kemarin aku bertemu dengan orang bernama Ki itu…”

Hening sesaat.

“APA?!”

Mereka berseru bersamaan.

“Siapa orang itu?”

“Apakah kita mengenalnya? Apakah dia adalah siswa yang memiliki nama bersuku kata yang sama?”

“Apakah dia tampan?”

Tae Min, Tae Yong, dan Ah Reum seketika menyerbu secara bergilir. Menghujani berbagai pertanyaan pada Soo Rin yang tengah mematung kaget sejak seruan kompak mereka.

“Hei, kenapa kau tidak langsung menceritakannya? Kenapa baru sekarang?” cerocos Ah Reum gemas.

“Di mana kau bertemu dengannya?” lagi-lagi Tae Yong bertanya.

“Itu—” Soo Rin mulai bercerita. Namun hanya secara garis besar yang ia ceritakan. Kapan pertemuan itu terjadi, di mana pertemuan itu terjadi, bagaimana deskripsi wajahnya, dan juga nama lengkapnya. Yang setelah semua itu dijelaskan dari mulut Soo Rin, sontak mereka menganga. Langsung menyadari siapa orang yang dimaksud.

JINJJA (Benarkah)?” lagi-lagi mereka berseru bersamaan. Soo Rin hanya mengangguk. Lagi-lagi, keadaan menjadi hening sesaat.

“Astaga…”

“Astaga, Park Soo Rin…”

Tae Yong dan Tae Min berdecak hampir bersamaan. Sambil menghempaskan punggung mereka di sandaran kursi masing-masing, mereka kembali berdecak tak percaya.

“Dia benar-benar Kim Ki Bum? Kau tidak salah melihat namanya, kan?” Ah Reum menatap lekat Soo Rin. Yang langsung mendapat anggukan jujur dari Soo Rin. Kini Ah Reum ikut menghempas punggungnya ke sandaran kursi. Berdecak tak percaya. “Astaga. Kau tahu siapa dia, kan, Soo Rin-ah?”

Soo Rin memandang Ah Reum dengan ragu. Tak tahu harus menjawab bagaimana. Kedikan bahu atau gelengan kepala? Membuat Ah Reum kembali menegakkan tubuhnya dan memelototi Soo Rin.

“Kau tidak tahu?!”

Mau tidak mau, Soo Rin menjawab jujur dengan menggelengkan kepala. Sontak membuat Tae Yong dan Tae Min juga ikut menegakkan tubuh dan memandang Soo Rin tak percaya. Astaga, bagaimana bisa gadis di hadapan mereka saat ini tidak tahu siapa Kim Ki Bum yang tengah menjadi Penggemar Rahasianya dan sudah menjadi perbincangan heboh di antara mereka!

“Astaga, Park Soo Rin, kau benar-benar…” desis Tae Yong gemas.

“Soo Rin-ah, aku memaklumi dirimu yang tidak mengenal semua teman seangkatan bahkan teman sekelas, tapi bagaimana mungkin kau tidak tahu ‘Si-Jenius-Peringkat-Satu’ di angkatan kita?!” semprot Tae Min yang juga gemas.

“APA?!” Soo Rin tercengang. Membuat mereka menepuk kening masing-masing hampir bersamaan. Di susul dengan kedua laki-laki itu mengusap wajah masing-masing. Sedikit frustasi dengan gadis yang tergolong sangat kikuk dibandingkan siswi lainnya ini. Membuat mereka harus ekstra sabar dan tanpa sadar harus menjadi pemandu yang baik untuknya.

“A-aku kira dia adalah Kim Ki Bum yang lainnya. Bukankah kalian pernah berkata bahwa di angkatan kita ada banyak siswa bernama Kim Ki Bum?” Soo Rin mulai tergagap. Dalam hati mereka membenarkan ucapannya dan mau tidak mau mereka kembali memaklumi bahwa Soo Rin-memang-tidak-tahu Kim Ki Bum Si Jenius Peringkat Satu yang ternyata adalah Penggemar Rahasianya itu

Drrt drrt 

Dirasakan sesuatu bergetar di balik sakunya, Soo Rin pun merogohnya dan mengambil ponsel yang baru saja bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat begitu mendapati siapa yang baru saja mengirim pesan untuknya. Nomor itu sudah ia beri nama, Ki. 

Jangan membicarakan aku di hadapan teman-temanmu, Soo Rin-ah.

 
Soo Rin menelan ludah. Jantungnya makin berpacu cepat. Segera dialihkan pandangannya menyapu isi kantin yang cukup luas ini. Hingga matanya terpaku pada seseorang yang tengah berdiri tepat di depan pintu kantin, yang tengah memandang tajam ke arahnya dengan mata teduh dan menghipnotisnya. Kemudian bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman manis yang membuat Soo Rin berdesir seketika. Setelahnya, tubuh itu berbalik dan melangkah keluar kantin.

Melihat gadis di hadapannya yang tiba-tiba mematung dengan pandangan tertuju pada sesuatu di belakang mereka, Tae Yong dan Tae Min menoleh ke belakang. Namun karena waktu yang tidak tepat, mereka sudah tidak mendapati laki-laki yang sudah menghilang ke luar kantin.

“Soo Rin-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Ah Reum menyadarkan. Matanya tak sengaja melirik layar ponsel Soo Rin hingga membuat dirinya terkejut begitu melihat isi pesan yang masih tertera di layarnya. “Astaga!” desisnya takjub. 

**** 

Istirahat kedua baru berjalan. Soo Rin dan Ah Reum memilih untuk pergi ke Perpustakaan Sekolah bersama. Menyegarkan otak dengan mencari bacaan-bacaan menarik yang tersedia di sana. Begitu sampai, mereka berpencar. Dan seperti biasa Soo Rin akan bergegas ke bagian Bacaan Fiksi yang dipajang di rak paling ujung, di sudut kiri ruangan. Namun langkah Soo Rin terhenti secara mendadak setelah berbelok ke daerah tujuannya. Mendapati seseorang tengah berdiri dengan bersandar pada salah satu rak bagian ujung dengan pandangan menunduk mengamati sebuah kamera yang dipegangnya.

Belum selesai keterkejutan Soo Rin, orang itu mengalihkan pandangannya pada Soo Rin. Tanpa komando Soo Rin mulai berdebar-debar. Hanya dengan sekali menatap, kedua matanya sudah terkunci dengan tatapan itu. Ditambah dengan senyum yang mulai terpampang di wajah teduhnya membuat Soo Rin menelan ludah dan membeku di tempat.

Melihat itu, Kim Ki Bum, laki-laki itu menegakkan tubuhnya lalu membuka langkah mendekati Soo Rin. Kamera yang terus dipegangnya ia simpan ke dalam saku celananya bersamaan dengan kedua tangannya yang ia sembunyikan pula di dalamnya. Tubuhnya yang lebih tinggi membuatnya harus menunduk demi tidak melepas tatapannya dari manik kecokelatan itu. Begitu juga dengan Soo Rin yang harus mendengak karena tatapannya yang telah terkunci dengan tatapan milik laki-laki itu.

Tak ada suara yang keluar dari mulut Soo Rin, Ki Bum mulai membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya kini sejajar dengan wajah Soo Rin. Membuat Soo Rin lagi-lagi menelan ludah, dan kini harus menahan napas. Kini jarak di antara mereka tidak lebih dari 15 centimeter. Sama seperti Soo Rin, Ki Bum tidak mengucap apapun. Tanpa bosan, matanya masih betah memandang kedua manik Soo Rin yang jernih berwarna kecokelatan. Tak dapat dipungkiri memang, dengan jarak sedekat ini, dengan waktu yang begitu leluasa, Ki Bum begitu mengagumi dan menikmati wajah di hadapannya. Sedangkan sang pemilik wajah harus bersusah payah mengontrol detakan jantungnya yang semakin lama justru semakin kencang.

Kini tatapan Ki Bum terpaksa beralih ke belakang Soo Rin begitu menyadari sesuatu tengah mendekat. Dengan sigap tangannya yang sedari tadi bersembunyi di balik sakunya kini terangkat dan meraih lengan Soo Rin. Menariknya ke sisi rak yang menjulang tepat di barisan akhir dan menempel tembok ruangan, sisi yang hanya berupa celah yang hanya mampu dimasuki satu orang.Ki Bum masuk terlebih dahulu dengan bersandar pada sisi rak. Disusul dengan Soo Rin yang ditarik olehnya hingga ikut masuk. Tubuh mereka bertabrakan dan keadaan ini dimanfaatkan oleh Ki Bum. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk meraih pinggang gadis itu dan mendorongnya hingga tubuh gadis itu menempel pada tubuhnya. Soo Rin yang sedari tadi belum mencerna apa yang tengah terjadi mulai menyadari posisinya saat ini. Namun terlambat karena kedua tangan milik laki-laki itu telah mengurungnya.

Di sisi lain, Ah Reum tengah berjalan menuju ke tempat yang sudah pasti sedang dituju oleh Soo Rin. Berniat untuk mengajak Soo Rin ke tempat membaca bersama-sama. Ah Reum juga tengah menenteng beberapa buku bacaan yang didapatnya. Begitu sampai di tujuan, Ah Reum melongo.

Eoh? Ke mana dia?” gumamnya. Mendapati orang yang dicarinya tidak ada di tempat biasanya.

Soo Rin yang mendengar gumaman Ah Reum mulai bergerak. Namun justru itu membuat kurungan Ki Bum mengerat. Soo Rin yang masih merasa tak karuan memberanikan diri mengangkat pandangannya. Bermaksud memberi perlawanan melalui sebuah tatapan. Namun yang didapatnya malah membuat jantungnya makin bergemuruh. Jari telunjuk Ki Bum terulur dan menempel tepat di bibirnya.

Ssh…” Ki Bum memajukan wajahnya. Membuat Soo Rin melebarkan matanya dan mengatup bibirnya rapat-rapat. Hingga ujung hidung laki-laki itu menyentuh ujung jari telunjuknya yang masih menempel di bibir dan juga ujung hidung Soo Rin. Kini, hanya jari telunjuk Ki Bum yang menjadi jarak di antara kedua wajah itu.

Ah Reum yang masih berdiri di tempat akhirnya mulai berbalik. Sambil mengedikkan bahu ia berjalan menjauh dan berencana menunggu Soo Rin di tempat membaca. Mungkin Soo Rin sedang berada di daerah bacaan lain, pikirnya.

Ki Bum menjauhkan wajahnya. Telunjuknya mulai ia turunkan dari depan bibir Soo Rin. Memang hanya sekedar menempel, tapi ditambah wajah laki-laki itu hanya berjarak tidak sampai 2 centimeter dari wajahnya, efek yang didapat membuat perut Soo Rin terasa tergelitik dan jantungnya jumpalitan. Dan Ki Bum yang melihat wajah Soo Rin yang sudah merona menjadi semakin merona membuat dirinya hampir lepas kendali jika ia tidak mengingat bahwa ini bukan tempat yang tepat.

“Tolong lepaskan aku,” lirih Soo Rin. Pandangannya kembali menunduk.

“Jika aku tidak mau?” Ki Bum menyeringai. Sungguh dia merasa betah dengan posisi ini. Meskipun ia tahu bahwa tubuhnya sendiri yang menjadi tempat ditekannya oleh tubuh Soo Rin tapi ia juga menyadari bahwa gadis ini sudah di dalam pelukannya.

“Aku mohon…” Soo Rin tergagap. Kedua tangannya yang terus tersanding di dada Ki Bum juga terus mengepal. Tak berani dibuka dan dibiarkan menyentuhnya. Keadaan menjadi hening setelahnya. Soo Rin tak mendapati respon apapun dari Ki Bum. Ia juga tak berani mengangkat pandangannya. Takut ia akan kembali terhipnotis dengan mata teduh itu.

Sungguh, ini adalah kali pertama baginya berada dalam posisi seperti ini!

“Kau berdebar-debar, Soo Rin-ah.”

Soo Rin terhenyak. Dalam hati merutuki jantungnya yang sudah tidak bisa ia kontrol semenjak laki-laki ini memeluknya seperti ini. Ki Bum yang menyadari perubahan ekspresi gadis di pelukannya ini semakin gemas karena wajah itu semakin merona. Tahu jika ia tetap mempertahankan posisi ini malah akan membuat kendalinya semakin menghilang, perlahan Ki Bum melonggarkan pelukannya di pinggang gadis itu. Tangannya beralih ke bahu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya. Lalu menuntunnya keluar dari celah yang sempit dan menyesakkan itu.

“Maaf, aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama denganmu. Sekarang, temuilah temanmu,” ucap Ki Bum. Suara halusnya kembali membuat Soo Rin berdesir. Begitu kedua tangannya lepas dari pundak Soo Rin, Ki Bum berbalik dan melangkah. Membiarkan Soo Rin kembali terpaku di tempat.

Dan begitu sosok laki-laki itu menghilang di balik rak-rak yang menjulang tinggi, Soo Rin melemas. Sebelah tangannya meraih ujung rak sebagai tumpuan. Perlahan tubuhnya melorot hingga akhirnya ia terjongkok. Tangan lainnya naik hingga mendarat ke dadanya. Dirasakan detak jantungnya yang benar-benar cepat seperti tengah bermarathon. Tanpa sadar napasnya juga pendek-pendek.

Soo Rin pernah merasakan ini. Tapi tidak sehebat ini. Dalam waktu bersamaan, rasa berdebar-debar, desiran, memanas, semua bermunculan. Dan anehnya, dia sedikit menikmatinya.

“Astaga, ada apa denganku?” desisnya frustasi. 

**** 

Hari berikutnya kelas 3 tahun kedua memiliki jadwal olahraga di pagi hari. Saat ini mereka tengah melakukan pemanasan dengan berlari mengelilingi lapangan utama sekolah yang sangat luas dan terbagi menjadi dua karena tidak hanya kelas 3 yang sedang berolahraga. Soo Rin dan Ah Reum berlari beriringan. Tiba-tiba, Tae Yong menyusul dan kini berada di sebelah Soo Rin.

“Hei, para gadis malas, ayo semangat!” Tae Yong mengejek. Soo Rin dan Ah Reum memang berada di barisan paling akhir karena mereka datang sangat belakangan. Hingga Tae Yong yang telah berlari satu keliling lapangan mampu menyusul mereka yang masih berlari setengah keliling lapangan.

“Ya, ya, dasar atlet sombong,” cibir Ah Reum. Membuat Tae Yong dan Soo Rin terkekeh geli melihat respon Ah Reum.

“Dasar gadis, mudah sekali tersinggung,” balas Tae Yong. Kini Soo Rin yang bereaksi dengan mendorong lengan Tae Yong dengan kepalan tangannya. Membuat Tae Yong tertawa. “Benar, kan? Kalian ini mudah sekali tersinggung.”

Soo Rin memicing pada Tae Yong. Tiba-tiba sebuah ide melintas di pikirannya. Beserta dengan posisinya yang sedikit di depan Tae Yong membuat idenya semakin mantap. Dengan gerakan cepat, kaki kirinya ia rentangkan ke samping dan segeralah disambut dengan kaki Tae Yong yang tengah berlari. Tae Yong yang terlambat menyadari sebuah kaki melintang di depannya tidak dapat mengelak hingga akhirnya ia tersandung oleh kaki milik Soo Rin itu. Untungnya dengan sigap kedua telapak tangannya terulur ke permukaan hingga menjadi tumpuan dan tubuhnya tidak jatuh berdebam. Soo Rin tersenyum puas disusul dengan Ah Reum yang tertawa untuk Tae Yong. Tertawa mengejek.

Tae Yong segera berdiri. Melihat Soo Rin yang sudah berlari menjauh sambil menjulurkan lidah untuknya sesaat membuat ia mendengus. “Kau sudah mulai berani, ternyata,” gumamnya. Kembali membuka langkah, ia berlari kencang dengan tatapan terus tertuju pada satu titik. Soo Rin yang kebetulan menoleh ke belakang lagi untuk melihat kondisinya sontak terkejut. Dengan spontan Tae Yong mengeluarkan suara yang mirip dengan auman hingga membuat Soo Rin seketika memekik.

“Hwaaaaaaa!!” Soo Rin keluar dari barisan dan mempercepat larinya. Mendahului para siswi yang masih berlari kecil di pinggir lapangan.

“Park Sooriiiiiiiiiiinn!!” seru Tae Yong yang tengah mengejar Soo Rin. Sontak aksi kejar-kejaran ini menjadi aksi tontonan teman-teman sekelas. Bahkan Soo Rin sampai mendahului para siswa yang berlari di depan.

Omomomo!” seru Tae Min yang melihat Soo Rin berlari cepat mendahuluinya lalu melihat Tae Yong yang menyusul layaknya serigala tengah mengejar mangsanya.Hingga mereka masuk ke bagian pinggir lapangan milik kelas lain, Soo Rin mulai melambat menyadari pasokan oksigennya telah menipis. Kemudian dengan terpaksa ia berbalik badan dan langsung berjongkok yang saat itu juga mendapati Tae Yong sudah berada di hadapannya.

Joeseonghaeyo (Maafkan aku)!!” seru Soo Rin sambil menengadahkan kedua tangannya sebagai pelindung wajahnya, memohon ampun. Tanpa sadar ia sudah mengucapkan permohonan ampun dengan bahasa yang begitu sopan.

Tae Yong yang telah berdiri di hadapan Soo Rin dengan berkacak pinggang mulai terkekeh. Tubuhnya dibungkukkan hingga telapak tangannya meraih puncak kepala yang tengah tertunduk bersembunyi itu lalu mengusapnya gemas. “Jangan mencoba-coba untuk menjadi gadis nakal seperti Ah Reum, mengerti?” titahnya sambil tertawa. Membuat Soo Rin mendengak sambil memberenggut.

“Apa salahnya jika aku ingin sedikit jahil denganmu?” gerutu Soo Rin yang membuat Tae Yong terkikik geli.

Dibantunya gadis itu untuk berdiri dengan meraih salah satu lengannya. Setelah gadis itu berdiri tegak, tangannya kembali mengusap gemas puncak kepala gadis itu. Begitulah sikap Tae Yong jika sudah menganggap seseorang sebagai teman dekatnya. Tangannya tidak akan bisa diam untuk tidak mengusap bahkan mengacak-acak rambut orang itu jika ia merasa gemas. Tidak dipedulikan pekikan tidak suka dari gadis itu, Tae Yong memutarkan tubuh ramping itu lalu mendorongnya. Menyuruhnya kembali berlari. Tanpa menyadari adanya sepasang mata yang terus memperhatikan aktivitas keduanya. 

.

Kegiatan inti dimulai yaitu olahraga Voli. Siswa dan siswi dipisahkan kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok. Lalu kelompok yang ditempati Soo Rin bermain terlebih dahulu. Awalnya Soo Rin bermain dengan lancar. Meskipun dengan teknik yang belum sempurna ia masih mampu memukul bola hingga melewati net. Namun konsentrasinya buyar mendadak ketika pandangannya tanpa sengaja melirik ke lapangan milik kelas lain saat tengah mengusap kening berponinya yang basah kuyup karena keringat.

Di kejauhan sepasang mata tengah menatap lurus ke arahnya. Berdiri di sisi lapangan dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. Membuat Soo Rin terpaku dan mematung seketika di tempat. Dia baru menyadari bahwa laki-laki itu berada di sana dengan pakaian olahraga lengkapnya dan di waktu olahraga yang sama!

Astaga, bagaimana bisa? gumam Soo Rin dalam hati.

“Park Soo Rin, konsentrasi!” seru Lee seonsaengnim yang tengah memperhatikan.

Soo Rin tersentak dan kembali menoleh ke depan. Dan langsung mendapati seorang siswi dari kelompok lawan yang sedang melompat demi meraih bola yang melambung ke daerahnya lalu memukul telak bola itu hingga kembali ke daerah Soo Rin sekaligus mengarah kepadanya. Soo Rin yang belum siap sepenuhnya tidak sempat mundur demi melambungkan kembali bola yang terlalu dekat bahkan melewati jangkauan tangannya.

Dug!

Bola itu mendarat tidak pada tempatnya. Menabrak wajah Soo Rin hingga telak mengenai hidungnya. Langsung saja tubuh Soo Rin rubuh dengan kedua tangannya langsung membekap wajahnya. Seketika terdengar pekikan Ah Reum yang menyebut namanya.

“Soo Rin-ah!!” Ah Reum yang berada di kelompok lawan langsung berlari menerobos net dan mendekati Soo Rin. Dan dalam waktu singkat, seluruh murid kelas 3 datang mengerubungi. “Soo Rin-ah, gwaenchanha? Omo!!” Ah Reum kembali memekik begitu melihat setetes cairan kental berwarna merah pekat merembes dari bawah tangan Soo Rin dan jatuh mengenai seragam olahraga Soo Rin.

Ya! Cepat bawa ke Ruang Kesehatan!” seru Tae Yong yang baru sampai dan langsung meraih kedua bahu Soo Rin demi menuntun tubuh gadis itu untuk berdiri. Diikuti dengan Ah Reum yang meraih salah satu lengan Soo Rin dan membantunya berdiri.

Tiba-tiba seseorang menyeruak menerobos kerumunan para murid kelas 3. Membuat Tae Yong dan Ah Reum yang bermaksud ingin membawa Soo Rin sontak terpana. Begitu juga dengan semua mata yang ada di sekitarnya.

“Biar aku yang membawanya,” tandasnya dan langsung menyingkirkan pegangan Tae Yong yang dituruti begitu saja. Segera ia membungkuk menyelipkan sebelah tangannya di bawah lutut Soo Rin bersamaan dengan tangan lainnya diselipkan di punggung Soo Rin. Detik kemudian tubuh Soo Rin dengan mudah terangkat olehnya bersamaan dengan tangan Ah Reum yang masih menggenggam salah satu lengan Soo Rin terlepas begitu saja. Lalu membawa tubuh itu keluar lapangan. Tak peduli dengan panggilan dari gurunya yang terheran-heran dengan sikapnya.

Ki Bum, laki-laki itu menundukkan pandangannya. Melihat keadaan gadis yang berada dalam gendongannya kini. Gadis itu memang tidak menyadarinya karena hanya peduli dengan rasa sakit yang luar biasa di hidungnya. Hingga tanpa sadar ia terisak saking tidak tahannya dengan rasa sakit yang menjalar hingga ke kepalanya dan mempuatnya pening, membuat Ki Bum mempercepat langkahnya hingga masuk ke dalam taraf berlari. 

.

:: Ruang Kesehatan 

Ki Bum mendudukkan tubuh Soo Rin ke salah satu kasur di ruangan. Segeralah ia mengambil baskom kecil serta handuk kecil. Diisinya baskom itu dengan air keran kemudian ia bawa baskom serta handuk kecilnya mendekati Soo Rin. Dengan gerakan cepat salah satu kakinya menarik sebuah kursi hingga ke depan Soo Rin lalu mendudukinya. Meletakkan baskom itu ke atas nakas di sebelahnya lalu membasahi handuk ke dalamnya. Setelah diperas, ia beralih kembali menghadap Soo Rin.

Dipandanginya gadis yang masih menunduk sembari membekap hidung dan mulutnya. Kedua bahunya bergetar dan sesekali sedikit tersentak karena isakannya. Terlihat bagian bawah tangannya telah ternoda oleh darah. Ki Bum meraih salah satu tangannya dan menurunkannya. Dilanjutkan dengan menurunkan satu tangannya lagi namun ditahan oleh pemiliknya.

“Biarkan aku melihatnya, hum?” ucap Ki Bum lembut.Soo Rin tersadar hingga terlonjak. Suara halus yang mirip dengan bisikan itu membuat isakannya terhenti seketika. Dengan sangat pelan ia mengangkat pandangannya dan saat itu pula mata bulatnya melebar begitu mendapati wajah Ki Bum sudah berada di hadapannya. Ki Bum yang semakin jelas melihat mata jernih itu basah hingga kristal cair beningnya tumpah membentuk anak sungai dan membasahi tangan, mengepal kedua tangannya demi menahan gejolak yang mulai menyeruak di dadanya.

Memanfaatkan keterpanaan gadis di hadapannya, Ki Bum kembali mencoba menurunkan satu tangannya yang masih menutup setengah wajahnya itu dan berhasil. Bersamaan dengan turunnya tangan itu, sang empu kembali menundukkan kepala. Seketika setetes cairan kental berwarna merah pekat itu jatuh ke pahanya. Sekilas Ki Bum melirik telapak tangan itu sudah ternoda dengan darah. Fokusnya segera kembali pada wajah menunduk di depannya.

Dengan sigap tangannya yang bebas meraih dagu Soo Rin dan mengangkatnya. Lalu tangannya yang memegang handuk ikut andil dengan menyeka hidung Soo Rin yang telah mengalirkan darah hingga mengenai sebagian bibir dan dagunya, dilanjutkan dengan menyeka telapak tangan Soo Rin. Setelah diseka hingga tidak ada lagi darah yang menempel, Ki Bum beralih membersihkan handuknya ke dalam baskom hingga airnya berubah menjadi sedikit kemerahan. Lalu diperasnya lagi dan kembali menghadap Soo Rin.

“Akh!” Soo Rin merintih saat Ki Bum menyeka hidungnya kembali dan sedikit menekannya.

“Tahan sedikit,” bisik Ki Bum. Dengan handuk ia sengaja menekan hidung Soo Rin—lebih tepatnya mengurutnya dari dekat kening turun ke bawah. Memastikan tidak ada lagi darah yang keluar. Hingga handuknya kembali ternoda yang menandakan bahwa ini belum tuntas, dengan telaten Ki Bum kembali membilas handuknya lalu kembali mengurut hidung Soo Rin yang sudah berwarna merah padam.

Tak ada yang berucap selama itu terjadi. Hanya suara rintihan Soo Rin karena sakit luar biasanya dan desisan Ki Bum yang bermaksud menenangkan. Hingga benar-benar tuntas, barulah Ki Bum mencelupkan handuk itu ke dalam baskom yang sudah berwarna merah keruh. Mengambil handuk baru dari nakas lalu menyekanya ke sebagian wajah Soo Rin yang basah. Ki Bum tidak melewatkan kedua mata yang basah itu namun tidak ia seka dengan handuk. Begitu meletakkan handuknya ke pangkuan Soo Rin, kedua tangannya mulai merengkuh wajah putih merona Soo Rin. Menggerakkan ibu jarinya ke bawah kantung mata yang memerah itu, mengusapnya hingga sudut.

“Maaf. Ini semua karena aku,” lirih Ki Bum dengan tatapan yang sudah sendu sejak awal.Soo Rin kembali merasakan sesuatu mengalir deras menjalar, wajahnya mulai memanas, tatapannya yang masih bebas ia tundukkan. Hembusan napas Ki Bum yang sedikit menerpa wajahnya karena jarak yang masih terjaga sudah membuat Soo Rin kewalahan.

“Aku tidak menyangka bahwa kau dengan mudahnya mendapatkan aku di sana,” lanjut Ki Bum. Dengan menyungging senyum tipisnya, mata sendunya mulai memudar. Bersamaan dengan wajahnya yang mulai maju mendekat membuat Soo Rin terhenyak dalam diam.

“Kau tahu, kan, aku terus memperhatikanmu?” Ki Bum berhenti bergerak di jarak yang mulai sangat dekat. “Dan aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mencoba mendekati laki-laki lain,” suara lembutnya semakin halus. Membuat Soo Rin semakin tercekat dan menahan napas begitu menangkap maksud ucapan terakhirnya.

“Tapi aku melihatmu disentuh dengan teman laki-lakimu yang bernama Tae Yong itu.”

Benar, kan? Soo Rin membatin. Bersamaan dengan ia menelan ludah serta mulut mengatup rapat dan rasa terkejutnya yang muncul begitu laki-laki di hadapannya menyebut nama Tae Yong. Apakah dia benar-benar memperhatikannya hingga bahkan menghapal nama Tae Yong juga? Pikirnya.Ki Bum kembali memajukan wajah. Memangkas jarak yang sudah tipis menjadi semakin tipis hingga hanya tersisa jarak sejari telunjuk Ki Bum yang mendarat di bibir Soo Rin tempo hari. Membuat jantung Soo Rin serasa jumpalitan dan hampir kehabisan napas!

“Aku cemburu, Soo Rin-ah…” bisik Ki Bum tepat di depan bibir Soo Rin yang mengatup rapat. Membuat Soo Rin lagi-lagi terhenyak dan sontak kedua matanya terperangkap ke dalam tatapan dalam milik Ki Bum. Melihat tatapan yang telah menggelap di balik kacamatanya itu membuat jantungnya berdesir hebat hingga tubuhnya benar-benar menegang.

Detik kemudian bibir Ki Bum mendarat di ujung hidungnya. Mengecupnya dengan lembut—sangat lembut, tanpa menekannya. Dengan mata yang sudah menutup, kecupan-itu-berlangsung-tidak-sebentar. Sedangkan Soo Rin seketika membelalakkan matanya. Jantungnya seperti ingin melompat dari tempatnya. Dalam waktu bersamaan dirasakan sesuatu menggelitik hebat di perutnya, wajahnya terasa semakin memanas, hingga kinerja sarafnya terasa lumpuh begitu saja.

Ki Bum menjauhkan wajahnya hingga kecupannya terlepas, bersamaan dengan kedua matanya kembali terbuka. Dan seketika senyumnya mengembang begitu mendapati wajah Soo Rin sudah benar-benar memerah. Ia terpesona sekaligus merasa cukup puas. Meskipun hatinya mulai kembali menjerit meminta lebih, ia masih bisa mengendalikannya karena ini perlu bertahap.

“Istirahatlah. Aku akan meminta Ah Reum untuk membawakan pakaianmu,” ucap Ki Bum mencoba menyadarkan, meskipun sepertinya itu tidak begitu bekerja karena Soo Rin masih membeku. Ki Bum mulai menarik rengkuhannya lalu berdiri. Memandang untuk yang terakhir kali sebelum beranjak keluar ruangan.

Setelah terdengar suara pintu ruangan tertutup rapat, seketika Soo Rin menghembuskan napas dengan keras. Berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya meskipun dengan napas yang terengah-engah. Sebelah tangannya terangkat meremas dadanya. Merasakan detakan jantungnya yang berdetak hebat. Sungguh, ini begitu menyiksanya. Perasaannya benar-benar campur aduk hingga membuat dirinya ingin jatuh pingsan.

“Tadi itu apa?” desisnya yang sudah masuk ke dalam taraf bisikan. Rasanya ia tengah bermimpi tadi. Tidak pernah menyangka akan mendapatkan perlakuan yang—sungguh, bahkan tidak pernah terlintas di pikirannya selama ini. Meskipun hanya di hidung tapi judulnya tetap saja itu adalah sebuah kecupan. Ciuman.

Kim Ki Bum menciumnya! 

**** 

Waktu istirahat mulai berjalan. Ki Bum segera beranjak ke loker lalu mengambil ponselnya. Membuka fitur kontak dan memilih salah satu nomor kontak untuk melakukan panggilan. Segera setelah menempelkan ponselnya ke telinga, terdengarlah nada sambung yang tak lama kemudian terjawab di seberang sana.

“Ji-ya, ini aku,” sapa Ki Bum langsung.

“Aku tahu ini kau,” jawab di seberang dengan nada mencibir. Suara seorang gadis. “Ada apa?” lanjutnya kemudian.

“Hari ini, aku membuatnya menangis.”

“APA? YA, Kim Ki Bum! Sudah kuperingatkan kalau kau membuatnya menangis—”

“Aku tahu.” Ki Bum tetap tenang. “Itu terjadi begitu saja.”

“Tsk, kau masih ingat dengan perjanjian kita?”

Ki Bum tersenyum tipis mengingat perjanjian yang dimaksud. Sambil menghembuskan napas ia menjawab, “Eum.

“Kalau begitu hari ini juga aku akan ke rumahmu pulang sekolah nanti! Sekaligus meminta penjelasan darimu.”

“Simpan saja hingga akhir pekan nanti.”

“Kenapa? Kau sedang berusaha menghindar, huh?”

“Tidak. Tapi karena aku akan membuatnya menangis lagi, nanti…” 

****

:: Next Day 

Soo Rin memasuki area sekolah dengan lesu. Kepalanya yang selalu menunduk hampir setiap saat kini semakin tertunduk dalam. Kedua kantung matanya terlihat menggelap beserta kelopak matanya yang terbuka hanya setengah. Entah sudah keberapa kalinya ia menghembuskan napas panjangnya. Yang benar saja, ia baru sanggup memejamkan mata di pukul tiga pagi!

Ternyata kejadian di Ruang Kesehatan kemarin benar-benar membuatnya terguncang. Tentu saja, siapa yang mengira itu semua akan terjadi? Bahkan ia merasakan bahwa kecupan itu masih tertinggal di hidungnya. Yang otomatis membuatnya terus mengingat momen itu.

Dan itu merupakan pengalaman pertamanya!

“Astaga…” keluh Soo Rin. Langkahnya terhenti begitu saja bersamaan dengan kedua tangan menutup wajahnya yang mulai kembali memanas. Memejamkan kedua matanya yang terasa perih dan berat. Kemudian mengusap wajahnya perlahan. Kembali berusaha menepis ingatan yang terus bergentayangan di kepalanya itu.

Ki Bum mengamati gadis itu dari jendela kelasnya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya demi melipat kedua tangannya di tepi jendela yang lebih rendah. Meskipun tidak dapat melihat wajahnya yang terus disembunyikan, ia tahu betul bahwa gadis itu sedang dalam keadaan tidak fit. Jangan bertanya apakah dia merasa khawatir atau tidak. Namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk kembali mendekati gadis itu. Hanya saja pikirannya sudah memikirkan banyak hal untuk nanti. 

****

Hari ini Soo Rin total tidak konsentrasi dengan pelajaran. Rasa kantuk beserta bayang-bayangan di hari kemarin terus menghantuinya secara bergiliran. Jika ia sudah bisa menepis rasa kantuk, momen itu mulai berputar. Tapi jika ia berhasil fokus, giliran rasa kantuk yang menghantui. Terus begitu. Membuat ia harus berkali-kali mengusap wajah, memijit kening, menjambak rambutnya, atau bahkan menyingkap poninya yang sudah panjang. Sudah jelas bahwa sikapnya yang terlihat begitu frustasi menarik perhatian beberapa guru yang tengah menerangkan materi pelajarannya di depan kelas.

“Park Soo Rin, ada sesuatu yang menganggumu?”

“Park Soo Rin, kau sedang tidak sehat?”

Semacam itu!

Ah Reum yang duduk di sebelahnya juga terheran-heran dengan kelakuan serta kondisinya hari ini. Kemarin setelah kejadian Kim Ki Bum mengangkat tubuh Soo Rin keluar lapangan lalu laki-laki itu menghampiri dirinya menyuruh membawakan pakaian ganti untuk Soo Rin, ia tidak berani bertanya apapun pada Soo Rin. Ditambah sikap Soo Rin yang berubah menjadi semakin pendiam dengan wajah yang terus merona membuat ia mencoba memaklumi dengan berpikir bahwa Soo Rin sedang butuh pemulihan terhadap hidungnya.

Begitu pula dengan Tae Yong. Ia mengira bahwa telah terjadi sesuatu pada Soo Rin dan Ki Bum di Ruang Kesehatan kemarin. Sesuatu yang—mungkin—akan sulit diminta penjelasan dari Soo Rin jika ia mencoba bertanya. Sesuatu yang bukan sekedar karena hidung Soo Rin berdarah. Awalnya ia ingin menyusul bersama Ah Reum, namun seketika rencana itu ia tepis mengingat Soo Rin bersama Ki Bum. Si Jenius Peringkat Satu. Bukan bersama Tae Min atau laki-laki lainnya.

Waktu belajar-mengajar telah usai. Soo Rin memiliki rencana pergi ke perpustakaan bersama Ah Reum sepulang sekolah. Sambil membereskan buku dan alat tulisnya, Ah Reum membuka percakapan.

“Soo Rin-ah, maaf sebelumnya tapi aku harus menemui Han Seonsaengnim terlebih dahulu di ruangannya dan sepertinya akan memakan waktu tidak sebentar. Lebih baik kau ke perpustakaan saja dulu. Nanti aku menyusul.”

Soo Rin menggeleng pelan. “Aku menunggu di sini saja. Kita ke perpustakaan bersama,” jawabnya.

Mengingat bahwa jalan menuju perpustakaan memang harus melewati kelas ini dari Ruang Guru, Ah Reum mengangguk menyetujui. “Baiklah! Kau gunakan saja untuk beristirahat sejenak.” Ah Reum mengusap pundak Soo Rin. “Aku tidak tahu apa yang telah terjadi kemarin hingga kau justru terlihat kusut sepanjang hari ini. Tapi aku berharap kau cepat sembuh, hum?”

Soo Rin mencoba tersenyum.

“Soo Rin-ah, cepat sembuh!” seru Tae Min sebelum keluar kelas. Melambaikan tangan pada Soo Rin yang langsung dibalas dengan anggukan darinya.

Tae Yong berjalan mendekat. Menepuk pelan bahu Soo Rin dan berucap, “Sehatlah kembali supaya kita bisa berkumpul bersama lagi di kantin!” lalu beranjak keluar kelas. Membuat Soo Rin mengembangkan senyumnya.

“Aku akan segera kembali,” pamit Ah Reum.Kemudian, hanya tersisa dirinya di dalam kelas. Masih dengan mengembangkan senyum, Soo Rin sedikit merasakan kelegaan. Seperti inilah jika memiliki teman. Merasakan kebersamaan, kepedulian, kekhawatiran. Dan ia merasa bersyukur memiliki teman yang sangat mengerti dirinya. Ternyata, memiliki teman itu memang sangat baik dibandingkan menyendiri.

“Aah, setidaknya di sini aku bisa melakukan ini,” gumamnya sembari menjatuhkan kepalanya di atas meja. Dalam sekejap rasa kantuk kembali menyelimutinya. Demi merasa nyaman ia mulai menyelipkan kedua tangannya sebagai bantalan. Detik kemudian, matanya yang benar-benar berat menutup dengan mudah dan meluncur ke alam mimpi dengan mudah pula.

.
_15 minutes later_ 

Ah Reum keluar dari Ruang Guru lalu bergegas kembali menuju kelasnya. Setidaknya jika mereka pergi dengan segera akan mempercepat waktu untuk Soo Rin agar cepat pulang ke rumah lalu beristirahat. Ah Reum mulai berlari kecil begitu jarak pintu kelasnya semakin dekat.

“Soo—”

Langkah Ah Reum terhenti begitu saja di ambang pintu kelas bagian belakang. Mulutnya yang baru menyebut suku depan nama Soo Rin tercekat dan berubah menjadi menganga. Mendapati Soo Rin yang ternyata sedang tidak sendiri.Orang itu tengah terduduk di depan Soo Rin yang masih menelungkup tertidur. Menoleh kepada Ah Reum dan menatapnya datar. Kemudian jari telunjuknya terangkat hingga ke depan bibir. Menyuruh Ah Reum untuk tidak bersuara. Ah Reum terlihat salah tingkah. Ini adalah kali kedua ia melihat orang itu berada di dekat Soo Rin. Yang kali ini orang itu terlihat tengah menjaga temannya yang sedang tertidur lelap itu.

“Um… katakan padanya nanti, bahwa aku menunggunya di perpustakaan,” pesan Ah Reum dengan suara dikecilkan dan langsung mendapat respon berupa anggukan dari orang itu.

Perlahan Ah Reum berbalik keluar. Melewati kelasnya dengan mata sesekali melirik ke jendela. Melihat orang itu kini tengah memandang temannya yang masih tertidur lelap itu. Membuat dirinya berceloteh di dalam hati.Dia benar-benar serius terhadap Soo Rin! 

****

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

10 thoughts on “Genius Secret Admirer – Part.1

  1. Hahaha ngakak pas bagian soo rin kejar2an bareng tae yong ..

    Aigoo romantis bgt ki bum..

    Hmm apa maksud nya dia akan membuat soo rin nangis lagi..
    Huft

  2. Omgggg ini sequelnya yaaa wkwkkk kibum keren bgt sihhh pengen dah benerann pengen jadii soo rin 😆 kibum mau bikin soo rin nangis lagi wkwkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s