Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, FF "When I Get This Feeling", Fiction, School Life, Slice of Life, Teen

When I Get This Feeling [Chapter 3]

Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ryeo Wook
  • Kim Jong In (Kai)
  • Seo Ji Hyun (Seo Hyun)
  • Jung Eun Ji
Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst
Rated    : T
Length  : Chaptered
Author  : Park Soo Rin

This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~


Begitu bel istirahat berbunyi, Ryeo Wook selalu menghampiri meja Soo Rin. Melancarkan aksi jahilnya yang sudah menjadi rutinitas tiap hari. Bahkan sudah tak tanggung-tanggung lagi, Ryeo Wook sudah terbiasa menoyor bahkan hingga menyentil dahi putih Soo Rin yang membuat sang empu semakin naik pitam jika sudah disentuhnya. Juga mulai terbiasa mengusap gemas puncak kepala gadis itu hingga mengacak-acak rambutnya.

Ditambah, mereka yang memiliki arah menuju pulang yang sama membuat mereka selalu pulang bersama, meskipun Ryeo Wook yang terlebih dahulu sampai. Bahkan dengan setia kawannya Ryeo Wook mau menunggu di saat Soo Rin ada keperluan sebelum pulang. Berbanding dengan Soo Rin yang masih kaku dan tidak tahu dalam bersikap menunggu. Jika Ryeo Wook tidak memulai duluan seperti halnya mengajak pulang bersama, dia akan jalan sendiri. Namun, entah memang sudah seharusnya bersama, Ryeo Wook pasti masih bisa menemukan Soo Rin. Mengingat gadis itu yang belum menghilangkan kebiasaan mengosongkan pikiran alias melamun saat sendirian. Jika tidak ada Ryeo Wook, entah sampai kapan gadis itu akan terus berdiri memandangi ujung sepatunya di halte.

Mungkin bagi Ryeo Wook, itu adalah hal biasa. Perlakuan teman terhadap teman. Tapi bagaimana dengan Soo Rin? Yang sebelumnya tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu. Berteman dengan laki-laki pun tidak pernah. Selain kesal, gadis itu juga mulai terbiasa, merasa nyaman, mulai merasakan hal yang tidak seharusnya ia rasakan. Mengingat laki-laki itu sudah memiliki gadis yang dipujanya.

Mengingat akan hal itu, Ryeo Wook mulai mengurangi waktu kebersamaannya dengan Soo Rin. Meskipun rutinitasnya tetap berjalan tapi sudah tidak sepenuhnya. Mungkin tidak sampai 5 menit laki-laki itu akan beranjak ke luar kelas dan berlari menghampiri kekasihnya. Begitu pula saat pulang sekolah. Laki-laki itu akan pergi entah ke mana sebelum menyusul Soo Rin yang sudah sampai terlebih dahulu dan sudah melamun di halte.

Mungkin bagi Ryeo Wook, itu hal yang wajar. Tapi bagaimana dengan Soo Rin yang sudah mulai terbiasa kemudian sedikit demi sedikit rutinitas itu berubah?

 

****

 

“Park Soo Rin-sshi.”

Merasa namanya dipanggil, gadis itu menoleh dan mendapati seorang laki-laki sedang berdiri di samping meja belajarnya. Dia adalah siswa yang duduk di belakang Ryeo Wook, Kim Jong In.

Merasa dirinya sudah ditanggapi, Jong In yang memiliki nama panggilan adalah Kai, mulai merendahkan tubuhnya hingga sebelah lututnya menyentuh lantai sebagai tumpuan. Melipat kedua tangannya dan menumpuknya di atas meja Soo Rin. Memandang Soo Rin.

Nan neol johahae (Aku menyukaimu)!”

Seketika suasana kelas yang belum seluruh muridnya keluar kelas menjadi riuh. Menyoraki keberanian Kai yang memang sudah diketahui menyukai gadis itu sejak hubungan yang sebelumnya telah berakhir. Sedangkan Soo Rin, gadis itu tertegun. Ini adalah kali pertama bagi dirinya mendapat pengakuan terbuka seperti itu dari seorang laki-laki.

“Maukah kau menerimaku?” Kai menjatuhkan kepalanya di atas meja Soo Rin sambil tetap menatap gadis itu dan mengeluarkan senyum manisnya. Membuat para siswi yang menyaksikannya memekik gemas. Kai memang termasuk dalam deretan siswa termanis menurut para siswi di angkatan ini.

“Terimalah. Dia laki-laki yang baik dan serius. Kujamin itu,” bisik Eun Ji dengan menyenggol pelan lengan Soo Rin. Jangan salah jika Eun Ji berani menjamin, ingat bahwa dia adalah gadis berteman luas hingga mengenal hampir seluruh murid di angkatan ini.

Soo Rin merasa ragu. Secara perasaan, hatinya belum siap menerima perlakuan yang menurutnya terlalu frontal seperti ini. Namun di sisi lain, Eun Ji yang sudah begitu dekat dengannya telah memberikan jaminan bahwa Kai adalah laki-laki yang baik.

 

Lalu bagaimana dengan Ryeo Wook?

 

Soo Rin mengerjap. Merutuki batinnya yang tiba-tiba saja berkata demikian. Untuk apa dia memikirkan bocah itu? Memangnya apa yang akan terjadi pada bocah itu? Memangnya bocah itu peduli mengenai status hubungannya? Toh dia sudah memiliki gadis lain. Lihat sendiri, kan, bocah itu sudah menghilang begitu bel pulang sekolah berbunyi. Dia lebih mementingkan Seo Ji Hyun.

Ne (Iya).”

Kai mengangkat kepalanya. “Barusan kau menjawab ‘iya’?” Memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.

Soo Rin mengangguk pelan. Tak lupa dia menyungging senyum yang membuat laki-laki itu terpesona dan terlonjak senang. Sontak seluruh murid di kelas bersorak memberi selamat kepada dua makhluk yang sudah menjadi pasangan ini.

 

****

Apakah aku memilih jalan yang benar?

****

 

“RIN-AH!

Astaga, tidak bisakah suara cemprengnya dikecilkan? Pagi-pagi sudah membuat telingaku berdengung!

Begitu memasuki kelas, bocah itu meneriakiku sambil berlari menghampiriku. Ada apa dengannya? Bel masuk kelas masih lama. Lalu kenapa dia terlihat tidak santai seperi itu? Jangan katakan bahwa dia belum mengerjakan tugas rumah dari Hwang Seonsaengnim yang akan dibahas di awal jam pelajaran nanti dan ingin meminta sontekan dariku. Enak saja!

“Rin-ah!!

Mwoya (Apaan sih)?!”

“Kau berkencan dengan Kai?”

Aku mengerjap. Begitu dia duduk di hadapanku, tanpa basa-basi, dia menanyakan hal itu padaku. Seketika aku merasa gugup. Ada rasa tidak tega menyeruak. Hei, untuk apa aku merasakan hal itu? Memangnya apa yang akan merugikan dirinya?

Ya! Kenapa kau tidak menceritakan apapun padaku? Bahkan saat kita pulang bersama kemarin kau tidak berkata apapun? Sekarang, jelaskan padaku. Bagaimana bisa kau berkencan dengan Kai, huh? Ceritakan padaku!” cerocos bocah itu.

Astaga bocah ini! geramku dalam hati.

“Siapa suruh kau tidak ada di kelas ketika kejadian itu berlangsung kemarin?” Jung Eun Ji tiba-tiba bergabung.

“Di sini?” dia melongo tak percaya. Jung Eun Ji mengangguk membenarkan. “Siapa yang memulai?” tanya bocah itu lagi.

“Siapa lagi jika bukan Kai?”

Jinjja (Benarkah)?! Ya, di mana Kai sekarang?”

Aku tidak mengerti dengan tingkahnya. Kenapa dia terlihat seperti orang kalap? Sebenarnya apa yang bocah itu mau? Tidak cukupkah dengan hanya sekedar tahu bahwa aku sudah berhubungan?

“Dia belum datang,” jawabku sekenanya. Dia memang belum terlihat pagi ini.

“Ada yang mencariku?”

Aku menoleh. Mendapati orang yang menjadi bahan pembicaraan kami sedang berdiri sambil bersedekap di ambang pintu. Tak lupa memamerkan senyumnya… yang memang terlihat manis. Apakah dia baru datang atau memang sudah berada di situ sejak tadi?

YA, KIM JONG IN!”

Aku meringis mendengar suara cempreng yang memekakkan itu. Begitu menyerukan nama Jong In, bocah itu segera menghampiri pemilik nama itu lalu melompat demi meraih lehernya—mengingat Jong In lebih tinggi dari bocah itu—dan merangkulnya, bahkan mungkin mencekiknya.

“Kau juga tidak memberitahu apapun padaku sedangkan aku harus mengetahui dari yang lainnya? Teman macam apa kau ini, huh? Rasakan ini!”

“Ugh… kau ingin membunuhku, Kim Ryeo Wook?”

Kenapa masalah seperti ini dilebih-lebihkan? Lihat kelakuan dua makhluk itu. Ryeo Wook yang mencekik leher Jong In dengan lengan kecilnya, dan Jong In yang berusaha melepas lengan bocah itu hingga rela membungkukkan tubuh jangkungnya. Aku hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala.

“Soo Rin-ah, tolong aku!”

Eoh?” Aku melongo. Haruskah aku menolongnya? Hei, dia kan sudah menjadi kekasihku. Tapi haruskah aku menghampiri mereka lalu menarik Jong In dari siksaan bocah itu? Kenapa tiba-tiba aku menjadi orang bingung seperti ini?

Aksi mereka akhirnya terhenti. Aku baru menyadari bahwa ternyata aksi cekik ala Kim Ryeo Wook bisa mengundang tawa seisi kelas ini. Sedangkan kedua makhluk yang menjadi bahan tontonan itu hanya tersenyum jenaka.

“Maaf. Kali ini aku akan mengatakan padamu bahwa aku sudah berkencan dengan Soo Rin, mulai dari kemarin.”

“Baiklah, Kim Jong In. Tapi jika suatu saat nanti kau menyakiti Park Soo Rin, kau akan berhadapan denganku. Mengerti?”

Tiba-tiba saja aku merasa sulit bernapas!

 

****

 

Yeoboseyo?

“Kau sudah sampai rumah?”

“Sudah. Baru saja.”

“Begitu? Syukurlah. Saat ini turun hujan. Kau kehujanan, tadi?”

“Tidak. Aku tidak apa-apa.”

“Baiklah. Aku bisa bernapas lega sekarang. Istirahatlah! Nanti malam aku akan menghubungimu lagi.”

“Um..”

Kkeutneo (aku akhiri)!”

“Um..”

Soo Rin menjauhkan ponselnya dari terlinganya lalu memperhatikan layar ponselnya. Nama ‘Jong In’ masih tertera. Baru saja laki-laki itu menghubunginya. Terdengar nada kekhawatiran saat menanyakan kondisi gadis itu.

Menutup flip ponselnya lalu merebahkan tubuhnya yang sudah merengek ingin merasakan tempat tidur. Sejenak menutup kedua matanya sebelum kembali membukanya dan menatap langit-langit kamarnya. Hanya suara derasan hujan yang terdengar di luar rumahnya.

“Seperti inikah jika sedang berpacaran?” gumamnya.

Masih dengan menatap langit-langit kamar, Soo Rin menghembuskan napasnya yang entah mengapa terasa berat. Apakah seperti ini rasanya jika sedang melakukan suatu hubungan? Bukankah seharusnya terasa menyenangkan? Lalu mengapa dirinya merasa gelisah? Seperti ada sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Hubungannya dengan Kai masih berjalan 4 hari. Selama itu pula dirinya masih bertanya-tanya, seperti inikah rasanya?

Kembali menghembuskan napas panjang. Soo Rin kembali bergumam, “Apakah ini semua benar?”

“Apakah apa yang aku pilih adalah benar?”

 

****

 

Eun Ji memperhatikan Soo Rin yang sejak tadi memandang buku Matematikanya tetapi tidak pernah membuka halaman berikutnya. Tangan kanannya hanya memainkan pensil. Tertera sekali gadis itu sedang melamun. Akhirnya, dengan inisiatif Eun Ji mencolek pundak gadis itu hingga sang empu mengerjap dan beralih ke padanya.

“Pagi-pagi sudah melamun?” sapa Eun Ji yang langsung dibalas dengan senyuman oleh Soo Rin. “Kau sedang memikirkan sesuatu? Apakah, terjadi sesuatu di antara kau dan Kai?” lanjutnya.

Soo Ring menggeleng. “Tidak. Kami baik-baik saja.” Soo Rin mengalihkan pandangannya kembali pada buku Matematikanya lalu membuka beberapa halaman selanjutnya. Mencoba kembali fokus, namun sepertinya mood ingin membaca sudah menguap entah sejak kapan. Akhirnya hanya memandangi angka-angka itu tanpa menelaah.

“Sepertinya tidak.”

Soo Rin kembali mengalihkan pandangannya pada Eun Ji. Menatap tidak mengerti. “Apanya yang tidak?” tanyanya.

Eun Ji ternsenyum. Disentuhnya pundak gadis itu lalu ditepuk-tepuknya. Membuat gadis itu mengernyit makin tidak mengerti. Seolah Eun Ji mengerti akan gadis itu, seolah bisa membaca pikiran gadis itu, Eun Ji berucap, “Aku ingin kau menceritakan segala keluh kesahmu saat ini, kepadaku.”

Soo Rin mengerjap. Dalam sekejap, keinginan untuk menumpahkan segala perasaannya saat ini muncul. Sekaligus terharu. Selama ini segala sesuatu yang diterimanya selalu dipendam sendiri. Tak ada teman yang menyuruhnya untuk berbagi. Tak ada teman yang menyuruhnya untuk mencurahkan segala perasaannya. Selama ini, selalu dipendam sendiri. Namun Eun Ji berbeda. Awalnya Soo Rin hanya mengira Eun Ji menganggapnya sebagai ‘teman sekelas’, tidak lebih. Tapi mendengar Eun Ji berkata seperti itu, tidakkah itu pertanda bahwa Eun Ji menganggapnya lebih dari sekedar teman sekelas?

Seperti tak terbendung, ada sesuatu yang ingin menyeruak di pelupuk mata Soo Rin. Hanya karena satu kalimat yang diucapkan Eun Ji, membuat segala perasaannya mendesak bermunculan dan bercampur aduk. Eun Ji yang mengetahui reaksi itu hanya dengan melihat mata Soo Rin yang sudah berkaca-kaca, segera mengusap pundak hingga ke punggung gadis itu dengan penuh perasaan.

“Bagaimana jika kita mulai berbincang di jam olahraga nanti?”

 

 

“Jadi, sudah sampai mana hubunganmu dengan Kai?”

Eun Ji mulai membuka pembicaraan. Saat ini mereka sedang duduk di pinggir lapangan sambil meluruskan kedua kaki. Baru saja mereka—para siswi—melakukan pengambilan nilai olahraga futsal dan kini sedang giliran para siswa mengambil alih.

“Menurutmu sampai mana?” Soo Rin berbalik bertanya. Membuat Eun Ji memandangnya, memasang wajah layaknya sedang berpikir sambil bergumam panjang.

“Hmm… aku belum pernah melihat kalian bergandengan tangan.”

Soo Rin tersenyum. Eun Ji benar. Mereka belum pernah bergandengan tangan. Bersentuhan saja hanya terjadi jika itu secara tidak sengaja. Yah, sebenarnya, pernah 2-3 kali Kai merangkul pundaknya. Tapi selebihnya? Tidak ada.

“Aku mengerti,” sambung Eun Ji. “Kau masih terlihat begitu kaku dibandingkan Kai yang lebih dominan. Karena dia memang sudah berpengalaman.” Eun Ji menerawang. Memperhatikan laki-laki yang sedang berlari mengejar bola yang digiring lawan, Kai.

“Jung Eun Ji.”

“Hum?”

“Menurutmu, bagaimana rasanya ketika seseorang sedang menjalin hubungan kasih?”

Eun Ji beralih memandang Soo Rin. Memandang gadis yang sedang menerawang ke depan. Kemudian dirinya kembali menerawang. “Hm.. dia akan terus memikirkan pasangannya. Merasa begitu merindukan pasangannya ketika sedang tidak bersamanya. Merasa ingin terus berada di samping pasangannya. Dan tentunya, merasa berbunga-bunga… juga bahagia.”

Soo Rin tersenyum lagi, tapi kini berbeda. Kepalanya menunduk. “Tapi aku tidak merasakan itu,” ucapnya begitu lirih.

Eun Ji memandang Soo Rin. Ekspresi wajahnya tak dapat diartikan. Tetap tenang, tidak terheran maupun terkejut. “Apa yang kau rasakan?” tanyanya.

Soo Rin menghela napas beratnya. Sambil menggeleng pelan ia menjawab, “Entahlah. Seperti ada sesuatu yang tidak sesuai. Sesuatu yang tidak seharusnya. Aku tidak mengerti… mungkinkah itu rasa gelisah?”

“Mungkin saja.” Eun Ji bergumam, sambil tersenyum samar. Menggeser tubuhnya, lebih mendekat pada Soo Rin. Lalu dirangkulnya pundak Soo Rin dan diusapnya dengan lembut. “Hanya satu hal—satu hal yang bisa menjawab rasa kegelisahanmu. Satu hal yang bisa memberikan jalan keluar untukmu. Dan kau harus memikirkan akan hal itu.”

Soo Rin mengangkat kepala. Memandang Eun Ji—dengan mata sendunya—yang kini masih merangkulnya. Menunggu kelanjutan.

“Kai begitu menyukaimu. Tapi… apakah kau juga menyukainya?”

 

****

 

Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Soo Rin memperhatikan bocah itu—Kim Ryeo Wook—begitu tergesa membereskan alat tulisnya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah memanggul tasnya, tiba-tiba saja laki-laki itu menoleh ke padanya yang membuat dirinya seakan tertangkap basah telah memperhatikannya. Lagi-lagi, Soo Rin merasa gugup! Aih, kenapa selalu seperti ini?

Dia memamerkan deretan gigi putih nan rapihnya sambil melambaikan tangan. “Tunggu aku di halte!” ucapnya sebelum melesat keluar. Apa lagi jika bukan untuk menemui Seo Ji Hyun? Mengantarnya pulang, yang jarak rumahnya sangat dekat dengan sekolah. Selalu seperti itu.

Soo Rin menghembuskan napas, lalu kembali melanjutkan kegitan membereskan peralatan tulis dan buku-bukunya yang sempat tertunda. Mencoba mengabaikan perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di benaknya.

“Seandainya kita pulang dengan arah yang sama, aku akan menyuruhmu untuk menungguku lalu aku akan mengantarmu pulang.”

Soo Rin mengangkat kepala dan mendapati Kai sudah duduk manis di hadapannya sambil melipat kedua tangannya di atas meja. Tak lupa menunjukkan senyum yang dikagumi oleh banyak siswi. Mengingat perkataannya barusan, Kai aktif dalam klub Voli. Mungkin maksudnya, dia akan menyuruhku menunggu dirinya latihan hingga selesai?

“Tapi aku merasa cukup lega karena ada Ryeo Wook yang selalu pulang bersamamu. Kau tahu, aku selalu mengandalkan Ryeo Wook dalam hal ini?”

Soo Rin tersenyum. Merasa begitu menghargai sikap perhatiannya. Tapi, kenapa aku tidak merasakan apa yang Jung Eun Ji katakan saat jam olahraga tadi? Perasaan berbunga-bunga?

“Tidak perlu khawatir. Sebelumnya aku sudah terbiasa pulang sendiri. Aku bisa menjaga diri.”

“Sudah sepatutnya aku mengkhawatirkanmu. Neon nae yeojachingu nikka (Karena kau adalah pacarku).”

Soo Rin terpaku. Tangannya yang baru mengangkat tas—bermaksud ingin memanggulnya—terhenti menggantung. Seolah menyadari sesuatu. Ya, dia memang baru menyadari. Menyadari bahwa dia adalah kekasih Kai. Ke mana saja dirinya selama ini?

Gwaenchanha (kau tak apa)?”

Soo Rin sedikit tersentak dan mengerjap beberapa kali. Lalu tersadar wajah Kai sudah berada tepat di hadapannya dan sedang memandangnya bingung. Salah satu tangannya memegang pundak Soo Rin.

“A-aku tidak apa-apa…” lirihnya yang membuat Kai mendesah sembari melepas pegangannya dari pundaknya.

“Cepatlah pulang! Nanti aku akan menghubungimu.” Kai tersenyum sembari mengusap lembut puncak kepala Soo Rin. Membuat beberapa murid yang melihatnya bersorak menggoda mereka.

“Aku tahu kalian sedang kasmaran, tapi jangan mengumbarnya di tempat umum!”

“Kalian membuatku iri!”

“Ini sudah waktunya pulang ke rumah. Waktu berkencan hanya ada di akhir pekan.”

“Kalian ini berisik sekali! Jika merasa iri, jadilah seperti aku!” ketus Kai dengan memajukan bibirnya yang membuat mereka terkikik.

“Begitu, ya? Itu artinya, aku boleh berkencan dengan Soo Rin juga?” sahut siswa bernama Min Ho.

Ya, Lee Min Ho, neo jugeosseo (Hei, Lee Min Ho, kau akan mati)!”

Mereka tertawa geli melihat reaksi Kai yang sudah mengepalkan tangannya seperti bersiap ingin meninju.

 

****

 

Aku menendang batu-batu kerikil sambil berjalan—menuju halte bus. Entah sudah berapa kali aku menghembuskan napasku yang entah berapa kali pula terasa berat. Memikirkan beberapa perkataan Jung Eun Ji di waktu jam olahraga tadi. Dan memikirkan akan perasaanku yang hingga saat ini belum kutemui jawabannya. Kembali menghela napas sambil mengalihkan pandanganku ke sebuah jalan tanjakan di sebelah kiriku sebelum menyeberang. Dan mendapati pasangan itu sedang berdiri di sana saling berhadapan.

Kim Ryeo Wook dan Seo Ji Hyun.

Apakah rumah Seo Ji Hyun ada di sana? Ternyata memang tidak jauh dari sekolah bahkan dari halte. Kulihat mereka sedang berbincang-bincang. Serasi sekali… tentu saja! Aah, kenapa aku merasa tidak senang?

 

Deg!

 

Tiba-tiba kakiku bergetar hingga hampir terjatuh jika saja aku tidak berusaha menggerakkannya. Seperti tertimpa sesuatu, dadaku terasa berat membuatku merasa sulit bernapas. Kedua tanganku mengepal demi mencari kekuatan yang tiba-tiba saja hilang di tubuhku. Dan butuh waktu yang—menurutku—cukup lama untuk bisa beralih dari pemandangan itu.

Kim Ryeo Wook dan Seo Ji Hyun… berpelukan…

Rasanya harus membutuhkan banyak usaha untuk bisa menggerakkan kedua kakiku. Begitu berhasil, langsung saja aku berlari menyeberang dan terus berlari hingga ke tujuanku. Tak peduli dengan omelan beberapa orang yang tak sengaja kutubruk karena begitu cepat lariku hingga tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Begitu sampai di tempat tujuanku, halte bus, kujatuhkan tubuhku ke atas kursi yang terbuat dari besi dan terasa dingin ini.

Kupegang dadaku yang terasa nyeri. Ini bukan nyeri karena habis berlari. Bayang-bayangku selalu menampilkan kejadian di saat pasangan itu sedang berpelukan. Dan itu membuatku semakin merasa nyeri hingga meringis. Tanpa sebab, pandanganku mengabur. Merasakan sesuatu menyeruak di balik mataku.

Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku ingin menangis?

 

 

-To Be Continued


 

Dehet!!

Saya bikin 3 chapter sekaligus (lewat tengah) malam ini~ Sebenarnya bukan bikin, tapi saya salin dari file saya. Dan ini sudah pernah saya publish di fb, tepatnya di SJFF page.. cari aja kalo berkenan. #krikrik-__-

Yosh! Jika ada waktu, saya coba publish kelanjutannya.. biar wp saya penuh-_- hehet

Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s