Posted in Angst, Category Fiction, Chaptered, FF "When I Get This Feeling", Fiction, School Life, Slice of Life, Teen

When I Get This Feeling [Chapter 1]

Characters:

  • Park Soo Rin
  • Kim Ryeo Wook
  • Jung Eun Ji
Genre   : Life, School Life, Friendship, Angst
Rated    : T
Length  : Chaptered
 
This story comes from my personal experience~^^ Meskipun tidak semua kejadian di cerita ini sama dengan aslinya, tapi bisa diambil intinya (?) hehet! Let’s have a good time, together! kkkk Enjoy~

 

Soongshil Middle School

:: Hari Pertama Tahun Ajaran Baru

 

Kupandangi daftar pembagian kelas yang terpajang di Mading sekolah ini. Mencari namaku. Hingga akhirnya kutemukan, aku berada di kelas 4. Begitu aku memasuki kelas yang akan menjadi tempat belajarku di tahun kedua ini, aku mulai gugup. Aku tidak mengenali wajah-wajah di kelas ini. Sekalipun aku tahu dua-tiga wajah yang familiar karena sempat bersama di tahun pertama, tetap aku tidak mengenal mereka. Aku tidak tahu harus mencari tempat duduk mana yang menurutku strategis. Sejenak aku menyesali sikapku yang tertutup ini. Yang tidak tahu bagaimana cara mencari teman. Huft…

“Park Soo Rin-sshi?

Kutolehkan kepalaku menuju arah panggilan yang ternyata berasal dari ambang pintu di belakangku. Termenung sejenak sebelum akhirnya aku bereaksi. Ah, dia…

“Kau di kelas ini juga?” tanyanya yang terdengar bersahabat. Jung Eun Ji memang siswi yang ramah dan sangat terbuka, karenanya dia memiliki banyak teman. Tidak seperti aku. Bahkan dengan mudahnya dia menyapaku seolah kita memang sudah kenal dekat. Meskipun kita berada di kelas yang sama di tahun pertama, kami hanyalah teman sekedar sapa. Tak kusangka kami akan bertemu lagi.

“Hum..” jawabku sekedarnya. Yah, beginilah aku jika di ajak bicara dengan orang yang belum kuanggap dekat.

“Aah, syukurlah aku masih menemukanmu. Huh, mereka semua tidak ada yang berada di sini,” keluhnya. Aku sedikit terheran. Apakah dia menganggapku temannya juga?

“Ah, kita duduk di sana saja!” serunya sambil menunjuk ke dua tempat duduk yang berada di barisan tengah. Lagi-lagi dengan mudahnya dia menarik pergelangan tanganku dan menuntunku ke tujuan.

Kami duduk bersampingan. Setelah Jung Eun Ji menyamankan diri di tempat duduk barunya, dia menoleh ke padaku yang sedari tadi memperhatikannya. Menyungging senyum ramah dan cerianya yang sering kulihat. “Akhirnya kita duduk saling berdekatan, ya?” ucapnya.

“Eh?”

“Semoga dengan ini, kita menjadi lebih mengenal,” lanjutnya yang kemudian menunjukkan gigi putih dan rapihnya. Mau tidak mau aku tersenyum mendengarnya. Ini merupakan awal yang baik, semoga saja.

“SELAMAT PAGI!”

Sedikit terkejut dengan seruan itu, aku pun menoleh ke asal yang terdengar cempreng itu. Mendapati seorang laki-laki bertubuh kecil sedang berdiri di ambang pintu kelas dengan mengangkat sebelah tangannya, tak lupa dengan memasang wajah cerianya yang terlihat konyol menurutku.

“Hei, Kim Ryeo Wook! Kau di kelas sini juga?” sambut salah satu siswa.

“YUP! Kalian senang, kan?” jawab laki-laki yang bernama Kim Ryeo Wook itu dengan bangganya. Ternyata suaranya memang seperti itu. Cempreng.

“Cih, percaya diri sekali kau? Bukannya senang tetapi aku malah tidak akan konsentrasi belajar jika ada dirimu di kelas! Hahahah!”

“Kau akan membuat kelas ini menjadi kacau nantinya. Hahaha!”

“Kelas ini akan menjadi kelas yang rusuh jika ada kau di dalamnya.”

“Ah, sepertinya aku harus meminta izin untuk pindah kelas.”

Ya, ya, ya!! Aku tidak separah itu! Kalian pikir aku ini murid bringasan, huh?!” laki-laki cempreng itu terlihat kesal tetapi masih dengan tertawa.

Sepertinya laki-laki itu dikenal banyak murid di kelas ini. Hampir seisi kelas ini tertawa mendengar celotehannya bersama beberapa murid di sini. Apakah dia siswa yang terkenal? Apakah Jung Eun Ji juga mengenalnya? Kulihat dia juga meladeni celotehan laki-laki itu.

“Oh, kau!”

Kuperhatikan lagi laki-laki itu yang baru saja berseru (lagi) dan kini sedang menunjuk ke—arahku? Tidak, tunggu dulu. Mungkin saja dia sedang menunjuk orang yang berada di depanku, tapi orang yang duduk di depanku justru sedang bercengkrama dengan teman di sebelahnya. Atau yang di belakangku? Justru dia sedang berkutat dengan ponselnya. Atau Jung Eun Ji? Justru dia sedang memperhatikanku.

Mengalihkan lagi pandanganku ke laki-laki itu, dia malah sedang berjalan menuju kemari lalu berhenti di samping mejaku. Arah pandangnya juga terus ke arahku. Apakah orang yang dia panggil serta dia tunjuk tadi adalah aku?

“Wah, ternyata benar kau! Jadi kau ada di sini? Tak kusangka kita akan sekelas,” sapanya padaku. Membuatku mengernyit tidak mengerti. Laki-laki ini…

“Kau mengenalku?”

“Tentu saja!”

“Aku mengenalmu?”

“Apa?” dia melongo. Kedua matanya melebar. Terbaca sekali ekspresinya yang terheran dan tak percaya. Kudengar beberapa murid di sekitarku terkikik geli. Mungkin mereka merasa geli melihat ekspresi laki-laki ini.

“Kau tidak ingat?” tanyanya. “Kita kan pernah bertemu,” lanjutnya masih dengan memasang tampang bodohnya.

“Huh?”

“Aih, bagaimana bisa kau tidak ingat?”

“Apakah aku harus mengingatnya?”

“Tentu saja! Baiklah, kuingatkan lagi.”

“Haruskah?”

“Harus!”

Astaga, ada apa dengan bocah ini? Kenapa memaksa sekali? Apakah begitu pentingnya sampai aku harus kembali mengingatnya dan membuatku harus mengenalnya? Lihat, aku menjadi pusat perhatian karena tingkahnya itu. Benar-benar…

“Begini, saat kita masih di tahun pertama, saat pulang sekolah, di halte, lalu di bus,” dia berhenti sejenak. Memperhatikanku dan menunggu reaksiku. Seperti tidak mendapat apapun karena aku memang masih tidak mengerti, dia menghela napas panjang dan memasang wajah orang yang sedang berpikir keras. Lalu dia mendesis. “Saat itu kau sedang melamun hingga tidak menyadari bahwa kau sudah melewati bus yang datang. Begitu bus selanjutnya datang, aku mena—”

KRIIIIIIINNNGG

Aishi…” desahnya begitu bel tanda masuk kelas berbunyi. “Kita lanjutkan di waktu istirahat nanti!” titahnya sebelum beranjak menjauh.

Aku tidak mengindahkannya. Otakku mulai berputar ke ingatan yang lalu. Mencari kejadian yang sempat ia sebutkan meskipun hanya satu setengah kalimat. Hingga aku menemukannya, dan termangu. Apakah yang dimaksud adalah kejadian itu?

“Ah, ya!”

Aku mendengakkan kepala dan menemukan dia kembali melihatku dengan senyum lebarnya. Dia kembali berucap, “Senang bertemu denganmu lagi, Gadis Aneh!”

Mwo?!”

 

****

 

“HO!”

Aku terlonjak begitu mendengar suara itu. Kemudian disusul dengan suara tawa yang terdengar tidak mengenakkan itu. Bocah itu lagi. Benar-benar!

“Kau—”

“Segitu terkejutkah? Sampai kau hampir melompat seperti sedang melihat tikus yang ingin merambat ke tubuhmu. Hahahaha!”

“Senang? Kau puas?”

“Tidak juga.”

Aku menghela napas panjang. Semenjak pertemuan yang tak berkesan di hari pertama tahun ajaran baru itu, bocah bernama Kim Ryeo Wook ini selalu saja muncul di dekatku. Baik di kantin hingga di halte saat pulang sekolah seperti ini. Menanyakan apakah aku sudah mengingatnya atau belum. Padahal sudah kukatakan bahwa aku sudah mengingatnya dan itu tidaklah penting. Lalu apa lagi yang dia mau?

“Kau mudah terkejut, ya?” Aku tidak menjawab. “Kau juga sering sekali melamun. Apakah tidak ada kegiatan lain selain melamun? Hei, melamun itu tidak baik. Orang-orang bilang, kalau kau sering melamun, kau akan kerasukan hantu. Hiiii!”

Tak kupedulikan ocehan dan tingkahnya seperti sedang menakut-nakuti anak kecil yang baru saja berbuat nakal. Dia pikir aku akan terpengaruh dengan omong kosongnya itu?

“Hei, aku serius. Ini benar terjadi. Saudara jauhku pernah mengalaminya. Saat itu di sore hari dirinya sedang melamun di belakang rumah sendirian. Kau tahu, di belakang rumahnya itu ditumbuhi pohon yang saaaangat besar. Lalu ketika hujan turun, tiba-tiba saja dia berteriak meraung-raung tidak jelas.”

“Dia… kerasukan?” dia berhasil menarik perhatianku. Kuperhatikan wajah seriusnya sejak ia mulai bercerita.

“Dia panik karena pakaian yang dijemur belum diangkat.”

 

DUG

 

“Akh!”

Kuinjak kakinya tanpa ampun hingga ia merintih sambil memeganginya dan melompat ke sana kemari. Bocah menyebalkan! Bisa-bisanya dia menipuku. “Rasakan itu!”

“Hei! Terbuat dari apa sepatumu itu? Ini benar-benar sakit!” rintihnya.

“Baja anti karat! Kau puas?” sungutku.

“Hei, aku serius!”

“Aku juga serius!”

“Benarkah? Benarkah sepatumu terbuat dari baja anti karat?”

“Ya! Baja anti karat yang dilelehkan menjadi karet!” Tak peduli dengan jawaban asal-asalanku, aku langsung beranjak dari tempatku karena bus sudah tiba. Menaikinya lalu menuju kursi penumpang yang lengang di bagian belakang. Setelah mendudukinya, kulihat dia juga naik dan berjalan sedikit tertatih mendekatiku. Astaga…

“Mana ada baja anti karat meleleh lalu berubah menjadi karet?” gerutunya sambil duduk di sampingku.

“Kenapa kau mengikutiku?” ketusku.

Dia terkekeh. Cepat sekali moodnya berubah. Lalu menjentikkan jari ke hadapanku yang membuat kepalaku harus mundur. “Kau tidak ingat, kan, kalau arah pulangku sama denganmu?”

Benar juga, batinku. Kualihkan pandanganku ke jendela. Memperhatikan jalan, kendaraan-kendaraan, hingga bangunan-bangunan yang memadati pinggir jalan ini.

“Ternyata kau juga mudah tertipu, ya?”

Hanya mengehembuskan napas, aku mencoba tidak menghiraukannya.

“Kau tahu, kau terlihat begitu kaku. Mangerti maksudku? Maksudku, kau terlihat tidak mudah bersahabat. Karena itu, aku seringkali melihatmu pergi ke mana pun seorang diri,” dia terkekeh sebentar. “Kau memang gadis yang aneh.”

Aku termenung mencerna kata-katanya barusan. ‘Seringkali melihatku pergi ke mana pun’. Tidakkah itu terdengar aneh? Apakah dia memperhatikanku?

Ya, kau melamun lagi, kan?”

Aku menoleh ke padanya dan memasang wajah kesal. “Kau ini berisik sekali!” cetusku yang kemudian kembali beralih memandang ke luar jendela.

“Tuh, kan, bahkan selain kaku, kau juga mudah emosi. Eii…” dia berdecak.

“Memang! Sudah tahu aku begini, kenapa kau masih mengajakku bicara, huh? Lalu apa pedulimu? Daripada mengurus orang kaku sepertiku lebih baik kau urusi kakimu itu sebelum aku menginjakkan sepatu baja anti karatku ke kakimu yang lain!” semprotku yang sudah tak tahan dengan segala macam ocehannya yang tersirat sedang menyalahkan karakterku ini. Memangnya dia siapa dengan mudahnya mengritikku? Dokter Psikologku?

 

Pletak!

 

“Aw!!” Bahkan dengan beraninya dia menyentil keningku! “YA! Apa-ap— ugh!” dan kini dengan beraninya dia mencubit hidungku!

“Sst! Apa kau tidak sadar saat ini kau sedang berada di mana, huh?” tanyanya dengan wajah serius.

Kulirik arah depan dan mendapati beberapa penumpang yang sedang melihat kemari. Segera kutepis tangannya yang masih menekan hidungku lalu membenarkan posisi dudukku yang entah sejak kapan menjadi menghadap ke arahnya. Aku menunduk, mulai merasa malu.

Cukup lama kami saling berdiam diri. Hingga akhirnya dia kembali membuka mulut. “Maaf. Aku tidak bermaksud buruk. Hanya saja… sepertinya akan menyenangkan jika kau menjadi temanku, dan aku menjadi temanmu.”

Aku menoleh ke padanya dan mendapati dirinya sedang menatapku sambil menyungging senyum. Senyum yang berbeda. Yang membuatku merasa gugup seketika.

 

****

 

Aku selalu menyesali akan diriku yang tidak berani merajut pertemanan. Entah sejak kapan aku menjadi tertutup seperti ini dan entah apa yang sudah membuatku menjadi seperti ini. Aku merasa tidak ada teman yang mengesankan untukku. Aku juga tidak yakin apakah mereka yang pernah mengajakku bicara mengesankan diriku. Bahkan aku tidak yakin apakah mereka yang pernah menjadi teman sebangkuku mengesankan diriku. Aku khawatir, apakah Jung Eun Ji akan betah bersamaku? Ditambah, bocah bernama Kim Ryeo Wook itu… apakah dia tidak akan menyesal karena mau berteman denganku?

“Rin-ah!

Kuhembuskan napasku dengan kasar dan mencoba mengabaikan bocah yang sedang duduk di depanku. Bel istirahat baru saja berbunyi. Di saat yang lainnya sudah berbondong-bondong menyerbu kantin, aku masih betah di tempat dudukku membereskan alat-alat tulisku.

“Rin-ah!

Kutatap tajam dirinya yang memasang wajah ceria nan konyolnya dan dengan merasa tidak bersalahnya memanggilku sok akrab. “Memanggilku?” sahutku dingin.

“Siapa lagi?” jawabnya enteng.

“Namaku Park Soo Rin, bukan Rina!”

“Aku tahu.”

“Ya sudah! Jangan memanggilku dengan nama aneh buatanmu itu!”

Dia terkekeh. Apakah ada yang lucu? Apakah baru saja aku sedang melucu? Menurutku tidak. Aku kan sedang kesal! Ish! Apa yang diinginkan dari bocah ini, sih?

“Park Soo Rin. Soo Rin. Rin. Jadilah Rin-ah! Mengerti, kan?” dia tersenyum. Tiba-tiba saja aku merasa gugup. Aih, perasaan ini lagi. Ada apa denganku? Tiap melihatnya tersenyum seperti itu, aku menjadi begini. Memangnya ada apa dengan senyumnya?

“T-tidak. Aku… tidak mengerti dan tidak peduli!” Aku segera bangkit. Kenapa aku menjadi tergagap seperti ini? batinku. Lagipula, analisis macam apa itu? Park Soo Rin menjadi Soo Rin menjadi Rin lalu menjadi Rin-ah? Seenaknya saja mengurangi namaku.

Dia juga bangkit dan kudengar dia mendesis. “Ish, dasar gadis aneh,” cibirnya yang membuatku melotot seketika. Tidak tahukah dia bahwa aku tidak suka dia memanggilku gadis aneh? Dia pikir aku seaneh apa?!

“Apa kau bilang?! Dasar bocah, pendek!” semprotku dan langsung meninggalkannya dengan menghentakkan kaki dengan kesalnya. Hingga kudengar dia berteriak..

MWO?!

Jujur saja aku terkejut. Namun tetap kuteruskan langkahku dengan cepat ke luar kelas. Hingga kudengar suara hentakan kaki yang begitu cepat datang dari arah belakangku lalu kulihat dirinya muncul dari belakang hingga mendahuluiku lalu berhenti di hadapanku. Menghadapku sambil berkacak pinggang dan mengeluarkan wajah yang tidak ceria lagi seperti tadi.

“Kau menyebutku apa?”

“Bocah!” kucoba untuk tidak pedulikan kesan tidak sukanya yang terlihat jelas dengan melewatinya melalui sisi jalan lain. Namun, lagi-lagi dia menghalangi langkahku.

“Selain itu!”

Menghela napas, kutatap wajahnya yang belum berubah. Seketika, aku merasa bersalah. Selain kusebut dirinya adalah bocah, aku juga menyebut dirinya pendek. Tapi memang kenyataannya begitu, tinggi badannya tidak melebihi tinggi badanku. Entah kita setara atau bahkan dia lebih pendek. Karena rata-rata tinggi badan siswa di sekolah ini cukup melebihi dari tinggi badanku. Apakah aku sudah keterlaluan? Tapi, apa peduliku?

“Pendek!” ucapku lantang. Sebenarnya, suaraku sedikit bergetar. Entah dia menyadarinya atau tidak, aku tidak peduli. Yang kupedulikan, aku ingin enyah dari hadapannya yang terasa tidak nyaman untuk terus kuhadapi. Biarkan saja dia marah. Toh dia sudah berkali-kali membuatku kesal.

 

 

Jung Eun Ji memanggilku sambil melambaikan tangannya dari tempat duduknya, lalu menyuruhku untuk bergabung dengannya. Kulihat dia tidak sendiri melainkan bersama 2 siswi yang tadinya sedang membelakangiku kini menoleh ke arahku. Akhirnya, dengan sedikit keberanian—melihat kondisi kantin semakin penuh—kudekati mereka. Sesampainya, kuletakkan nampan berisi makanan pesananku lalu duduk manis di sebelah Jung Eun Ji.

Setelah berkenalan satu sama lain, kami pun bercengkerama sambil menyantap makanan masing-masing. Aku tidak banyak bicara, hanya menyahut jika diperlukan dan merespon dengan tawa ringan atau sekedar senyuman. Aku lebih fokus menghabiskan makananku. Yah, beginilah aku.

Brak!

Tiba-tiba saja ada yang menggebrak meja makan kami. Meskipun tidak kencang dan bahkan mungkin seperti tidak sengaja memukul meja, tetap saja aku terkejut. Kudengakkan kepalaku demi melihat siapa yang sudah berani mengganggu waktu makanku. Aku terpaku. Orang itu sedang berdiri di samping meja kami. Orang itu sedang menatapku. Orang itu…

Kim Ryeo Wook?

“Hei, Park Soo Rin si gadis aneh, akan kupastikan suatu saat nanti kau tidak akan pernah menyebutku pendek lagi!”

Eoh?” aku melongo. Terpana dengan tingkahnya yang membuatku menjadi perhatian Jung Eun Ji dan teman-temannya. Astaga, apa lagi yang dia mau, huh?

“Kita lihat saja. Dalam waktu dekat, aku pasti bisa menambah tinggi badanku dan segera menyusulmu bahkan melebihimu! Asal kau tahu saja, aku anggota klub basket. Suatu saat, kau akan memuji postur tubuhku!” ucapnya dengan memamerkan senyum menantang. Aku masih melongo.

“Hei, kalian ini kenapa lagi, huh?” sahut Jung Eun Ji. Jangan terheran dengan pertanyaannya, Jung Eun Ji sudah sering melihat kami cekcok tidak jelas. Semenjak pertemuan konyol itu. Dia selalu melihat kami berseteru. Tapi jangan salah paham, bocah itu yang memulainya!

“Taruhan,” jawab bocah itu yang disertai cengiran ala bocahnya. Membuatku seketika memasang raut wajah tak suka. Dia bilang apa barusan? Taruhan? Demi Jjajangmyun yang sedang kusantap, aku tidak suka yang namanya taruhan!

Ya—

“Kita buktikan sampai menjelang pertengahan semester. Mengerti?”

Baru aku mau mengungkapkan ketidaksetujuanku dia sudah menyerbuku lagi. Ditambah, dia mendaratkan satu tangannya ke puncak kepalaku. Seketika aku merasa sesuatu yang aneh mengalir ke perutku. Menggelitikku dan membuatku merasakan sensasi yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Tidak sampai di situ, tangan itu mengusap-usap kepalaku dengan gemas—namun juga menyenangkan. Membuatku tak berkutik. Tak dapat berucap apa-apa lagi.

Astaga, ada apa denganku?

 

 

To Be Continued


 

 Annyeonghaseyo!

Bagi yang sudah membaca ficlet buatanku sebelumnya, mudah-mudahan aja udah tahu.  Sebenarnya ini bukan lanjutan, melainkan flashback dari ficletnya untuk melihat kejadian lebih jelasnya. Hehe.. Karena itu saya coba post untuk meminta pendapat/masukan dari yang sudah nyasar kemari. Jadi…. apakah ceritanya hambar? Maklumin yak, ini dari pengalaman pribadi soalnya xD #AbaikanJuseyo._.

Terima kasih sudah mampir~^-^

Advertisements

Author:

She's addicting K-Pop only and probably knowing many K-Pop songs. Maybe she has many bias in any group whom she knows but her ultimate bias nor group is Super Junior. So yes, she's a girl who loves k-pop and being elf for Super Junior ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s