Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, FF "When I Get This Feeling", Fiction, School Life, Slice of Life, Teen

When I Get This Feeling [Chapter 5]

Characters:

  • Park Soo Rin
  • Kim Ryeo Wook
  • Kim Jong In (Kai)
  • Seo Ji Hyun (Seo Hyun)
  • Jung Eun Ji
Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst
Rated    : T
Length  : Chaptered

This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~


Sebuah bus datang 15 menit setelah bus sebelumnya datang. Berhenti tepat di depan sebuah halte yang hanya diisi oleh dua pelajar Sekolah Menengah. Begitu pintu bus terbuka, segera salah satu pelajar itu menghampiri bermaksud menaikinya. Namun belum sempat kakinya menginjak tangga bus, ia berhenti dan menoleh ke belakang. Memperhatikan pelajar yang sedari tadi tidak bergerak dari posisinya dan terus menunduk memperhatikan ujung sepatunya—lagi.

“Astaga, dia benar-benar melamun lagi?” decaknya.

Pelajar laki-laki itu kembali menghampiri pelajar yang merupakan gadis yang sama itu. Memperhatikannya. Lalu berdecak kembali. “Sampai kapan dia akan seperti ini, huh?”

“Hei, Nak, kau mau naik atau tidak?” panggil sang sopir bus yang ingin segera menutup pintunya kembali.

Ye, jamshimanyo (Iya, tolong tunggu sebentar)!” jawab laki-laki itu sebelum kembali memperhatikan gadis itu. Lalu tanpa berpikir dua kali, disentuhnya lengan gadis itu. Meskipun tidak kencang bahkan tidak seperti mencekal, tetap saja membuat gadis itu tersentak kaget seperti sebelumnya. Namun bagaikan sudah terbiasa, kini laki-laki itu tidak menghiraukan keterkejutan gadis itu.

“Busnya sudah datang. Ayo naik!” ajak laki-laki itu sambil menarik sang gadis untuk naik ke dalam bus. Menuntunnya ke dua bangku yang terletak di belakang. Dan duduk berdampingan.

 

&&&

 

:: Soongshil Middle School’s Library

 

“Soo Rin-ah.

“Um?”

“Kau sedang melakukan aksi diam dengan Ryeo Wook?”

Soo Rin menghentikan aktivitas mencari bukunya dan beralih pada Eun Ji yang kini sedang menatapnya. Hanya sesaat. “Melakukan aksi diam bagaimana?” Soo Rin kembali menelaah deretan buku di hadapannya.

Eun Ji mengangkat bahu. “Terlihat dari sikapmu belakangan ini,” ucapnya yang hanya direspon dengan senyuman oleh Soo Rin. Sekilas. Eun Ji hanya mendesah dan kembali memperhatikan deretan buku di rak. “Kau juga terlihat sedang menghindari Kai.”

Tangan Soo Rin yang sedang mengabsen deretan buku di rak, terhenti di udara. Seketika tatapannya menunduk. Bukan berarti Eun Ji tidak menyadari reaksi itu. Gadis itu terus melirik memperhatikan Soo Rin.

“Tidak ada yang kuhindari darinya.” Soo Rin memeluk beberapa buku yang telah didapatinya lalu beranjak menuju meja baca. Namun baru beberapa langkah, Eun Ji sudah menahannya. Mau tidak mau Soo Rin berbalik menghadapinya.

Malhaebwa (Katakan padaku).”

Soo Rin menunduk. Tangan yang memeluk buku-buku itu mengerat. Saat ini, gadis itu sedang berdebat di dalam hati dan pikirannya. Hingga perlahan ia melepaskan tahanan Eun Ji sambil menggeleng. Pikirannya memaksa bahwa hal ini tidak perlu diungkapkan pada Eun Ji. Meskipun hatinya berkata lain. Mengangkat pandangannya, sambil memberanikan diri menatap Eun Ji kembali, ia masih menggelengkan kepala dengan pelan. Eun Ji tahu, itu adalah jawaban setengah hati.

Eun Ji menyusul Soo Rin yang sudah duduk di salah satu tempat membaca. Ikut duduk di sebelah gadis yang kini tengah membuka lembar demi lembar dari buku-buku yang didapatinya.

“Soo Rin-ah…” panggil Eun Ji. “Aku tahu, saat ini kau sedang merasa bimbang. Dan sepertinya, kau sudah mendapatkan jawabannya,” lanjutnya. Eun Ji memang tidak melihat gerakan apapun dari Soo Rin. Tapi mimik wajah gadis itu begitu terbaca. Sebelum kembali berucap, Eun Ji menghela napas. “Soo Rin-ah, uri…chingu janha… (Kita teman, kan)” ujarnya lirih. Membuat Soo Rin terhenyak dalam diam. Mengerjapkan matanya yang tiba-tiba mulai terasa basah. Kalimat yang bagaikan sihir itu, membuat hati Soo Rin meluap hingga menepis pertahanan pikirannya.

Tak perlu dipungkiri lagi… Eun Ji memang menganggap Soo Rin adalah teman. Benar-benar seorang teman. Bukan teman sekelas sekedar sapa atau bahkan teman sebangku sekedar sapa.

“Jung Eun Ji…”

“Hum?”

“Bolehkah—bolehkah aku… mengeluh?”

Eun Ji tersenyum penuh arti. Mengerti akan maksud permintaan gadis itu. Akhirnya Soo Rin ingin bercerita, pikirnya dengan bernapas lega. “Tentu saja! Aku selalu terbuka untukmu. Bagaimana jika kita mulai di waktu istirahat nanti?” tawarnya.

Soo Rin tersenyum. Meskipun tatapannya sendu, hatinya sudah dapat merasa lega walau sedikit. Juga mulai marasa tenang, ada teman yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Dan perasaannya.

 

****


Bel istirahat kedua baru saja berbunyi. Begitu selesai membereskan buku dan alat tulisnya, Ryeo Wook beralih pada seorang gadis yang masih membereskan meja belajarnya. Sudah dua hari, gadis itu terlihat tidak begitu bersahabat jika didekati. Meskipun selama ini gadis itu selalu bersikap dingin padanya, tapi tidak seperti saat ini. Auranya begitu berbeda. Membuat suasana menjadi canggung jika berada di dekatnya. Bahkan di saat pulang bersama pun gadis itu lebih memilih benar-benar diam. Dan terlihat sekali bahwa gadis itu sedang menghindarinya. Entahlah, itu terjadi semenjak kejadian Ryeo Wook menakuti gadis itu.

Apakah dia masih marah karena aku sudah menipunya dengan memakai kata ulat? pikir Ryeo Wook.

Melihat kondisi Soo Rin yang terlihat masih-tidak-mau-didekati itu terpaksa membuat Ryeo Wook melangkah langsung keluar kelas. Baru kali ini, Ryeo Wook tidak menghampiri Soo Rin sebelum melangkah keluar menghampiri Seo Hyun.

Soo Rin menghela napas panjang ketika melihat Ryeo Wook beranjak keluar kelas. Menyesali dirinya yang kembali menutup diri dari laki-laki itu. Semenjak menyadari perasaannya, dirinya kembali menjadi kaku—bahkan sangat kaku. Menutup diri dan menghindar. Selain menghindari Ryeo Wook, ia juga menghindari laki-laki yang masih berstatus sebagai kekasihnya, Kai.

Pandangan Soo Rin beralih pada Kai yang tengah berdiri dari tempat duduknya. Seperti biasa, ketika lepas dari tempat duduknya, Kai selalu beralih memandangi Soo Rin. Mendapati gadis itu juga tengah memandanginya, laki-laki itu tersenyum sebelum beranjak. Sama seperti Ryeo Wook, Kai langsung menuju pintu kelas.

Sebenarnya, Kai ingin menghampiri gadis itu. Namun melihat gadis itu tengah menghindarinya, Kai lebih memilih mengalah. Laki-laki itu telah mengetahuinya. Hanya saja ia menunggu Soo Rin yang memulainya terlebih dahulu.

“Katakanlah sebelum terlambat.” Eun Ji memulai. “Katakanlah sebelum kalian berlanjut terlalu jauh,” lanjut Eun Ji.

Soo Rin merenung. Haruskah sekarang? Apakah ini waktu yang tepat? Bagaimana jika Kai kecewa padanya, bahkan marah padanya? Soo Rin kembali gelisah.

“Jangan berpikir terlalu jauh. Kau hanya perlu mengatakan padanya. Sebelum kau benar-benar menyesal dan malah mebuatnya kecewa, Soo Rin-ah,” ujar Eun Ji.

Begitu menghembuskan napas beratnya, Soo Rin mengangguk sambil bangkit. Dengan perasaan gugup ia bergegas keluar kelas dan menyusul Kai.

 

 

Pasangan itu duduk berdampingan di kursi panjang yang tersedia di pinggir lapangan sekolah. Memandang sekumpulan siswa yang tengah bermain futsal di tengah lapangan. Mereka memang tengah memandanginya, namun pikiran mereka tidak fokus pada pemandangan itu. Sang laki-laki menunggu sembari merenungi apa yang akan gadis di sebelahnya katakan. Sedangkan sang gadis beberapa kali hanya menghela napas yang terasa berat dan berusaha menenangkan dirinya yang terus merasa gugup.

“Aku—” Soo Rin, akhirnya gadis itu mencoba membuka pembicaraan. Namun baru mengeluarkan satu kata—karena memang dirinya masih ragu, Kai, laki-laki itu ikut membuka mulut.

“Biarkan aku yang bicara terlebih dahulu,” selaknya membuat Soo Rin mengatup bibirnya dan menoleh padanya. “Maksudku, biarkan aku yang bicara hingga akhir. Kau hanya perlu mendengarkan,” lanjutnya yang kemudian menghela napas panjang.

“Seharusnya, sejak awal aku sudah memastikan bahwa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dan seharusnya, aku menyadari bahwa bagaimana pun aku meminta, kau tetap akan menjawab ‘iya’… karena kau gadis yang berperasaan tidak-tega-untuk-menolak-sesuatu. Tapi aku malah tetap memintamu untuk menerimaku.” Kai menyungging senyumnya dengan paksa.

“Kau tahu, saat aku menanyakan soal kenyamananmu bersamaku? Saat itu, sebenarnya, aku mulai menyadari bahwa kau merasa tidak nyaman bersamaku.”

Soo Rin mencoba membuka mulut, tapi terasa begitu kelu. Segala kalimat yang sudah disusunnya, hilang begitu saja semenjak tuturan kalimat Kai terdengar. Kedua tangannya yang saling bertautan kini saling meremas satu sama lain.

“Meskipun aku merasa begitu bersalah karena sudah memaksamu, aku juga merasa senang karena kau mau bersamaku… walau hanya dalam waktu yang sangat singkat.” Kai melanjutkan. Lagi-lagi dirinya menghembuskan napas panjang dan beratnya, sebelum ia melanjutkan kalimatnya kembali. Meski ini begitu berat… dan ini bukan keinginannya. “Cah, karena aku yang memulai semuanya, kini biarkan aku juga yang mengakhirinya…”

Kai bangkit dari duduknya, lalu beralih ke hadapan Soo Rin serta merendahkan tubuhnya hingga menekuk salah satu lututnya sebagai tumpuan. Menatap lekat Soo Rin yang kini nampak lebih tinggi darinya dan tengah menunduk. Menyungging senyum teduh dan juga sendu. Lalu berkata, “Park Soo Rin, uri… he-eo-ji-ja… (ayo kita putus)”

Sontak Soo Rin menatap laki-laki yang kini tengah tersenyum miris kepadanya. Seketika rasa bersalah menyelimuti dirinya. Merutuki dirinya yang telah membuat laki-laki itu kecewa. Tapi, inilah perasaannya. Inilah yang ingin ia katakan sebelum laki-laki itu yang memulainya.

Uri geumanhaja (ayo kita akhiri),” lirih Kai. Meskipun ia tahu bahwa ini bukan keinginannya, ini menyakitinya, tapi ini demi gadis di hadapannya. Merasa percuma jika dirinya terus menggenggam gadis yang tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Walaupun dia tahu—sangat tahu—bahwa dia begitu menyukai gadis ini.

Ne…

Kai tidak beralih dari Soo Rin. Meskipun saat ini dadanya terasa begitu nyeri, tapi dirinya tetap berusaha menyungging senyum manisnya meskipun pada akhirnya terlihat begitu miris. “Barusan kau menjawab ‘iya’?” tanyanya. Seperti di saat ia mengungkapkan perasaannya dulu.

Begitu pula Soo Rin, yang menjawab dengan anggukan pelan dan berusaha ikut menyungging senyum. Namun yang ada dirinya malah meneteskan air mata yang sudah membumbung di pelupuk mata sejak tadi. Seandainya saat ini mereka sedang dalam kondisi lain dan masih dalam hubungan kasih, Kai pasti sudah menghapus anak sungai yang mengalir di kedua pipi kemerahan gadis itu… dan memeluknya.

“Jangan menangis! Aku tidak membawa sapu tangan,” kekeh Kai mencoba mencairkan suasana sambil mengacak rambut Soo Rin sebentar. Sangat sebentar. Hanya itu yang dapat dilakukannya. “Maafkan aku… karena sudah menekanmu selama ini. Tapi setelah ini, kuharap kita masih bisa menjadi teman.”

Soo Rin kembali mengangguk. Menghapus air matanya dengan punggung tangannya. “Maafkan aku…” lirih Soo Rin. Hanya itu yang sanggup diucapkannya. Kai menggelengkan kepala. Baginya, gadis itu tidak memiliki salah apapun padanya. Tapi dia merasa bahagia kerena kesempatan yang dia dapat.

“Terima kasih,” ucap Kai.

 

****

 

“Rin-ah!

Soo Rin tersentak mendengar panggilan itu. Rasanya sudah lama dirinya tidak mendengar panggilan dari mulut laki-laki bersuara cempreng itu. Meskipun dirinya ingin merespon, namun tubuhnya terus bergerak menelusuri jalan kecil yang biasa dilewatinya untuk menuju halte. Meskipun hentakan kaki itu makin terdengar mendekat, dirinya tidak menghentikan langkahnya. Hingga orang yang memanggil namanya mendahuluinya lalu berhenti di depannya dan menghadapnya, barulah ia ikut berhenti.

Wae (kenapa)?!” ketusnya.

“Hei, kau masih marah padaku?” tanya Ryeo Wook memelas. Membuat Soo Rin mendengus kesal.

“Kau hanya ingin bertanya soal itu?” Soo Rin kembali melangkah meninggalkan Ryeo Wook.

“Bukan! Aku ingin bertanya kenapa kau putus dengan Kai!”

Soo Rin berhenti. Kedua tangannya mengepal. Saat ini suasana hatinya sedang turun. Semenjak berpisah dari Kai, dirinya masih merasa bersalah pada laki-laki itu. Dan kini bocah itu menambah suasana hatinya lebih menurun dengan kalimat yang menurutnya tidak patut untuk dibahas saat ini.

“Apa pedulimu? Ini tidak ada sangkut pautnya denganmu. Lebih baik kau urusi hubunganmu sendiri!” ketus Soo Rin sengit lalu melangkah lagi.

“Rin-ah!” Ryeo Wook meraih lengan Soo Rin yang membuat gadis itu kembali merasakan desiran aneh dan membuat jantungnya berdetak di atas normal. Segera ditepisnya tangan Ryeo Wook dan memelototi laki-laki itu. Tiba-tiba saja napasnya memburu. Takut ketahuan, Soo Rin berjalan cepat meninggalkan Ryeo Wook kembali. Membuat laki-laki itu geram seketika mendapati reaksi-tak-peduli dari Soo Rin.

YA, PARK SOO RIN!

Soo Rin terkesiap. Tubuhnya mematung seketika. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Baru kali ini—kali pertamanya—Ryeo Wook memanggil nama lengkapnya, yang seketika membuat gadis itu menegang.

Melihat reaksi itu, Ryeo Wook segera menghampiri dan kembali menghadapnya. Terlihat laki-laki itu sedikit terengah. “Ada apa denganmu, huh?” tanyanya kini dengan suara rendah dari sebelumnya. “Kau selalu menghindariku tanpa sebab. Apakah kau masih marah karena insiden aku menakutimu? Aku kan sudah meminta maaf padamu. Apakah kau tidak mau memaafkanku, hum?” pelas Ryeo Wook.

“Bukan—bukan itu…” lirih Soo Rin. Tatapannya terus tertunduk.

“Lalu karena apa? Apakah karena Kai? Hei, apakah Kai telah menyakitimu sampai kau menjadi seperti ini, hum?”

“Bukan…”

“Katakan saja. Jangan membuatku bingung, Rin-ah…

Mata Soo Rin memanas. Merutuki Ryeo Wook yang tidak mengerti juga akan dirinya saat ini. Batinnya bergejolak dan berteriak.

Aku menyukaimu, dasar bocah bodoh!

Soo Rin mendengus kasar demi menahan sesuatu menyeruak mengalir dari pelupuk matanya. Menatap tajam Ryeo Wook meski hanya sebentar sebelum langkahnya kembali terbuka. Namun baru tiga langkah, lengannya kembali diraih Ryeo Wook. Maksud ingin menyemprot bocah itu, bibir Soo Rin keburu kelu begitu mendapati tatapan Ryeo Wook yang telah berubah. Tatapan yang jika mulut itu sudah berucap, tidak akan sanggup untuk dibantah.

“Kau tidak terlihat baik. Aku akan mengantarmu sampai depan rumahmu.”

Soo Rin mencelos!

 

 

-To Be Continued


 

Di di di diddy Bang Bang!! Uuuuwwiiiiiii~~

Annyeonghaseyo! 

Jujur, di chapter ini saya mentok sampe di situ. Rasanya kalo disambungin lagi malah jadi kepanjangan. Yasudah saya cut aja. Heu… padahal pengennya tuh biar ngga kebanyakan chapter, takut bertele-tele dan malah ngebosenin u_u Tapi sepertinya, untuk selanjutnya, bakal ada beberapa chapter yang bakal saya rangkap jadi satu di sini. Hehet!

Segini dulu deh._. lewat tengah malam nanti, dilanjutkan lagi menyalinnya. Ingat ya, FF ini teh udah pernah saya publish di fp fb (?) #krikrik.__.

Yosh! Terima kasih sudah mampir~^-^

 

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s