Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, FF "When I Get This Feeling", Fiction, School Life, Slice of Life, Teen

When I Get This Feeling [Chapter 4]

Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ryeo Wook
  • Kim Jong In (Kai)
  • Seo Ji Hyun (Seo Hyun)
  • Jung Eun Ji
Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst
Rated    : T
Length  : Chaptered

This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~


 

“Menurutmu, bagaimana rasanya ketika kita sedang menyukai seseorang?”

“Hm.. kita akan merasa senang jika dia memberikan perhatiannya pada kita. Merasa gugup alias berdebar-debar jika dia sedang menatap apalagi menyentuh kita. Merasa nyaman jika dia sedang di dekat kita. Dan pasti akan merasa tidak senang jika dia dekat dengan gadis lain—alias cemburu.”

“Bagaimana jika dia memang sudah memiliki gadis lain? Apakah kita akan merasakan cemburu itu?”

“Tentu saja. Dan sangat mungkin jika kita menangis karena dia sudah menjadi milik orang lain.”

“Begitu… lalu, seperti apa rasanya jika kita sedang cemburu?”

 

&&&

 

“RIN-AH!!

Aku mendengus kasar begitu suara cempreng itu berseru memanggilku. Siapa lagi jika bukan bocah bernama Kim Ryeo Wook itu? Meskipun aku sudah menerima akan panggilan itu, tetap saja aku belum bisa beradaptasi dengan suaranya yang terdengar membahana di telingaku. Tidak bisakah dia santai sedikit ketika memanggilku? Benar-benar.

“Hei, Rin-ah! Kenapa kau meninggalkanku kemarin, huh?”

Pertanyaan tiba-tiba itu membuat ingatanku kembali berputar akan kejadian kemarin. Yang secara tiba-tiba pula membuatku harus mengepalkan tanganku yang sedang memegang pensil dan meremasnya. Rasa nyeri itu kembali datang hingga membuatku bernapas pendek. Dan kuharap aku tidak merasa ingin menangis juga.

Kupandang dirinya yang sudah duduk di hadapanku dengan gusar menunggu penjelasan. Kemarin, tak lama setelah aku sampai halte, sebuah bus datang dan langsung saja aku menaikinya. Saat itu aku tidak ingin menunggunya bahkan melihat dirinya. Aku tidak tahu mengapa.

Bahkan saat ini aku merasa ingin menghindarinya…

“Hei, jawab aku! Kenapa kemarin kau meninggalkanku? Apakah kau sedang terburu-buru? Atau penyakit melamunmu sudah sembuh, huh?”

Geurae (benar)! Penyakit melamunku sudah sembuh total. Ditambah menunggumu yang tidak muncul-muncul juga membuatku merasa bosan! Jadi aku pulang begitu saja!”

Aku bangkit dari tempat dudukku dengan kasar hingga membuat kursiku berdecit keras. Kulihat dirinya memandangku dengan wajah melongonya yang terlihat konyol itu. Tanpa menunggu jawaban darinya, aku melangkah keluar kelas. Kusadari bahwa berbagai pasang mata di kelas ini memperhatikanku. Dan kusadari pula bahwa kelakuanku barusan terjadi bukan keinginanku. Aku tidak tahu kenapa aku emosi secara tiba-tiba. Bahkan aku tidak tahu apa tujuanku untuk keluar kelas saat ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menghindar.

“Soo Rin-ah?

Kuhentikan langkahku dan mendapati Jong In sedang berdiri tidak jauh di hadapanku. Melihat dirinya yang memanggul sebelah tasnya dengan kedua tangan bersembunyi di dalam saku celananya dan mulai menampakkan senyum andalannya setelah sedikit melongo karena mendapatiku. Lalu mendekatiku.

“Tumben sekali menemuimu sedang keluar kelas sebelum jam sekolah dimulai? Mau ke mana?” tanyanya begitu sampai tepat di hadapanku. Membuat dirinya sedikit menunduk untuk dapat melihatku, begitu juga aku yang harus sedikit mendengak untuk melihat wajahnya meskipun hanya sebentar.

“Toilet,” jawabku setelah sedikit berpikir. Mengingat sebenarnya aku tidak punya tujuan ke luar kelas. Setelah memberikan sedikit senyuman untuknya, kulangkahkan lagi kakiku. Ke toilet. Namun dua langkah setelah aku melewatinya, aku terhenti karena merasakan sebuah tangan menyentuh lengan kananku dan menahanku. Membuatku menoleh ke belakang dan mendapati bahwa Jong In yang melakukannya.

“Selamat pagi!” ucapnya sambil menampakkan senyumnya lagi. Dan kini tangan yang menyentuh lenganku beralih ke puncak kepalaku dan menepuknya pelan. “Cepatlah kembali karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi! Biasanya gadis akan berlama-lama di toilet meskipun tujuannya hanya untuk mencuci tangan,” lanjutnya dengan kekehan.

Aku hanya bisa tertunduk malu. Bukan karena ucapannya, melainkan perilakunya kepadaku. Ini di luar kelas dan banyak murid yang sedang berlalu-lalang!

“Rin-ah!

Kuangkat kepalaku dan mendapati bocah itu muncul lalu berhenti di ambang pintu kelas. Apakah dia ingin menyusulku? Lalu kenapa hanya sampai situ? Kenapa tidak langsung menghampiriku yang masih berdiri di sini? Kenapa hanya melihatku?

Benar juga. Aku kan sedang bersama Jong In.

Kumundurkan tubuhku hingga tangan Jong In yang masih betah menepuk kepalaku terlepas begitu saja. Detik kemudian aku mulai merasa tidak nyaman dengan posisiku. Aku tidak mengerti. Seperti habis tertangkap basah dan melakukan suatu kesalahpahaman. Tapi, memang apa salahnya jika aku sedang bersama Jong In? Kami kan pasangan?

Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku merasa bimbang seperti ini?

“Sampai nanti,” pamitku sambil menunduk. Tak berani menatap Jong In maupun bocah itu. Lalu membuka langkah menjauhi mereka. Bahkan sampai berlari.

Dan sekarang, aku merasa ingin menghindari Jong In juga…

 

****

 

“Park Soo Rin?”

Soo Rin yang sedang berkutat dengan comicnya mendengak merasa namanya dipanggil. Dan mendapati seorang gadis berambut panjang lurus tergerai sedang sedikit membungkuk dan mengamati wajah Soo Rin demi memastikan bahwa dugaannya benar.

“Seo Hyun-sshi?

Gadis yang dipanggil Seo Hyun itu tersenyum anggun sebelum menarik kursi di sebelah Soo Rin lalu mendudukinya. Meletakkan buku-buku yang baru saja diambilnya dari beberapa rak. “Kau gemar mampir ke perpustakaan, ternyata?” sapanya kemudian.

“Tidak juga.” Soo Rin tersenyum. “Begaimana denganmu sendiri?”

“Aku tidak suka berkeliaran. Hanya saja saat ini aku sedang mendapat tugas yang membuatku harus mampir kemari,” kekehnya. “Kau benar-benar suka membaca comic, ternyata?”

Soo Rin mengangguk dengan kening sedikit berkerut. Sedikit janggal dengan pertanyaan Seo Hyun barusan. Yang membuat Seo Hyun tersenyum lagi. “Ryeo Wook bercerita padaku mengenai kegemaranmu membaca comic beraliran misteri.”

“Aah, begitu…” Soo Rin meringis. Batinnya merutuki Ryeo Wook yang seenaknya bercerita mengenai dirinya pada orang lain, terlebih pada Seo Hyun. Dan mengatakan bahwa comic yang selalu dibacanya adalah comic misteri. Memangnya Death Note merupakan comic misteri? Death Note hampir sama seperti Detective Conan, gerutunya dalam hati. Ah, tapi Detective Conan berisi pemecahan kasus yang misteri. Itu artinya memang beraliran misteri, begitu juga dengan ini… Benar juga, batin Soo Rin membenarkan.

“Kudengar kau berkencan dengan siswa yang bernama Kim Jong In,” ucap Seo Hyun yang menyadarkan Soo Rin dari gerutuan batinnya.

“Um.. iya,” jawab Soo Rin membenarkan.

“Sudah berapa lama?”

“Satu minggu.”

“Apakah dia memperhatikanmu dengan baik?”

Soo Rin menatap Seo Hyun sejenak. Merasa bingung dengan pertanyaan Seo Hyun. Bahkan gadis itu masih tersenyum menunggu jawaban. Soo Rin pun mengangguk. “Sangat baik.”

“Syukurlah. Mendengar kabar mengenaimu membuatku sedikit khawatir. Bahkan Ryeo Wook juga begitu. Mengingat akan sifatmu yang sepertinya begitu pendiam.”

Soo Rin mengerjap tidak mengerti. Apa maksud perkataan Seo Hyun? Bahkan bisa dilihat bahwa gadis itu menghela napas lega dan menyungging senyum lebih lebar dari sebelumnya. Untuk apa gadis itu khawatir mengenai hubungannya dengan Kai? Dan barusan dia bilang apa? Ryeo Wook juga begitu? Maksudnya, khawatir juga?

“Kau sedang menunggu Ryeo Wook, kan?”

Eoh?” Soo Rin tersentak mendapati pertanyaan itu. Dari mulut Seo Hyun. Memang bisa dikatakan seperti itu. Setelah kejadian pagi tadi, Ryeo Wook bersikeras menyuruhnya untuk menunggu sampai laki-laki itu selesai berlatih basket. Sebagai ganti karena kemarin Soo Rin sudah meninggalkan laki-laki itu, alasan Ryeo Wook.

“Ryeo Wook juga bercerita jika kalian selalu pulang bersama karena memiliki arah pulang yang sama.” Seo Hyun tersenyum. Lagi-lagi membuat Soo Rin mengerutkan keningnya. “Apakah Ryeo Wook menjagamu dengan baik?” tanya Seo Hyun yang membuat Soo Rin mencelos.

Kenapa dia bersikap seperti itu? Kenapa dia mengajukan pertanyaan seperti itu? Kenapa dia menanyakan tentang diriku, bukan tentang bocah itu? pikir Soo Rin.

“Ceritakan saja padaku jika kau merasa tidak nyaman dengan Ryeo Wook,” lanjut Seo Hyun.

Tidakkah itu aneh?

 

****

 

“Kau suka Jjajangmyun?

Soo Rin mendengakkan kepala dengan tangan yang sedang menyumpit jjajangmyun dan baru ingin dimasukkan ke dalam mulut. Mendapati Kai sudah duduk di hadapannya dengan bertopang dagu, dan memandanginya—dengan senyum manisnya. “Kuperhatikan setiap pergi ke kantin kau selalu membelinya,” lanjut Kai.

“Bukankah semua orang menyukainya?” tanya Soo Rin sambil mengaduk-aduk jjajangmyun-nya.

“Tapi aku lebih menyukai udon dibandingkan jjajangmyun.” Kai menyengir.

“Benarkah?” Soo Rin terkekeh melihat cengiran Kai, membuat laki-laki itu terpana melihat reaksi Soo Rin. Reaksi yang jarang—bahkan mungkin belum pernah dilihatnya. Hingga tanpa sadar, Kai menampakkan senyum yang penuh arti.

“Um..” Kai mengulurkan jari telunjuknya hingga menyentuh dahi berponi Soo Rin lalu sedikit mendorongnya hingga membuat sang empu terpana. “Jangan terlalu sering memakannya. Jjajangmyun memang makanan yang sehat, tapi setidaknya makanlah nasi, hum?” Kai menasehati. “Terlebih kau tidak pernah makan lagi setelah istirahat ini sampai pulang sekolah. Ini masih jam sarapan dan kita selalu pulang sore. Jjajangmyun tidak bisa mengganjal perut untuk waktu yang sangat lama,” lanjutnya.

“Aku masih bisa menahan lapar. Lagipula, aku sudah tidak bernafsu untuk makan jika sudah waktu siang,” kilah Soo Rin.

“Yang tidak bernafsu itu mulutmu, tapi perutmu sangat membutuhkannya. Eii, pantas saja tubuhmu kurus seperti itu. Jelas sekali pola makanmu tidak teratur.” Kai berdecak heran. Membuat Soo Rin memajukan bibirnya.

“Hei, jangan cemberut seperti itu! Kau ingin kucium, huh?”

Soo Rin tersentak hingga secara refleks ia menutup mulut rapat dengan kedua tangannya. Membuat Kai tertawa geli melihat reaksi Soo Rin yang berlebihan itu. “Nongdamiya (Aku bercanda)! Aku tidak akan melakukannya sebelum kita beranjak dewasa.”

Soo Rin menunduk. Tangannya kembali mengaduk-aduk jjajangmyun. Lagi-lagi dirinya merasa gelisah. Sebenarnya sejak Kai datang, dirinya sudah merasakan itu. Namun, mendengar Kai berkata seperti itu membuatnya berpikir, apakah dirinya akan terus bersama laki-laki itu hingga beranjak dewasa?

Ehem! Sepertinya dunia sudah milik kalian berdua. Sampai-sampai aku tidak dianggap ada,” sahut Eun Ji yang sedari tadi duduk di antara mereka dan hanya mengamati dalam diam.

“Ahaha, maaf! Aku sudah mengganggu waktu makan kalian,” ringis Kai sambil menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal.

“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja! Aku sudah selesai,” timpal Eun Ji sambil berdiri dari duduknya. Soo Rin menatap Eun Ji dengan cemas. Cemas sudah sempat melupakannya, cemas pula karena Eun Ji akan meninggalkannya bersama Kai. Eun Ji yang menyadari tatapan itu hanya tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya. Mencoba memberikan kesempatan untuk Soo Rin, untuk memastikan. “Antarkan Soo Rin sampai kelas. Jangan tinggalkan dia sendirian, mengerti?” peringat Eun Ji.

“Tidak akan!” jawab Kai mantap.

 

 

“Soo Rin-ah.

Soo Rin mendengak dari aktifitas minumnya dan menatap Kai. Baru saja dia menyelesaikan makannya. Laki-laki itu tidak pernah mengalihkan perhatiannya pada Soo Rin. Hanya saja, kini tatapannya berbeda dari sebelumnya. Jikalau sebelumnya ia terlihat begitu ceria, kini lebih terlihat sendu.

“Apakah kau merasa nyaman bersamaku?”

Soo Rin merasakan tubuhnya menjadi kaku. Sontak tatapannya beralih dari Kai menjadi menatap gelas minumnya. Bahkan mulutnya tidak bisa digerakkan. Dia tidak bisa menjawab!

“Tidak apa-apa. Jika kau merasa begitu, katakan saja. Sebelum kita berlanjut lebih jauh lagi.”

Soo Rin memberanikan diri untuk kembali menatap laki-laki di hadapannya. Kai, laki-laki itu kembali menyungging senyum manisnya meskipun tatapannya belum berubah. Mengulurkan sebelah tangannya, lalu mendaratkan telapak tangannya di puncak kepala Soo Rin. Mengelusnya dengan lembut—lebih tepatnya berhati-hati. Takut gadis di hadapannya merasa tidak nyaman. Seperti yang pernah dia lakukan saat itu, di pagi hari, ketika mereka bertemu di depan kelas.

Tidak sampai 5 detik, Kai melepasnya. “Jangan merasa tegang seperti itu! Aku hanya ingin kita saling introspeksi,” ucapnya berkilah. Kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Ayo! Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi,” ajaknya.

Soo Rin yang terus menunduk semenjak Kai menyentuh puncak kepalanya, akhirnya ikut berdiri dan melangkah mengikuti laki-laki itu. Namun baru 3 langkah, dirinya dikejutkan dengan sebuah tangan menggenggam tangan kirinya dengan lembut. Begitu mengangkat kepalanya, didapatinya Kai yang sedang menunduk demi menatap dirinya dengan senyum.

“Kita belum pernah seperti ini, kan?” tanya Kai sambil mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Soo Rin. Melihat reaksi gadis itu—memasang wajah melongonya yang lugu—membuat Kai terkekeh geli. Kemudian ia menarik gadis itu dan menuntunnya menuju kelas mereka. Sontak pemandangan itu mengundang perhatian para murid. Tentunya dan terutama para siswi seangkatan menyoraki pasangan itu tanda mereka iri.

Soo Rin menunduk kembali. Pikirannya melayang.

Kenapa aku tidak merasakan seperti apa yang pernah Eun Ji katakan padaku?

 

****

 

“Hwaa! Ada ulat di pundakmu!!”

“Kyaaaaaaa!!!!”

Kutepuk-tepuk kedua pundakku dengan keras bermaksud menyingkirkan binatang menggelikan yang katanya hinggap di pundakku. Sungguh aku sangat tidak suka binatang melata berbulu yang bernama ulat! Bahkan mengingat namanya saja sudah membuatku merinding.

“Di mana? Di mana?? Tolong singkirkan binatang itu!!” jeritku tertahan. Aku melompat-lompat berharap binatang itu jatuh.

“Hahahahahaha!!”

Ya! Singkirkan binatang itu!!” jeritku lagi. Astaga kenapa dia tidak mau membantuku menyingkirkannya?

“Hei, tenanglah! Tidak ada ulat. Aku hanya bercanda.”

Mwo?” kupandangi dirinya yang masih tertawa. Benar saja, emosiku kembali tersulut. Lihat, tertera sekali bahwa dirinya benar-benar sedang mengejekku. “Dasar bocah menyebalkaaaaann!!!!” kutendang betisnya dengan kesal.

“AKH!!”

Sesaat aku merasa tindakanku sudah berlebihan melihat dirinya begitu merintih kesakitan. Tapi itu tak sebanding dengan rasa kesalku karena sudah dijahili (lagi) olehnya. Ini sudah keterlaluan! Tidak tahukah dia bahwa aku benar-benar tidak suka ulat! Ugh, menyebut namanya saja aku merinding!

“Kau pikir itu lucu? Kau ingin membuatku menangis, huh?!”

“Kau memang sudah menangis.”

Aku tediam. Baru kusadari bahwa mataku terasa basah. Dan benar saja, begitu kusentuh pipiku, memang sudah terasa basah. Terkejut, aku pun berbalik memunggunginya. Astaga, aku menangis? Bodohnya aku! rutukku. Yang benar saja aku menangis di hadapannya? Dia pasti akan menyebutku cengeng.

“Sepertinya, kau memiliki kenangan yang buruk bersama ulat, ya?” tanyanya terdengar lucu.

“Jangan sebut nama itu di dekatku!” protesku sambil mengusap kedua mataku. Kubuka langkahku. Melanjutkan perjalananku.

“Aku tidak tahu bahwa kau ternyata tidak menyukai binatang itu,” ucapnya setelah menyusulku dan berjalan di sampingku. Aku tidak meresponnya dengan terus menghadap ke depan. Hingga terdengar suara helaan napas panjang darinya. “Sepertinya aku sudah kelewatan, ya?”

Kuhentikan langkahku. Memutar tubuhku hingga menghadapnya. Dan menatapnya sengit. “Bukan ‘sepertinya’ lagi, tetapi ‘memang’ sudah kelewatan!!” semprotku.

Kembali kulangkahkan kakiku. Kini dengan menghentakkannya. Sungguh aku sudah merasa sangat kesal. Dengan wajah tidak bersalahnya, dia mengatakan bahwa sepertinya dia sudah kelewatan? Terdengar sekali bahwa dia tidak merasa bersalah atau sekedar menyesal. Apakah bocah ini tidak memiliki kepekaan? Bagaimana dengan nasib Seo Ji Hyun yang memiliki kekasih tidak sepeka Kim Ryeo Wook?

Grep

Aku terkejut begitu merasakan pergelangan tanganku disentuh. Tidak hanya disentuh, tapi seperti… ada yang menggenggam pergelangan tanganku. Tunggu, kenapa tiba-tiba jantungku berdetak kencang seperti ini? Seperti aku sudah mengetahui siapa yang menyentuh pergelangan tanganku. Yah, memang siapa lagi yang ada di sekitarku?

Kutolehkan ke belakang hingga mendapatinya yang tengah berdiri di belakangku. Dan kulihat sebelah tangannya sedang… menggenggam pergelangan tanganku?

“Maaf…”

Kutatap dirinya—yang sedang memasang wajah menyesalnya… apa, dia menyesal? Kualihkan tatapanku menuju tanganku yang tengah digenggamnya. Astaga, dia benar-benar menggenggamnya? Kenapa—kenapa aku… menjadi berdebar-debar seperti ini?

“Maafkan aku…”

Kuberanikan untuk kembali menatapnya. Bagaikan dikejutkan dengan aliran listrik, aku merasa jantungku ingin lepas dari tempatnya. Merasakan sesuatu mengalir hingga ke kepalaku dan membuat wajahku memanas. Ada apa ini? Aku kenapa? Bahkan aku tidak bisa mengedipkan mataku.

Ctik

Aku mengerjap kaget. Baru saja dirinya menjentikkan jari di hadapanku. Dan kini kulihat dirinya menatapku bingung.

Ya, kau melamun lagi?” Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menggerakkan mulutku. Bahkan aku merasa sebagian nyawaku melayang entah ke mana. Dan aku masih merasakan hal yang sangat aneh ini. “Rin-ah, wajahmu memerah. Kau kenapa? Apa kau merasa tidak enak badan?” tanyanya lagi. Kulihat tangannya yang lain bergerak ke arahku dan mendarat di dahiku.

Bagaikan dikejutkan aliran listrik lagi, kali ini kutepiskan kedua tangannya yang menyentuhku sekaligus. Kusadari bahwa dia juga terkejut. Namun aku tak menghiraukannya, dengan kembali berbalik ke depan dan berlari meninggalkannya.

“Rin-ah!!

Aku tidak peduli dengan panggilannya. Dadaku masih bergemuruh aneh—berdebar-debar dengan kencangnya. Bahkan aku masih merasakan sentuhannya, seperti tertinggal di pergelangan tanganku… dan juga dahiku. Gila! Ada apa denganku?

“Menurutmu, bagaimana rasanya ketika kita sedang menyukai seseorang?”

“Hm.. kita akan merasa senang jika dia memberikan perhatiannya pada kita. Merasa gugup alias berdebar-debar jika dia sedang menatap apalagi menyentuh kita…”

Terngiang dengan perkataan Jung Eun Ji saat itu, aku terkesiap. Seketika aku berhenti berlari. Merenung… Tanpa komando ingatanku berputar ke masa lalu. Saat-saat aku bersamanya, saat-saat dia menjahiliku, saat-saat dia menyentuh puncak kepalaku, saat-saat dia tersenyum kepadaku… dan saat dia menyentuh pergelangan tangan dan juga dahiku tadi—

 

Aku—aku menyukainya? Aku menyukai Kim Ryeo Wook?

 

 

-To Be Continued


 

Gyaaaaaaaaaaaa apa ini?!

Ah, annyeonghaseyo! ^^ Sebelumnya terima kasih sudah setia/? membaca FF debut(?)an saya, yang ngga ada bau-bau romantisme seperti FF lainnya, yang ngga ada lucu-lucunya seperti yang lainnya, yang flat lah intinya ;w; hehe

Maaf, di chapter ini Ryeo Wook cuma jadi pembuka dan penutup, bukan isinya.. Justru malah Kai yang mendominasi, jadi kayak bukan FF Ryeo Wook, kan? Gomennasai…mianhaeyo…sorry.. TwT (?) Ryeo Wook masih jadi kayak figuran di sini -__- Hehet!

Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s