Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, FF "When I Get This Feeling", Fiction, School Life, Slice of Life, Teen

When I Get This Feeling [Chapter 2]

Characters:
  • Park Soo Rin
  • Kim Ryeo Wook
  • Seo Ji Hyun
  • Jung Eun Ji
Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst
Rated    : T
Length  : Chaptered

This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~


 

Seorang gadis terlihat tengah berdiri di sebuah halte. Pandangannya terus mengarah ke bawah, menatap ujung sepatunya. Hingga sebuah bus berhenti di depannya, ia tidak beranjak. Hingga bus itu kembali melaju meninggalkannya, ia tetap tidak bergeming. Hingga akhirnya terdengar teriakan seseorang.

“Hei! Tunggu! Aku ingin naik! Tunggu aku!!” Laki-laki itu tidak berhasil mengejar bus yang sudah melaju cukup jauh. Dengan berat hati, langkahnya menuju ke dalam halte dan berdiri di samping gadis itu. Memajukan bibir bagian bawahnya, menandakan bahwa moodnya turun, karena tertinggal bus. Sedangkan dirinya ingin segera pulang.

Setelah beberapa kali menendang udara demi membunuh rasa bosan, laki-laki itu baru menyadari gadis yang di sampingnya—yang terus memandang ujung sepatunya— itu masih betah dengan posisinya. Ia juga baru menyadari bahwa gadis itu mengenakan seragam sekolah yang sama dia kenakan. Membungkukkan badan demi melihat wajah gadis itu. Lalu keningnya mengerut. Dia tidak tidur, kan? batinnya.

“Hei?” berusaha memanggilnya, namun tidak ada respon. Dia yakin bahwa gadis itu tidak tidur. Memangnya ada orang tidur dengan mata tetap terbuka? Pikirnya.

Mencoba mengalihkan perhatian gadis itu lagi dengan melambaikan tangan di hadapan gadis itu. Tetap tidak merespon. “Eishi…” desahnya begitu kembali menegakkan tubuhnya. Memandangi gadis itu lekat-lekat sambil berkacak pinggang. “Dia melamun,” gumamnya.

Dilihat sekelilingnya yang ternyata tidak ada orang lagi selain mereka berdua yang berada di halte. Menggarukkan tengkuknya yang tidak terasa gatal, dia menggerutu. “Bagaimana bisa dia melamun di tempat seperti ini? Apakah dia sedang ada masalah?”

Mengulurkan sebelah tangannya, mencoba menyentuh gadis itu. Siapa tahu dengan cara ini, gadis itu akan tersadar. Dan begitu tangannya berhasil meraih pundak gadis itu, bagaikan terkena sengatan listrik, gadis itu terlonjak sampai matanya melebar. Tentu saja dia juga ikut terlonjak mendapatkan respon yang berlebih seperti itu. Sampai-sampai dipandanginya telapak tangan yang baru saja menyentuh pundak itu, dengan terheran-heran. Sedahsyat itukah?

Dipandanginya gadis itu yang ternyata juga tengah memandanginya. Gadis itu tidak mengucapkan apapun. Hanya menatapnya dengan… horror? Ah, mungkin dia masih terkejut, pikirnya.

“Maaf. Aku hanya ingin mengetahui kondisimu. Karena sedari tadi kau terus menunduk hingga sepertinya tidak menyadari telah melewati bus yang datang,” jelasnya.

“Ah… benarkah?” tanya gadis itu, terdengar begitu lirih tapi masih bisa didengarnya. Apakah efek dari sentuhannya tadi sampai merenggut suaranya? Dia mulai merasa bersalah.

“Kau tidak apa-apa, kan?” tanyanya dengan hati-hati, yang kemudian dijawab dengan anggukan gadis itu. Sedikit bernapas lega, memang, tapi melihatnya menjawab hanya dengan anggukan rasanya tidak cukup untuk menebus rasa bersalahnya.

Gadis itu kembali menunduk. Sedangkan ia hanya bisa mengawasi. Hingga bus berikutnya datang.

 

&&&

 

“Gadis Aneh!”

“Berhenti memanggilku dengan sebutan Gadis Aneh!!”

Ryeo Wook hanya terkikik mendengar respon Soo Rin. Melihat gadis itu emosi setiap saat ternyata menyenangkan daripada melihatnya merenung bahkan hingga melamun. Kenapa gadis itu lebih senang mengosongkan pikiran dibandingkan berekspresi? Benar-benar gadis yang aneh, bukan?

“Lalu aku harus memanggilmu bagaimana? Rin-ah, tidak boleh. Gadis Aneh juga tidak boleh. Huh,” cibir Ryeo Wook yang langsung dibalas dengan tatapan tajam Soo Rin. Ryeo Wook tidak pantang dengan tatapan itu. Soo Rin bukanlah gadis yang patut ditakuti baginya, justru gadis seperti Soo Rin harus sering diajak bicara.

“Mau kupanggil dengan sebutan Pendek lagi, huh?”

Eishi—” Ryeowok hanya sanggup meringis. Sepertinya Soo Rin telah menemukan kelemahan laki-laki itu. Sangat tidak suka dipanggil Pendek. Soo Rin sedikit menarik ujung bibirnya. Hanya sekilas! Tapi Ryeo Wook masih bisa merekamnya. Sepertinya Soo Rin mulai berani, pikirnya.

“Baiklah. Rin­-ah atau tidak sama sekali.” Ryeo Wook menawar.

Joha (baik), Bocah!”

Ya!

“Bocah, atau tidak sama sekali!”

Ryeo Wook memajukan bibir bawahnya. Beginilah jika moodnya sedang turun. Mau tidak mau dia menerima panggilan itu. Daripada dia mendapat panggilan Pendek lagi? Meskipun baginya ini tidak adil.

“Ckckck, kalian ini. Apakah sebuah nama panggilan begitu berpengaruhnya bagi kalian?” Eun Ji menggeleng-gelengkan kepala melihat debat yang menurutnya tak penting dari kedua makhluk itu.

“Salahkan dia yang memulai perdebatan aneh ini,” ucap Soo Rin sambil kembali menyantap makanan pesanannya yang sempat tertunda akibat kedatangan bocah tak diundang itu.

Ya, apa salahnya jika aku ingin memanggilmu dengan panggilan yang lebih akrab, huh?” kilah Ryeo Wook yang tak diindahkan oleh Soo Rin.

“Sudah hentikan. Jadi, ada keperluan apa kau datang kepada kami?” sergah Eun Ji. Merasa perdebatan itu tidak akan selesai jika tidak ada yang menengahi.

Ryeo Wook melebarkan senyumannya. Terlihat sekali bahwa moodnya sudah penuh kembali. Mengingat tujuan dirinya datang menghampiri mereka, dua gadis yang sudah dia anggap sebagai teman terdekatnya. “Aku ingin mengabarkan suatu kabar baik mengenai diriku!”

Eun Ji yang mudah sekali penasaran mulai tertarik. Hei, ini kan kabar baik mengenai temannya, wajar saja jika dia tertarik. Soo Rin, dia hanya melirik Ryeo Wook sekilas tanpa menghentikan kegiatan makannya.

“Tinggi badanmu bertambah?” tanya Soo Rin asal di sela-sela makannya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya gadis itu juga penasaran.

“Ish, bukan itu! Aku tidak ingin membahas soal tinggi badan!” protes Ryeo Wook.

“Apa? Cepat katakan,” pinta Eun Ji.

Ryeo Wook memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan mereka. Eun Ji yang penasaran juga memajukan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ryeo Wook yang terlihat begitu antusias. Sedangkan Soo Rin tidak berkutik dari tempatnya. Kemudian dengan memamerkan gigi-gigi putihnya, Ryeo Wook berkata, “Aku diterima oleh gadis pujaanku!”

“Ugh…” Soo Rin hampir tersedak. Untungnya kedua makhluk itu tidak menyadari reaksinya. Menghentikan kegiatan makannya, lalu perlahan dia mengangkat kepalanya hingga mendapati wajah Ryeo Wook yang begitu sumringah.

“Apa? Maksudmu, kau—?” Eun Ji tersendat. “You’re… dating?” lanjut Eun Ji.

Yup! I have a girlfriend now!” senyum Ryeo Wook makin mengembang. Bahagia sekaligus lega karena sudah mengutarakannya.

“Woah! Bagaimana bisa laki-laki sepertimu bisa mendapatkan seorang gadis?” Eun Ji masih terperangah. Memperhatikan Ryeo Wook lekat-lekat. Mencari-cari apa yang menjadi daya tarik laki-laki itu sehingga seorang gadis terpikat padanya. Membuat Ryeo Wook menjentikkan jari ke hadapannya demi menghentikan tatapan Eun Ji yang membuat dirinya risih. “Hei, seperti apa gadis itu? Gambarkan!” lanjut Eun Ji.

Ryeo Wook menengadah. Mencoba membayangkan. Tak dapat disembunyikan senyum bahagianya itu. Senyum seseorang yang telah berhasil mendapatkan sesuatu yang sudah diidam-idamkan selama ini. “Hm… sulit untuk dijelaskan. Tapi yang pasti dia begitu manis dan cantik,” ucap Ryeo Wook bangga.

“Siapa?”

Ryeo Wook dan Eun Ji beralih, menatap Soo Rin yang sedari tadi hanya menyimak dan kini gadis itu membuka mulut. “Siapa namanya?” tanya Soo Rin lagi. Entah hanya perasaannya atau memang saat ia bersuara terdengar begitu parau. Apakah ini efek dari pasca tersedak tadi? Kenapa dirinya mulai merasa gelisah?

“Ya, siapa namanya? Apakah kita mengenalnya?” sambung Eun Ji. Sungguh, gadis ini begitu antusias. Membuat suasana hati Ryeo Wook semakin antusias untuk mengutarakan rasa bahagianya. Berbanding terbalik dengan Soo Rin, yang saat ini sedang bergelut dengan dirinya sendiri. Menelaah perasaan apa yang tengah dirasakannya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Dia seangkatan dengan kita, dari kelas 6. Namanya Seo Ji Hyun.”

 

****

Tidakkah ini datang terlalu cepat?

****

 

Soo Rin melangkah menelusuri lorong lantai 2 untuk menuju ke perpustakaan. Karena rasa bosan di waktu istirahat, ia ingin membaca comic yang nyatanya memang tersedia di perpustakaan sekolahnya. Mengingat dirinya yang tidak pernah turun ke kantin di saat istirahat kedua, dan bocah yang selalu menjahilinya sudah menghilang entah ke mana.

Soo Rin melambatkan langkahnya begitu menyadari dia akan melewati kelas 6, kelas yang kata bocah itu tempat kekasihnya berada. Begitu melewati pintu belakang kelas itu, mata Soo Rin melirik ke dalam kelas dan dengan mudahnya menemukan bocah itu sedang duduk menghadapi seorang gadis berambut panjang. Dengan tetap melangkah—melewati jendela-jendela kelas 6—pandangan Soo Rin tak lepas dari pasangan itu. Hingga sampai di pintu depan kelas 6, barulah Soo Rin dapat melihat wajah gadis itu.

Soo Rin menajamkan pandangannya. Terpana dengan siapa yang dilihatnya. Gadis itu—gadis yang sedang berbincang dengan bocah itu—sungguh menawan. Bentuk wajahnya yang sedikit oval, matanya yang bulat dan berkantung indah, hidungnya yang tidak begitu mancung, bibirnya yang mungil, lesung pipinya yang tercetak ketika tersenyum, bahkan senyumnya membuat gadis itu terlihat begitu anggun. Ditambah rambutnya yang lurus menjuntai indah di kedua bahu hingga menutupi setengah punggungnya. Memiliki poni yang hampir menutupi seluruh dahinya dengan menjuntai miring ke pelipis kanan. Ditambah dengan kulit putih pucatnya. Gadis itu begitu sempurna. Bahkan Soo Rin tak bisa mengalihkan pandangannya!

Hingga akhirnya gadis yang bernama Seo Ji Hyun itu menyadari keberadaannya, lalu di susul dengan Ryeo Wook yang ikut menoleh dan mendapatinya. Laki-laki itu pun menghampirinya. Soo Rin tertangkap basah.

“Rin-ah, sedang apa berdiri di sini? Kenapa tidak masuk?” sambut Ryeo Wook yang membuat Soo Rin salah tingkah. Ditambah dengan gadis bernama Seo Ji Hyun itu juga ikut menghampirinya.

“S-si—siapa bilang aku ingin masuk? A-aku… ingin pergi ke perpustakaan,” jawab Soo Rin tergagap. Astaga, tenangkan dirimu, Soo Rin. Tenangkan dirimu, batinnya.

“Jadi kau yang bernama Park Soo Rin itu?”

Soo Rin beralih memandang gadis itu. Sedikit tertegun dengan sapaannya. Bahkan suaranya terdengar begitu lembut. Juga postur tubuhnya yang seimbang jika bersanding dengan bocah itu… Astaga, beruntung sekali Kim Ryeo Wook.

“Ah, ya, dia adalah Park Soo Rin. Si Gadis Aneh itu,” jawab Ryeo Wook yang membuat Soo Rin menatap tak suka. Tidak ingatkah bocah ini dengan kesepakatan mereka? Baru saja ingin menyemprot dan membalas dengan sebutan Pendek, Soo Rin urungkan mengingat ada kekasihnya. Akhirnya dia hanya bisa melakukan ini.

 

DUG

 

“Akh!”

Ryeo Wook merintih kesakitan sambil mengangkat sebelah kakinya yang baru saja diinjak Soo Rin. Seketika Soo Rin berpikir bahwa tindakannya salah. Bukankah justru akan membuat Seo Ji Hyun marah? Tapi ternyata dugaannya salah, gadis menawan itu justru tertawa.

“Akh, kakiku diinjak dengan sepatu baja anti karat!” raung Ryeo Wook yang justru membuat Seo Ji Hyun tergelitik. “Hyun-ah, tolong bela aku,” rengek Ryeo Wook pada kekasihnya itu yang malah tidak ditanggapi. Hingga akhirnya dia hentikan aksi melompat-lompatnya dan menurunkan kakinya sambil memajukan bibir bawahnya.

“Sudah selesai berlebih-lebihannya?” tanya Soo Rin sinis yang membuat Seo Ji Hyun terkikik kembali. Ryeo Wook hanya mencibir.

“Kau gadis yang menyenangkan. Pekenalkan, aku Seo Hyun.”

Soo Rin mengerutkan keningnya. “Seo—Hyun? Bukankah namamu Seo Ji Hyun?” tanyanya hati-hati.

“Aku lebih senang dipanggil seperti itu. Sejak dulu aku sudah dipanggil seperti itu oleh teman-teman,” gadis itu tersenyum.

“Mirip dengan nama artis terkenal, kan? Awalnya kupikir dia adalah adik dari member SNSD yang bernama Seo Hyun juga,” sambung Ryeo Wook. “Selain nama lengkapnya yang tidak jauh berbeda, wajahnya juga hampir terlihat mirip.”

“Jangan berlebihan,” sergah Seo Hyun tampak malu.

Soo Rin hanya tersenyum. Terlihat terpaksa. Semenjak berhadapan dengan pasangan ini, sebenarnya dia mulai merasa tidak nyaman. Seperti merasa tidak senang melihat kebersamaan itu. Namun segera ditepisnya dengan pamit dari hadapan mereka dan segera menuju ke perpustakaan. Menenangkan diri di sana dan menyendiri tentunya.

 

****

Seharusnya aku merasa senang melihatnya. Tapi, ada apa dengan diriku?

****

 

“Kau senang membaca comic, ya?”

Soo Rin tertegun mendapati Ryeo Wook telah duduk di sebelahnya dan memperhatikan meja yang ditempatinya terisi dengan beberapa comic yang bertumpuk.

“Sedang apa kau di sini?” cetus Soo Rin terheran. Bukankah bocah itu sedang berkencan? Lalu kenapa kemari?

“Woah, kau membaca comic Death Note?” Ryeo Wook tidak menghiraukan pertanyaannya. “Cerita seorang pelajar SMA jenius yang membunuh orang-orang yang menurutnya tidak sepatutnya hidup, dengan menggunakan catatan kematian yang dimiliki oleh iblis yang mengaku dirinya adalah Dewa Kematian. Kau menyukainya?”

“Dia memang Dewa Kematian. Bukan Iblis.”

Eii, mana ada Dewa Kematian berpikiran licik dan malah menghasut manusia untuk membunuh sesama manusia? Dewa Kematian yang sebenarnya itu hanya menjalankan tugas sebagai pencabut nyawa manusia yang memang sudah waktunya meninggalkan dunia ini.”

“Ya, ya. Terserah!”

Ryeo Wook terkikik melihat Soo Rin yang lebih memilih untuk mengalah. Gadis itu hanya tidak ingin merusak ketenangan yang tercipta di ruangan ini. Tentu saja, ini kan perpustakaan. Mengingat jika berdebat dengan bocah itu tidak akan selesai dengan cepat.

“Tapi, tidak kusangka kau membaca comic beraliran seperti ini. Biasanya para gadis yang gemar membaca comic atau novel, mereka pasti mencari yang beraliran romantisme. Wah, kau benar-benar gadis aneh.”

Soo Rin meletakkan comic yang baru dibacanya ke atas meja dengan sedikit kasar. Menatap Ryeo Wook tak suka. “Jika kau di sini hanya untuk menggangguku, lebih baik kau pergi!”

“Baiklah, baiklah. Aku minta maaf.” Ryeo Wook meringis dengan kedua tangan membentuk huruf V sebagai tanda perdamaian.

Mendengus kasar, Soo Rin pun kembali berkutat dengan bacaannya. Mencoba mengabaikan bocah yang masih berada di sampingnya. Merasa gadis itu mulai tenggelam dengan bacaannya, Ryeo Wook pun mendesah.

“Aah, aku jadi ingin membaca comic juga.” Ryeo Wook bangkit lalu melangkah menuju rak yang berisi deretan-deretan comic. Mulai mencari apa yang ingin dia baca.

Di sisi lain, begitu Ryeo Wook menjauh dari tempatnya, gadis itu melemaskan kedua bahunya yang ternyata sejak tadi menegang. Kini berada di dekat bocah itu, dirinya mulai merasa aneh. Selalu merasa gugup, hingga jantungnya berdetak di atas normal. Mencoba menepis perasaan aneh itu, ia pun menghembuskan napas panjangnya. Lalu bergumam yang terdengar hampir seperti bisikan…

“Aku juga menyukai aliran romantisme…”

 

 

-To Be Continued

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s