Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, FF "When I Get This Feeling", Fiction, PG, School Life, Slice of Life, Teen

When I Get This Feeling [Chapter 7 – Last]

Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ryeo Wook
  • Seo Ji Hyun (Seo Hyun)
  • Jung Eun Ji
Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst
Rated    : PG
Length  : Chaptered
This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~

“Kenapa kau tidak berbaur bersama teman-teman? Maksudku, kau terlihat lebih senang menyendiri dibandingkan bersama seorang teman.”

“Aku memang lebih senang menyendiri.”

“Kenapa?”

“Aku bukanlah teman yang menyenangkan. Jadi untuk apa aku mencoba berbaur?”

“Kenapa kau berpikiran seperti itu?”

“…….”

“Tidak mau memberitahuku? Ceritakan saja. Ceritakan apa yang membuatmu berpikir seperti itu. Dan biarkan aku menjadi teman pertamamu, Soo Rin-ah.

 

&&&

 

Kini aku sering menjadi teman merenung untuk Ryeo Wook. Duduk berhadapan di kantin dengan ditemani segelas air minum masing-masing. Mengaduk-aduknya dengan sedotan. Tanpa minat. Dan sesekali menyeruputnya. Lalu mengaduk-aduknya kembali. Jika bersama Eun Ji, setidaknya suasana sedikit hidup karena dia akan selalu mengajak aku maupun Ryeo Wook berbicara. Jika tidak, kami bagaikan sedang duduk berhadapan di dalam rumah duka. Seperti saat ini.

Seminggu telah berlalu. Semenjak dirinya berpisah dari Seo Hyun. Selama itulah dirinya meredup. Melihat dirinya seperti ini, membuatku sulit untuk bernapas dengan tenang. Harapan yang selama ini kupendam mengenai dirinya, tiba-tiba saja menguap. Berganti dengan rasa simpati—bahkan mungkin empati.

Bukan… bukan ini yang kuinginkan. Bukan seperti ini. Jika akhirnya seperti ini, jika akhirnya membuat dia harus menyembunyikan senyumnya, jika akhirnya membuat dia seperti raga tak bernyawa… aku lebih memilih masa-masa di mana aku masih bisa merasakan kejahilannya. Meskipun aku juga harus merasakan cemburu itu.

Ctik!

Aku tersentak. Setelah mengerjap beberapa kali, aku mendengak dan mendapati sebelah tangannya terulur di hadapanku. Sepertinya dia baru saja menjentikkan jarinya.

“Kau bilang bahwa penyakit melamunmu itu sudah sembuh. Tapi aku masih sering melihatmu seperti ini.”

Aku tersenyum tipis. Memang, meskipun sudah sedikit berkurang, tetap saja belum bisa dikatakan sembuh.

“Empat menit lagi bel masuk akan berbunyi. Ayo kembali ke kelas!” ajaknya dengan menyungging bibirnya. Aku tidak yakin jika itu bisa disebut dengan senyuman.

Ia bangkit dan beranjak terlebih dahulu. Sedangkan aku mengekornya. Jika dilihat dari belakang, kedua bahunya yang dilemaskan dengan punggung yang tidak begitu tegak membuat hal itu tergambar. Bahwa dirinya sedang benar-benar tidak bersemangat.

 

Kini pun aku lebih merasa bahwa akulah yang dijadikan teman pulang bersamanya. Menelusuri jalanan yang sering kita lewati. Menuju halte dalam diam. Hanya suara gesekan sepatu dari kami yang terdengar.

Langkahku terhenti begitu menyadari bahwa dirinya sudah tidak ada di sampingku. Mendapati dirinya berhenti tepat di persimpangan jalan. Mematung dengan menghadap ke jalan tanjakan itu. Di sanalah rumah Seo Hyun. Meskipun aku tidak tahu dengan pasti di mana letaknya. Tapi aku teringat ketika memergoki mereka berdiri di tanjakan sana… berpelukan.

Aku melanjutkan langkahku. Membiarkannya berdiri di sana. Seberapa lama pun dia di sana, itu sebanding dengan langkahku yang sengaja kuperkecil dan kulambatkan hingga tujuan. Karena dia masih bisa menyusulku dengan langkah lebarnya dan tidak selambat diriku.

Langkahku semakin lambat ketika mendapati dua laki-laki berseragam—sepertinya murid sekolah menengah atas—keluar dari sebuah toko sambil menghisap rokok dan berjalan ke arahku.

“Wah, ada siswi yang sedang berkeliaran di sini!”

“Hei, gadis manis, mau kami temani?”

Kedua tanganku mengerat menggenggam tas punggungku. Mencoba tidak menghiraukan mereka, aku mengambil sisi jalan lain untuk melewati mereka. Namun dengan cepat mereka menghalangi jalanku kembali.

“Hei, kami sedang mengajakmu bicara. Jangan seperti orang sombong!”

“Kami ini lebih senior darimu!”

Aku melangkah mundur. Dapat kurasakan bahwa kedua kakiku gemetar. Jantungku berdetak di atas normal. Bahkan aku tidak berani menegakkan pandanganku. Sungguh, aku takut!

“Menurutlah pada kami. Maka kami akan memperlakukanmu dengan lembut, hum?”

“Kami kan ingin menemanimu.”

Aku semakin takut mendengar suara mereka yang semakin terdengar seperti… menggoda. Aku merasa membeku. Kini aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Mencoba berteriak pun tidak bisa, aku tidak bisa bersuara. Dan kini aku hanya sanggup memejamkan mata ketika tangan-tangan itu mulai berani menyentuh pundak bahkan lenganku! Ya Tuhan, tolong aku…

Kim Ryewook, tolong aku…

Kurasakan sesuatu menyeruak ke hadapanku. Bersamaan dengan tangan-tangan itu lenyap dari bahu dan lenganku. Kurasakan sesuatu menubruk dadaku. Dan kini pergelangan tangan kananku ada yang menggenggamnya. Aku tersentak begitu merasakan aroma parfum yang sudah familiar di hidungku. Kuberanikan diri untuk membuka mataku. Dan pandangan pertama yang kudapat adalah bahu miliknya yang sedang menyembunyikanku. Dirinya yang tengah memunggungiku. Hingga akhirnya kusadari bahwa dia juga yang tengah menggenggam tanganku.

Kim Ryeo Wook ada di hadapanku sekarang!

“Maaf, tapi dia bersamaku,” ucapnya tiba-tiba. Terdengar berat, tegas dan menantang. Aku tertegun mendengarnya. Ini adalah kali pertama aku mendengar dia berbicara dengan nada seperti itu.

“Huh? Bocah ini menantang kita, ternyata?” mereka tergelak. Terdengar meremehkan. Membuatku semakin menegang. Namun sedetik kemudian kurasakan tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku mengerat. Apakah dia menyadari reaksiku?

“Menyingkir, bocah! Dia milik kami!”

“Sayangnya aku sudah mendapatkannya dari dulu.”

Aku tercengang. Astaga, apakah laki-laki yang ada di hadapanku benar-benar Kim Ryeo Wook?

DUAGH

Kini aku terhenyak. Dia menendang perut salah satu dari mereka hingga terhempas ke aspal. Belum selesai keterkejutanku sirna, dia kembali melakukan hal yang sama pada laki-laki yang masih berdiri tegak dan ingin memukulnya, hingga terhempas ke aspal juga. Detik berikutnya, tangannya yang sedari tadi menggenggam pergelangan tanganku kini mulai menarikku.

“Lari!!”

Aku pun berlari mengikuti tarikannya. Susah payah kucoba menyeimbangi larinya yang begitu cepat hingga aku terengah-engah lebih awal. Samar-samar kudengar dua orang itu meneriaki kami. Membuatku semakin panik.

“Jangan menoleh ke belakang! Teruslah berlari!” serunya dengan terus menarikku. “Tahan sebentar lagi! Haltenya sudah terlihat,” lanjutnya.

Kusadari bahwa memang haltenya sudah terlihat. Bahkan begitu aku menemukannya, kudapati pula sebuah bus berhenti di depannya. Begitu sampai, segeralah ia menaikinya sambil terus menarikku, hingga aku juga ikut berhasil naik ke dalam bus.

Ahjusshi, tolong cepat jalankan busnya!” serunya yang langsung dikabulkan oleh sopir bus ini. Begitu pintu bus tertutup dan melaju. Aku dikejutkan dengan suara gedoran keras dari luar yang ternyata merupakan perbuatan dua orang itu. Kini aku merasakan lenganku ditarik olehnya hingga aku yang masih menapak tangga bus kedua dari bawah naik hingga sejajar dengannya.

Akhirnya, aku bisa bernapas lega. Mereka tidak lagi mengejar, bahkan tidak sanggup. Kudengar bahwa dia juga bernapas lega.

“Kalian dikejar mereka?” tiba-tiba sang sopir bersuara.

“Iya.” Ryeo Wook yang menjawab.

“Aah, lagi-lagi, ya.”

Ahjusshi kenal mereka?”

“Yah begitulah. Mereka dikenal dengan bocah pembuat onar di situ. Entah asal-usulnya dari mana. Sudah banyak murid sekolah yang menjadi korban kekanakan mereka,” sopir itu terkekeh. “Karenanya tempat itu menjadi jarang dilewati para murid sekolah.”

“Tapi kami selalu melewatinya. Dan baru kali ini kami melihat mereka.”

“Mereka memang sempat diusir dari tempat itu dan ditahan karena membuat keresahan. Tapi sepertinya mereka kembali lagi. Lebih baik, mulai besok kalian memutar jalan saja. Memang menjadi lebih jauh tapi setidaknya kalian selamat.”

“Baik. Terima kasih, Ahjusshi!” ia membungkuk. Aku mengikutinya. Lalu, lagi-lagi, dia menarik pergelangan tanganku menuju belakang. Dan baru melepasnya setelah kami duduk berdampingan.

“Maaf, aku sudah membuatmu kelelahan seperti ini,” ucapnya tiba-tiba. Aku hanya menggeleng pelan—lebih tepatnya lemah. Karena aku masih belum merasakan bahwa diriku tengah terduduk.

Dia memajukan tubuhnya ke arahku. Membuatku gugup seketika. Aku hanya bisa menunduk. Entah apa yang akan dia lakukan. Aku hanya peduli dengan jantungku yang kembali berdetak di atas normal karena tiba-tiba wajahnya mendekat ke arahku.

Ia mengulurkan sebelah tangannya hingga melewatiku. Lalu kudengar suara kaca yang tengah bergesekan dengan karet. Ternyata dia membukakan kaca jendela yang terdapat tepat di sampingku. Seketika hembusan angin masuk dan menerpa sebelah wajahku.

“Supaya merasa lebih baik,” ucapnya sambil menjauhkan wajahnya dariku hingga kembali ke semula. Tanpa sadar, ternyata aku tengah menahan napas!

“Maaf, tadi… aku lengah…”

Kuberanikan untuk menoleh kepadanya. Ternyata dia sedang menatapku. Merasa terhipnotis, aku tidak bisa berpaling lagi. Meskipun mata itu terlihat sendu, bahkan redup. Aku tidak bisa beralih. Hingga ia mendaratkan sebelah tangannya ke puncak kepalaku. Mengusapnya. Justru itu membuat jantungku kembali berpacu.

“Maafkan aku.”

Hingga ia kembali berucap, barulah aku menunduk. Berusaha menyembunyikan sesuatu yang mulai menyeruak di pelupuk mataku. Menggelengkan kepala. Berharap dirinya berhenti mengucapkan kata maaf. Karena lagi-lagi, dia mengucapkannya. Yang malah membuatku bingung. Dan takut.

 

 

Esoknya, kami benar-benar memutar jalan. Memang lebih jauh tapi keselamatan adalah yang utama. Kami berjalan berdampingan. Keheningan menyelimuti di antara kami. Aku tidak berani memulai pembicaraan. Melihat dirinya yang terus menundukkan pandangan. Bahkan terkadang dirinya menghela napas yang sangat panjang—dan terkesan berat. Membuatku merasa miris. Miris melihat dirinya seperti ini. Miris menyadari bahwa dirinya begitu menyayanginya.

Eoh!

Menghentikan langkah, aku menoleh padanya yang juga berhenti. Menghadapku. Dan menatapku lekat. Membuat jantungku tiba-tiba berpacu. Ia membuka satu langkah mendekatiku. Dua langkah. Membuatku terpaksa mundur satu langkah karena dirinya yang begitu dekat.

Y-ya, apa yang kau lakukan?” aku tergagap.

Dia tidak bersuara. Dengan masih menatapku, sebelah tangannya didaratkan ke puncak kepalanya sejenak, lalu bergeser hingga ke atas puncak kepalaku. Tidak menyentuh. Tapi seketika membuatku menahan napas dan tak bisa berkutik.

“Hm…” dia menyungging senyum. Senyum yang rasanya sudah lama tidak pernah ia tunjukkan. Yang membuatku berdebar-debar. Namun senyum itu juga membuatku bingung.

W-wae?

“Memang ini sudah terlambat. Tapi setidaknya ini terbukti. Bahwa kini aku lebih tinggi darimu,” dia mundur selangkah. Senyumnya makin mengembang. “Aku menang taruhan!”

“Apa kau bilang? Sejak kapan kita taruhan, huh?”

“Sejak kau pertama kali menyebutku, Pendek.”

Ya! Aku tidak pernah menerima taruhan itu!”

“Tapi aku sudah membuktikannya.”

“Terserah. Tapi aku tidak pernah menerimanya. Tidak ada janji dariku. Aku tidak suka taruhan, perlu kau ketahui itu!” aku melangkah meninggalkannya. Membiarkannya terkikik di belakang. Merasa kesal, tapi juga sedikit merasa lega, setidaknya aku bisa mendengarnya kembali menjahiliku.

“Kau sudah tidak bisa memanggilku Pendek lagi!”

“Ya, ya, tapi aku masih bisa memanggilmu Bocah!”

“Berarti aku masih bisa memanggilmu Gadis Aneh.”

Ya! Perjanjian kita mengatakan bahwa kau tidak akan memanggilku dengan nama itu jika aku tidak akan memanggilmu Pendek! Bukan Bocah!”

“Hahahaha! Iya, iya, aku masih ingat,” dia tergelak. Seketika aku merasa lega melihatnya tertawa seperti itu. Kemudian dia mendaratkan tangannya ke puncak kepalaku dan mengacak-acak rambutku. Astaga, dia mulai lagi.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.”

Keningku mengerut. Sungguh aku tidak mengerti maksud ucapannya itu. Berharap mendapatkan penjelasan, tapi yang kudapat dia malah melangkah mendahuluiku sambil berseru, “Ayo!”

Aku termenung sesaat. Memperhatikan punggungnya yang terlihat berbeda. Ya, berbeda. Tegap dan meninggi. Tanpa komando bibirku menyungging senyum. Merasa senang dirinya sudah berkembang.

 

****

 

Tak terasa penghujung semester semakin dekat. Dua minggu lagi ujian akhir sekolah akan dilaksanakan. Kini para murid hanya fokus dengan berbagai latihan soal. Tugas rumah mulai dikurangi dan diganti dengan latihan soal. Mengejar target minimal yang tidak begitu mudah.

Soo Rin baru saja memasuki gerbang sekolah ketika seseorang menahan langkahnya dengan menarik tasnya. Membuat dirinya terpaksa mundur selangkah demi terhindar dari ketidakseimbangan. Sambil berdecak ia menoleh ke belakang. Dirinya sedikit tertegun ketika mendapati Ryeo Wook yang tengah menahannya.

“Aku melihatmu dari kejauhan. Tapi kau tidak menoleh ketika kupanggil beberapa kali. Kau melamun lagi, kan?”

Soo Rin mendengus. Melanjutkan langkahnya yang tertunda. Namun Ryeo Wook masih mencekal tasnya hingga ia kembali mundur. “Lepaskan, dasar Bocah!”

Ryeo Wook terkekeh mendengarnya. Rasanya sudah lama mendengar gadis yang memunggunginya ini memanggilnya dengan sebutan Bocah. “Kau tidak ingat bahwa aku sudah lebih tinggi darimu sekarang?” ucapnya bangga.

“Ish, kau hanya tumbuh beberapa centimeter. Tidak usah menyombongkan diri,” cibir Soo Rin.

“Tapi aku sudah berhasil menyusulmu bahkan mendahuluimu. Aku hebat, kan?”

“Ya, ya! Sekarang lepaskan!”

Ryeo Wook tidak langsung melepasnya. Justru dia malah membuka salah satu resleting tas Soo Rin dan memasukkan sesuatu ke dalamnya. Merasakan tindakan itu, Soo Rin sedikit berontak.

Ya! Apa yang sedang kau lakukan?!”

“Bukan apa-apa.”

“Kau memasukkan… binatang berbulu itu, kan? Ya Kim Ryeo Wook! Kau tidak akan selamat hari ini jika kau melakukannya!!”

Eii, aku tidak memasukkan binatang apapun. Kau boleh melihatnya setelah sampai di rumah nanti, mengerti?”

“Di rumah? Kau mau menghindar, kan? Huh?!”

“Tidak. Jika memang itu terjadi, kau bisa membalasnya besok. Mudah, kan?”

Ryeo Wook berpindah menjadi di hadapan Soo Rin setelah menutup kembali resleting tas Soo Rin. Menampakkan senyum manis yang membuat Soo Rin terpana. Tapi sekaligus bingung. Mata itu, mata Ryeo Wook kembali meredup. Sendu. Soo Rin menelan ludah, jantungnya kembali bermarathon. Ada sesuatu yang membuat dirinya takut secara tiba-tiba.

“Soo Rin-ah…” suara Ryeo Wook berubah menjadi parau. Sebelah tangannya terulur. Mendarat di puncak kepala Soo Rin, mengusapnya dengan lembut. Soo Rin menahan napas. Sentuhan dan panggilan yang begitu berbeda membuat rasa takut yang tiba-tiba itu semakin terasa.

“Maafkan aku…” Ryeo Wook melirih. Sungguh, Soo Rin kebingungan. Tidak mengerti dengan ucapan Ryeo Wook. Tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Namun seketika semua itu terjawab ketika laki-laki itu melanjutkan ucapannya yang merupakan sebuah… balasan.

“Aku masih menyayangi Seo Hyun…”

 


 

“Sejak awal aku memang tidak diminati oleh siapapun. Aku tidak bisa membuat mereka tertawa karenaku. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. Hingga suatu saat ada seseorang yang mengatakan langsung di hadapanku, bahkan di hadapan teman-teman lainnya, bahwa aku tidak menyenangkan… Sakit? Tentu saja… sakit… Tapi aku sadar, dan akhirnya kuputuskan, menyendiri adalah yang terbaik. Sendiri lebih baik. Dan sendiri itu menyenangkan, untukku…”

 

&&&

 

Soo Rin membeku di tempat. Mencerna satu kalimat Ryeo Wook ternyata begitu mudah. Hingga akhirnya membuat ia terpaku, terkejut, dan seketika jantungnya bagikan meledak karena kesakitan. Ternyata Ryeo Wook menyadarinya, mengetahuinya, bahwa Soo Rin menyukai Ryeo Wook!

Tapi sejak kapan? Sejak kapan Ryeo Wook mengetahui perasaan Soo Rin? Kesadaran itu sungguh tak terbaca. Tak terdeteksi. Sedikit pun. Sama sekali! Layaknya orang bodoh yang tak peduli dengan perasaan orang di dekatnya, seperti itulah Ryeo Wook selama ini. Dan sekarang, ibaratkan hari ini adalah saat yang pas untuk melakukan konferensi pers, Ryeo Wook menyatakan akan perasaannya yang sarat akan balasan dirinya terhadap perasaan Soo Rin!

Soo Rin yang belum siap dengan semua ini, terguncang. Meskipun secara fisik ia hanya menampakkan reaksi yang kaku, namun dalam hatinya, ia sungguh terguncang! Tak perlu penjelasan lebih, semua itu sudah terjawab. Hanya satu kalimat singkat, empat kata, namun tandas. Ryeo Wook telah menolak perasaannya.

Perlahan tangan Ryeo Wook yang mendarat di puncak kepala Soo Rin, terlepas. Masih dengan menampakkan senyum teduhnya, mata redupnya yang sarat akan sebuah permintaan maaf, Ryeo Wook berbalik. Melangkah. Menjauh meninggalkan Soo Rin yang masih membeku.

Hingga sebuah tepukan mendarat di pundaknya, Soo Rin masih tidak bergerak. Eun Ji mulai merengkuh pundak yang mulai bergetar itu. Eun Ji tidak membuka mulut. Dia menyaksikan semua. Semuanya. Dan Eun Ji mulai mengeratkan rengkuhannya ketika dua pelupuk mata itu makin memerah dan menumpahkan cairan bening yang tak terbendung lagi. Soo Rin menangis dalam diam.

 

****

Eun Ji menyodorkan segelas minuman hangat pada Soo Rin. Setelah Soo Rin menerimanya, Eun Ji mendudukkan diri di sebelah Soo Rin. Saat ini mereka terduduk di pinggir taman sekolah sekaligus menghadap lapangan utama sekolah, dekat dengan kantin.

Eun Ji membiarkan Soo Rin kembali melamun—lebih tepatnya merenung. Menunggu gadis itu membuka mulut terlebih dahulu. Tak masalah jika nantinya ia hanya menjadi teman diam Soo Rin. Eun Ji memaklumi, sahabatnya kini sedang dalam masa patah hati. Apalagi ini adalah kali pertama baginya. Meskipun itu adalah suatu penolakan yang halus tapi terlihat begitu jelas betapa sakitnya dia.

“Bagaimana dia bisa tahu?”

Ucapan yang begitu lirih bahkan jauh seperti bisikan namun Eun Ji masih bisa mendengarnya. Eun Ji meneguk sedikit minumannya. “Tak terbaca, bukan? Tapi sepertinya Ryeo Wook memang memperhatikanmu. Jika tidak, tidak mungkin dia berani mengatakan kalimat itu.”

“Tapi… kenapa…”

“Bukan kenapa, tapi bagaimana. Bagaimana bisa dia masih bersikap layaknya tidak mengetahui perasaanmu. Karena dia ingin menjaga perasaanmu,” Eun Ji menatap Soo Rin yang masih tertunduk. “Hanya saja, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat. Sebelum terlambat. Sebelum kita berlanjut ke tahun terakhir. Sebelum kau menyukainya lebih jauh.”

Soo Rin tersenyum lemah. Miris. Kedua tangannya yang memegang gelas minuman nampak mengerat. Hatinya menangis, berkata, dia sudah terlalu menyukai Ryeo Wook.

 

 

Soo Rin terduduk di kasur empuknya. Merogoh isi tas sekolahnya hingga merasakan benda aneh yang berada jauh di dasar tasnya tertangkap oleh tangannya. Menarik tangannya keluar hingga menampakkan benda aneh itu yang ternyata adalah sebuah batu berukuran sedang, yang masih bisa tergenggam hingga tersembunyi di genggamannya.

Soo Rin mengerutkan kening. Apakah ini yang Ryeo Wook masukkan ke dalam tasnya? Sebuah batu? Ia kembali merenung. Menelaah apa arti dari batu ini. Maksud Ryeo Wook memberikan batu ini. Hingga dirinya terpana dalam diam.

Soo Rin tersenyum, mencoba tersenyum dengan bibirnya yang mulai bergetar. Mencoba tersenyum dengan matanya yang mulai kembali mengembun. Tangan yang menggenggam batu itupun mulai bergetar, mencoba menggenggam batu itu meskipun bagaikan tangan yang mati rasa berusaha untuk mencari indera perabanya dan tenaganya. Dan lagi-lagi, kedua pipinya yang kemerahan kembali dialiri anak sungai bening.

Itu adalah semua dari jawaban Ryeo Wook.

 

****

 

Aku berjalan menelusuri koridor kelas tahun kedua. Baru saja aku mampir ke Perpustakaan tapi ternyata, saat ini tempat itu bukanlah tujuanku. Kuputuskan untuk beralih menuju kantin.

Langkahku terhenti tepat di depan pintu kelas 6. Sedikit kulebarkan mataku ketika seseorang yang baru kusadari bahwa sudah lama tidak kulihat kini muncul di hadapanku. Tersenyum anggun kepadaku dan menyapaku. Merasa suasana begitu canggung, aku hanya bisa membalasnya dengan senyum kikuk.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya tiba-tiba.

“Aku merasa baik.”

Seo Hyun menyandarkan tubuhnya pada jendela gedung. Aku baru menyadari bahwa wajahnya tampak murung. Meskipun ia tersenyum tapi aku masih bisa menebaknya. Akupun ikut menyandar di sebelahnya.

“Apakah hubunganmu dengan Ryeo Wook baik-baik saja?”

Aku menoleh dengan kening berkerut. Merasa aneh dengan pertanyaannya. Hubungan? Pikiranku malah menangkap ‘hubungan’ itu adalah seperti yang pernah dialami di antara mereka berdua.

“Maksudku, apakah hubunganmu dengan Ryeo Wook ada perkembangan?”

Keningku makin berkerut. Bahkan kini mataku menyipit. Sungguh, apa maksud dari pertanyaan Seo Hyun, aku tidak mengerti.

Seo Hyun menoleh kepadaku. Menyadari aku tidak menjawab pertanyaannya dengan segera. Dia kembali tersenyum. Senyum anggun tapi terlihat dipaksakan.

“Aku dan Ryeo Wook… baik-baik saja… seperti biasanya…” jawabku dusta. Ya, yang sebenarnya adalah aku dan Ryeo Wook telah menjaga jarak. Lebih tepatnya, aku membuat jarak itu. Semenjak pernyataannya di depan gedung sekolah pagi itu.

“Sayang sekali, ya…”

“Apa maksudmu?” Dia tidak langsung menjawab. Membuatku ingin segera mendesaknya. Meminta penjelasan—penjelasan lebih. “Seo Hyun-sshi, jika aku boleh tahu, kenapa kau berpisah dengan Ryeo Wook?”

“Karena memang seharusnya aku mundur…”

Aku menelan ludah. Tanpa komando aku berdebar-debar tidak tenang. Kalimat itu… seperti aku sudah mengetahui maksud dari kalimat itu. Melihatnya yang semakin murung, bahkan kantung matanya yang indah itu mulai memerah. Astaga…

“Soo Rin-ah, maafkan aku. Aku… tidak seharusnya aku berada di antara kalian sejak awal. Padahal aku sudah menyadari sejak awal… tapi dengan kurang ajarnya, aku tidak menghiraukannya. Maafkan aku…”

Matanya mulai berkaca-kaca. Aku terhenyak. Melihat raut wajahnya, mendengar segala tutur katanya barusan. Membuatku bagaikan terhempas dari atas tebing menuju dasar lautan yang berbatu.

“Seo Hyun-sshi—

“Maafkan aku, Soo Rin-ah… aku mengetahuinya. Sejak awal. Tapi aku tetap tidak melepaskan Ryeo Wook dan membiarkannya bersamamu. Maafkan aku… sungguh maafkan aku…”

Bagaikan tertiban berbagai barang berat, dadaku terasa nyeri dan sesak. Melihat cairan bening mengalir bebas di kedua pipinya yang chubby itu membuatku semakin merasa bersalah. Astaga, bahkan dia juga tahu. Tidakkah aku bodoh? Bodoh karena selama ini ternyata aku tidak pandai dalam menyembunyikan perasaanku. Dan aku baru menyadarinya. Benar-benar menyadarinya atas kebodohanku selama ini. Mengetahui bahwa itu adalah alasan mengapa dia memutus hubungannya dengan Ryeo Wook, sungguh membuatku merasa bahwa aku adalah orang yang kejam.

Kucoba untuk merengkuh wajahnya. Mencoba menghapus anak sungai bening itu. Kusadari bahwa kedua tanganku bergetar meski pandanganku mulai rabun. Apa? Rabun? Ya ampun, aku mulai menangis lagi.

“Kumohon… jangan menangis. Ini semua bukan salahmu melainkan adalah salahku. Tidak seharusnya aku seperti ini. Maafkan aku, Seo Hyun-sshi...” suaraku terdengar bergetar. Serak. Parau. “Ryeo Wook menyayangimu… sangat. Tolong kembalilah padanya,” pintaku. Tulus. Ya, lebih baik begitu.

Demi apapun, lebih baik aku yang merasa sakit dibandingkan melihat Seo Hyun menangis seperti ini. Ditambah dengan mengingat Ryeo Wook yang juga terpuruk. Tidakkah terlihat begitu jelas jika mereka memiliki perasaan yang saling terbalaskan? Dibandingkan denganku yang hanya sepihak. Tidakkah lebih baik aku yang mundur?

“Seo Hyun-ah…

Aku tercenung. Suara itu… suara yang sangat familiar di telingaku. Suara yang rasanya sudah lama tidak kudengar. Begitu kutolehkan kepalaku, aku terpaku. Ryowook berdiri tidak jauh di belakangku.

Seketika aku menyadari. Menyadari bahwa… akulah yang harus menyingkir. Akulah yang harus pergi—pergi dari mereka. Karena aku hanyalah pengganggu di antara mereka. Ya… akulah yang harus mundur.

Perlahan kujatuhkan kedua tanganku dari wajah Seo Hyun. Detik kemudian, Seo Hyun membuka langkah dan berlari menjauh. Meninggalkanku. Meninggalkan kami.

Kami?

Kualihkan pandanganku pada Ryeo Wook. Dia masih berdiri di tempatnya. Menatap lurus ke depan. Dan kuyakin, menatap punggung yang tengah berlari menjauh itu.

“Tunggu apa lagi?”

Dia menoleh kepadaku. Memasang wajah pasrah yang membuatku geram seketika. “Kejar dia, Bocah Bodoh!”

Dia kembali menatap lurus ke depan sesaat sebelum kembali beralih padaku, lalu membuka langkah. Sambil melewatiku, kudengar ia mengucap, “Maafkan aku.” dan aku tidak melihat sosoknya lagi. Aku hanya mendengar hentakan kakinya yang sudah pasti dirinya tengah berlari di belakangku. Menjauhiku. Mengejar Seo Hyun.

Dari kejauhan, aku melihat Eun Ji berjalan mendekatiku. Aku mencoba tersenyum. Aku ikut mendekatinya. Begitu kami sudah saling berhadapan, segera aku menjatuhkan kepalaku dipundaknya. Di saat itu pula aku merasakan kedua tangannya melingkar di punggungku. Menepuknya dengan lembut.

“Menangislah jika kau ingin menangis,” itulah yang kudengar sebelum akhirnya aku menumpahkan seluruhnya. Melepas segala rasa sesak di dadaku. Kini aku juga ikut melingkarkan tanganku ke punggungnya. Memeluk Eun Ji dengan erat. Mencari kekuatan dari Eun Ji. Dan Eun Ji ikut mengeratkan pelukannya.

“Kau sudah melakukan yang terbaik, Soo Rin-ah. Itu adalah keputusan yang sangat baik. Tidak apa-apa… kau tidak akan menyesalinya nanti. Tidak apa-apa… kau hanya perlu melepasnya sekarang.”

Tangisku pecah. Tak peduli jika aku masih di koridor. Tak peduli jika saat ini aku menjadi tontonan. Hanya bahu Eun Ji yang menjadi saksi alasan aku menangis.

Aku menyerah.

 

&&&

 

DOR!

Gadis itu tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali. Pandangannya mulai fokuspada gerombolan murid yang secara perlahan mulai bergerak maju. Baru saja tembakan pistol kosong ditembakkan ke udara sebagai tanda dimulainya Marathon Massal ini. Sedikit demi sedikit langkahnya mulai bergerak. Dari berjalan lalu berlanjut hingga akhirnya berlari.

Menyadari bahwa dirinya baru saja bergelut ke masa lalu dengan ingatannya, ia tersenyum. Membuat teman sebangkunya yang bernama Ah Reum, yang tengah ikut berlari kecil di sebelahnya menyenggol sikutnya. Menyadari ekspresi gadis itu.

“Kau sedang tidak berusaha untuk membuka perasaan itu lagi, kan?”

Soo Rin, gadis itu menoleh. Mendapati Ah Reum yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya. Ia pun kembali mengembang senyumnya. “Tidak. Aku hanya bernostalgia,” jawabnya yakin.

“Hm…” Ah Reum menggoda. “Aku kira dengan bertemu dengannya lagi di sini, kau akan berubah pikiran dan kembali mengharapkannya.”

Soo Rin mendengus geli. “Aku tidak bodoh, Ah Reum-ah. Aku tidak mungkin mengingkari janjiku terhadap diriku sendiri.” pungkasnya.

“Bagaimana jika ini merupakan suatu permulaan? Permulaan di mana sebenarnya kau akan kembali bertemu dengannya di waktu berikutnya. Tidakkah itu akan menggoyahkanmu?”

“Tidak.”

Eii, kau begitu yakin, ternyata. Bagaimana jika sebenarnya kau memang harus bersamanya?”

Soo Rin menatap lurus ke depan. Memandangi berbagai punggung yang sedang beradu kecepatan. Menyadari bahwa punggung yang telah berubah menjadi sangat tegap itu tidak pernah terlihat lagi setelah pertemuan singkat tadi. Soo Rin menghela napas yang mulai terasa berat karena terus berlari. Ia pun mengubah larinya menjadi berjalan santai. Membiarkan orang-orang yang di belakangnya berlari mendahuluinya. Ah Reum mengikuti.

“Itu tidak mungkin,” Soo Rin berucap.

“Kenapa?” tanya Ah Reum lagi. Soo Rin tersenyum. Senyum yang begitu ringan tanpa beban. Senyum ketulusan. Senyum keikhlasan.

“Karena kita sudah berjanji untuk tetap menjadi sahabat. Tidak lebih.”

 

****

 

Soo Rin membuka lemari pakaiannya. Mengambil sebuah kotak yang tersimpan di bagian atas lalu menutup lemarinya kembali. Ia beralih ke tempat tidurnya. Mendudukkan dirinya di sana dengan tangan yang masih menggenggam kotak itu.

Dibukanya kotak itu dan mengambil isinya. Sebuah batu berukuran sedang yang masih bisa tergenggam hingga tersembunyi di genggamannya. Soo Rin tersenyum memandangi batu yang telah digenggamnya itu. Hampir tiga tahun dia menyimpan batu itu. Batu pemberian orang yang sudah menjadi cinta pertamanya. Kim Ryeo Wook. Bertemu dengan laki-laki yang sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa hari ini membuatnya kembali ke masa lalu. Membuka ingatan masa lalunya yang sudah ia simpan dengan rapi dan ia timbun. Membuatnya kini kembali menggenggam batu itu, setelah hampir tiga tahun ia biarkan tersimpan.

Tak dapat dipungkiri memang, bahwa ternyata ia masih merasakan desiran itu. Desiran yang sama. Yang membuat dirinya harus memompa jantungnya berkali-kali lipat. Namun ia sadar, itu hanyalah masa lalu. Dan ia bersyukur karena kembali melihat sosok itu, yang kini sudah berbeda. Berbeda secara fisik namun tidak dengan sorot mata dan senyumnya, bahkan tutur bicaranya.

Sebagaimana dengan batu ini, berapa lamapun waktu yang sudah terlewati, perasaan itu tetap ada walau sudah berada di dasar. Persahabatan mereka akan tetap ada meskipun mereka sudah terpisah. Meskipun sempat terjadi kesalahpahaman perasaan, semua akan kembali seperti yang sudah semestinya. Tak ada perubahan. Tetap seperti batu.

Begitulah jawaban Ryeo Wook dulu.

Soo Rin menghela napas panjang. Kini terasa ringan. Sangat ringan. Diletakkan kembali batu itu ke dalam kotak. Lalu disimpannya kembali ke dalam lemarinya. Sebagaimana dengan batu itu, kenangan dirinya bersama Ryeo Wook juga kembali di simpan rapi olehnya. Tak ada lagi air mata. Tak ada lagi penyesalan.

“Aah, aku merindukan Eun Ji…” gumamnya lirih. Membuka kenangan masa lalunya membuat dirinya kembali mengingat sahabat pertamanya yang kini tengah bersekolah di luar kota. “Bagaimana kabarnya?”

Soo Rin meraih ponselnya begitu mendapatkan ide untuk menghubungi Eun Ji. Namun baru membuka screenlock-nya, ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Soo Rin mengerutkan kening melihat layar ponselnya. Nomor tak dikenal sedang meneleponnya. Dengan ragu ia menyentuh dan menggeser layar sentuhnya. Ditempelkan ponselnya ke daun telinganya.

Yeoboseyo?

“Kau Park Soo Rin?”

Soo Rin tercenung. Suara laki-laki dan asing. Dengan ragu Soo Rin menjawab, “Iya… maaf ini siapa?”

“Aku dari Neul Paran High School sepertimu. Dan dari angkatan yang sama denganmu.”

Soo Rin makin mengernyit bingung. Nada bicara orang ini terdengar begitu lugas dan berat. Tidak terdengar mengancam tapi tetap membuat Soo Rin waspada. “Lalu?”

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku selalu memperhatikanmu.”

“Huh?”

“Aku harap kau tidak mencoba mendekati laki-laki lain.”

“Huh? Ya, memangnya kau siapa?” Soo Rin mendengus kesal.

Terdengar di seberang sana sebuah dengusan halus yang menandakan bahwa ia tengah tersenyum. Dan dengan lugas ia berkata yang membuat Soo Rin tercengang.

“Panggil aku Ki. I’m your Secret Admirer.”

 

 

-END


 

#Hening

Garing ya endingnya, maksa gitu ngahaha.__. Ah, ini merupakan gabungan dari chap.7&8 . . ternyata lebih panjang lebih bagus /maksudnya apa tjoba?/ -__-

Sebenarnya, saya emang udah rencanain kalau endingnya begitu trus… bikin another storynya._. Yah, after storynya sudah ada kok. Dan itu juga udah saya publish di fp fb xD Hahaha sumpah di wp sini cuma tinggal salin…salin.. dan salin-__- Habis baru nyadar kalo saya punya wp acc ngahaha (?)

Well, memang akhir dari curhatan masa lalu saya seperti itu. It’s not a happy ending but it’s a great memory *ngek :^)

Terima kasih banyak sudah mau mengikuti cerita saya^^ Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s