Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, FF "When I Get This Feeling", Fiction, School Life, Slice of Life, Teen

When I Get This Feeling [Chapter 6]

Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ryeo Wook
  • Kim Jong In (Kai)
  • Seo Ji Hyun (Seo Hyun)
  • Jung Eun Ji
Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst
Rated    : T
Length  : Chaptered

This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~


Ctik!

Gadis itu tersentak hingga mengerjap beberapa kali. Begitu mendengakkan kepala, didapatinya seorang laki-laki—yang ditemuinya kemarin—yang sedang mengulurkan sebelah tangan ke hadapannya sembari memamerkan deretan gigi putihnya. Baru saja laki-laki itu menjentikkan jari demi menyadarkan lamunannya.

“Melamun lagi?”

Gadis itu memalingkan pandangannya. Sedikit gugup. Sedangkan laki-laki itu kembali ke posisi semula—berdiri di samping gadis itu.

“Aku tidak tahu, apakah kau sedang ada masalah atau itu memang kebiasaanmu tapi… melamun itu tidak baik,” nasehat laki-laki itu dengan hati-hati. Diperhatikannya gadis itu yang hanya menunduk. Membuat laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. Canggung karena tidak mendapat respon apapun.

“Um… ah! Kita kan dari sekolah yang sama! Apakah kau murid tahun pertama?” laki-laki itu mencoba mengajak bicara.

Gadis itu mengangguk. Membuat laki-laki itu mendesah lega. Setidaknya ia mendapat respon. Sehingga membuat dirinya ingin mendapat respon yang lebih dengan bertanya lagi, “Aku juga! Kau dari kelas berapa?”

“Lima,” jawab gadis itu. Suaranya terdengar begitu kecil hampir menyamai bisikan. Namun masih bisa didengar laki-laki itu karena dirinya menyungging senyum sambil mengangguk-angguk paham.

“Apakah suaramu memang seperti itu?” tanyanya lagi yang tidak mendapat respon apapun dari gadis itu. Membuatnya kembali canggung dan merutuki pertanyaan yang menurutnya bisa saja membuat gadis itu risih. “Maksudku, kurasa karena kita memang sedang berada di tempat yang tidak ramai, benar kan?” ringisnya.

Laki-laki itu kembali mendesah lega begitu melihat sebuah bus datang. Setidaknya suasana canggung bisa ditepisnya dengan mengubah topik, “Busnya datang!” serunya.

Gadis itu mendengak tepat di saat bus itu berhenti di depannya. Lalu beralih pada laki-laki yang sedang menoleh kepadanya, “Ayo naik!” serunya sambil mempersilahkan gadis itu untuk melangkah terlebih dahulu.

Begitu mendapati tempat duduk, gadis itu dikejutkan dengan laki-laki itu duduk di sebelahnya. Laki-laki itu hanya merespon tatapan herannya dengan sebuah senyuman. Setelah saling diam beberapa menit, laki-laki itu membuka mulut.

“Omong-omong, senang bertemu denganmu lagi. Aku dari kelas 7. Namaku, Ryeo Wook.”

 

&&&

 

Soo Rin memasuki kelas di 5 menit sebelum bel masuk berbunyi. Begitu menduduki tempat belajarnya, tak lama seseorang datang menghampirinya dan duduk menghadapnya.

“Hei, tumben sekali kau datang di waktu mepet seperti ini?” sapa Ryeo Wook terheran. Biasanya, laki-laki itu selalu mendapati Soo Rin sudah duduk manis ketika dia memasuki kelas dan pasti akan menghampiri gadis itu sebelum menuju ke tempat duduknya.

“Kau sudah merasa baik sekarang?” tanya Ryeo Wook merasa tidak ditanggapi. Meskipun dijawab, hanya dengan gumaman kecil. Membuat Ryeo Wook merasa tidak puas dengan jawaban yang didapat. “Kau masih marah padaku?” tanyanya lagi.

Kini Soo Rin berdecak dan menatap Ryeo Wook tak suka, walau sebentar. “Jangan membahas soal itu lagi!” pintanya dingin.

Arasseo (Baiklah)!” Ryeo Wook menampakkan cengirannya. Mengulurkan sebelah tangannya ke puncak kepala Soo Rin kemudian mengacak rambut gadis itu gemas. Membuat gadis itu mematung seketika.

“Sampai nanti!” seru Ryeo Wook begitu bel masuk berbunyi sambil kembali ke tempatnya.

Seketika kedua bahu yang sejak tadi menegang menjadi kendur disusul dengan hembusan napas berat Soo Rin yang sedari tadi ditahannya. Begitu juga dengan kedua telapak tangannya yang sedari tadi meremas ujung seragamnya. Entah Ryeo Wook menyadarinya atau tidak, Soo Rin hanya berharap dirinya mampu menyembunyikan gejolak yang menggebu di hatinya. Ditambah dengan perlakuan Ryeo Wook yang menyentuh puncak kepalanya membuat dirinya ingin menangis.

Kumohon jangan membuatku ingin mengharapkanmu, pelasnya dalam hati.

 

****

 

“Rin-ah!

Soo Rin menoleh dan mendapati Ryeo Wook melambai kepadanya lalu menyuruhnya untuk mendekat. Mau tidak mau dirinya menurut, melihat laki-laki itu tidak sendiri—melainkan bersama kekasihnya, Seo Hyun. Pasangan itu memang selalu menghabiskan waktu istirahat dengan berbincang di dalam ataupun di depan kelas Seo Hyun.

“Ingin ke perpustakaan lagi, hum?” sambut Ryeo Wook mengingat kebiasaan Soo Rin yang hampir setiap istirahat kedua dihabiskan dengan mampir ke perpustakaan untuk membaca comic. Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan dan gumaman.

“Ah, kebetulan aku juga ingin ke sana. Mau pergi bersama?” ajak Seo Hyun tiba-tiba.

“Hei, kenapa tidak mengatakan padaku sejak tadi? Aku kan bisa mengantarmu,” keluh Ryeo Wook yang membuat Seo Hyun tersenyum yang—memang—begitu anggun.

“Aku juga baru ingat,” kekehnya yang membuat Ryeo Wook mengusap kepalanya dengan gemas juga sayang. Membuat Soo Rin memalingkan pandangannya ke arah lain.

“Biarkan aku pergi bersama Soo Rin. Kau kembali saja ke kelas,” ujar Seo Hyun yang langsung mendapat anggukan dari Ryeo Wook.

Soo Rin pun beranjak bersama Seo Hyun. Sedangkan Ryeo Wook mengantar kepergian mereka dengan memandangi kedua punggung itu. Merekahkan senyum yang terlihat begitu manis. Merasa senang melihat dua orang yang disayanginya itu jalan berdampingan.

 

 

:: Library

 

Kedua gadis itu duduk berdampingan di salah satu meja bundar yang sedikit mepet dengan jendela perpustakaan. Membuka lembar demi lembar dari buku-buku yang telah didapat. Setelah keadaan yang sangat sunyi untuk beberapa saat di antara mereka. Seo Hyun akhirnya membuka mulut.

“Soo Rin-ah.”

“Um?”

“Aku—aku mendengar kabar mengenai dirimu dan Kai…” Soo Rin beralih menatap Seo Hyun. Tak mendapat suara apapun darinya, Seo Hyun kembali berucap. “Aku turut menyesal…”

“Tidak apa-apa. Kami memang sudah merasa tidak cocok,” balas Soo Rin dengan menyungging senyum. Kemudian kembali berkutat pada bacaannya.

Seo Hyun menghela napas. Keadaan menjadi sunyi kembali untuk beberapa saat.

“Tapi, Soo Rin-ah… ternyata… kau begitu dekat, ya, dengan Ryeo Wook.”

Sontak Soo Rin menoleh. Jantungnya berdegup kencang karena gugup. Tak menyangka bahwa Seo Hyun akan berkata seperti itu. Ditambah melihat mimik wajah Seo Hyun yang sudah berubah, membuat Soo Rin merasa bersalah.

“Kalian terlihat sangat akrab jika bersama,” suara Seo Hyun mengecil.

“Tolong jangan salah paham! Aku dan… Ryeo Wook… hanyalah teman pulang,” ucap Soo Rin sedikit gelagapan.

Seo Hyun terkekeh melihat reaksi Soo Rin. Mimik wajahnya tampak kembali seperti semula. “Aku mengerti. Jangan terlalu dianggap serius,” ucapnya. Membuat Soo Rin mengernyit bingung.

“Teman Ryeo Wook adalah temanku juga.” Seo Hyun tersenyum. “Tapi, apakah kau juga menganggapku sebagai temanmu?” lanjutnya.

Soo Rin tersenyum, sedikit lega sekaligus miris. Dirinya merasa senang dianggap teman, namun, ia juga merasa tidak pantas untuk menjadi teman seorang gadis yang begitu lembut seperti Seo Hyun. Teman yang diam-diam menyukai kekasihnya. Tidakkah itu namanya teman-memakan-teman?

“Um..” Soo Rin mengangguk. Diulurkannya jari kelingking ke hadapan Seo Hyun secara perlahan, berusaha agar tangannya tidak terlihat gemetar. “Urin chinguda (kita adalah teman)!” ucapnya sedikit gemetar. Berusaha menyungging senyum.

Dan dengan senang hati, Seo Hyun menerimanya dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Soo Rin. Menggoyangkannya seolah sedang berjabat tangan. Sambil berseru, “Gomawo, chinguya (Terima kasih, teman)!”

Soo Rin merasa hatinya mencelos melihat reaksi Seo Hyun yang tampak begitu senang. Merutuki dirinya yang dengan kurang-ajarnya ingin berteman dengan gadis yang sudah disakitinya secara perlahan. Merutuki dirinya memiliki perasaan yang tidak sepatutnya ada, kepada laki-laki yang sudah menjadi milik gadis di hadapannya.

Maafkan aku, Seo Ji Hyun…

 

****

:: Jam Olahraga

 

DUG

“Aw!!”

Soo Rin meringis sambil memegang sisi kanan kepalanya yang baru saja menjadi objek benturan bola basket. Seketika terdengar sorakan riuh dari para siswa yang tengah bermain basket, menyalahkan siswa bernama Lee Jong Hyun yang telah melempar bola ke arah yang salah hingga mengenai Soo Rin yang tengah men-dribble bola di pinggir lapangan sebelah.

“Soo Rin-ah, kau tidak apa-apa?” Eun Ji langsung menghampiri Soo Rin yang tengah berjongkok dan menunduk. Lalu di susul dengan dua laki-laki yang ikut berjongkok di sebelah Soo Rin. Sedangkan Soo Rin hanya mengangguk. Hampir seluruh murid mengerubunginya. “Ya! Lee Jong Hyun! Kau harus bertanggung jawab!!seru Eun Ji.

“Maafkan aku. Aku tidak sengaja,” ringis Jong Hyun sambil menggaruk kepalanya. Bingung harus bersikap bagaimana.

“Sudahlah, kembali seperti semula sebelum seonsaengnim kembali kemari!” titah laki-laki yang sedari tadi ikut berjongkok bersama Jonghyun. Mereka pun membubarkan diri hingga hanya tersisa Eun Ji, Soo Rin, dan laki-laki yang akrab dipanggil Kai.

Soo Rin kembali mengangkat kepala setelah rasa nyeri di kepalanya sedikit mereda. Mendapati Kai yang tengah menatapnya khawatir. Membuat Soo Rin sedikit tersentak.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kai.

“Um…” Soo Rin kembali menunduk.

“Menepilah! Istirahatlah sejenak. Atau kau ingin ke Ruang Kesehatan?” tawar Kai yang langsung dijawab dengan gelengan oleh Soo Rin. Kai pun memberi isyarat pada Eun Ji, yang langsung direspon dengan anggukan paham lalu dituntunlah Soo Rin untuk berdiri. Kai mulai menjauh. Meskipun sebenarnya ia ingin sekali menuntun Soo Rin bahkan menemani Soo Rin beristirahat, dirinya menyadari bahwa dia bukan siapa-siapa lagi untuk gadis itu. Akhirnya ia hanya mengawasi dari jauh.

Ryeo Wook yang baru saja kembali dari ruang guru, mendapati gadis itu tengah menyeberangi lapangan dengan dituntun oleh Eun Ji. Segera dihampirinya mereka. “Rin-ah, kau tidak apa-apa? Kau kenapa, hum?” tanyanya langsung.

“Terkena bola,” sahut Eun Ji sambil mendudukkan Soo Rin begitu sampai di bangku penonton.

Jinjja? Siapa yang melakukannya, huh?”

“Jong Hyun.”

Aishi, bocah itu…” Ryeo Wook mengalihkan tatapan kesalnya pada Jong Hyun. Tentu saja Jong Hyun tidak menyadarinya, mengingat dirinya kembali pada kegiatan semulanya. Lee Jong Hyun memang dikenal dengan siswa yang cukup ceroboh di kelas, dalam bermain bola jenis apapun. Dirinya tidak pernah yang namanya tidak menyasarkan bola di setiap permainan. Ada saja yang menjadi korban sasaran kecerobohannya. Dan kini, Soo Rin masuk ke dalam daftar korban bola-menyasar-dari-Jong Hyun.

Ryeo Wook berjongkok, memperhatikan Soo Rin yang terus menunduk dengan tangan yang masih memegangi sisi kanan kepalanya. Dengan sigap disingkirkannya tangan itu dan digantikan dengan tangannya sendiri. Menepuknya dan sedikit memutarnya. Membuat sang empu tertegun dan melongo.

“Apa yang kau rasakan, hum? Apakah masih terasa sakit?” tanya Ryeo Wook menyadarkannya. Segera ditepisnya tangan Ryeo Wook dari kepalanya. Perlahan namun sedikit dihentak.

Memang tidak berefek apapun bagi Ryeo Wook. Tapi bagaimana dengan Soo Rin yang harus kembali memompa jantungnya dua kali lipat akibat perlakuan laki-laki di hadapannya itu?

 

****

 

Pertengahan semester sudah lewat beberapa minggu lalu. Dan akan menuju ke penghujung semester dalam waktu sekitar tiga bulan di tahun ini. Menghadapi ujian akhir dan berlanjut ke tahun berikutnya, jika berhasil.

Belakangan ini, Soo Rin sering mendapati Ryeo Wook tengah merenung. Dalam kegiatan rutinnya—menghampiri Soo Rin tiap jam istirahat—terlihat Ryeo Wook menyembunyikan semangat dan cerianya. Meskipun dirinya masih selalu tersenyum dan menjahili, Soo Rin bisa membaca mata laki-laki itu yang tampak meredup. Bahkan sekarang ia selalu menemui Ryeo Wook duduk termangu di meja kantin dengan ditemani segelas minuman. Tidak seperti biasanya yang selalu mampir ke kelas 6, kelas Seo Hyun.

Dan hari ini, Soo Rin memberanikan diri untuk mendekati Ryeo Wook yang tengah mengaduk-aduk minumannya. Ryeo Wook menyambut kedatangannya dengan senyuman seperti biasa. Diletakkannya gelas minuman yang sedari tadi dipegangnya, lalu mendudukkan dirinya di hadapan Ryeo Wook. Untuk kali ini, Soo Rin tidak memesan makanan.

“Di mana Eun Ji?” sambut Ryeo Wook kemudian.

“Dia sedang di panggil ke ruang guru,” jawab Soo Rin yang dibalas Ryeo Wook dengan anggukan paham. Laki-laki itu kembali mengaduk-aduk minumannya. Meskipun wajahnya terlihat biasa saja, Soo Rin masih bisa menebak bahwa laki-laki di hadapannya tidak-sedang-biasa-saja. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Soo Rin setelah memberanikan diri.

Eoh? Menyembunyikan apa?” Ryeo Wook berbalik bertanya. Memasang wajah melongo yang disambut dengan dengusan dari Soo Rin.

“Terjadi sesuatu di antara kau dan Seo Hyun?” Soo Rin to the point. Membuat Ryeo Wook mengerjap beberapa kali sebelum pandangannya kembali tertunduk ke dalam gelas minumannya. Soo Rin yang menyadari reaksi itu hanya menghembuskan napas dan ikut menunduk, menyeruput minumannya. Dan membuat keadaan hening sejenak di antara mereka.

“Aku dan Seo Hyun… sedikit berselisih,” Ryeo Wook akhirnya berucap.

Soo Rin mengangkat pandangannya dan mendapati Ryeo Wook yang sedang merenung. Wajah sendu itu mulai tampak. Membuat Soo Rin menelan ludah.

“Belakangan ini, Seo Hyun menghindariku. Aku tidak tahu kenapa. Apakah aku sudah melakukan kesalahan? Tapi, aku merasa bahwa aku tidak melakukan kesalahan apapun yang membuatnya seperti saat ini. Dan seingatku, dia akan selalu menegurku jika aku melakukan suatu kesalahan,” keluh Ryeo Wook.

Keadaan hening kembali.

“Ah, kenapa aku jadi begini? Tidak seharusnya aku mengeluh!” seru Ryeo Wook menepis keheningan. “Rin-ah, lupakan apa yang baru saja kukatakan! Sungguh itu bukan sifatku,” gelaknya.

Soo Rin termangu memandangi Ryeo Wook. Laki-laki itu memang cepat dalam mengubah mood dan ekspresi. Namun untuk kali ini, ia tidak yakin bahwa gelak tawa laki-laki itu adalah benar-benar sebuah gelak tawa. Karena melihat mata itu tetap tidak berubah.

 

 

Soo Rin terduduk di bangku halte semenjak 30 menit yang lalu. Dengan setia dia menunggu Ryeo Wook yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Sudah tiga bus dibiarkan meninggalkannya. Karena dirinya sudah berjanji untuk menunggu Ryeo Wook, mengingat laki-laki itu kembali bersikeras padanya untuk menunggu.

40 menit telah berlalu semenjak dirinya menginjakkan kaki di halte. Dan Ryeo Wook belum juga datang. Soo Rin mulai bosan. Mendengus kesal dan menggumam, “ke mana bocah itu?”

Jangan katakan bahwa dia menipuku dan meninggalkanku pulang sendirian, batinnya gusar. Segera ditepisnya pikiran itu.

Tersadar akan sesuatu, Soo Rin merogoh saku seragamnya. Mengambil ponselnya lalu membuka flip-nya. Kenapa dia tidak mencoba menghubungi bocah itu? pikirnya. Namun setelah menemukan nomor kontak Ryeo Wook, baru ingin menekan tombol panggil, ia mengurungkan niatnya. Selama ini dirinya tidak pernah melakukan panggilan pada Ryeo Wook. Mereka hanya bertukar nomor, tidak pernah saling menghubungi satu sama lain.

Soo Rin menutup flip ponselnya dan kembali menyimpannya ke dalam saku. Kembali mendengus kesal. “Jika sampai bus berikutnya kau tetap tidak datang, maka aku akan meninggalkanmu!” cetusnya yang lebih kepada diri sendiri.

Tak lama kemudian, sebuah bus datang. Soo Rin menoleh ke arah jalanan yang sering dilewatinya dan ia tidak mendapatkan apapun. Dengan berat hati, dirinya bangkit dan mendekati bus itu. Sebelum kakinya menginjak tangga bus, Soo Rin kembali menoleh ke jalanan itu. Berharap laki-laki itu tengah berlari menghampirinya dan mengucapkan kata maaf karena telah membuatnya menunggu lama, lalu pulang bersama. Namun harapannya pupus karena jalanan itu tetap sama, kosong.

Meski ragu, Soo Rin tetap melangkah menaiki bus. Begitu busnya kembali melaju, ia menoleh kembali. Hingga busnya berbelok, ia tetap tidak mendapati laki-laki itu.

 

Drrt….drrrtt…

Soo Rin merogoh sakunya begitu dirasakan ponselnya bergetar. Matanya melebar begitu mendapati layar ponselnya menampilkan ‘Kim Ryeo Wook calling’. Sungguh, ini adalah kali pertama Ryeo Wook meneleponnya! Mau tidak mau Soo Rin kembali merasa gugup. Dengan tangan yang mulai bergetar, ditekannya tombol hijau kemudian menempelkannya ke telinga.

Yeoboseyo?

“Rin-ah, kau ada di mana? Kau sudah pulang?”

Ini benar suara Ryeo Wook! Soo Rin mendesah lega, tapi kemudian disusul dengan mendengus kesal. “Aku sedang dalam perjalanan pulang,” balas Soo Rin dibuat dingin.

“Begitu… maafkan aku. Sepertinya kau sudah menungguku sangat lama, ya?” Soo Rin tidak menjawab. Dirinya merasa aneh dengan intonasi suara Ryeo Wook. Terdengar lemah. “Tapi syukurlah kau memilih untuk pulang terlebih dahulu. Maaf, seharusnya aku mengabarimu.”

Apakah terjadi sesuatu pada bocah itu? pikir Soo Rin mulai merasa khawatir.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Soo Rin sedikit melembut. Keadaan hening di seberang sana, membuat Soo Rin khawatir. “Ya, kau masih di situ, kan?”

Soo Rin mendengar hembusan napas yang begitu panjang di seberang. Dengan sabar ia menunggu laki-laki itu bersuara. Meskipun pikirannya mulai tidak beraturan.

“Soo Rin-ah…”

Soo Rin menelan ludah. Merasa aneh dengan panggilan itu. Memang itu adalah namanya, tapi itu adalah kali pertama Ryeo Wook memanggilnya dengan nama aslinya. Ditambah dengan suara Ryeo Wook yang semakin terdengar lemah membuat dirinya bertanya-tanya. Soo Rin masih menunggu kelanjutan dari Ryeo Wook, hingga akhirnya laki-laki itu kembali membuka mulut.

“Aku—aku dan Seo Hyun… berpisah…”

Soo Rin tertegun.

 

 

-To Be Continued  

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s